Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet

Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet
Jangan Pergi


__ADS_3

Setelah insiden di kampus. Simon memberikan perintah kepada Senator agar acara dihentikan saja. Tak lupa ia meminta Lexi membereskan semua kekacauan yang telah terjadi.


Begitu sampai di dalam mobil. Ia menyambar ponselnya dan menghubungi Lunna. Sedari dulu, Simon bersikeras meminta Lunna agar diperkenalkan ke publik juga sebagai cucunya, akan tetapi Lunna menolak. Simon pun bingung, mengapa cucu perempuannya itu sangat lah berbeda dengan cucu-cucunya yang lain.


Seperti saat ini, Lunna tak mau Simon mencampuri urusan pribadinya. Menghela nafas kasar Simon berusaha memahami keinginan Lunna.


"Sugar, Grandpa tak mau kau direndahkan orang lain," kata Simon sembari memijit pelipisnya yang terlihat berkeriput.


"Grandpa, tenanglah. Tak apa-apa. Justru Lunna bisa tahu mana yang memandang sebelah mata dan tidak," ucap Lunna memberikan pengertian pada sang kakek.


Simon mengalah. Demi apapun, perangai Lunna kurang lebih sama dengan mendiang istrinya, Menarik nafas perlahan, ia mengakhiri sambungan setelah menanyai keadaan Lunna.


"Simon," kata Richo sembari mengetuk kaca mobil di luar.


Dengan satu kali gerakan mata. Lexi yang berada di kursi kemudi, mematuhi titah Simon. Pintu mobil seketika terbuka otomatis.


"Kau meninggalkanku." Richo duduk di sebelah Simon.


"Kenapa kau selalu mengekoriku, Richo." Simon geleng-geleng kepala sesaat. Dengan perlahan kendaraan melesat keluar dari pelataran kampus.


"Ckck, apa? Kita ini besan, Simon, apa Sugar baik-baik saja?" tanya Richo penasaran.


"Dia baik-baik saja," kata Simon menatap lurus ke depan. Menjeda kalimat yang terangkai dibenaknya. "Dia keras kepala sekali, padahal aku dari dulu ingin memperkenalkannya ke publik tapi dia tidak mau."


Richo pun keheranan, mengapa cucu-nya sangat keras kepala. Pria itu enggan membalas ucapan Simon. Detik selanjutnya, Richo berkata,"Simon, apa kau tahu tadi aku melihat Jack bereaksi berlebihan saat melihat Lunna dipermalukan. Apa mereka mempunyai hubungan?"


Simon menoleh. "Aku tidak tahu, mungkin Jack malu karena artis-nya kedapatan berbuat tak senonoh, ini spekulasiku, aku akan meminta Lexi menyelidikinya."


"Kalau bisa secepatnya Simon, aku sangat muak melihat muka Jack Harlow. Jika saja ayah-nya, Jeff Harlow, tidak terlibat dengan pembunuhan Marvin, mungkin aku tak dendam padanya. Hmm, aku penasaran, Jeff dimana sekarang? Apa kau sudah memberikan dia pelajaran?"


Simon nampak berpikir, kembali menatap lurus ke depan, ada seringai tipis muncul diwajahnya. Melirik sekilas Lexi di kaca tengah.

__ADS_1


"Sampai sekarang aku tidak tahu di mana bedebah itu berada. Leon yang mengurus semuanya. Mungkin Jeff sudah mati di tangan Leon," katanya tanpa ekspresi sedikitpun.


***


Sementara itu, Lunna dan Brian baru saja tiba di apartment. Tak mau membuat kontroversi lagi, Lunna mengusir Brian secara halus agar pria itu tak berlama-lama di apartment. Ia tak mau macan kembali meradang jika sampai tahu Brian mendatangi apartmentnya. Dengan langkah gontai Brian keluar dari gedung apartment Lunna.


***


Malam menyapa. Saat ini, Lunna berada di apartment-nya. Sedari tadi, dering handphone Lunna berbunyi. Ia malas mengangkatnya karena panggilan tersebut dari Jack. Rasa kecewa menyeruak manakala teringat Jack tak membantunya sama sekali tadi. Padahal Lunna mengharapkan pria itu menolongnya. Lama Lunna merebahkan diri di tepi ranjang sembari melirik ponsel mininya di nakas.


"Cih, mungkin sudah 50 kali dia menelepon ku! Apa maunya? Apa ini memang skenario dia, iya, bisa jadi. Laura saja tadi menamparku tiba-tiba!" gerutu Lunna.


Lunna mengabaikan ponsel-nya yang berdengung sedari tadi. Memilih untuk tertidur, karena pikirannya tak baik sama sekali. Namun, Lunna nampak grasak-grusuk di atas tempat tidur. Seperti ada yang hilang tapi tak tahu apa itu. Dengan perlahan ia membuka kelopak mata, menatap langit-langit kamar. Seketika terdengar hujan deras menerpa genteng apartment-nya. Ia menarik nafas pelan, teringat bayangan-bayangan percintaannya dengan Jack di sini.


"Argh! Lihat dia sudah memenuhi otakku! Ini pasti tak-tik Jack!" Lunna membekap wajahnya dengan bantal.


Brak!!


Dentuman pintu di ruang depan mengagetkan Lunna. Dengan cepat ia beranjak manakala terdengar bunyi derap langkah kaki mengarah cepat ke kamarnya.


Kedua mata Lunna membola, melihat Jack menyelenong masuk ke kamar dengan keadaan tubuhnya yang basah kuyup. Lunna terpaku di tempat.


"Kenapa kau tak mengangkat teleponku?" Jack berjalan cepat lalu memeluk tubuh Lunna. Suara Jack terdengar pilu. Lunna masih mode bengong, syok dengan kejadian barusan.


"Aku merindukanmu, Lunna," desis Jack sembari mengeratkan pelukan. Dapat Lunna rasakan tubuh Jack mengigil.


"Lun," panggil Jack mengurai pelukan seraya menangkup pipi Lunna.


Lunna segera tersadar dari lamunannya. Dan melihat wajah Jack nampak pucat pasi. Raut kecemasan terlihat jelas di wajah cantiknya


"Kau kenapa?" tanyanya sembari membuka jas Jack agar pria itu tak kedinginan. Jack enggan membalas ucapan Lunna. Akan tetapi menarik pinggang Lunna, sembari mengecup perlahan bibir ranumnya. Entah mengapa, degup jantung Lunna memacu cepat. Perasaan aneh berdesir kembali dipalung hatinya. Lama keduanya bercumbu dengan bertukar s@liva. Hingga Lunna terpaksa mendorong dada Jack saat merasakan bajunya sudah basah.

__ADS_1


"Jack, ganti bajumu!" Lunna mengusap cepat jejak permainan Jack, lalu berjalan ke sisi kanan, menyambar handuk di gantungan, dan melempar kain berwarna putih itu tepat di atas kepala Jack. Tanpa banyak kata, Jack melangkah pergi ke kamar mandi.


'Ada apa denganku?' Saat ini, Lunna duduk di tepi ranjang sembari sesekali melirik pintu kamar mandi-nya. Ia mengelus dadanya yang masih berdetak kencang. Lunna termenung tanpa mengubah posisi badan.


Jack mengerutkan dahi, melihat Lunna memandang ke depan. Dengan perlahan, ia melangkah menghampiri Lunna.


Deg.


Nafas Lunna tercekat, saat Jack mendorong pundaknya tiba-tiba hingga terjembab ke atas kasur. Ia memalingkan muka ke samping, melihat tubuh atletis Jack nampak seksi dengan buliran air yang masih menetes. Rasa gugup seketika menderanya.


"Kau harus aku cabik-cabik lagi karena mengabaikan teleponku tadi!" Jack berseru sembari menindih tubuh Lunna.


Lunna menoleh, lalu berkata,"Seharusnya aku yang marah! Karena kau tadi tidak membantuku sama sekali! Beruntung ada Brian yang membawaku pergi dari terkaman kekasihmu itu! Ini tak-tikmu, Kan? Aku membencimu, Jack!! Aku membencimu! Terserah kau mau menyebarkan video berakku, aku sudah tak peduli lagi!" Hati Lunna berdenyut melontarkan kalimat barusan. Ia pun bingung dengan perasaannya sekarang.


Jack terpaku mendengar penuturan Lunna. Matanya menatap sendu Lunna yang sedang menahan amarah.


"Maaf..."


Dalam sekejap mata raut wajah Lunna berubah tatkala mendengar perkataan Jack barusan, belum lagi saat ini, mata Jack mulai berkaca-kaca.


"Jangan pergi...." Secepat kilat, Jack menjatuhkan kepalanya di atas dada Lunna. Dengan perlahan buliran air mata mengalir di pelupuk mata Jack. Pria itu semakin mengeratkan pelukannya. Sementara itu, tubuh Lunna membeku, hatinya sangat sakit saat mendengar isakan tangis Jack.


Satu menit pun berlalu. Jack masih terisak di dalam pelukan Lunna. Tanpa aba-aba Jack mengangkat wajahnya, menatap nanar wanita yang sudah masuk ke relung hatinya. Ia baru menyadari, telah mencintai musuhnya sendiri. Jack diambang dilema.


"Kau boleh membenciku, tapi jangan pergi dari hidupku... Jangan... Aku mohon.... Semua orang satu-persatu pergi meninggalkanku..."


Air mata Jack menetes di pipi Lunna. Wanita itu tanpa sadar ikut merasakan sesak didadanya saat mendengar permintaan Jack barusan. Dengan cepat jari-jemarinya menyeka jejak tangis Jack di sudut mata.


"Aku–"


"Kau di larang membantahku, Lunna Harlow," potong Jack lalu melabuhkan kecupan ringan di bibir ranum wanitanya. Tanpa sadar Lunna membalas ciuman lembut yang diberikan Jack. Keduanya memejamkan mata, sembari menyalurkan sebuah rasa yang mereka sendiri tak tahu apa itu. Rasa yang tak bisa keduanya ungkapkan satu sama lain. Suara ecapan-ecapan memenuhi segala penjuru ruangan sejenak.

__ADS_1


Saat ini, di dalam bilik kamar Lunna, suara ecapan sudah berubah menjadi suara des@han yang bersenandung pelan. Lunna dapat merasakan Jack, memperlakukannya begitu lembut. Ia pun terbuai dengan lautan kenikmatan.


Kali ini, Lunna tak meminta Jack untuk berhenti bergerak, melainkan sesekali terkekeh pelan, mendengar geraman Jack yang terdengar kuat, saat Jack memasukkan benih-benih anak kodok ditubuhnya. Keduanya sampai lupa waktu. Jack menghujamnya berkali-kali sampai pagi. Hingga keduanya tertidur pulas sambil memeluk satu sama lain.


__ADS_2