Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet

Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet
Biarkan Justin Saja!


__ADS_3

'Kenapa aku jadi merindukan Mommy, ya?"


Lunna bergumam pelan, tanpa menghentikan langkah kakinya menuju meja makan Kristin. Beberapa detik yang lalu, ia melihat wanita berambut putih terpeleset di lantai. Reflek, Lunna membantu wanita berpakaian kimono itu. Rasa iba merasuk ke palung hatinya, melihat sorot mata wanita tua tadi menyiratkan kesedihan terdalam. Lunna sedikit keheranan dengan perubahan mood-nya akhir-akhir ini bisa berubah kapanpun.


Kepala Lunna celingak-celinguk, melihat meja makan nampak kosong, tak ada keberadaan Kristin.


"Kristin kemana?" Lunna menggaruk kepalanya sesaat. Dering handphone, mengalihkan atensinya. Dengan cepat Lunna menyambar benda mini bermerk apel di dalam tasnya.


Sebelum menggusap layar lcd ponsel, dahi Lunna berkerut samar, melihat nama Kristin tertera.


"Halo, kau di mana Kris?"


"Hehe, aku di ruangan VIP 9, ayo kemarilah, maaf aku lupa memberitahumu, sepertinya lebih enak makan di ruang VIP."


Lunna mendengus kemudian tanpa mengiyakan ucapan Kristin, memutus sambungan telepon, lalu berjalan cepat menuju VIP 09.


Suara pintu terbuka bergema ditelinga Kristin. Dengan cepat wanita berambut model bob itu meletakkan ponselnya di atas meja, kemudian menoleh ke arah Lunna.


"Setelah ku pikir-pikir, kita makan di sini saja, ya," kata Kristin kepada Lunna yang sedang menaruh jaket denimnya di sofa.


"Iya, terserah kau saja yang penting kita bisa duduk dan makan." Lunna mengikat rambutnya ke atas, duduk berhadapan dengan Kristin yang tengah memandanginya dengan begitu intens.


Satu alis Lunna terangkat, lalu berkata,"Kenapa? Ada yang salah?"


"Tidak, Lun. Ternyata wajahmu tak mirip dengan Nyonya Lily," kata Kristin, mengamati garis muka Lunna seksama.


'Seandainya saja, Kristin tau. Mommy Lily bukan ibu kandungku.'


"Tentu saja, aku mirip dengan Daddyku!" Lunna mengerlingkan mata ke atas saat melihat mata Kristin enggan berkedip memandanginya.


"Hehe, kau benar juga." Final Kristin karena memang benar mirip tapi ada sesuatu yang menjanggal jika ia perhatikan. Entahlah, ia pun tak tahu apa itu. Dan baru menyadari akhir-akhir ini jika wajah Lunna berbeda dengan orangtuanya.


"Eh, Kris. Kau sudah memberitahu kita pindah ke ruangan VIP," Lunna bertanya sebab makanan tak kunjung tiba.


"Sudah, Lunna. Sebentar lagi tiba."


'Ugh, aku ke ruangan VIP, agar kau tak melihat Jack dan wanita itu, Lun. Aku tidaak mau karena pria itu membuat moodmu hancur dan bisa saja syuting jadi terhambat untuk beberapa hari ke depan.'


Tadi, Kristin masih melihat Jack dan wanita berpakaian kimono bercengkrama bersama di pelataran restaurant. Dia tentu saja mulai tersulut emosi, mau sekali melabrak dan menanyakan langsung kepada Jack siapa wanita yang bersamanya. Akan tetapi, ia merasa terlalu ikut mencampuri urusan Lunna. Kristin masih mencoba berpikiran positif, siapa tahu saja keduanya hanya kerabat atau teman bisnis.

__ADS_1


"Kristin!!" Lunna menjentikkan jari-jemarinya di depan wajah Kristin, kala melihat manager-nya tengah melamun sedari tadi.


"Oh my GOD! Kau membuatku terkejut, Lun!"


Kristin mendengus sembari mengusap dadanya perlahan.


Lunna memutar bola mata malas. "Aish, salahkan dirimu sendiri! Dari tadi aku panggil-panggil nggak dengar?!"


Kristin membalas dengan tersenyum kikuk.


*


*


Sementara itu, di tempat yang berbeda. Jack dan Yuri baru saja bertemu koleganya. Yaps, Jack juga memiliki perusahaan di Jepang yang bergerak di bidang infrastruktur. Pria brewok itu menyugar rambutnya selepas kepergian kolega. Kemudian menghempaskan bokong ke kursi kebesarannya. Mendesah kasar sesaat.


Ia hampir saja datang terlambat menghadiri pertemuan, karena Jack tadi buang air besar akibat terlalu banyak makan kemarin. Koleganya adalah salah satu klan Yakuza di Negeri Matahari Terbit. Desas-desus yang beredar jika Yakuza sangat menjunjung tinggi arti waktu adalah segalanya. Beruntung Jack dapat sampai ke ruangan di detik-detik terakhir.


Jack menyenderkan kepalanya di kursi sembari memejamkan mata.


"Tuan, Lunna A dan Kristin sedang makan siang di restaurant XXX." Yuri membaca pesan singkat dari Kristin yang mengabari jika saat ini Lunna dan Kristin tengah makan bersama.


Yuri membungkukkan badan sedikit, kemudian menatap wajah Jack yang terlihat keletihan.


'Kasihan Tuan Jack, semoga Sensei tak meminta aneh-aneh lagi seperti tadi malam. Aoki juga kenapa tidak menolak sama sekali. Kenapa Yuri jadi kesal pada Aoki!?'


Yuri teringat dengan kejadian semalam, Sensei meminta Jack dan Yuri berkunjung ke kediamannya hanya untuk menemani Sensei dan Aoki minum teh. Yuri menggeram sebal saat Sensei meninggalkan Jack dan Aoki sendirian di dalam ruangan.


Yuri yang tak mau Lunna tersakiti. Berinisiatif masuk ke dalam bilik, memperhatikan dan mendengarkan pembicaraan Aoki yang terkesan vulgar di telinga Yuri. Padahal tempo lalu, ia sudah mengatakan jika Jack sudah memiliki istri, lantas mengapa Aoki sangat agresif tadi malam, bagaimana tidak Aoki sengaja menumpahkan minuman ke paha Jack dan hendak membersihkan pakaian Jack.


Akan tetapi, Jack menolak keras, dan tanpa sengaja mendorong tubuh munggil Aoki ke lantai, karena telah lancang menyentuh tubuhnya. Semalam Yuri sama sekali tidak membantu Aoki sebab itu kesalahannya sendiri, padahal Aoki sudah diperingati Jack.


"Yuri," panggil Jack seraya membuka mata.


"Iya, Tuan."


"Kira-kira Lunna menyukai bunga tidak? Aku tidak pernah membelikan dia bunga." Bayangan wajah Lunna berputar-putar terus dibenak Jack. Sedari tadi, pria itu sedang menahan rindu dan ingin segera cepat bertemu Lunna.


Yuri tak langsung membalas, mengingat-ingat apa saja kesukaan idolanya itu. Detik selanjutnya.

__ADS_1


"Lunna A, tidak terlalu suka dengan bunga, Tuan. Tapi setahu Yuri dia menyukai bunga Lily berwarna putih."


Seulas senyum tipis terbit di wajah Jack. "Oke, sebelum ke tempat Sensei, suruh orang membeli sebuket bunga Lily untuk Lunna dan kirimkan ke penginapan," kata Jack seraya beranjak.


Yuri mengangguk, patuh. Melakukan perintah Tuannya dengan cepat.


Tak butuh waktu yang lama. Jack dan Yuri telah tiba di kediaman Sensei. Keduanya bergegas masuk ke dalam. Cuaca di atas sana terik menderik, membuat tubuh Jack dan Yuri berkeringat sedikit. Begitu sampai keduanya tak langsung menemui Sensei, memilih membersihkan badan, kemudian berganti pakaian kimono .


"Sepertinya kau sangat sibuk, Jack?" tanya Sensei setelah melihat Jack baru saja masuk ke dalam ruangan.


"Iya, Sensei." Jack membungkuk kemudian duduk dihadapan Sensei. "Ada apa kau memanggilku kemari?" tanyanya penasaran, seraya melirik sekilas Justin disampingnya.


Sebelum membuka bibir. Sensei menarik nafas panjang, kemudian berkata," Bagaimana perkembangan aksi balas dendammu, apa wanita itu ada tanda-tanda hamil?"


Mendengar pertanyaan Sensei. Jack tergugu sejenak. Tak mau menimbulkan kecurigaan. Pria itu menyeringai tipis.


"Belum ada tanda-tanda, Sensei, tapi akan aku pastikan bulan depan dia akan hamil," kata Jack setenang mungkin.


Sensei berdecih sesaat. "Jika wanita itu tak hamil bulan depan, Sensei akan meminta Justin membunuhnya."


Deg.


Hati Jack bergemuruh, tatkala melihat pancaran mata Sensei seperti iblis, walaupun Sensei berucap pelan. Tapi, dalam sepersekian detik Jack dapat melihat mimik muka yang tak pernah pria tua itu tampakan dihadapannya.


'Mengapa perasaanku tidak enak?'


Seketika Jack melirik sekilas Justin yang sedang menampilkan muka liciknya.


'Hah.. Aku harus bisa melindungi, Lunna.'


*


*


...Maafkan kak nana nggak bisa update banyak bab, dua hari yang lalu, maag kambuh lagi. Kalian jaga kesehatan ya, di tambah lagi hari ini mens*, ini aja merem melek nulisnya. Maaf kalau tulisannya amburadul 🙏...


...Happy Weekend ...


...Tenang, kak nana usahakan besok update banyak bab. ...

__ADS_1


__ADS_2