
"Hoek, hoek, hoek, hoek!!"
Sedari malam, Jack mengalami mual dan muntah. Kini, pria bertubuh atletis itu terduduk lemah di dekat closet sembari menyeka jejak muntahannya.
Sedangkan Yuri mondar-mandir di dalam kamar dari tadi, saat melihat Jack sangat memprihatinkan, padahal kemarin Jack terlihat baik-baik saja. Namun mengapa saat tengah malam, ia mendapati Jack mengeluarkan semua isi perutnya. Yuri resah dan gelisah, apa dia salah meracik bumbu masakan. Seingatnya ia memasak makanan Jack dengan baik dan benar. Apa ada yang salah pada makanannya. Entahlah.
"Yuri..." panggil Jack lirih.
Dengan cepat Yuri masuk ke dalam kamar mandi dan memapah Jack, berjalan menuju tempat tidur, kemudian merebahkan tubuh Jack yang lemah. Yuri semakin khawatir melihat wajah Jack yang pucat pasi.
"Tuan, Yuri akan menelepon Dokter Rogue," kata Yuri sembari menutup tubuh Jack dengan selimut hingga sebatas pundak.
Jack enggan menyahut, memilih memiringkan badannya, lalu satu tangannya terulur meraba-raba kasur di sisi kiri yang biasanya Lunna tempati.
"Baby, aku sakit...." Setetes air mata jatuh perlahan dipelupuk matanya. Jack menahan rindu yang tak bisa terbendung dihatinya. Pria itu menangis dalam diam, berharap ada secercah harapan untuk dirinya dan Lunna.
Yuri menatap nanar punggung Jack, menarik nafas panjang, tanpa banyak kata menghubungi Dokter Rogue.
Setelah melakukan pemeriksaan. Dokter mengatakan Jack lemah karena pikirannya terlalu stres. Pria berstelan serba putih itu memberikan Jack beberapa obat dan vitamin kepada Jack. Ia sedikit heran, mengapa tatapan mata Jack begitu kosong tak seperti biasanya. Tak mau menerka-nerka, ia pun bertanya kepada Yuri. Dokter Rogue menghela nafas tatkala mendengarkan cerita Yuri, mungkin ini lah penyebab Lunna hengkang dari dunia Entertainmant.
Waktu menunjukkan pukul satu siang. Yuri menunggu kedatangan Sensei, Justin, Aoki dan Erika di depan pintu utama.
Lima menit pun berlalu. Rombongan Sensei telah tiba di mansion. Gurat kemarahan nampak jelas di wajah Sensei. Pria bertubuh tinggi itu masuk ke dalam mansion tanpa menyapa Yuri. Begitu pula, Justin dan Erika. Ketiganya acuh tak acuh, seakan Yuri adalah patung bagi mereka. Berbeda dengan Aoki. Wanita itu menebarkan senyuman, melihat Yuri membungkuk padanya.
"Yuri-kun, apa benar Lunna di culik?" tanya Aoki penasaran. Tadi, tanpa sengaja Aoki menguping pembicaraan antara Sensei dan Justin di helikopter.
"Hmm, Lunna tidak culik, tapi lebih tepatnya kembali pada keluarganya," kata Yuri.
'Kasihan sekali, aduh mengapa Aoki jadi takut kalau pernikahan Aoki dan Jack-sama akan dipercepat, argh bagaimana ini?'
"Aoki-chan." Yuri membuyarkan lamunan Aoki. Matanya memicing, melihat gelagat mencurigakan dari Aoki.
__ADS_1
"Ee-iy-iya, Yuri-kun, maaf, Aoki jetlag." Aoki menundukkan wajahnya seketika.
"Hm, ya sudah ayo Yuri antarkan ke kamar, beristirahatlah."
Aoki mengangguk pelan.
***
Sensei dan Justin menatap datar ke arah Jack yang tengah terlelap dengan damai di tempat peraduan. Berbeda dengan Erika, wanita itu terlihat panik, melihat tubuh Jack sangat lemah dan berkeringat dingin.
"Jack, cepat lah sembuh, Nak." Erika mengelus perlahan kepala anaknya.
"Cih, hanya demam saja, tidak usah berlebihan, Mom. Sudahlah, aku mau beristirahat," kata Justin melirik sekilas Sensei yang tengah memandangi Jack tanpa berkedip. Karena tak ada tanggapan sama sekali, Justin melenggang pergi dari kamar Jack. Pria itu berjalan menuju ruang rahasia Jack.
'Aku harus mengamankan hartaku terlebih dahulu.'
Selepas kepergian Justin. Suasana di dalam kamar begitu sunyi dan senyap. Baik Erika maupun Sensei sama-sama memandangi Jack.
Erika menoleh, lalu berkata,"Baiklah, tunggu sebentar." Wanita yang rambutnya sudah memutih itu membungkukan badan, kemudian melabuhkan kecupan ringan di pucuk kepala Jack.
"Maafkan Mommy, Nak. Cepatlah sembuh," kata Erika sangat pelan di daun telinga Jack.
*
*
*
Malam menyapa. Sebagian ruangan di kediaman Harlow sudah dipenuhi cahaya lampu. Sensei, Justin, Erika dan Aoki sudah selesai menjalankan ritual malam.
Saat ini, di ruangan khusus, Sensei dan Erika saling duduk berhadapan, sambil menyesap teh chamomile. Sedari tadi, keduanya tak membuka suara hanyut dalam pemikirannya masing-masing.
__ADS_1
"Jika Jeff tak membuat ulah, hubunganku dengan Jack pasti akan baik-baik saja sekarang," Erika bergumam pelan. Namun Sensei dapat mendengar dengan jelas.
"Haha, apa aku tidak salah dengar, Erika? Jeff hanya ingin bertobat, tapi kau meninggalkannya karena dia jatuh miskin, lalu kau berselingkuh dengan anakku, Kan?"
Erika menoleh pada pria dihadapannya, kemudian meletakkan cangkir di atas meja. "Iya, aku memang salah, siapa juga yang mau jatuh miskin, salahkan dia sendiri."
Erika ingat betul malam itu dia bertengkar hebat dengan Jeff. Dan membuat dia membawa paksa Justin yang dia kira anak bungsunya, Jack. Karena wajah keduanya sangat lah mirip, kembar identik. Dia pun pergi ke Jepang menemui kekasihnya, anak Sensei. Sesampainya di Jepang, Erika mendapat berita kematian Jeff. Dia sedikit terkejut namun sudah memprediksi hal tersebut akan terjadi. Mengingat di masa lampau Jeff adalah ketua Gangsta Paradise, di LA, yang pernah membantu Pablo Picasso membunuh seseorang. Semenjak hari itu. Jeff vakum dari dunia kelamnya, memilih membina rumahtangga bersama Erika.
"Cih, aku tidak mengerti dengan keinginan para wanita. Seandainya saja Jack tahu jika Daddy-nya membunuh orangtua kandung Lunna, apa reaksinya? Aku kasihan pada Jeff memiliki istri seperti dirimu. Aku heran apa yang membuat anakku jatuh cinta padamu dulu."
"Tanyakan saja pada Daichi?"
"Ckck, Daichi sudah bahagia bersama istrinya, beruntung dia sudah tobat, dan memilih istrinya daripada ban serep sepertimu, cih!"
Sensei ingat betul Daichi memohon padanya untuk menampung Erika dikediamannya. Daichi sangat menyesali perbuatan tak terpuji itu dan berjanji padanya untuk berubah.
Erika mendengus, enggan membalas perkataan Sensei. Detik selanjutnya. Ia berkata, "Lalu apa tindakanmu sekarang, Sensei, anak Leon sudah tak bersama kita lagi. Mengapa Jack bisa sampai jatuh cinta pada wanita itu?"
"Aku tidak tahu, mungkin karena wanita itu cantik. Aku akan menikahkan Jack dan Aoki terlebih dahulu, agar klanku semakin kuat untuk melawan Leon nanti. Lalu untuk putri Leon kita atur strategi, aku akan meminta Justin melenyapkan wanita itu."
Sewaktu itu, perekonomian di Jepang mengalami resesi. Sensei masih dendam dengan Leon yang menolaknya untuk memasok narkoba ke benua Amerika dahulu. Sensei tak menyangka jika Leon sudah bertobat, dan memilih bisnis bawah tanah yang sekiranya aman dia lakukan.
Erika nampak mangut-mangut, kemudian menyesap kembali teh chamomile dengan pelan.
"Apa kau memiliki foto anak itu? Aku penasaran, mengapa Jack anak kesayanganku itu sampai jatuh hati padanya, karena yang aku tahu Jack sangat susah jatuh cinta."
...----------------...
Sekilas info : Resesi adalah suatu kondisi dimana penurunan aktivitas ekonomi dalam jangka waktu yang stagnan dan lama, bisa jadi berbulan-bulan hingga bertahun-tahun lamanya.
(Sumber : google)
__ADS_1