
Eve memekik. "Robert!" Lalu mengibaskan kuat tangan Lunna. Tubuh Lunna terhuyung ke belakang sejenak kala tak siap dengan serangan. Dengan sigap Kristin menahan tubuh Lunna..
"Siapa kau?!" tanya Eve naik pitam namun detik kemudian raut wajahnya berubah melihat paras Jack yang menawan dan mempesona.
"Oh my God! Tampan sekali, lihat otot-ototnya!' Eve menjerit kala membayangkan tubuh Jack bergerak diatasnya.
Jack yang ditanyai, mengacuhkan Eve. Matanya sibuk mengamati Lunna sedang membersihkan bajunya yang nampak kotor karena es krim gelato barusan mengenai badannya.
"Yuri, siapkan ruangan V.I.P! Kita urus pekerjaan kita nanti saja!" kata Jack lalu menarik tangan Lunna menjauhi ketiga orang di meja. Yuri mengangguk segera melakukan perintah.
"Cih! Kalian berdua bisakah pergi dari sini! Dan kau pria jelek! Bawa pulang kekasihmu itu!" Sedari tadi, Kristin menahan sabar mendengar perdebatan sepasang kekasih tersebut. Benar-benar tak tahu diri dan tak tahu tempat. Beruntung Lunna tak terpancing emosi tadi.
Sebelum Eve membalas ucapan Kristin. Wanita berambut pendek itu melengos pergi meninggalkan Eve dan Robert yang sekarang menjadi pusat perhatian. Muka Eve memerah saat mendengar ucapan pengunjung di cafe. Secepat kilat ia berjalan keluar tanpa menghiraukan teriakan Robert.
'Si@l. Awas kau Lunna! Siapa pria tadi? Wajahnya sangat tak asing. Aku harus mendapatkan pria itu bagaimanapun caranya!' Seringai tipis muncul di wajah Eve.
*
*
*
Ruang V.I.P
Saat ini, Jack dan Lunna duduk saling berhadapan di ruang VIP. Sedari tadi, tak ada yang membuka suara. Lunna memandangi kaca raksasa yang menghadap taman. Sedangkan Jack menatap intens wajah Lunna yang nampak cemberut.
Yuri berdiri tegap di sisi kanan memperhatikan Jack dan Lunna.
'Tuan Jack melewatkan meeting penting untuk kedua kalinya demi Lunna A. Argh! Yuri pusing! Bagaimana menjelaskan nanti dengan Mr.Longbottom!' Yuri beteriak di dalam hati merutuki tindakan Jack yang semau hati.
Jack dan Lunna masih bergeming layaknya patung manekin. Lunna mengerlingkan mata sesaat kala Jack memandanginya tanpa berkedip.
'Apa mau dia? Tadi malam sudah membuatku kesakitan! Sekarang dia mulai mencampuri urusanku! Pasti dia sedang mengatur siasat untuk menghukumku lagi.'
"Lunna," panggil Jack tiba-tiba saat melihat bibir Lunna bergerak-gerak seakan menyumpahinya.
"Apa?!" kata Lunna ketus.
"Apa itu mantanmu?! Sebenarnya berapa banyak mantanmu?" Nafas Jack memburu, mengingat kejadian barusan saat melihat pipi Lunna di kecup seorang pria.
Lunna mendengus. "Apa itu penting bagimu? Aku pikir kau sudah kelewat batas Mr.Harlow! Itu pertanyaan privasi!"
__ADS_1
Entah mengapa melihat raut muka Jack. Ia terbawa emosi. Saat ini, suasana hatinya sangat tak baik, belum lagi es krim gelato yang ia pesan tadi ditinggalkan begitu saja di atas meja, sudah pasti waiters akan membuang es krim kesayangannya itu di saat meja telah kosong. Kristin barusan mengirim pesan singkat padanya mengatakan bahwa ia telah kembali ke gedung Agensi.
"Tentu saja itu penting! Cepat katakan padaku! berapa!?"tanya Jack kembali. Pikirannya melanglang buana saat membayangkan Lunna berciuman mesra bersama banyak pria di luar sana.
Lunna menarik nafas panjang."1000," jawabnya asal.
Jack melototkan mata mendengar penuturan Lunna. Pria itu tentu saja mengganggap ucapan Lunna benar apa adanya. Rahangnya semakin mengeras. Nafasnya memburu. Tubuhnya membara bagai kobaran api.
Dahi Lunna berkerut kuat. 'Dia kenapa sih? Mau berak? Atau nahan kentut? Dia tidak mungkin menganggap ucapanku serius, kan?' Lunna bertanya pada diri sendiri.
"Yuri!!" panggil Jack tiba-tiba membuat Lunna dan Yuri terlonjak kaget.
"I-.. Iya Tuan," jawab Yuri sembari mengelus dada.
"Siapkan kamar! Kita pergi ke hotel pribadiku sekarang! Aku harus memberikan Lunna hukuman lagi!" Jack bangkit berdiri, secepat kilat menarik tangan Lunna dan mengangkatnya seperti karung beras.
Lunna memekik kala Jack menaruh badannya di pundak. Semburat merah muncul di pipi Lunna saat melihat pengunjung di cafe menatap aneh padanya.
'Lunna A, bersama Jack Harlow?'
'Mengapa Jack Harlow mengangkat Lunna A? Apa mereka berpacaran?'
'Wow, a new couple's of the year.'
*
*
*
Hotel JK.
Saat ini, Jack dan Lunna berada di lantai paling atas. Sedari tadi, Lunna di angkut seperti karung beras lagi. Wanita itu naik pitam karena Jack selalu berbuat semau hati. Apa yang harus dia lakukan jika pengunjung di cafe bergosip tentang dirinya. Argh! Jack kelewat batas.
"Jack! Kenapa kau membawaku ke sini!?" tanya Lunna setelah berada di dalam kamar. Jack enggan menyahut, namun segera menghempas tubuh Lunna ke atas kasur.
"Awh!" teriak Lunna.
"Aku membawamu ke sini untuk menghapus semua jejak-jejak yang ada ditubuhmu!" Jack menatap tajam Lunna.
"Kau pikir ini lagu Noah-menghapus jejakmu!" Lunna hendak beranjak dari kasur. Akan tetapi Jack kembali mendorong tubuhnya hingga terjembab lagi ke kasur.
"Arggh!!! Apa maumu!?" Lunna meraung tatkala Jack menindih tubuhnya.
__ADS_1
"Kau tuli atau apa?! Kau milikku! Jadi aku akan menghapus bekas ciuman mantanmu tadi!"
"Ha, apa–hmmmfff!"
Belum sempat Lunna menbalas ucapan Jack. Pria itu membungkam bibir Lunna dengan sangat rakus. Lunna terkejut bukan main saat Jack menyerangnya membabi buta. Ia kesusahan bernafas karena Jack tak memberikan jeda sedikitpun.
Nafas Jack memburu saat kulit keduanya saling bersentuhan. Sembari memejamkan mata, ia masih melilitkan lidahnya ke lidah Lunna. Entah dorongan dari mana Lunna pun bingung dengan respon tubuhnya malah membalas ciuman Jack. Sedari tadi, ia mengumpati dirinya sendiri.
"Lunna! Kau punya kesempatan untuk menendang atau memukulnya! Argh!'
'Si@l! Kenapa bibir Jack sanga manis, dia minum apa tadi? Argh, aku mau es krim!'
Ruangan dipenuhi dengan suara ******* Lunna yang mendayu. Sekarang Jack sudah membuka semua baju Lunna dan menyesap lagi tubuhnya. Jack begitu bersemangat melancarkan serangan tanpa mengenal waktu.
*
*
Dua jam pun berlalu. Kegiatan panas telah berakhir. Kini, Lunna tertidur pulas di atas dada Jack. Pria itu mengecup sekilas pipi Lunna yang menggemaskan menurutnya. Secara bersamaan pula aroma rambut Lunna menyeruak ke indera penciumannya.
"Ada apa denganku?" Jack bergumam pelan sembari mengeratkan pelukan. Kedua mata Jack menatap ke atas langit-langit kamar. Pikirannya menerawang kembali pada kejadian beberapa tahun silam.
"Leon Andersean..." desis Jack. Seketika seringai licik terpatri diwajahnya.
"Lunna, aku berharap kau cepat hamil setelah itu...." Bibir Jack tiba-tiba kelu. Rasa aneh kembali membuncah di relung hatinya. Entahlah, ia pun tak tahu rasa apa itu.
Jika Jack tengah indehoy di dalam kamar. Maka Yuri sedang kelabakan sebab Mr.Longbottom menghubunginya sedari tadi. Pria itu memijit pangkal hidungnya sesaat. Akhir-akhir ini, Yuri merasa Jack sedikit berubah. Lama Yuri menerka-nerka, apa yang membuat atasannya bertindak sesuka hati tanpa memikirkan kolega perusahaan.
Dering ponsel berbunyi. Yuri melirik sekilas ke layar, menampilkan sebuah nama yang membuat mata Yuri terbelalak. Secepat kilat Yuri menyambar ponselnya di meja kerja Jack.
"Hallo?"
"Di mana Jack? Mengapa teleponnya tidak aktif?"
Yuri tergugu sebelum berucap menarik nafas pelan.
"Tuan Jack sedang sibuk, Sensei."
"Hm, katakan padanya angkat telepon ku nanti."
"Baik, Sensei."
Setelah panggilan terputus. Gurat kecemasan nampak di wajah Yuri.
__ADS_1