
Suara guntur masih menyambar-nyambar di atas sana. Secara bersamaan pula air hujan turun membasahi tanah. Sebagian manusia yang sudah berada di ruang mimpi, mengeratkan selimut kala merasakan sensasi dingin menerpa kulit tubuh mereka.
Namun tidak bagi, Lunna dan Jack. Sedari tadi, keduanya masih berdiri dengan pikirannya masing-masing. Gurat kesedihan terpampang jelas di wajah cantik Lunna. Ia menebak jika Jack sedang sakau saat ini. Lunna di terpa kebingungan bagaimana caranya menenangkan Jack. Cukup lama wanita itu terdiam tanpa melepaskan pandangan mata dari Jack, yang saat ini sibuk dengan dunianya. Tatapan pria itu teramat kosong bagai tak bernyawa. Lagi dan lagi untuk ke sekian kalinya, sisi lain Jack muncul satu persatu.
'Jack, ada apa denganmu?' ucap Lunna dalam hati sebelum mendekat.
"Jangan melihatku!" Jack memalingkan muka dengan tubuhnya yang tak henti bergetar.
Lunna mulai berjalan, mendekat. "Kenapa?" Satu tangannya hendak menggapai tubuh Jack.
Dengan sigap Jack mundur beberapa langkah. "Kau pasti sedang menertawakanku, Kan? Inilah aku yang sebenarnya." Suara Jack terdengar pilu. Wajahnya nampak pucat pasi.
Lunna menarik nafas panjang, menatap lekat. "Iya, aku sedang tertawa di dalam hati, musuhku sangat lemah dan ternyata dia seorang pemakai!"
"Tidak! Aku menghirupnya ketika–"
Duar!
Belum sempat Jack meneruskan perkataan, bunyi guntur kembali terdengar. Secepat kilat Lunna berlari menghampiri Jack kemudian memeluk Jack. Jack berusaha menepis tangan Lunna manakala Lunna merangkulnya dengan begitu erat.
"Lepaskan aku! Aku butuh heroin! Mana Yuri?! Mana?!!" Lunna tak mengindahkan perkataan Jack. Wanita itu semakin mendekap lebih erat dari sebelumnya walaupun sedari tadi Jack terus memberontak. Akan tetapi, kekuatan Jack saat ini melemah, mungkin faktor sakau yang tiba-tiba menderanya.
"Aku tidak akan melepaskanmu, Jack! Yuri tak ada di sini, dia di mansion, Jack." Lunna berucap sembari mengelus punggung Jack. Seketika Jack terpaku saat merasakan kehangatan yang sudah lama tak ia rasakan. Tanpa sadar Jack memejamkan mata lalu membalas pelukan Lunna.
Duar!!!
"Tenanglah, ada aku di sini," Lunna berucap walaupun sebenarnya dia juga ketakutan mendengar bunyi guntur memekakkan telinganya. Tampak tetesan darah menempel di pakaian Lunna. Ia sudah tak peduli lagi. Saat ini, keduanya saling berpelukan satu sama lain dengan mata terpejam, menikmati kehangatan yang menguar dari tubuh masing-masing.
Lunna dapat mendengar bunyi detak jantung Jack berirama cepat bak gendang yang sedang di tabuh. Cukup lama keduanya saling mendekap. Sekarang Lunna merasa tubuh Jack bergetar pelan. Sepertinya pria itu sedang menangis.
__ADS_1
"Daddy..." desisnya pelan dengan suara parau.
Lunna semakin mengeratkan pelukan entah mengapa ia juga sedih, melihat Jack tak berdaya seperti biasanya.
Deg!Deg!Deg!
Detak jantung Jack memacu cepat. "Jangan tinggalkan aku..." Jack berucap lirih sembari meletakkan dagu di pundak Lunna.
'Hangat, Lun, apa kau sedang menyihirku? Apa ini tak-tikmu? Ada apa dengan jantungku ini?'
"Aku tidak akan meninggalkanmu, Jack."
Di satu sisi Lunna membenci Jack, karena pria itu kerap kali menyiksanya tanpa mengenal ampun. Lunna tentu saja teringat cambukan sewaktu itu yang membekas diingatannya. Namun jiwa kemanusiaannya tak tega melihat Jack menderita saat ini.
"Aku pegang janjimu," ucap Jack lalu mengurai pelukan. Kedua tangannya menangkup pipi Lunna, menatap Lunna dengan begitu dalam hingga Lunna pun juga terhanyut ke dalam pusara mata Jack seakan membiusnya pula.
Tiba-tiba Jack mendekat seraya memiringkan sedikit kepalanya. Tanpa sadar Lunna memejamkan mata, saat pangkal hidung Jack menerpa hidung mancungnya. Kecupan lembut dilabuhkan Jack di bibir Lunna.
Lunna mendesah pelan saat Jack mengecup leher jenjangnya. "Jack.." Mata Lunna terlihat sayu sembari mencengkram rambut Jack.
"Hmm." Kepala Jack menjauh. Ia memandang penuh damba kepada Lunna. Melihat bibir ranum Lunna sudah memerah dan bengkak akibat permainannya tadi.
"Baby, kita main di kasur ya," kata Jack lalu mengangkat tubuh Lunna ala bridal style. Wanita itu terpaku di tempat mendengar panggilan Jack barusan hingga ia pun mode bengong level tinggi sampai-sampai tak tahu jika sekarang ia sudah di tempat tidur.
Seulas senyum tipis terpatri di wajah Jack, melihat Lunna sedang melamun. Sebelum wanita itu tersadar, Jack melepaskan kain yang menempel ditubuhnya satu-persatu.
"Ah!" Lunna tersadar, melihat tubuh Jack sudah polos tanpa sehelai benang.
"Jack, jan-gan. Aku ca-pek, jangan cabik aku lagi, please!" Jack menyeringai tipis lalu menarik pinggang Lunna yang hendak beranjak. Kini, Lunna berada di atas tubuh Jack.
__ADS_1
"Kenapa kau takut?" tanya Jack menatap penuh arti. Lunna dilanda ketakutan melihat gurat kelicikan nampak jelas di wajah Jack. Untuk kedua kalinya nyali Lunna menciut.
"Aku tidak takut!" Lunna berseru sembari menggerakan tubuhnya.
"Lunna! Kau memancingku, ya?"
Ular kadut Jack di bawah sana ingin mencari sarang saat tubuh Lunna bergerak ke segala arah. Sedari tadi, Jack sedang menahan gairah, melihat Lunna yang sangat cantik sekarang. Pria itu baru menyadari paras Lunna dapat memikat lawan jenis dalam satu kali pandang. Sorot mata Lunna nan seksi bisa membuat orang terbayang-bayang akan keindahan tubuh Lunna.
Dahi Lunna berkerut kuat. "Man-?"
"Ah! Jack!"
Sebelum Lunna membalas ucapannya. Jack segera melancarkan serangan. Ia merobek paksa gaun tidur Lunna dan melemparnya ke segala arah, termasuk pakaian dalam Lunna. Secepat kilat Jack membungkam bibir Lunna dengan begitu rakus, sampai Lunna pada akhirnya pasrah.
Lama Jack melabuhkan kecupan, di bibir, leher, perut, paha, hingga ke betis putih Lunna.
"Jack..." desis Lunna, melihat Jack meninggalkan jejak kemerahan di kaki kanannya.
"Hm, iya, Baby," kata Jack lalu membuka lebar paha Lunna seraya memposisikan pinggangnya ke hutan belantara, kemudian membungkukkan badan, menatap lekat ke dalam dua bola mata Lunna.
"Jangan, aku capek, jangan cabik aku," ucap Lunna memelas dengan nafas yang memburu.
"Shftt." Jack menaruh jari telunjuk di ujung bibir Lunna.
"Aku akan pelan-pelan. Anggap saja sebagai hadiah karena kau telah menenangkanku tadi." Dengan sigap Jack mencium bibir Lunna, tanpa mendengar balasan lagi. Pria itu menautkan jari-jemarinya ke jemari Lunna, kemudian memasukan tubuhnya perlahan ke kue lemper milik Lunna.
Semula hentakan sangat pelan namun lama kelamaan berubah cepat. Kini, Jack dan Lunna hanyut dalam samudra kenikmatan, tak menghiraukan lagi suara guntur dan terpaan hujan mengenai genteng apartment.
Berbagai macam gaya yang dilakukan Jack. Dia mengeksplor kamar Lunna dengan berpindah-pindah tempat sembari membawa tubuh Lunna. Dari meja rias, meja kecil berwarna putih di sudut kanan, yang sekarang bergoyang kuat. Lunna memekik penuh nikmat tatkala Jack menghujamnya bertubi-tubi.
__ADS_1
Jack mengecup kuat leher Lunna setelah terjadi pelepasan untuk ke sekian kalinya.
'Wanita ini sangat lah berbahaya! Bukan aku yang menjeratnya, tapi dia yang menjeratku!'