Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet

Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet
Kawin Lari


__ADS_3

Deru mesin helikopter terdengar begitu nyaring di pencakar langit. Simon dan Leon memerintahkan sebagian bodyguard memantau pergerakan Lunna di atas langit. Tak lupa Lexi memberi informasi kemana tujuan Lunna.


Leon naik pitam sebab Lunna sudah membuatnya malu. Saat ini, Leon dan Lily tengah berbincang-bincang sejenak bersama calon besan, menenangkan mereka bahwa ada insiden kecil. Sementara Simon mendengar dengan seksama laporan yang didapatkan dari Lexi.


Berbeda dengan Darla. Sedari tadi ia berusaha menenangkan diri, takut jika sampai ketahuan telah membantu Lunna untuk kabur. Ia berharap Uncle dan Grandpa tak menaruh rasa curiga padanya. Darla curi-curi pandang sesekali, hendak mengirim pesan pada Kristin. Pikirannya berkecamuk sejenak ke mana Lunna akan pergi. Dia sangat cemas, belum lagi Lunna tengah hamil. Perasaannya sangat tak karuan sekarang. Darla berharap Lunna dapat bertemu Jack.


Sementara itu, Brian begitu nelangsa saat di hari pernikahan malah di tinggalkan oleh sang mempelai wanita. Pria itu duduk dengan menundukkan kepalanya.


'Apa Lunna pergi ke tempat Jack? Tapi kan setahuku, ini hari minggu, tidak mungkin dia ke kantor, apa ke rumahnya? Di mana rumah Jack? Mengapa Lunna memilih Jack daripada diriku.'


Brian menyugar rambutnya ke atas, mendesah sejenak. Tanpa sengaja ekor matanya melihat Darla menunjukkan gelagat aneh.


"Darla, kau kenapa?" tanya Brian menatap penuh curiga.


Sebelum berucap Darla menelan ludah kasar, saat melihat tatapan mata Brian begitu tajam.


"Aku sedang memeriksa siapa saja yang memesan semur jengkol, hehe," kata Darla berusaha menyembunyikan kegugupannya.


"Semur jengkol? Makanan apa itu?"


"Makanan yang paling enak sejagat raya, asal kau tahu saja itu adalah makanan favorit Lunna." Sebisa mungkin Darla bersikap biasa saja agar Brian tak menaruh rasa curiga.

__ADS_1


Brian enggan menyahut. Dia termenung sesaat, memikirkan Lunna yang tak tahu berada di mana sekarang.


"Di mana Lunna, Lex?" tanya Simon pada Lexi melalui alat yang terpasang di kepalanya.


Kini, Leon dan Simon berada di helikopter. Sepuluh menit lalu, keduanya memutuskan untuk ikut melakukan pencarian. Sebab anak buahnya kehilangan jejak Lunna barusan.


"Terakhir kali radar pergerakkan Nona di kota XXX, Tuan." Lexi berada di helikopter satunya. Matanya tak henti menatap ke bawah menelisik keberadaan Lunna melalui teropong khusus.


"D@mn! Apa dia ingin menemui Jack dan melarikan diri?!" Leon melemparkan pandangan Daddy-nya yang juga tengah meredam emosinya saat ini. Tentu saja arah tujuan Lunna mengarah pada mansion Jack Harlow.


"Lunna sudah berani melawanku! Jack memberikan dampak buruk padanya! Aku tidak akan membiarkan putriku lari bersama b3debah itu!" Leon mengepalkan satu tangannya. Untuk pertama kalinya, Lunna tak menuruti perkataannya.


Sementara itu. Jack memacu kendaraanya dengan cepat. Ia menahan rasa sakit yang mendera diperutnya karena saat melarikan diri tadi dia terjatuh ke jurang.


Semalam Jack naik pitam, kala Kristin mengirim pesan melalui emailnya bahwa Lunna ingin menikah dengan Brian. Namun kemarahan itu sirna dalam sekejap mata, saat membaca lagi isi pesan tersebut jika Lunna terpaksa menikahi Brian atas keinginan orangtuanya. Lunna pun mengajaknya untuk kawin lari. Bagai mendapatkan angin segar, Jack begitu bersemangat mendapat ajakan tersebut. Tak mau menunda-nunda, ia pun menyusun rencana semalam. Semula Jack ingin sekali meminta bantuan Yuri namun Yuri sekarang sangat sibuk dengan perkerjaannya sebagai sekretaris Justin di perusahaan.


"Tunggu aku baby," kata Jack. Sebenarnya ia tak tahu akan pergi kemana. Ia hanya mengikuti instingnya saat ini. Sebab pesan yang di kirim Kristin tak ada informasi mengenai lokasi pertemuannya dan Lunna.


Mata Jack memicing, melihat di depan sana seseorang mengendarai motor besar berwarna hitam memberikan kode padanya untuk berhenti. Tanpa banyak kata Jack menekan rem motornya, membuka helm, kemudian turun dari motornya dan berjalan cepat ke depan.


"Lunna!" Jack berlari lincah saat melihat Lunna membuka helmnya.

__ADS_1


"Jack!!" Lunna merentangkan kedua tangannya tanpa memperlambat kakinya.


"Aku merindukanmu!" ucap Jack dan Lunna serempak sembari memeluk satu sama lain. Seketika ekor mata Jack menangkap helikopter di ujung sana mengarah ke mereka.


Dor!


Dengan gesit, Jack mengelak tanpa melepaskan pelukan.


"Ayo, kita pergi!" Jack segera mengurai pelukan dan mengajak Lunna menaiki motor besarnya.


"Baby, aku di depan. Agar aku bisa menembak mereka!" sahut Lunna dengan memakai helm.



"Oke, Baby, berhati-hati lah!" Jack segera memposisikan badannya.


Dor!


Dor!


"Jack, awas!"

__ADS_1


__ADS_2