
Setelah menyelesaikan perkerjaan dan bertemu sesaat dengan kolega perusahaan. Yuri bergegas menuju hotel tempat Jack dan Lunna berada. Ia mengira bahwa Jack sedang menyiksa Lunna. Yuri nampak nelangsa, berharap Lunna baik-baik saja.
Sesampainya di ambang pintu. Yuri mematung kala mendengar suara Lunna meminta berhenti pada Jack.
'Kasihan sekali, Lunna A. Tuan Jack anda benar-benar keterlaluan. Walau bagaimana, Lunna itu seorang wanita.'
Yuri bermonolog di dalam hati sebelum mengetuk pintu. Tatkala tak mendengar suara rintihan Lunna. Yuri mengetuk perlahan pintu kamar.
"Tuan! Ini aku, Yuri!" Yuri berseru cukup nyaring agar Jack dapat mendengarnya. Tak ada sahutan. Yuri diterpa kebingungan. Ia hendak mengetuk kembali, namun tiba-tiba pintu terbuka dengan perlahan.
"Ada apa?" Jack menyembul keluar hanya memakai handuk yang dililitkan di pinggang. Nampak peluh keringat membasahi perut atletisnya.
'Ya ampun, Tuan menyiksa Lunna sampai berkeringat seperti itu. Apa yang Tuan Jack lakukan pada Lunna A?'
"Yuri sudah menyelesaikan pekerjaan Tuan." Yuri curi-curi pandang. Matanya bergerak-gerak hendak mencari Lunna di sela-sela pintu.
Mata Jack memicing, melihat gelagat Yuri.
"Iya, baguslah. Apa yang kau cari?!" Jack bertanya ketus sembari sedikit merapatkan pintu karena tak mau jika Yuri melihat Lunna yang sedang keletihan di tempat tidur akibat permainan panasnya tadi.
Yuri gelagapan. "Ti-dak a-da, Tuan," kata Yuri seraya menundukkan kepala saat melihat pancaran mata Jack tersirat rasa tidak suka.
"Hmm, kau belikan pakaian untuk Lunna sekarang!" Setelah mengucapkan kalimat barusan Jack menutup pintu kamar dengan sangat kuat hingga Yuri terlonjak.
Brak!
Yuri mengusap sekilas hidung mancungnya yang terkena hentakan pintu tadi. "Pakaian?" Gurat keheranan terpampang jelas diwajahnya.
Tanpa sadar Yuri menggeleng pelan, mendengar permintaan Jack memintanya membelikan Lunna pakaian.
"Kejam sekali Tuan Jack, pakaian Lunna A di sobek-sobek. Kasihan Lunna A. Apakah Lunna di cambuk sama seperti Tuan–"
"Cepat kau belikan Yuri!!!" Bak cenayang Jack berteriak dari dalam kamar. Apa Tuan Jack melihat CCTV melalui handphone, pikir Yuri. Dengan tergesa-gesa Yuri melangkah hendak membelikan Lunna pakaian di pusat perbelanjaan terdekat.
*
*
*
Lunna memberengut kesal manakala Jack memberikan pakaian yang tak sesuai seleranya. Jaket hoodie cowok berukuran XL, celana training berukuran L, dan jangan lupakan topi berwarna merah bertengker dikepalanya saat ini.
__ADS_1
Sepanjang langkah menuju basement hotel. Lunna bersembunyi di balik pilar-pilar agar seseorang tak mengenali dirinya.
"Lunna! Ayo cepat!" Jack menggeram sebal melihat Lunna seperti bermain petak umpet. Pria itu sedang menunggu Lunna di depan pintu mobil.
"Ish!" Lunna menghentakkan kaki sesaat lalu berjalan cepat menghampiri Jack.
"Ini semua salah kau! Kenapa kau merobek-robek bajuku ha?!" kata Lunna ketus lalu mendorong tubuh ke samping yang menghalaunya untuk masuk ke dalam mobil.
Brak!!
Dentuman kuat memekakan telinga Jack saat Lunna membanting pintu mobilnya. Mata Jack melebar lalu menarik nafas kasar. Sebab stok kesabarannya sisa satu persen. Yuri yang tak jauh berada dari Jack hanya terdiam membisu menyaksikan pertengkaran antara Jack dan Lunna barusan.
'Lama-lama Yuri bisa gila dengan mereka berdua. Yuri tidak paham mereka?' Yuri menggeleng pelan saat melihat Jack telah masuk ke dalam mobil setelah dia membukakan pintu untuk Tuannya.
"Aku mau ke apartment!" Lunna menyilang tangan di dada sebagai tanda aksi protesnya. Matanya menoleh sekilas pada Jack.
"Untuk apa?" tanya Jack.
"Aku mau menginap di apartmentku saja malam ini! Aku malas pulang ke mansion!" Lunna menjawab tanpa menatap lawan bicara.
Jack tak langsung menjawab. Ia tengah berpikir sejenak, raut wajahnya tanpa ekspresi sedikitpun. Detik selanjutnya, seringai sinis terpatri jelas.
"Baiklah," kata Jack.
"Aku boleh ke apartmentku?" tanyanya memastikan, seakan tak percaya perkataan Jack barusan.
Jack membalas dengan mengangguk. Lunna mengembangkan senyumannya manakala Jack mengizinkannya tidur di apartment.
"Aku juga akan menginap di tempat tinggal istriku!" Mendengar perkataan Jack, senyuman di wajah Lunna seketika sirna.
"Tidak boleh! Di lar–"
"Tidak ada bantahan, jika kau tak menuruti perintahku nanti malam kau akan ku cabik-cabik lagi! Mau?" sergah Jack cepat.
Lunna mendengus, kemudian mengumpati Jack. "Jack-Jack jelek!" Ia menjulurkan lidah sesaat, lalu memalingkan muka ke jendela mobil.
'Astaga, jadi Lunna semalam di cabik-cabik sama Tuan, apakah Tuan mencakar-cakar Lunna sehingga bekas lukanya banyak, sampai-sampai Tuan Jack menyuruhku membelikan Lunna baju yang serba tertutup,' kata Yuri di dalam hati. Sedari tadi ia mengemudikan mobil dan tanpa sengaja mendengar perbincangan suami istri itu.
"Yuri, kita ke apartment Lunna A." Jack membuyarkan lamunan Yuri. Melirik Lunna sekilas, seulas senyum penuh arti terbit di wajah Jack.
"Baik, Tuan."
__ADS_1
*
*
Matahari bergerak perlahan ke arah barat. Gemerlap lampu menghiasi perumahan dan pusat-pusat perbelanjaan. Lunna mendengus kala Jack berbuat sesuka hati di apartmentnya. Saat ini, Jack tengah membersihkan diri di kamar mandi.
Lunna mengerlingkan mata lalu kembali menyantap mie samyang buatan negeri Korea Selatan. Ia malas untuk memasak, terlebih lagi ada Jack di apartmentnya. Sembari mengunyah mie, matanya fokus melihat tayangan di televisi.
Ceklek!
Pintu terbuka.
Lunna enggan menoleh. Dia masih melahap mie di dalam mangkok. Sesekali menyeruput ice tea dan memakan lagi mienya.
"Dimana bajuku?" Mata Jack memindai meja di sudut ruangan. Tadi, dia meminta Yuri membelikannya piyama tidur.
"Di atas kasur!" kata Lunna ketus, tanpa menoleh sedikitpun.
Sekitar pukul sembilan malam. Suara guntur menggelegar kuat di atas pencakar langit. Lunna yang sedang membuat susu diet-nya di dapur terlonjak kaget. Beruntung sekali apartment-nya hidup lampu selama 24 jam. Jadi, dia tak perlu ketakutan jika lampu padam.
Lunna mengusap perlahan dadanya manakala suara guntur terdengar lagi. Kali ini bunyi guntur sangat nyaring dan kuat, begitu bergema di telinga Lunna. Setelah selesai mengaduk-aduk susu. Lunna menyesap air berwarna putih itu dalam satu kali tegukkan.
Duar!
"Yuri!!!" jerit Jack di kamar Lunna. Lunna terlonjak mendengar bunyi guntur dan suara Jack secara bersamaan pula. Dengan cepat ia menuju kamarnya.
"Jack!"panggil Lunna menelisik keberadaan kamarnya yang terlihat berantakan. Ia dilanda kebingungan melihat kamarnya seperti kapal pecah. Lunna melihat tetesan darah di lantai.
"Jack!" Lunna mencari Jack yang tak nampak di pelupuk matanya. Bukankah tadi dia mendengar teriakan Jack dari dalam kamar. Lalu di mana pria itu sekarang? Rasa cemas seketika merasuk ke dalam hatinya.
"Jack!!" panggil Lunna lagi. Sedari tadi kepalanya celingak-celinguk mengamati keberadaan Jack.
"Yuri, berikan aku benda itu...."
Lunna menoleh ke arah ranjangnya. Saat mendengar samar-samar suara Jack berada di sisi kanan tempat tidur. Dengan perlahan Lunna melangkah.
Deg.
Nafas Lunna tercekat. Ia tak bisa berkata apa-apa saat melihat Jack duduk di bawah ranjang, sedang menghisap darah dari lengannya. Pria itu seperti orang yang ling-lung. Nampak peluh keringat membasahi tubuh Jack. Tubuh Jack bergerak-gerak ke depan sembari menyesap darah yang mengalir di tangan. Reflek, satu tangan Lunna terulur hendak menyentuh pundak Jack.
"Jack! Apa yang kau lakukan?!" tanya Lunna.
__ADS_1
Secepat kilat Jack mendongakkan kepalanya ke atas. "Pergi kau! Pergi! Tinggalkan aku!" Jack beranjak sembari mengibaskan tangan Lunna yang ingin mengapainya.