
Hari datang silih berganti. Lunna masih tetap menabuh genderang perang. Walaupun Jack tak pernah menghukum Lunna lagi seperti waktu itu. Akan tetapi bagi Lunna sama saja, sebab Jack menghukumnya di atas ranjang tanpa mengenal lelah. Jika Lunna membuat kesalahan kecil, Jack akan mengigit tubuhnya layaknya hewan lapar. Sekarang Jack juga sekali menjahili atau mengusili Lunna di saat mereka hanya berduaan.
Kemarin, saat Lunna sedang syuting. Pria itu datang ke studio dengan mengikutinya, kemanapun kaki Lunna melangkah. Lunna menggeram sebal, sebab Jack sudah seperti anak itik. Demi menjaga image-nya di depan kru. Lunna berpura-pura membalas perkataan Jack dan tersenyum padanya. Sungguh menyebalkan!
Hari ini, Lunna memiliki jadwal pemotretan kosmetik yang akan launching bulan depan. Dengan semangat Lunna berjalan memasuki gedung agensi tanpa menghiraukan tatapan aneh yang dilayangkan para model dan artis di lantai satu. Ia tentu saja tahu gosip yang beredar tentang dirinya akhir-akhir ini. Kabar bahwa ia menjual tubuhnya pada Jack. Padahal mereka tak tahu jika Lunna dan Jack sudah menikah, iya, walaupun hanya di atas kertas.
Lunna yang masa bodoh, berjalan dengan anggun tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri. Tampak kacamata hitam selalu bertengker dihidungnya. Ia sangat tak peduli, tatkala mendengar bisik-bisik para wanita yang mengunjing dia di sepanjang langkah.
"Wah, wah coba lihat dia! Berapa harga tubuhmu?" Britney baru saja keluar dari lift langsung menghampiri Lunna. Seringai licik terpatri jelas diwajah tirusnya.
Ayunan kaki Lunna terhenti. "Tentu saja harga tubuhku lebih mahal darimu. Bahkan 100 kali lipat tak sebanding dengan tubuhmu yang tak semolek tubuhku ini," Lunna berkata pelan tanpa menaikan nada bicaranya.
Britney mulai tersulut emosi. Tangannya terkepal kuat hingga menampakkan gumpalan kemerahan di sekitar. "Dasar j@lang!!!" teriaknya menggelegar.
Lunna tetap bersikap tenang, satu tangannya terulur menaikkan kaca matanya ke atas, lalu berkata,"Cih j@lang kok teriak jal@ng."
"Kau!!" Tangan Britney hendak berayun namun tiba-tiba terhenti saat mendengar para model atapun artis berbicara satu sama lain sembari memusatkan perhatian ke ambang pintu utama gedung.
"Wow, itu Laura, Kan?"
"Iya, Laura. Wah aku fans sekali dengannya, setelah sekian lama dia kembali!"
"Mantan Mr.Harlow semakin cantik tapi dia masih kalah cantik dengan Lunna A."
"Hei, kau ini! Dia senior kita. Lunna A menjual tubuhnya untuk menjadi artis ngetop. Dan Laura lebih kaya dari Lunna A itu. Dia lebih pantas bersanding dengan Mr.Harlow!"
"Iya, kau benar. Laura lebih kaya! Lihat Lunna A, asal-usul saja tidak jelas, bisa saja dia memang anak seorang j@lang, haha. Lihat saja pakaiannya tak seglamor Laura."
Begitulah cuit-cuitan para model dan artis mengelu-elukan seseorang yang merupakan mantan pacar Jack Harlow katanya.
Mata Britney berbinar melihat kedatangan Laura. Sebelum melangkah dia menatap sinis Lunna.
Lunna mengedikkan bahunya, mendengar perkataan beberapa artis dan model. Terlebih lagi melihat tatapan Britney tadi. Ia tak mau ambil pusing lebih baik ia pergi ke ruang khusus. Di ujung sana para artis dan model hendak menjilat Laura. Namun Lunna malah melangkah menuju lift.
"Laura," sapa Britney lalu menempelkan pipinya secara bergantian di pipi Laura.
Laura tersenyum tipis. "Hai, Britney. Long time no see, kau semakin cantik saja," katanya lalu mengangkat wajahnya dengan angkuh.
"Oh, tidak, tidak, kau lebih cantik," kata Britney tampak salah tingkah mendengar pujian Laura.
Satu alis Laura terangkat. "Apa kau masih menjadi pacar sewaan Jack?" Suara Laura terdengar dingin.
Gleg!
Britney meneguk ludah dengan kasar kala melihat pancaran mata Laura tersirat rasa tak suka. Ia menggaruk kepala sesaat. Lalu berkata,"Hehe, iya, Laura, tapi aku tak pernah tidur bersama Jack, aku–"
__ADS_1
"Haha, tentu saja. Jack hanya mau tidur denganku. Lagian sampai sekarang dia masih mencintaiku," katanya sembari mengedarkan pandangan ke teman-teman artisnya.
"Iya, kau benar, Laura. Kau dan Jack sangat serasi! Britney ini tak sepadan denganmu," sahut wanita berkulit hitam di samping Laura.
"Oh iya, tapi aku dengar-dengar ada artis pendatang baru yang sudah tidur dengan Jack!" Salah seorang di belakang Laura berseru cukup nyaring.
"Namanya Lunna A," kata Britney menimpali.
'Lunna A, dasar j@lang!' desis Laura dalam hati sesaaat.
"Haha, itu hanya pelampiasan Jack saja! Mana ada pria yang bisa menahan hasrat selama beberapa tahun," kata Laura tersenyum sinis.
"Iya, kau benar Laura. Dengar-dengar dia tidak hanya tidur dengan Jack tapi dengan semua petinggi di atas."
Mendengar perkataan para artis dan model. Laura menggeram sebal.
'Astaga Jack, mengapa kau memilih wanita yang tak sepadan denganku, sebegitu frustrasinya kah kau karena ku tinggalkan.'
Tak mau membuang banyak waktu. Ia berlalu meninggalkan kawanan lalat-lalat tersebut. Dengan angkuh ia hendak berjalan memasuki lift pribadi milik Jack. Ayunan kakinya terhenti manakala melihat seorang pria berwajah Asia memandang aneh padanya.
"Permisi, Nona. Ini lift khusus untuk pemilik gedung," kata Yuri selaku tangan kanan Jack Harlow.
Mendengar perkataannya. Laura melotot tajam."Kau tidak tahu siapa aku?!" katanya ketus.
"Yuri tidak tahu dan tidak mau tahu," jawab Yuri seraya menekan tombol lift sebelum Laura masuk ke dalam lift.
Di bawah sana. Laura menyumpa serapah Yuri karena telah berani melawannya."Cih, siapa pria tadi? Awas saja aku akan meminta Jack memecatnya!" Dengan terpaksa ia masuk ke lift umum sembari memberengut kesal.
*
*
[Ruang Kerja]
Sementara itu, Jack menahan sabar karena Lunna dan Yuri tak kunjung tiba. Dia diterpa kebingungan sebab berjauhan dengan Lunna membuatnya tak bisa berkerja. Sekarang, aroma tubuh Lunna membiusnya. Setiap malam ia akan mengendus-endus aroma tubuh Lunna yang sudah menjadi candu baginya.
Sembari menunggu, Jack mondar-mandir di ruangan menghadap ke arah kaca raksasa.
"Lama sekali Lunna! Awas saja nanti malam aku hukum lagi dia!" Jack berseru lalu melirik arloji di pergelangan tangan.
Ceklek!
Begitu mendengar suara pintu terbuka. Jack memutar tubuhnya.
Deg.
__ADS_1
Jack terkejut melihat sosok wanita yang pernah hinggap dihatinya berjalan cepat menghampirinya seraya merekahkan senyuman.
"Jack, aku merindukanmu." Laura memeluk Jack yang masih terpaku di tempat.
*
*
"Yuri! Katakan pada bosmu itu, jangan menyusahkanku! Tiga puluh menit lagi aku akan pemotretan," kata Lunna seraya memberengut kesal sebab Jack memintanya datang ke ruang kerja sekarang.
"Hehe, iya Lunna A, maafkan Yuri," Yuri membalas dengan tersenyum lebar.
Saat ini, keduanya berada di lorong yang mengarah kantor Jack. Begitu sampai di daun pintu, tanpa mengetuk Lunna menyelenong masuk.
"Tuan Jack!" Alis Yuri saling bertautan, melihat wanita yang ia temui di lift tadi tengah membuka kemeja Jack. Entah mengapa rasa tak suka menguar begitu saja di hati Yuri, saat Tuan Jack malah bersentuhan dengan seorang wanita yang jelek menurut Yuri.
Sedangkan Lunna melayangkan tatapan datar tanpa ekspresi sedikitpun, lalu berjalan cepat menuju sofa dan menghempaskan bokongnya.
"Jadi, kau menyuruhku datang ke sini untuk melihatmu berciuman?" tanya Lunna sembari menyilangkan kaki.
Nafas Jack memburu. Tadi, dia menolak ajakan Laura untuk berhubungan badan. Laura tak gentar, malah merobek paksa jas-nya dan detik-detik terakhir Lunna dan Yuri masuk ke dalam ruangan. Dada Jack bergemuruh seketika, melihat Lunna tak cemburu saat tubuhnya di sentuh Laura.
"Minggir kau!" Jack mendorong Laura membuat wanita itu terhuyung ke belakang sesaat.
"Jack! Mengapa kau mendorongku!" cicit Laura tak tahu malu.
Bukannya menjawab pertanyaan Laura. Jack malah melihat Lunna sedang berfoto-foto bersama Yuri di sofa sembari bercengkrama ria. Mengabaikan racauan Laura sedari tadi yang bergema ditelinganya.
Sementara itu, Lunna dan Yuri sedang asik dengan dunianya.
"Wah, Lunna A, akhirnya Yuri memiliki foto yang bisa Yuri pajang di instagram," kata Yuri tersenyum lebar bak anak kecil baru saja mendapatkan mainan baru.
"Tentu saja, Yuri posting saja sekarang. Ini ekslusif loh," Lunna berkata lalu tanpa sengaja melihat Jack yang memandangnya dengan tajam. Kemudian beralih menatap Laura yang berpidato panjang lebar dengan mengebu-gebu.
'Pasangan aneh, ah sudah lah lebih baik aku posting juga fotoku dan Yuri, hihi lucu sekali Yuri seperti Romeo.' Lunna beralih menatap layar ponsel.
"Kalian keluar semua!!! Kecuali Lunna!" teriak Jack membuat Lunna, Yuri dan Laura tersentak.
Melihat aura yang dikeluarkan Jack hitam pekat. Tanpa aba-aba Yuri beranjak, lalu berjalan cepat sembari menarik Laura yang masih bergeming di tempat.
Lunna dilanda kepanikan setelah melihat Yuri dan Laura menghilang di balik pintu. Dengan cepat ia menatap Jack, meminta penjelasan.
"Kau harus aku cabik-cabik lagi!" Jack menyeringai tipis.
"Tapi aku tiga–"
__ADS_1
"Tidak usah banyak membantah!!" Jack segera menarik tubuh Lunna dan membawanya ke ruang rahasianya di dalam kantor.
Lunna memberontak dengan menggerakan tubuhnya. "Argh!! Jack si@lan! Kau cabik saja wanita yang tadi!!!"