Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet

Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet
Leon Kalang Kabut


__ADS_3

Sudah sebulan Leon seperti orang gila karena tak dapat menemukan Jack dan Lunna sampai saat ini. Pria itu melempar remote control ke sofa kemudian duduk dengan melonjorkan kakinya ke atas meja.


"Di mana mereka, Lex?! Apa kau sudah tidak pintar seperti dulu?" tanya Leon menatap datar Lexi yang berdiri tegap dihadapannya.


"Maafkan saya Tuan. Akan saya usahakan untuk mencari keberadaan Lunna dan Jack lagi."


Seketika Lexi menundukkan kepalanya padahal dia sudah mengetahui di mana Jack dan Lunna sekarang. Akan tetapi Lily meminta padanya agar tak memberitahu Leon. Dengan terpaksa Lexi menuruti perintah Lily saat ia di ancam oleh majikannya itu. Jujur saja semenjak Leon menikahi Lily. Menurutnya Lily lebih kejam dan galak daripada Leon.


Leon mengamati tingkah laku tangan kanannya dahulu. Kedua matanya memicing lalu berkata,"Atau kau memang sudah tahu ha?!"


Mendengar perkataan Leon barusan. Lexi sebisa mungkin bersikap tenang. "Saya tidak tahu Tuan," jawabnya.


Leon menarik nafas pelan. Memejamkan sesaat matanya kemudian memijit keningnya.


"Hah.. Masalah di Indonesia sudah selesai, mengapa datang masalah lagi..." Leon bergumam pelan. Memang benar sebulan yang lalu. Dia kembali sebentar ke Indonesia memeriksa keadaan Romeo dan Juliet, menantunya yang katanya mengalami musibah namun dapat segera teratasi.


Pria berhidung mancung itu heran mengapa masalah datang bertubi-tubi. Belum lagi Lily sekarang menjaga jarak dengannya. Tak cukup sampai di situ si kembar, Nickolas dan Samuel membuat ulah lagi


Lexi bergeming enggan menimpali perkataan Leon. Meski majikannya itu tengah berbicara sendiri. Dia dapat mendengar dengan jelas ucapan Leon.


"Lex! Perluas lagi pencarian! Di Rusia bila perlu, atau bila perlu ke pulau-pulau kecil!" Leon berseru tiba-tiba.


Membuat Lexi tersentak sedikit. "Iy-a, iya Tuan," katanya dengan tergagap-gagap.


Leon mendengus kasar melihat reaksi Lexi. "Di mana Lilyku?"

__ADS_1


"Nyonya–"


"Mengapa kau mencariku?" Lily baru saja masuk ke ruangan bersama Darla sembari menenteng barang belanjaannya yang super banyak.


Leon bangkit berdiri kemudian menghampiri Lily yang tengah sibuk menaruh paperbag di atas meja. Dengan cepat ia melingkarkan tangan di pinggang sang istri.


"Honey, aku merindukanmu, jangan jauh-jauh dariku." Leon menaruh dagunya di pundak Lily sembari mengecup sekilas pipi Lily.


"Ini hukuman untukmu, lepaskan Leon. Aku sedang marah. Kau tidak lihat ada Darla dan Lexi di sini," kata Lily ketus.


"Aku tidak peduli! Anggap saja mereka patung," kata Leon semakin mengeratkan pelukan.


Lily enggan menyahut, percuma berdebat dengan Leon yang ada kepalanya akan semakin pusing. Sedangkan Darla memilih duduk di sofa sambil menyambar cookies di atas meja. Sedangkan Lexi semakin menundukkan kepalanya tak mau menjadi obat nyamuk bagi Leon dan Lily.


"Honey, apa kau tahu Lunna di mana? Kau mau tas apa? Aku akan membelikanmu," kata Leon.


Deg.


Lexi tersenyum kikuk. Sedangkan Leon menebarkan senyuman karena Lily secara tidak sengaja mengatakan sudah tahu keberadaan Lunna.


"Gotcha! Kau nakal sekali, Honey! Lexi tidak mengatakan apa pun padaku, aku hanya menebak. Sekarang cepat katakan padaku di mana mereka?"


"Whats?! Never! Aku tidak mau kau memberitahu di mana anakku dan menantuku itu berada! Biarkan mereka bahagia Leon. Atau mau ku perpanjang lagi masa vakum ularmu itu ha?!" Lily menghempas kasar tangan Leon karena telah masuk ke dalam jebakan suaminya.


"Oh come on, Honey. Jangan! Ayo kita bicarakan di kamar saja ya," kata Leon sembari memutar tubuh Lily dan mengangkat tubuh istrinya seperti karung beras. Lily berteriak-teriak histeris tatkala Leon berbuat sesuka hati.

__ADS_1


Selepas kepergian Leon dan Lily. Darla dan Lexi saling melemparkan pandangan.


"Nasib para jomblo..." ucap Darla lirih menatap punggung Leon menghilang di ujung sana.


"Nyonya saja. Aku sih tidak," sahut Lexi tersenyum tipis.


"Whats?! Kau kan juga jomblo, eh maksudku kau kan sekarang duda di tinggal istrinya selingkuh, hahaha!" Darla tertawa lepas sebab baru mendapatkan kabar jika Lexi sudah bercerai dengan istrinya dua minggu yang lalu. Saat bertugas mencari Jack dan Lunna tanpa sengaja Lexi memergoki istrinya sedang indehoy bersama pria lain. Tanpa banyak kata, Lexi segera mengugat cerai mantan istrinya itu keesokan harinya.


Lexi memutar bola mata malas mendengar cercaan Darla. "Setidaknya aku tidak jomblo dari kecil," katanya dengan angkuh.


"Dengar ya, uncle Lexi yang terhormat. Aku ini jomblo yang berkualitas." Darla mengangkat satu alis lalu melipat tangannya di dada.


Lexi enggan menyahut. Ia hendak berlalu pergi karena harus melaksanakan tugasnya.


"Eits, tunggu dulu. Uncle Lexi, jadi Lunna di mana sekarang?" Darla teramat penasaran sebab tak ada teman untuk bermain lagi di mansion.


Sebelum berucap Lexi menghela nafas. "Di suatu tempat yang sangat jauh," katanya kemudian melenggang pergi dengan cepat meninggalkan Darla yang sedang mengerutu sebab tak mendapatkan jawaban dari Lexi.


***


Di suatu tempat. Nun jauh di pelupuk mata. Sepasang kekasih saling menyematkan cincin di jari manisnya. Saat ini, Lunna dan Jack berada di sebuah pulau terpencil yang tak terlalu jauh dari benua Amerika. Sebagian penduduk pulau menyaksikan akad pernikahan Jack dan Lunna di gereja. Kini, status Jack dan Lunna sudah suami dan istri lagi.


Dengan perlahan Jack membuka slayer bridal Lunna.


"Kau sangat cantik, Baby," kata Jack kemudian melabuhkan kecupan di kening Lunna.

__ADS_1


"Hehe itu lah aku," kata Lunna dengan percaya diri.


__ADS_2