Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet

Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet
Slow Down, Baby


__ADS_3

Nafas Leon memburu saat mendapatkan informasi dari Lexi barusan karena kehilangan jejak Jack dan Lunna. Pria bermata coklat itu, berusaha meredam amarah dihatinya. Belum lagi kabar dari Lily yang mengatakan Romeo, putra bungsunya di Indonesia hampir saja meregang nyawa di Indonesia.


Dalam sehari Leon sudah mendapatkan masalah bertubi-tubi. Tak mau menunda-nunda. Leon berkata melalui alat yang terpasang ditelinganya. "Lex, perluas pencarian malam ini kita harus menemukan Lunna dan memberi Jack pelajaran.


"Siap, Tuan." Lexi memberikan perintah kepada Montero, dan Tim Wolfi untuk menyusuri tempat di kota XXX.


Sementara itu, sedari tadi Simon terdiam. Pria tua itu tengah memikirkan sesuatu sembari menopang dagunya. Matanya tak berhenti bergerak ke bawah sana menelisik keberadaan Lunna dan Jack.


***


Di sisi lain. Jack dan Lunna memutuskan membeli pakaian dan beberapa makanan untuk persediaan mereka di penginapan nanti. Dengan tergesa-gesa keduanya memilih-milih di mini market. Tak lupa Jack membelikan Lunna susu ibu hamil. Melihat antusias Jack, Lunna sangat terharu. Berkat kehadiran buah hati di dalam perutnya Jack akhirnya meluluh. Setelah selesai membeli perlengkapan. Keduanya bergegas keluar dari pusat perbelanjaan hendak menuju sebuah motel.


Motel bergaya kuno menjadi pilihan Jack agar terhindar dari Sensei dan Justin. Sejujurnya dia lebih takut ketahuan Sensei daripada Leon ataupun Simon. Sembari berjalan, Jack sesekali melihat keadaan sekitar memastikan tak ada satupun yang mengikuti mereka. Entah mengapa perasaannya tak karuan sedari tadi.


"Baby, kau kenapa?" tanya Lunna. Kini, Jack dan Lunna sudah berada di depan pintu kamar. Lunna mengerutkan dahi, melihat Jack begitu gelisah.


"Tidak apa-apa, Baby." Jack segera memutar gagang pintu, lalu menyuruh Lunna masuk ke dalam kamar terlebih dahulu. Kepala Jack celingak-celinguk sesaat, setelah memastikan keadaan aman di luar. Jack masuk ke dalam.


"Baby, tempat ini lumayan nyaman," sahut Lunna dengan mendongakkan kepalanya ke atas, melihat arsitektur motel yang amat klasik.


Jack mengunci pintu kamar, kemudian mendekati Lunna yang tengah sibuk sendiri memindai beberapa furniture di dalam kamar mereka.


Seringai licik terukir di wajah Jack. "Baby, kau harus aku beri pelajaran." Ia mengangkat tubuh Lunna ala bridal style.


Jack terlonjak kala mendapatkan serangan mendadak. Sebelum melayangkan protes. Bibirnya sudah dibungkam rakus oleh Jack. Jack mencium dengan begitu mengebu-gebu hingga Lunna kesusahan bernafas sejenak.


Sesampainya di tepi ranjang. Dengan cepat Jack merebahkan tubuh Lunna tanpa melepaskan lil*tan lidahnya.

__ADS_1


"Baby..." ucap Lunna kala Jack memundurkan wajahnya. Ia melihat Jack tengah melucuti pakaian yang menempel di tubuh kekarnya satu-persatu.


Alih-alih menjawab, Jack malah tersenyum simpul. Sedari tadi ia menahan diri untuk tak menyentuh tubuh Lunna namun pikiran nakal Jack tidak dapat berkompromi sama sekali.


"Baby," panggil Lunna lagi. Sebab Jack sibuk membuka pakaiannya sekarang.


"Baby, aku mau mandi dulu," kata Lunna saat jari-jemari Jack menarik retsleting di bagian perutnya.


"Nanti saja, baby, aku harus menengok anakku terlebih dahulu." Jack sudah tak mampu menahan hasratnya saat suara Lunna terdengar mendayu ditelinganya.


"Tapi, ah.... Baby, slow down." Lunna memperingati Jack, sekarang tak ada lagi kain yang menempel ditubuhnya. Nampak tubuh suami dan istri itu sudah sama-sama polos.


Jack enggan menyahut, tengah asik mer3mas daerah favoritnya dan menyesap cepat pucuk Lunna.


"Ah, ah, baby, pelan-pelan," sahut Lunna melihat Jack sangat tak sabaran. Jack tengah bermain-main di bawah perutnya. Seketika tubuh Lunna melengkung ke atas tatkala mendapat sentuhan-sentuhan yang diberikan Jack.


"Baby, aku masukkan ya." Jack dapat melihat Lunna sudah terkulai lemas dengan memejamkan matanya. Tanpa menunggu persetujuan Lunna. Jack mendorong pusakanya ke sarang Lunna.


"Ah, Jack!" jerit Lunna kala inti tubuhnya dimasuki pusaka milik Jack. Dengan perlahan Jack menggerakan tubuhnya. Namun lama-kelamaan hentakan yang semulanya pelan berubah menjadi lebih cepat. Sedari tadi, Lunna meracau-racau tak jelas berharap Jack mendengarkan permintaannya.


Sore itu. Jack dan Lunna memupuk cinta mereka di dalam kamar motel dengan begitu mengebu-gebu. Sejenak lupa dengan marabahaya yang akan menimpa mereka kapanpun. Hingga tepat pukul lima sore, Jack menyudahi pergulatan panas mereka.


"Baby, aku mencintaimu," sahut Jack tiba-tiba.


Lunna mendongakkan kepalanya ke atas, menatap lekat Jack. Matanya berkedip pelan, berusaha mengumpulkan kesadarannya. Apa dia tak salah mendengar tadi?


"Benar kah?" tanya Lunna ingin memastikan.

__ADS_1


"Iya, Baby, aku sangat mencintaimu," kata Jack.


Lunna tak langsung membalas. Akhirnya ungkapan cinta dari Jack telah di dengarnya. Lunna mengembangkan senyumannya, kemudian berkata,"Baby, aku juga mencintaimu." Keduanya menatap satu sama lain untuk sesaat.


Krucuk!


Bunyi perut Lunna menggema membuat dua insan manusia itu tergelak dan tertawa bersama.


"Sepertinya anak Daddy sangat lapar." Jack meledek sembari mengerutkan pelukan.


"Hehe, iya Daddy, Baby aku makan es krim," kata Lunna tiba-tiba.


"Ha? Es krim? Ini kan sudah sore, Baby. Lagian tempat es krimnya jauh dengan penginapan kita." Jack ingat betul jarak tempuh kedai es krim lumayan jauh dari motel.


"Tapi aku mau itu, aku lagi mengidam loh, kasihan anak kita," Lunna mengerucutkan bibir dengan tajam. "Please!" Lunna pun bingung sendiri mengapa tiba-tiba menginginkan es krim.


Melihat raut wajah Lunna yang sedih. Dengan terpaksa Jack mengabulkan permintaan Lunna.


"Baby, ingat jangan keluar!" sahut Jack sebelum memutar gagang pintu. Lunna mengangguk. Selepas kepergian Jack. Wanita itu memutuskan untuk membersihkan diri.


Lima belas menit telah berlalu. Jack telah tiba di penginapan dengan menenteng paperbag yang didalamnya terdapat beberapa es krim. Keadaan di penginapan lumayan sepi. Jack sengaja memilih tempat yang jauh dari hiruk-pikuk. Jack bergegas menaiki tangga namun belum sampai Jack ke lantai dua.


Bruk!


Seseorang memukul tengkuk Jack dari belakang dengan sebuah balok.


"Lepaskan semua bajunya, ganti dengan bajuku ini!" titah orang itu dengan menyeringai licik.

__ADS_1


'Jack yang malang, hahaha!' Monolognya dalam hati.


__ADS_2