Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet

Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet
Sensei Meradang [Revisi]


__ADS_3

Waktu menunjukan pukul tiga dini hari. Setelah kekacauan beberapa jam yang lalu. Jack dan Lunna baru saja bisa terlelap. Karena sudah terlanjur cinta, Jack tak jijik sedikitpun saat Lunna kecepirit tanpa di sengaja. Lagipula dia juga yang menyuruh Lunna untuk kentut, demi mengalahkan ninja tadi. Sekarang, Jack pun sudah mengetahui apa itu kecepirit. Setelah membersihkan diri Lunna bergegas merebahkan tubuhnya di samping Jack. Tak butuh waktu lama ia dan Jack memasuki ruang mimpi.


Meninggalkan Jack dan Lunna. Yuri tengah kerepotan karena harus membereskan aksi penyerangan tadi. Dia sungguh tak menyangka tanpa menghunuskan pedang Lunna dapat membuat sang ninja pingsan tak berdaya. Tadi ia berdecak kagum sejenak kala mendengar cerita dari Jack.


Saat ini, Yuri di rumah sakit membawa dua orang ninja yang identitasnya tak diketahui itu. Kendati pun begitu Yuri tetap memiliki rasa manusiawi dan menyerahkan semua ke pihak rumah sakit untuk menolong ninja yang kemungkinan sedang kritis itu. Setelah membayar adminitrasi ia gegas kembali ke penginapan sesuai perintah Tuannya.


*


*


Dengan perlahan matahari muncul menyinari bumi. Jack melenguh kala sinar mentari menerpa wajahnya. Matanya mengerjap-erjap berkali-kali, kemudian beralih menatap Lunna sedang tertidur pulas sambil menggorok. Karena sudah terbiasa, Jack tak terganggu sedikitpun. Malahan tersenyum melihat tingkah Lunna yang unik bin ajaib itu.


Dengan perlahan Jack menutup bibir Lunna kemudian melabuhkan kecupan dikeningnya.


"Tadi malam kau sudah berkerja keras, Baby," kata Jack sembari menghirup aroma tubuh Lunna di curuk lehernya.


"Eungh...." Lunna melenguh dengan mengeliat sedikit karena lehernya geli. Kelopak matanya terbuka perlahan, melihat Jack tengah memandanginya begitu lekat.


"Baby, ini jam berapa?" Lunna menyentuh bulu-bulu halus di rahang Jack.


"Hmm, masih pagi, Baby, hari ini kau beristirahat saja dulu. Aku akan meminta sutradara untuk memundurkan jadwal syutingmu." Jack mengacak-acak rambut panjang Lunna.


"Tap–"


Sebelum Lunna protes, Jack meletakkan jari telunjuknya di ujung bibir Lunna.


"Tidak usah membantah, Baby, tenanglah," katanya seraya mengecup kening Lunna lagi.


Mendengar perkataan Jack, Lunna memanyunkan bibir ke depan."Aish, kau itu sangat menyebalkan!"


Sementara itu. Di sudut-sudut kota Yokohama, di sebuah rumah khas Jepang. Pria berambut putih dan tinggi memandang ke depan sembari sesekali melempar makanan ikan ke dalam kolam.


"Sensei," panggil Justin dari arah belakang.


Sensei berbalik, menatap datar Justin tengah membungkukkan badan sedikit.


"Di mana Jack? Apa mereka berhasil membunuh Lunna?" tanya Sensei tanpa basa-basi.

__ADS_1


Sebelum menjawab, Justin menarik nafas pelan.


"Jack berada di penginapanan bersama Lunna. Dan ninja yang aku utus dan Sensei utus tak berhasil membunuh Lunna karena Jack melindunginya. Dua ninja yang lain berada di rumah sakit karena keracunan."


Begitu mendengar ucapan Justin. Pancaran mata Sensei menyiratkan kemarahan terpendam.


"Racun apa?" tanyanya penasaran.


"Aku tidak tahu, Sensei. Sepertinya racun jenis baru, wanita itu yang menyebarkan racun kata salah seorang ninja." Justin menatap datar tanpa ekspresi sedikitpun.


Sensei mendengus. "Bahkan aku mengutus dua klan sekaligus tapi tak ada seorangpun yang bisa membunuh wanita itu ha?!!!" Nafasnya memburu kuat, menatap dingin Justin.


Enggan menyahut. Justin memilih menundukkan kepala. Dia pun keheranan dan bertanya-tanya mengapa dua ninja yang berkompeten bisa kalah dari Lunna dan Jack. Ia tentu saja mengetahui jika Jack tidak terlalu pandai mengunakan samurai. Lantas mengapa ia bisa membuat ninja kewalahan. Tadi, ia sempat menanyakan pertempuran semalam kepada ninja pria di rumah sakit.


"Hubungi Jack! Aku meminta penjelasan darinya! Sudah berani melawan dia!" Sensei berbalik kembali menghadap kolam ikan.


Justin membungkuk lagi, kemudian berlalu pergi, meninggalkan Sensei seorang diri.


Selepas kepergian Justin. Sensei menatap ikan-ikan di kolam renang. Sedang memikirkan sesuatu. Ekor matanya melihat sosok wanita berkulit keriput baru saja tiba.


"Ada apa?" tanya seorang wanita.


Dahi Erika berkerut samar. "Justin?" Wanita bertubuh semampai itu disinyalir ibu Justin dan Jack mengira Justin yang membuat ulah. Karena Jack begitu patuh pada Sensei dan jarang sekali melanggar perintah Sensei.


Sensei melirik sekilas. "Jack," katanya ketus.


"Apa yang dia lakukan?" tanya Erika penasaran.


Sensei tak serta-merta langsung membalas. Menarik nafas sangat panjang. "Pergilah dulu, Erika. Jack sebentar lagi akan ke sini, kau tahu kan dia tak suka melihat dirimu, aku akan menjelaskan padamu nanti."


"Sampai kapan aku selalu bersembunyi." Suara Erika terdengar sedih. "Aku merindukannya," sambungnya.


"Itu lah hasil perbuatanmu dulu, sekarang kau menabur apa yang kau tuai. Pergilah! Sebelum Jack datang." Sensei menoleh, menatap dingin Erika.


Mendengar perkataan Sensei. Erika tersenyum getir, kemudian melenggang pergi.


'Ini semua karena dirimu Jeff! Aku membencimu!!!'

__ADS_1


*


*


*


Saat ini, Justin bersama Jack berjalan beriringan menuju rumah. Justin tersenyum tipis, melihat Jack nampak keletihan. Tak butuh waktu lama, keduanya tiba di ruang khusus Sensei.


"Tinggalkan kami, Justin. Kau berdiri lah di luar!" titah Sensei tak ingin di bantah, menatap Jack duduk berhadapan dengannya.


"Tap–"


"Jangan membantah, Justin!" potong Sensei cepat sebelum Justin melayangkan protes.


Justin mendengus pelan, kemudian berjalan menuju ambang pintu.


Srek


"Jelaskan padaku? Mengapa kau melindungi Lunna?!" Untuk pertama kalinya. Pria tua itu menaikan intonasi tinggi di depan Jack. Ia tengah menahan amarah di dalam hatinya.


Jack menatap lekat Sensei. "Sensei, bukankah kau menyuruhku menjalankan aksi balas dendamku, lalu mengapa Sensei ikut campur urusanku dan menyerang Lunna? Dia publik figur orang akan bertanya-tanya akan kematiannya, terlebih lagi ia sedang syuting di Jepang di bawah naungan agensiku, Sensei tahu sendiri aku paling malas berurusan dengan media, apalagi kakeknya pasti akan memborbardir perusahaanku begitu tahu cucunya meninggal saat syuting film," sahut Jack dengan tenang.


Sensei menghembuskan nafas, mendengar perkataan Jack ada benarnya juga. Pria tua itu tengah mengontrol emosinya yang meledak-ledak. Semula ia mengira Jack telah jatuh cinta pada Lunna. Akan tetapi, melihat pancaran mata Jack, ternyata ia salah.


"Maafkan Sensei yang bertindak semua hati." Jack membalas dengan mengangguk sedikit.


"Tapi Sensei meminta padamu mempercepat aksi balas dendammu, buat dia hamil setelah itu tinggalkan, buat dia terombang-ambing!" katanya lagi.


Deg.


Hati Jack berdenyut nyeri mendengar permintaan Sensei barusan. Saat ini, ia bersikap setenang mungkin agar Sensei tak menaruh rasa curiga padanya.


Sekarang Jack tak ada keinginan lagi untuk membalaskan dendam pada Lunna. Setelah di pikir-pikir yang salah itu Daddy Lunna, bukan Lunna. Lunna adalah wanitanya, istrinya, dan belahan jiwanya itu. Ia akan melindungi Lunna dari Sensei dan orang-orang yang ingin menyakiti Lunna, walaupun harus bertaruh nyawa. Jack sudah terbelenggu dengan cinta Lunna. Seketika rasa rindu membuncah di relung hatinya, saat membayangkan wajah Lunna yang tersenyum padanya tadi, ketika dia hendak berkunjung ke kediaman Sensei.


Jack membalas hanya dengan menganggukkan kepalanya lagi.


"Setelah itu menikah lah dengan Aoki," sahut Sensei tersenyum tipis. Karena sebentar lagi, klannya akan semakin kuat dengan bantuan TRIAD.

__ADS_1


"Iya," kata Jack singkat.


'Bermimpilah! Aku tidak akan menikahi Aoki, aku akan menemukan cara agar mengagalkan perjodohanku.'


__ADS_2