
Suasana di dalam kamar Lunna begitu hening. Baik, ninja maupun Jack masih merentangkan senjata mereka masing-masing. Keduanya berputar-putar di satu titik, sembari membaca gerakan lawan.
Sedari tadi seringai licik Jack terukir jelas di wajahnya. Pria itu menatap tajam sang ninja yang curi-curi pandang ke arah Lunna. Dia yakin sekali target ninja adalah Lunna, bukan dirinya.
Berdecih sejenak. "Kalian dibayar berapa?" tanya Jack setelah melihat seorang ninja lagi masuk dengan gesit melalui jendela kamar. Kini, dua orang ninja dan Jack saling berhadapan dengan posisi waspada satu sama lain.
Bukannya menjawab, salah seorang ninja bertubuh seperti wanita berlari cepat ke arah Lunna sembari mengayunkan samurai. Secepat kilat Jack menghadang ninja.
Cling!
Cling!
Cling!
Suara dentingan pedang bersahut-sahut di ruangan. Jack meradang karena perkelahian tidak seimbang. Tak mau lenggah, ia pun menggores wajah ninja pria hingga kain yang menempel diwajahnya sobek.
"Grrr..." Sang ninja menggeram rendah kala wajah dan hidungnya tergores sedikit.
Detik selanjutnya, Jack kembali menghunuskan pedang ke arah ninja wanita. Wanita setinggi 156 cm itu menghalau serangan. Sekarang Jack di kepung kedua ninja tersebut di sisi kanan dan kiri.
Cling!
Jack menangkis serangan kala ninja di sisi kanan hendak mengayunkan pedang diperutnya. Secara bersamaan pula ninja di sisi kiri hendak menikamnya di atas kepalanya. Namun dengan gesit Jack menangkis lagi. Dan sekarang giliran Jack membalas serangan.
Cling! Cling! Cling!
Keributan kembali terdengar, Jack terhuyung ke belakang sesaat kala ninja pria merobek kimono di bagian dadanya. Langkah sang ninja terhenti seketika, pancaran mata ninja menyiratkan kebingungan. Begitu ada celah, Jack kembali merobek kain di wajah ninja hingga ia dapat melihat dengan jelas rupa pria dihadapannya.
"Cih! Kau sangat jelek," kata Jack tanpa menghentikan gerakan tangan melawan ninja wanita yang sedang menyerangnya bertubi-tubi.
Ninja pria tersenyum sinis. Lalu mengayunkan samurai ke punggung Jack, akan tetapi ekor mata Jack dapat mendeteksi dengan cepat gerakan tersebut, ia pun berputar-putar seraya merentangkan samurai.
Sret!
Jack mendengus kasar, saat kimono bagian belakangnya robek. Matanya berkilat menyala, kala merasa kulitnya terkikis sedikit.
"Biad@b!" Jack melompat tinggi dan menendang kepala ninja pria hingga ia terjatuh ke lantai.
Bugh!
Detik selanjutnya, ninja wanita yang sedari tadi juga menyerang Jack. Melompat tinggi namun ia kalah gesit dari Jack. Malahan sekarang kain yang menempel diwajahnya juga koyak hingga ia juga terhuyung sampai mengenai dinding.
"Hahaha!" Jack tertawa keras beruntung Lunna tak juga terbangun karena dia sudah tahu perangai istrinya jika sedang keletihan.
Tiba-tiba bunyi dering ponsel Lunna mengalihkan atensi Jack dan dua ninja yang sedang berusaha bangkit berdiri sejenak.
Sambala sambala bala sambalado
Terasa pedas terasa panas
Sambala sambala bala sambalado
Mulut bergetar lidah bergoyang
Paket semur jengkolnya datang
(Ayu ting-ting - Sambalado)
Begitu nada dering Lunna menggema di ruangan.
Seketika di ujung sana. Lunna terbangun dari tidurnya. Dengan cepat mengubah posisi badan menjadi duduk.
"Jack! Alarm paket semur jengkolku sudah sampai! Kenapa mataku di tutup!?" Lunna hendak menurunkan kain yang menempel di indera penglihatannya.
Tak mau menghilangkan kesempatan salah seorang ninja berlari kencang menuju pembaringan. Jack dengan sigap berlari dan menangkis pedang sang ninja.
__ADS_1
Cling!
Cling!
"Baby! Jangan buka penutup matamu! Ada musuh bisnisku di sini, kau tidur saja, ya!" kata Jack di depan pembaringan menghalau dua ninja yang tak henti-hentinya mengayunkan pedang.
Lunna dilanda kepanikan. "Whats?! Musuhmu! Lalu apa yang harus aku lakukan?!" tanyanya sembari memundurkan badannya hingga menempel ke dinding.
"Diam saja, baby! Jangan kemana-mana tetap di situ, jika kau takut tutup saja telingamu! Jangan sekali-sekali membuka mata!" Jack berseru sembari mendorong dua ninja hingga mereka terhuyung jauh ke belakang sana.
"Tapi Jack, paket semur jengkolku, bagaimana?"
"Oh my God, baby, kita ini sedang di Jepang!" Jack menggeram sebal sejenak sembari menyerang ninja yang kebingungan dengan obrolan Jack dan Lunna.
Lunna terpaku sesaat sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. 'Sepertinya aku lupa mematikan alarm handphone.' Jika Lunna sedang sibuk dengan semur jengkolnya.
Maka Jack tengah meladeni kedua ninja yang nampak kewalahan menghadapi dirinya, mungkin karena tinggi badan Jack di atas rata-rata jadi mereka cukup kesulitan. Belum lagi tekad Jack melindungi istrinya lebih besar, tak peduli sekarang sebagian pakaiannya sudah robek.
"****!" Jack mengumpat kala pedang ninja pria dan wanita mengiris kulit lengannya.
"Baby, kau tidak apa-apa?" tanya Lunna di sebrang sana saat mendengar perkataan Jack barusan.
"It's okay baby, i'm fine!"
"Baby!"
Jack menggeleng pelan, di saat-saat seperti ini Lunna malah mengajaknya berbicara. Dengan sabar Jack menyahut tanpa menghentikan gerakan tangan melawan dua ninja dihadapannya.
"Iya, kenapa baby?!"
"Aku mau berak!!!" Sedari tadi, Lunna rupanya sedang menahan sesuatu di bawah sana bergejolak untuk segera dikeluarkan.
"Nanti saja, baby! Kau tidak lihat aku sedang melawan musuh!!" Jack tak habis pikir, mengapa Lunna mau berak ketika ia sedang bertarung.
Jack dilema. 'Oh my God, ada apa dengan Lunna, mengapa dia sangat sensitif!?'
"Maafkan aku baby, sebentar ya, sebentar lagi!"
Lunna enggan menyahut. Malah merasa sekarang perutnya semakin sakit. "Baby, bagaimana ini? Aku mau kentut?"
Jack berdecak kesal. 'Mengapa aku bisa jatuh cinta padanya, oh my God!'
"Kentut saja di sini!!" Dengan terpaksa Jack mengiyakan sembari mengoyak kimononya agar dapat menutupi hidungnya dari gas beracun Lunna. Secepat kilat ia menempelkan kain di hidung sembari menangkis serangan demi serangan dari sang lawan.
Sementara itu. Dua ninja yang mendengarkan pembicaraan absurd Jack dan Lunna terheran-heran sejenak tanpa menghentikan serangan.
Mendapat lampu hijau.
Put!!!
"Ah leganya!" Lunna berseru sembari menutup hidung.
"Bau apa ini?" desis ninja pria kepada ninja wanita.
Ninja wanita mengedikkan bahu tanda ia pun tak tahu. Namun segera mengapit hidungnya saat aroma tak sedap dan menyengat menyeruak ke indera penciumannya.
Ting!
Lampu di atas kepala Jack bersinar terang.
"Baby!!!" panggil Jack hendak berjalan menuju jendela di sisi sana.
"Iya, baby!" sahut Lunna sembari menahan diri untuk tidak berak.
"Kentutlah sepuasmu! Keluarkan semua baby, ikuti perintahku! Kau mau berakkan?"
__ADS_1
"Iya, aku mau berak!"
"Maka dari itu kentutlahhhhhhhh!!!!!" Jack melompat tinggi, menutup jendela menggunakan kaki sembari mengayunkan pedang kepada dua ninja hingga keduanya terhuyung kuat ke belakang sana.
Puttttttttttt!!
Seketika ruangan dipenuhi gas yang keluar dari bokong Lunna.
"Abe-chan, bau apa ini? Ough, ough, ough!!" Ninja wanita terbatuk-batuk karena aroma yang menyeruak ke hidungnya membuatnya sesak.
"Tidak tahu! Ough, ough, oughh!!
Putttttttt!!
Putttttttt!!
Putttttttt!!!
Putttttttt!!!!
Jack berdiri tegap dengan melihat dua ninja mulai mual-mual dan tak berhenti batuk-batuk. Dengan sigap pula ia membekap mulutnya padahal ia sudah menutup indera penciumannya tapi masih tetap saja bau.
Putttttttttttttt!!!!!!
Kali ini, suara kentut Lunna lebih nyaring dan kuat.
"Abe-chan, aku tidak mampu!" Sang ninja hendak beranjak akan tetapi kepalanya begitu pusing entah karena apa. Tubuhnya merosot ke bawah perlahan-lahan.
Sekarang ninja pria sudah memuntahkan isi perutnya ke lantai. Untuk pertama kalinya dia menghirup aroma yang menusuk dan menyengat sehingga membuat tubuhnya tak berdaya. Seluruh badannya sudah banjir dengan keringat.
'Apa ini racun jenis baru!? Si@l.' Batin ninja pria sejenak.
'Hahahahhaa, rasakan itu! Itulah ku rasakan saat Lunna mengentuti ku!"
Jack tertawa keras di dalam hati, kemudian melirik Lunna yang sepertinya akan mengeluarkan kentut susulan. Tak mau menghilangkan kesempatan. Jack berjalan mendekati dua ninja yang terkulai lemas. Kedua tangan Jack mengangkat kerah baju ninja, dan menyeret mereka menuju pembaringan sembari berkata," Baby, sekarang menungginglah ke belakang! Turuti perintahku! Cepat!"
"Ha?! Apa menungging?"
"Iya, cepatlah!"
Tanpa banyak kata, Lunna mengarahkan bokong sesuai petunjuk Jack.
Putttttt!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Secepat kilat Jack mengarahkan muka dua ninja tersebut tepat di bokong Lunna. Hingga mulut kedua ninja berbuih-buih sembari kejang-kejang.
Bruk!!!
Bruk!!!
Seketika dua ninja ambruk di tempat, terkapar dengan posisi mata terbuka ke atas. Sedangkan Jack memuntahkan isi makanan ke lantai.
"Hoek, hoek, hoek...."
"Hiks, hiks, hiks, hiks..." Sementara itu Lunna sedang menangis entah karena apa.
"Baby! Hiks,hiks, hikss...."
Jack menoleh. "Ada apa, Baby?" tanyanya kemudian mengusap cepat sisa muntahan dibibirnya.
"Hiksss, hikssss..hiksss! Sepertinya aku kecepirit!!!!!!! Hikss, hiksss..."
Dahi Jack berkerut kuat hingga tiga lipatan.
'Kenapa dia menangis? Apa itu kecepirit? Bahasa apa itu?' Jack bertanya di dalam hati sembari melirik ninja tergeletak tak berdaya di lantai.
__ADS_1