
Helikopter Jack.
Di dalam kegelapan malam. Nampak sebuah helikopter terbang di atas langit menuju tempat tujuan. Sedari tadi tak ada yang membuka suara saling melemparkan pandangan satu sama lain. Yuri tengah sibuk membersihkan luka Jack. Sesekali dia melirik sekilas dua ninja yang membantu mereka tadi. Setelah selesai membalut luka Tuannya, Yuri menepuk pundak Kristin di kemudi depan.
"Kris, apa kau sudah mengirim pesan pada Lunna?" tanya Yuri penasaran.
Kristin menoleh lalu berkata,"Lunna tak bisa dihubungi, pasti dia trauma dengan perbuatan Justin, saudara kembar Jack. Mereka semua pasti salah paham, mengira Jack yang membunuh anaknya."
Kristin baru saja mengetahui informasi tersebut dari Yuri. Dia tak habis pikir mengapa ada seseorang yang begitu tega menyakiti saudaranya sendiri. Apalagi melihat kondisi Jack yang sangat lemah. Dia yakin Jack di suntik sesuatu hingga menyebabkan tubuhnya melemah dengan perlahan.
"Iya, sekarang kita ke mansion Tuan Simon menjelaskan semuanya pada mereka."
Kristin mengangguk kemudian fokus menatap ke depan.
Yuri menghela nafas. Seandainya saja ia berterus terang pada Kristin dan Lunna A, pasti kesalahpahaman ini tak akan terjadi. Pasalnya dia pun kesusahan bertemu dan mengirim pesan pada Kristin sebab Sensei dan Justin selalu menempatkan mata-mata dan menyadap handphonenya.
Akhirnya malam ini, dia memberanikan diri melanggar perintah Sensei walaupun Yuri tahu konsekuensi ke depannya seperti apa. Pasti Sensei akan melakukan sesuatu pada keluarganya di Jepang. Untuk saat ini fokus utamanya adalah membantu Jack. Yuri melirik dua ninja yang duduk berhadapan dengannya. Jujur dia sedikit terbantu dengan kehadiran keduanya akan tetapi dia keheranan apa motif kedua ninja tersebut membantu mereka.
"Kenapa kalian membantu kami?" tanya Yuri.
"Karena kami berpihak pada kalian," sahut ninja pria.
Yuri mengerutkan dahinya. "Maksudnya?"
"Kami adalah klan kawakami terakhir, malam itu target kami bukan lah Tuanmu, melainkan kembarannya, Justin Harlow. Kami berpura-pura menjadi ninja bayaran untuk melihat musuh dari dekat. Asal kau tahu Justin telah membunuh separuh klan kami dan menjual organ dalam keluargaku, kami menjadikan target wanita yang bersama Tuanmu ingin memancing umpan. Sebagai imbalannya kami minta bantuan pada kalian memberikan racun yang digunakan wanita itu saat membantai kami kemarin," jelas ninja pria panjang lebar.
Dengan dahi berkerut samar, Yuri mendengar penjelasan pria dihadapannya. "Racun?"
Kedua ninja saling melemparkan pandangan sesaat. "Iya, racun yang dikeluarkan dari tubuh wanita itu," kata ninja sang wanita.
'Astaga, jangan bilang kentut Lunna A, mereka bilang racun. Bagaimana menjelaskannya ya?' Yuri menggaruk kepalanya sesaat.
Melihat Yuri yang kebingungan. Jack berkata,"Baiklah, kami akan memberikan kalian racun itu nanti, tapi aku penasaran bagaimana kalian bisa sampai di sini? Maksudku bisa tahu mansionku."
"Ketika saudara kembarmu dan pria tua bangka yang bernama Sensei itu kemari. Kami membuntuti mereka dan menyamar menjadi salah satu anak buah Sensei," jelas si pria ninja.
Jack nampak mangut-mangut mendengar penjelasan ninja tersebut.
"Tuan Jack, lebih baik kita malam ini tunda saja dulu ke mansion Simon. Kita menginap di villa saja, dan mengatur siasat agar bisa masuk ke kediaman Andersean tanpa menimbulkan keributan," sahut Yuri tiba-tiba. Dia baru saja teringat untuk masuk ke mansion Simon pasti sangat lah susah belum lagi jumlah mereka saat ini pasti kalah telak.
__ADS_1
*
*
*
"Darla!!!" teriak Lunna. Darla baru saja menyelenong masuk ke dalam kamarnya. Setelah Darla masuk dari luar sang penjaga langsung mengunci kamarnya.
"Grandpa di mana?" tanyanya frustrasi sebab sedari tadi dia mengedor-edor pintu kamar namun yang ada malah kelelahan yang ia dapatkan.
"Grandpa sedang dikantor, sepertinya akan sibuk aku dengar dia akan membuat perusahaan Jack hancur!" Darla berseru sembari mengambil remote tv di atas meja lalu merebahkan diri di kasur Lunna.
"Aduh, Darla! Asal kau tahu, itu bukan Jack, maksudku yang membunuh anakku bukan lah Jack tapi–"
"Kau bicara apa sih! Tidak jelas sekali! Bucin boleh tapi jangan karena cinta, kepintaranmu berkurang!" Darla memutar bola mata malas.
"Ish, dengarkan aku dulu Darla Marques! Jack itu punya kembaran tahu!"
"Ha? Maksudnya?" Darla melonggo apa dia tak salah mendengar perkataan Lunna barusan.
Dengan cepat Lunna menoyor dahi Darla "Cih, makanya kalau aku ngomong jangan di potong-potong!"
Sebelum berucap Lunna membasahi bibirnya sejenak dan mulai menceritakan apa yang menjadi praduganya kepada Darla. Raut wajah Darla seketika berubah mendengar penjelasan Lunna barusan.
"Tapi Lun, kau yakin Jack memiliki kembaran? Karena tingkat kemiripan mereka sangat lah persis, ya walaupun kau mengatakan tadi ada tato di dada kembaran Jack, Kan?"
"Aku sangat yakin, maka dari itu bantu aku menjelaskan hal ini pada Grandpa sekarang!"
"No! Besok saja Lunna. Ini sudah malam, kau gila atau apa ha?!"
Darla tak habis pikir mengapa Lunna ingin menjelaskan sesuatu pada kakeknya tanpa bukti yang jelas. Sebab Darla sudah mengetahui tabiat kakeknya itu yang susah untuk di ajak bernegosiasi. Sekali A ya tetap A, tidak mungkin B, C, D, Z atau mungkin Q. Belum lagi mansion benar-benar dijaga ketat sekarang. Tadi Darla mendapat pesan dari Auntynya memberikan perintah padanya untuk menemani Lunna. Darla berdecak kesal saat masuk ke mansion seperti tahanan dan harus melalui pintu-pintu yang di depannya. Para petugas memeriksa badannya, di mulai dari retina mata, bahkan nomor heels saja diperiksa, gila bukan! Tadi, Darla sempat berpikir mengapa mereka tidak memeriksa juga nomor BH-nya bila perlu.
"Tapi–"
"Tidak ada tapi-tapi, lebih baik kita tidur dulu. Kau harus banyak beristirahat Lunna. Ayo kemarilah tidur!!" Suara Darla sedikit meninggi tak seperti biasa-biasanya.
Lunna mengerucutkan bibir dengan tajam kemudian berjalan pelan, dan merebahkan diri di samping Darla. Karena kesal Lunna melayangkan pukulan di pundak Darla sesaat.
"Apa?! Ini demi kebaikanmu Lunna, besok saja tunggu Grandpa datang, kau tidak mau kan melihat Grandpa murka seperti kucing garong!" sahut Darla kemudian menepuk-nepuk kepala Lunna.
__ADS_1
"Heh, aku lebih tua darimu bodoh!" Lunna mengibaskan tangan Darla dengan cepat.
"Bukannya kau yang bodoh!"
"Sudahlah sesama bodoh, lebih baik kita tidur!" Final Lunna karena malas berdebat. Lunna segera mengubah posisi badannya dan tidur membelakangi Darla.
"Haha, kenapa kisah cinta kita sangat miris ya," sahut Darla tiba-tiba.
"Kau saja! Kalau aku dan Jack saling mencintai! Sudah lah aku mau tidur!"
***
Beberapa hari kemudian. Lunna mencak-mencak sendiri karena Grandpanya tak kunjung tiba. Entah kemana perginya. Belum lagi penjagaan di mansion lebih ketat dari sebelumnya. Ingin sekali Lunna melompati pagar di depan sana.
"Darla!" Lunna berlarian menghampiri Darla hendak mencari celah untuk keluar dari kamar akan tetapi ia kalah gesit tatkala pintu di tutup otomatis dari luar.
"Argh! Aku mau keluar! Aku seperti tahanan di sini!" raung Lunna sembari menjambak rambutnya frustrasi.
"Sudah lah, lebih baik kau makan jengkol ini, aku bawakan untukmu, agar moodmu membaik." Darla memberikan paperbag yang didalamnya ada semur jengkol.
Dengan cepat Lunna mengambil dan meletakkan di atas meja. "Darla! Mengapa kau tak membantuku ha?!" Lunna mendengus kemudian melipat tangan di dada.
"Aku juga sudah membantu dengan berdoa."
"Cih, kau sangat menyebalkan Darla!" Walaupun ia sedang marah. Lunna malah membuka paperbag dan membuka makanan favoritnya itu. Seketika mata Lunna berbinar melihat semur jengkol.
***
Malam menyapa. Kini Lunna dan Darla tertidur pulas. Suara korokan Lunna memenuhi ruangan dan suara kentutnya bersahut-sahut sedari tadi. Darla mengeser kaki Lunna yang bergerak-gerak dan menguasai wilayah tidurnya. Dengan terpaksa Darla membuka kelopak matanya.
"Ish! Lunna!"
Darla menendang kaki Lunna. Kemudian mengubah posisi duduknya. Samar-samar Darla menangkap suara seseorang di luar sana. Tak mau menerka-nerka Darla mendekati jendela pintu kamar. Kedua matanya terbelalak melihat dua orang pria berpakaian aneh berjalan mengendap-endap. Dia kebingungan kemana penjaga yang lain. Kepalanya celingak-celinguk sesaat, detik selanjutnya ia menghela nafas. Melihat beberapa penjaga tertidur di bawah sana dengan posisi aneh.
"Pasti mereka diberi obat tidur, heh jangan bilang itu Jack. Lebih baik aku kerjai saja mereka terlebih dahulu." Darla menyeringai tipis kemudian membuka jendela dengan pelan dan memberikan bahasa isyarat mengatakan bahwa Lunna berada di salah satu menara tinggi di sisi kiri.
"Mampus kalian, susah-susah deh tu manjat, hehe." Darla melirik Lunna sesaat yang masih mengorok dengan mulut mengangga.
'Aku bingung mengapa Jack bisa jatuh cinta dengan wanita seperti Lunna yang tidurnya saja seperti orang kerasukan.'
__ADS_1