Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet

Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet
Bunyi Derap Langkah Kaki


__ADS_3

Waktu menunjukkan tepat pukul dua belas malam. Nampak hujan sudah mulai mereda dan lampu sudah kembali menyala. Suasana mansion Harlow nampak sunyi dan senyap hanya terdengar bunyi detak jarum jam di ruang tengah. Sebagian penghuni mansion sudah berada di pulau mimpi. Tapi tidak bagi Lunna, sepuluh menit yang lalu dia baru saja terbangun sebab perutnya tiba-tiba mules. Sudah lima kali dia bolak-balik toilet.


"Duh, pasti si gundik Jack-Jack naburin sesuatu di makanan, awas saja, besok aku balas balik," gerutu Lunna sambil menggeram hendak mengeluarkan emas-emas murni.


"Hah..." Lunna berucap lirih setelah keluar dari toilet. Dengan gontai dia berjalan menuju ranjang.


"Oh my God! Bagaimana aku bisa tidur, lebih baik aku membuat oralit saja ke dapur." Lunna memutuskan pergi ke dapur membuat oralit, sebab perutnya benar-benar sakit. Ia tak mau besok terlambat datang ke lokasi syuting.


Lunna membuka pintu kamar, lalu berjalan perlahan keluar, menyusuri lorong yang nampak sepi. Seketika Lunna bergedik ngeri, walaupun cahaya lampu terang, namun tetap saja membuatnya ketakutan sesaat. Tak mau membuang banyak waktu, ia berjalan lebih cepat.


Sesampainya di dapur, ia segera mencari bahan-bahan untuk membuat oralit. Setelah selesai, Lunna meneguk dalam sekali tegukan.


"Ah, perut berdamailah bersama Mommymu ini ya," kata Lunna pelan sambil mengusap perut ratanya.


Lunna kembali berjalan menuju kamarnya berharap perutnya tidak menimbulkan kegaduhan lagi. Di sepanjang langkah Lunna menoleh ke belakang sesekali, entah mengapa perasaannya tak karuan seperti ada yang mengikutinya.


'Duh, ini dapur sama kamar jauh banget sih!' Lunna bersungut-sungut di dalam hati dengan raut wajah kesal. Memang benar jarak dapur dan kamar Lunna lumayan jauh. Harus melewati beberapa lorong dan ruangan.


Dress malam Lunna meliuk-liuk kala angin malam menerpa tubuhnya. Apakah jendela atau pintu sengaja di buka? Padahal tadi ia merasa tak ada angin disekitarnya?


"Si@l!" Lunna berseru di lorong yang sepi. Ia semakin panik kala terdengar derap langkah kaki mendekat.


Dengan sigap ia berbalik, matanya menelisik di sekitar, kosong. Hanya ada dirinya. Lunna meneguk ludah dengan kasar. Deru nafasnya memburu dia yakin sekali barusan mendengar langkah kaki di belakang. Lagi dan lagi bulu-bulu halus di belakang lehernya berdiri.


"Ah, lebih baik aku cepat ke kamar." Kali ini Lunna berlari sangat kencang, persetan dengan bunyi derap langkah kakinya yang menimbulkan kegaduhan di sepanjang lorong.


Brak!


Lunna menutup pintu dengan sangat kuat. Nafasnya tersengal-sengal dia bergegas mengunci kamarnya, kemudian menggambil bangku kayu lalu menaruh di daun pintu.


Lunna melirik jam weker di atas nakas, menunjukkan pukul satu dini hari. 'Lebih baik aku tidur saja!'


Ia berjalan cepat mendekati tempat tidur, merebahkan tubuhnya, kemudian menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya.


*


*


*


Di ruangan lain.


Suara er@ngan dan des@han terdengar sangat nyaring di sebuah kamar berukuran besar dan luas. Sepasang insan manusia tengah bergelut panas, hendak menuntaskan hasrat dengan menggebu-gebu. Saat ini, keduanya berdiri di dekat ranjang.


Plok, plok, plok, plok!

__ADS_1


Bunyi hentakan begitu kuat sampai-sampai si wanita memejamkan mata sambil mendongakan kepalanya ke atas.


"Ah... faster..." Lirih si wanita dengan nafas terengah-engah.


Plak!


Si pria menyeringai, lalu menampar kuat bokong si wanita, bukannya meringis wanita itu malah terkekeh pelan.


"You like it?" tanya si pria dengan senyum tipis.


"Hmm, yes,... Ah..." Wanita itu meminta dengan penuh harap agar pria di belakangnya menggerakan pinggul lebih cepat.


Bugh!


"Awh!"


Tanpa aba-aba si pria mendorong tubuh wanita hingga ia terjembab ke atas kasur.


"Jangan pernah meminta lebih, Sahara! Kau itu hanya budakku! Tidak lebih!" Si pria berseru nyaring, membuat Sahara menelan ludah dengan kasar.


Sahara menyambar selimut di samping tubuhnya dan menutupinya segera. Sebelum berucap, ia menarik nafas pelan,"Aku tidak melupakan hal itu, aku penasaran sampai kapan wanita aneh itu berada di sini?" tanyanya sembari duduk di kasur.


Satu alis si pria terangkat. "Lunna?"


Lantas si pria tak langsung menjawab. Dengan tubuh yang polos tanpa sehelai benang, dia berjalan menuju nakas, menuangkan wine ke gelas kemudian menyesap air berwarna merah itu dalam satu kali tegukan.


"Sampai dendamku terbalaskan!" Seulas senyum licik terpatri diwajahnya. Membuat Sahara tersenyum jua tatkala melihat raut wajah si pria.


Prang!


Tiba-tiba ia melempar gelas tersebut ke lantai hingga hancur lebur. Matanya melotot tajam, bayangan masa lalu kembali berputar-putar dibenaknya. Sekian lama mencari dan menanti ia dapat menemukan apa yang ia cari sedari dulu.


"Haha, aku akan membuat anakmu menderita, Andersean!"


*


*


*


Esok hari. Tak seperti biasa Lunna sudah terbangun dari tidurnya. Dari semalam ia masih merasa janggal dengan kejadian di lorong itu. Lama wanita itu termenung di meja rias sambil satu tangannya menggantung di udara hendak membubuhkan eyeshadow dan blush on diwajah.


Bunyi dering handphone berbunyi membuyarkan lamunan Lunna. Dia menggeleng pelan lalu menoleh ke benda pipih di atas meja rias.


"Hallo?"

__ADS_1


Tak ada sahutan.


"Hallo,Kris?"


"Oh my God! Kau sudah bangun, apakah aku sedang bermimpi!" sahut Kristin di sebrang sana menggebu-gebu.


Lunna mendengus, lalu mengerlingkan mata sesaat.


"Baiklah, karena kau sudah bangun, aku siap-siap, bye!"


Belum sempat Lunna mengucapkan sepatah dua kata sambungan diputuskan sepihak. Lunne berdecak kesal. "Dasar Kristin!"


*


*


"Pagi, Lunna A," sapa Yuri terlebih dahulu di ambang pintu utama. Sedangkan Jack berdiri tegap membelakangi Lunna.


Lunna tersenyum tipis."Pagi juga,"katanya sambil menaruh kacamata di hidung.


"Jadi kau masuk kerja hari ini?"Lunna melangkah mendekati Jack yang tak mau berbalik sama sekali ataupun menyapanya.


Jack menoleh sekilas, enggan menyahut ucapan Lunna. Tatapannya datar tanpa ekspresi sedikitpun.


Deg.


Lunna tercengang sesaat, tatkala melihat wajah Jack nampak pucat tak seperti biasa tapi dia segera menepis rasa ibanya dengan mengingat perlakuan Jack selama ini padanya.


Lunna berdeham lalu mengangkat wajah angkuhnya. "Aku pikir kau tidak masuk kerja?" tanyanya lagi dengan nada mengejek.


Jack bergeming, tetap tak membuka bibir sama sekali, namun detik kemudian ia berjalan cepat meninggalkan Lunna dan Yuri di belakang sana.


"Nyonya, ayo, Tuan tidak suka menunggu," kata Yuri memperingati Lunna agar bergegas keluar mansion.


*


*


*


Mobil yang ditumpangi Jack dan Lunna melesat pelan membelah jalan setapak di hutan. Dibalik kacamata hitam Lunna sesekali melirik Jack yang sedari tadi terdiam membisu. Dia keheranan ada apa dengan pria itu? Apa dia sedang merencanakan sesuatu untuk membuatnya menderita seperti kemarin malam? Oke, bisa jadi, Kan? Tapi, mengapa jiwa kemanusian Lunna meronta-ronta saat melihat keadaan Jack saat ini? Sedari dulu, Lunna selalu diajarkan orangtuanya untuk selalu berbelas kasih terhadap sesama manusia apalagi kalau orang itu sedang sakit.


Lunna mendesah pelan, kemudian berdeham sesaat, karena suasana di dalam mobil amat sunyi dan senyap.


Lantas dehaman Lunna tanpa dia sadari memancing atensi Jack. Pria itu menoleh ke arah Lunna, menarik nafas pelan, lalu berkata,"Mulai malam ini tidur dikamarku, jangan membantah, atau video berakmu akan kusiarkan di stasiun televisi!"

__ADS_1


__ADS_2