Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet

Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet
Wanita Penggoda


__ADS_3

Kembali ke Los Angeles.


[Mansion Harlow]


"Bagaimana?" Jack bertanya setelah melihat Dokter menyelesaikan tugasnya.


Dokter Rogue merapikan sesaat kacamata lalu meletakkan stetoskop di atas nakas. Pria bertubuh gempal itu melirik Lunna sekilas.


"Saya sarankan untuk membawanya ke rumah sakit, Mr. Jack. Karena luka yang didapatkan Lunna cukup parah, ditubuhnya begitu membiru. Saya akan melakukan pemeriksan rontgen agar kita bisa mengetahui lebih jelas keadaan organ dalam Lunna,"kata Dokter Rogue sambil menatap Jack lekat-lekat.


Lantas Jack tak langsung menyahut perkataan Dokter. Dia beralih menatap Lunna yang sedang tertidur begitu damai. Detik selanjutnya, bibir Jack membuka.


"Aku akan menyiapkan ruangan khusus bawa saja peralatannya ke sini, Yuri akan mengurus semua apa yang dibutuhkan," kata Jack tanpa ekspresi sedikitpun.


Dokter Rogue menghela nafas berat. Lalu mengeleng pelan. Dia tahu betul perangai Jack akan memerintah seenak jidatnya. Namun demi kesembuhan pasien, Dokter Rogue mengangguk, menyanggupi permintaan Jack.


"Kalau boleh tahu, mengapa Lunna A bisa mendapatkan luka ini?" tanya Dokter Rogue berhati-hati.


Dokter Rogue jelas mengetahui luka lebam yang terdapat di tubuh Lunna adalah tindakan kekerasan. Ia mengira Jack melakukan sesuatu yang keji terhadap Lunna. Akan tetapi ia tak mau menerka-nerka, lebih baik bertanya langsung. Pria berkulit keriput itu tahu seluk-beluk kehidupan Jack Harlow. Dia sudah menjadi Dokter pribadi Jack selama kurang lebih enam tahun.


Jack menoleh, menatap datar Dokter Rogue yang sedang menunggu jawaban.


"Bukankah anda sudah tahu penyebabnya?"


Suara Jack terdengar tajam dan dingin membuat suasana di dalam kamar seketika mencekam. Akan tetapi, Dokter Rogue menanggapi perkataan Jack dengan tersenyum kaku. Ia sudah tahu betul perangai pria dihadapannya.


"Baiklah, kalau begitu aku harus menyiapkan apa saja yang dibutuhkan Lunna A," kata Dokter Rogue mengakhiri perbincangan.


Jack membalas dengan dehaman rendah lalu beralih menatap Lunna. Selepas kepergian Dokter Rogue. Dengan perlahan Jack menaiki peraduan lalu merebahkan diri di samping Lunna yang sudah terpasang infus di punggung tangan kanannya.


Jack menatap datar tanpa ekspresi sedikitpun wajah istri di atas kertasnya itu dengan intens.


"Jangan salahkan aku, salahkan dirimu lahir di keluarga Andersean," desis Jack sambil memegang helaian rambut Lunna.


Lima menit berlalu. Jack masih memandangi wajah Lunna. Sedari tadi tangannya pun tak henti bergerak. Matanya berkedip pelan mengamati setiap lekukan wajah Lunna. Dari bulu mata, alis mata, hidung mancungnya, dan terakhir bibir Lunna yang nampak pucat. Tanpa sengaja Jack melihat dua gundukan di bawah leher Lunna.

__ADS_1


"Apa tidak ada pakaian lain?" desis Jack kala melihat pakaian yang dikenakan Lunna menerawang di bagian atas. Belum lagi Lunna tak memakai penutup kacamatanya. Ia dapat melihat pucuk Lunna menyembul keluar. Seketika pikiran Jack melanglang buana entah kemana.


'D@mn! Wanita ini benar-benar pandai memancingku! Awas saja dia!' Jack beranjak kemudian berjalan cepat menuju toilet.


*


*


Waktu menunjukkan pukul empat sore. Suasana di dalam kamar Jack sunyi dan senyap. Hanya terdengar dengkuran halus dari Jack. Tanpa sadar ia juga ikut terlelap di samping tubuh Lunna. Pria itu tertidur dengan posisi menyamping. Satu tangannya melingkar di perut Lunna.


Bunyi derit pintu terbuka terdengar pelan. Seorang wanita bertubuh semampai hendak berjalan masuk ke dalam kamar. Sahara mematung di ambang pintu saat melihat pemandang di depan. Matanya melotot tajam sembari kedua tangannya menggepal dengan sangat kuat. Rahangnya mengeras menandakan ia sedang menahan gejolak amarah.


'Si@lan! Awas saja kau Lunna!'


"Hei, minggir kau!" Yuri menepuk pundak Sahara dari belakang membuat Sahara tersentak karena sedang asik mengumpat Lunna di dalam hatinya.


Tanpa banyak kata Sahara berjalan ke dalam kamar. Begitu pula dengan Yuri. Pria itu mengerutkan dahi, melihat raut wajah Sahara sedang menggeram sebal.


'Apa apa dengan wanita jelek ini?'


'Tuan tak pernah tidur begitu nyenyak. Biasanya kalau ada suara sedikit, pasti dia langsung terbangun. Tapi di dekat Lunna, Tuan Jack tidur seperti koala, hehe.'


"Kau kenapa senyam-senyum?" tanya Sahara saat melihat Yuri memandang Jack dan Lunna dengan ekspresi wajah terlihat bergembira.


Seketika raut wajah Yuri berubah. "Suka-suka aku, apa urusanmu?" Suaranya terdengar tajam walaupun nada bicaranya rendah.


Sahara mendengus kasar. "Tentu saja itu urusanku, karena kita sekarang di dalam kamar Tuan Jack!" Sahara sengaja meninggikan suara agar Jack segera terbangun. Akan tetapi Jack malah semakin mengeratkan tangannya di perut Lunna. Pria itu sepertinya keletihan.


Yuri berdecih. "Kau harus tahu batasan Sahara, kita sama-sama budak di sini. Tapi yang jelas level kita sangat berbeda," Yuri berkata sembari tersenyum sinis.


Sahara melotot melihat pancaran mata Yuri terkesan mengejeknya. "Kau berani denganku! Akan laporkan pada Tuan!" Nafas wanita itu sangat memburu belum lagi pemandangan di depan membuatnya semakin membara.


Yuri mencibir kemudian berkata,"Silahkan."


"Berisik!"

__ADS_1


Perkataan itu lantas membuat Sahara dan Yuri menegang seketika. Jack baru saja terbangun dari tidurnya. Dengan mata terpejam ia menyuruh Yuri mendekat menggunakan bahasa isyarat. Yuri yang mengerti mengayunkan kaki mendekati tempat tidur.


Membungkuk sedikit. "Ada apa Tuan?" tanya Yuri hati-hati.


"Ambilkan aku air putih!" perintah Jack.


Yuri mengangguk lantas melaksanakan perintah dengan mengambil teko bening di atas nakas dan menuangkannya ke gelas.


"Sahara keluar!" sahut Jack setelah meneguk minuman pemberian Yuri barusan hingga tandas. Pria itu sedang duduk dengan menyenderkan kepala di sandaran tempat tidur.


Sahara menggeram sebal. "Tapi Tuan—"


"Kau berani membantahku! Keluar!" titah Jack sambil melotot tajam kepada Sahara. Sahara tergugu, sebelum melangkah dia menghentak-hentakkan kaki ke lantai sejenak.


Seulas senyum tipis terukir diwajah Jack.'Ih wanita itu tidak tahu diri, Yuri tidak suka Sahara.' Ia melirik sinis ke arah Sahara.


"Sudah kau persiapkan semuanya?" tanya Jack selepas kepergian Sahara.


"Sudah Tuan, masalah perkerjaan Lunna A, juga sudah saya selesaikan. Britney mengucapkan terimakasih pada anda," jawab Yuri sambil melirik Lunna sekilas.


"Hmm."


Jack hanya berdeham kemudian mengalihkan pandangan mata ke arah Lunna yang masih saja terlelap. Padahal sedari tadi suasana di dalam kamar lumayan ribut. Seingat Jack, Dokter Rogue mengatakan Lunna secepatnya akan siuman. Namun mengapa di sore hari kedua matanya tak jua membuka.


"Apa dia sedang berpura-pura?"Jack bergumam pelan.


"Iya aku sedang berpura-pura b@jingan. Awas saja kau. Beraninya dengan perempuan! Dasar banci! Tunggu pembalasanku Jack-Jack! Kali ini aku harus mempersiapkan diri jika cuaca sedang hujan. Aku yakin sekali dia sengaja mematikan lampu! Bersiaplah Jack tunggu pembalasanku!!!!'


Beberapa detik lalu, Lunna sudah terbangun. Ia meringis pelan kala merasakan tubuhnya begitu hancur dan remuk. Samar-samar juga dia mendengar semua pembicaraan Jack dan Yuri barusan.


"Tuan mau kemana?" tanya Yuri saat Jack beranjak dari kasur.


"Aku mau ke dapur sebentar," sahut Jack tanpa menatap lawan bicara.


Setelah menutup pintu kamar. Langkah kaki Jack terhenti saat merasakan getaran di saku jasnya. Dengan cepat dia mengambil ponsel yang ternyata milik Lunna. Kedua mata Jack melotot tajam ketika melihat sebuah nama menghiasi layar ponsel Lunna.

__ADS_1


__ADS_2