
Sekarang, hubungan Jack dan Lunna ada sedikit kemajuan. Walaupun keduanya belum mengungkapkan perasaan mereka masing-masing.
Setelah malam panas kemarin, Lunna baru menyadari sudah jatuh cinta pada Jack. Namun ia tak mau menaruh harapan pada Jack. Karena perasaannya masih gamang. Rasa takut dikhianati masih ada direlung hatinya. Sedangkan Jack di ambang dilema. Apakah akan tetap melanjutkan aksi balas dendam atau tidak. Belum lagi, bagaimana jika seseorang yang ia segani di negeri sana. Mengetahui dia telah terperangkap pada permainannya sendiri.
Hari ini, Lunna begitu kesal saat Jack merusak riasan make-upnya di pagi hari karena harus melayani suami di atas kertasnya itu di atas ranjang. Dengan muka tertekuk ia menyambar selimut.
"Baby, ayo kita mandi bersama," kata Jack menyeringai tipis, melihat Lunna sedang melilitkan selimut ditubuhnya.
"No! Kau sangat menyebalkan Jack!!" Lunna berseru nyaring, kemudian bergegas ke kamar mandi sebelum Jack kembali menerkamnya lagi.
"Haha!"
Jack tertawa puas melihat Lunna menggeram kesal karena berhasil ia kerjai di pagi hari. Bagaimana tidak, sebelum bercocok tanam. Ia tak sengaja melihat notifikasi ponsel Lunna memperlihatkan sebuah nama yang sangat ia tak sukai. "Brian" mengirim pesan singkat pada istri-nya tadi. Membuat dada Jack bergemuruh kuat, tatkala Brian berani mendekati istrinya. Sembari menunggu, Jack menyambar ponsel di atas nakas, kemudian menelepon Yuri.
"Hallo, Tuan?" sapa Yuri yang saat ini berada di luar kamar Jack.
"Apa kau sudah menemukan Laura?" tanya Jack to the point.
Kemarin, ia dan Yuri menyelidiki siapa saja yang terlibat dalam kejadian di kampus. Hingga menjelang sore ia baru selesai dengan urusannya. Dia marah sebab dalang di balik kekacauan ternyata Laura dan Britney. Dengan kekuasannya Britney langsung diskors untuk sementara waktu. Sedangkan Laura sampai sekarang tak tahu di mana keberadaannya.
Yuri meneguk ludah pelan sebelum berbicara. "Belum Tuan, tapi Yuri mengira ada seseorang yang menyembunyikan Laura," katanya dengan raut wajah serius.
Lantas Jack tak langsung menyahut. Berpikir sejenak sembari melirik sesekali daun pintu kamar mandi. Di ujung sana Yuri menunggu tanggapan dari Tuannya.
"Tuan," panggil Yuri.
"Hmm, baiklah, sebentar lagi kita akan berangkat." Jack memutus sambungan telepon.
"Apa Laura di sekap Simon Andersean?" Jack bergumam pelan lalu menarik nafas panjang. Seketika raut wajah Jack berubah drastis, melihat Lunna keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah. Ia beranjak, kemudian secepat kilat berjalan dan mengangkat Lunna ala bridal style.
"Jack! Turunkan aku!!!" Lunna terlonjak kaget sebab Jack mengangkatnya tanpa aba-aba.
"Kau menggodaku, ya?!" Jack mengecup sekilas bibir Lunna. Seringai tipis muncul saat melihat pipi Lunna berwarna merah muda.
"Tidak!" kata Lunna ketus.
Satu alis Jack terangkat sedikit. "Baiklah, karena aku sangat baik hari ini. Jadi kau tidak dihukum lagi."
__ADS_1
Lunna mendengus dan berdecih sesaat, kemudian memutar bola mata malas.
'Aku harus cek kejiwaanku, mengapa aku bisa jatuh cinta padanya?' Lunna bertanya di dalam hati. Karena Jack tak masuk kriterianya sama sekali tapi mengapa dirinya malah menyukai Jack-Jack.
***
Sugar Entertainmant.
Jika para artis akan bersembunyi setelah skandal yang menimpa mereka. Namun tidak bagi Lunna, karena dia langsung mengkonfirmasi bahwa dia tak pernah melakukan tindakan tak tercela tersebut.
Dengan bantuan Jack, sekarang konferensi pers sedang berlangsung di aula khusus. Wartawan meliput dan bertanya terkait video yang beredar tempo lalu. Lunna menjelaskan dan memperlihatkan bukti yang telah ia kumpulkan untuk menyangkal rumor yang beredar.
Berkat beberapa saksi dan potongan CCTV di tempat kejadian. Akhirnya fans fanatiknya seketika bungkam. Kecuali Britney menyumpah serapah Lunna di apartment-nya sedari tadi saat menonton tayangan di televisi. Wanita itu sangat tak terima sebab Lunna dengan mudah menyangkal semua tuduhan.
Setelah konferensi pers berakhir. Lunna pamit undur diri bergegas ke ruang pribadinya. Seketika para wartawan mengerubunginya. Dengan sigap Kristin dan beberapa bodyguard menghalangi para pencari berita itu.
"Fiuh! Aku benar-benar capek, Kris..." Lunna berucap lirih sembari menghempaskan bokong di sofa.
Kristin menghela nafas kasar. "Iya, aku juga, aku ingin sekali liburan," katanya sembari menyambar segelas air putih di atas meja dan meneguknya hingga tandas.
"Iya, kau benar. Kapan kita bisa liburan?"
"Cih, kau ini!' Lunna memutar bola mata ke atas.
Dering ponsel Kristin mengalihkan atensi Lunna dan Kristin. Secepat kilat Kristin mengangkat benda mini itu. Kedua matanya membola melihat seorang sutradara terkenal menghubunginya. Ia mengusap layar ponsel.
Raut wajah Kristin berubah dratis mendengar seseorang di ujung sana berbicara panjang lebar. Lunna mengerutkan dahi, melihat Kristin seperti menang lotre saja. Pasalnya Kristin tersenyum lebar hingga menampakan gigi-gigi putihnya.
"Kenapa?" tanya Lunna penasaran setelah Kristin menyimpan ponselnya di saku celana.
Kristin tersenyum penuh arti kemudian melompat-lompat kecil. "Haaa, Lunna kita akan ke Jepang!' pekik Kristin hingga membuat kaca raksasa di sisi kiri bergetar. Tak pelak Lunna mengerutu sembari menutup telinganya.
"Ish, ini bukan hutan Kris!!" Lunna mendengus lalu menurunkan tangan.
"Hehe, sorry, aku sangat senang, Lunna. Akhirnya keinginan kita tercapai kita bisa pergi berliburan sambil kerja," kata Kristin lalu menghampiri Lunna yang masih mode bingung.
"Maksudmu?"
__ADS_1
"Tadi Mr.Demian memintamu menjadi pemeran utama di film action terbarunya, dan proses syutingnya diadakan di Jepang! Jadi, besok kita pergi ke sana, Lun!" tutur Kristin mengebu-gebu.
Mata Lunna membola mendengar kabar gembira dari Kristin. Seketika raut wajahnya terlihat kesal.
Dahi Kristin berkerut melihat muka Lunna berubah. "Ada apa?"
"Semoga saja si Jack-Jack itu memberikanku izin dan tak mengacaukan syutingku!" Lunna teringat jika Jack mengatakan jika harus pergi ke suatu tempat harus meminta izin darinya.
Kristin tergugu, enggan menyahut karena ia pun kebingungan harus mengatakan apa. Belum lagi dia semakin yakin jika Lunna dan Jack sekarang sudah saling mencintai. Hal itu dapat ia lihat dari pancaran mata Jack dan Lunna ketika mereka sedang berinteraksi didepannya. Kristin akan bertanya pada Lunna di waktu yang tepat mengenai hubungan suami dan istri di atas kertas itu.
Lagi dan lagi dering ponsel berbunyi. Kali ini ponsel Lunna yang berbunyi. Dengan cepat Lunna mengambil ponselnya di saku blazernya. Tertera satu nama di layar ponsel 'Yuri'.
"Haaaaaaa!" Lunna memekik karena mendapatkan informasi jika Jack pergi ke luar pulau untuk jangka waktu yang lumayan lama. Bagai ketimpa durian runtuh. Ia bersama Kristin melompat kegirangan di ruangan menghiraukan Carlos yang baru saja masuk membawa cemilan kesukaan mereka.
"Wah, aku tidak menyangka kenapa waktunya sangat tepat!" cerocos Lunna.
"Mungkin doamu terkabul, Lun. Eh tapi ngomong-ngomong, Jack pergi kemana?" tanya Kristin penasaran.
"Entahlah, Yuri mengatakan tidak jelas, mereka akan pergi kemana. Dia hanya bilang aku di suruh menginap di apartment saja dan menunggu kedatangan Jack. Hell no! Dia pikir aku anak kecil apa!?" Lunna melipat tangan di dada.
"Jadi, kau tak memberitahunya kau akan ada syuting di Jepang?"
"Tidak! Pasti dia tidak mengizinkan, sudahlah, Kris, ini kesempatan bukan. Tuhan benar-benar baik padaku, hahaha. Malam ini kita harus ke mall membeli beberapa pakaian untuk di sana!" seru Lunna dengan lantang.
"Oke, oke tapi ingat kita harus menyamar agar kau tidak dikerumuni wartawan. Bisa pusing aku!" Kristin mendengus.
"Iya, iya managerku yang cantik!"
Sementara itu. Jack baru selesai meeting bersama Mr. Trevor di restaurant. Pria itu memijit pangkal hidungnya saat mendapatkan perintah dari Sensei yang menyuruhnya untuk ke Jepang sekarang juga. Dia bingung, mengapa Sensei memintanya pergi secara mendadak tak seperti sebelum-belumnya. Tadi, Jack bertanya pada Sensei, apa ada masalah, tapi pria yang sangat ia segani itu malah mengalihkan topik pembicaraan.
"Yuri, apa kata Lunna?" tanya Jack. Ia tak sanggup berbicara pada Lunna mengenai kepergiannya. Sebab suasana hatinya tiba-tiba kalut.
"Hmm, Lunna A, tidak banyak bertanya Tuan. Dia hanya mengucapkan iya saja," kata Yuri berbohong padahal ia tadi mendengar Lunna berteriak kesenangan di ujung sana. Entah apa yang membuat Lunna senang, Yuri pun tak tahu, dan memilih memutuskan sambungan karena teriakan Lunna bergema di telinganya.
"Baiklah, kau minta Kristin menemani Lunna, dan laporkan apa saja kegiatan mereka. Malam ini kita langsung ke Jepang."
Membungkuk sedikit. "Baik, Tuan," kata Yuri.
__ADS_1
'Apa Tuan tak mampu berjauhan dengan Lunna, jadinya dia gelisah seperti itu?' Yuri memperhatikan raut wajah Jack yang nampak resah.