Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet

Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet
Kasar


__ADS_3

Sebelum Membaca, author minta maaf ya karena sekarang jarang update soalnya di daerah author sebagian tempat udah mulai banjir.


Terus author minta pendapat para readers mau giveaway apa? Sebagian readers yang ngelike gak muncul di notif, nah kalau bisa komentar ya, biar author bisa tahu kalau kalian ada baca ataupun ngelike.


Novel ini akan tamat di bulan ini 🙏


...----------------...


Pintu terbuka. Kaki jenjang Lunna bergerak perlahan menuju pembaringan. Ia mengambil pakaian dengan cepat. Selepas kepergian Jack, sedari tadi perasaan Lunna amat tak karuan. Di dalam kamar mandi ia sangat resah dan gelisah.


Setelah selesai pakaian dan mengeringkan rambut. Lunna duduk di tepi ranjang sembari sesekali melirik daun pintu, berharap Jack segera tiba. Ingin sekali Lunna menerobos keluar hendak menyusul Jack, akan tetapi mengingat perintah Jack yang menyuruhnya tetap di kamar, Lunna mengurungkan niatnya. Karena merasa bosan, Lunna tanpa sadar mengelus-elus perutnya.


"Nak, Daddymu lama sekali ya, semoga saja dia baik-baik saja," Lunna berkata pada sang anak yang belum terbentuk sempurna di dalam perut.


Lunna mendesah kasar sebab sudah empat puluh menit berlalu, Jack tak kunjung tiba. Ia sangat takut hal buruk terjadi pada pujaan hatinya. Wanita itu beranjak dan berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya.


"Jack ke mana? Kenapa lama banget ya?" Sedari tadi, Lunna melihat ke ambang pintu berharap suara Jack dan bunyi ketukan pintu terdengar.


Detik selanjutnya.


Tok! Tok! Tok!


Lunna menarik nafas panjang saat mendengar bunyi ketukan pintu. Namun dia sedikit keheranan mengapa tak mendengar suara Jack. Lunna sedikit waspada, lantas tak langsung membuka pintu kamar sebelum mendengar suara Jack.


"Lunna! Buka pintunya ini aku, cepat lah es krimnya nanti meleleh, Baby," kata Jack dari luar pintu.

__ADS_1


Mendengar suara Jack. Lunna tersenyum tipis kemudian berjalan tergesa-gesa mendekati pintu.


"Jack kenapa lama sekali?" tanya Lunna sembari menyambar paperbag dari tangan Jack yang baru saja masuk.


Jack menatap penuh arti padanya, lalu berkata,"Maaf, Baby, aku tadi ada urusan sebentar, makan lah es krimnya kalau sudah selesai kita pergi ke suatu tempat agar tidak ketahuan Daddy dan Grandpa mu."


Lunna menoleh sembari membuka cup es krim. "Memangnya Daddy dan Grandpa sudah tahu kalau kita di sini," katanya.


"Iya, maka dari itu cepat lah kita tidak punya banyak waktu," kata Jack kemudian memasukkan perlengkapan yang mereka beli tadi di mini market ke tas ransel.


"Baiklah, aku makan dulu Baby," kata Lunna tanpa menaruh rasa curiga sedikitpun pada sosok dihadapannya itu.


"Hmmm," balas Jack atau bisa kita panggil Justin itu.


Sembari memasukkan barang ke dalam tas, Justin melihat Lunna makan dengan begitu lahap es krim yang di beli saudara kembarnya itu.


Justin menatap dingin ke arah Lunna yang sedang asik makan es krim di tepi ranjang.


"Baby, done. Aku sudah selesai," kata Lunna sembari membuang cup es krim ke tempat sampah.


Alih-alih menanggapi perkataan Lunna. Justin malah menyambar tangan Lunna dan menuntunnya keluar dari kamar dengan cepat.


Lunna terlonjak sebab genggaman pria yang dia kira Jack sangat kuat membuatnya meringis sejenak.


"Jack, pelan-pelan, aku capek," gerutu Lunna dengan memanyunkan bibir saat keduanya menuruni anak tangga hendak ke lantai satu.

__ADS_1


Pria itu enggan menyahut, melainkan semakin mempercepat langkah kakinya. Lunna berdecak kesal sejenak dengan sikap Jack yang tak ada lembut-lembutnya sama sekali sekarang. Ia mencoba berpikir positif mungkin Jack takut ketahuan Daddy dan Grandpanya.


Lima belas menit berlalu. Saat ini, Lunna dan Justin berada di pelataran bangunan kuno yang lumayan tinggi.


"Tempat apa ini?" tanya Lunna dengan turun dari motor gede. Matanya bergerak ke segala arah, melihat menara yang sudah terlihat kumuh dan berlumut didepannya.


"Tidak usah banyak bertanya, ayo kita ke atas," kata Justin kemudian menarik tangan Lunna.


"Awh, sakit Jack! Bisa kah kau lebih pelan!" seru Lunna dia mulai habis kesabatan sebab Jack memperlakukannya dengan kasar.


Justin tak mengindahkan perkataan Lunna. Pria itu berjalan sangat cepat.


"Masuk!" Justin membuka sebuah pintu berukiran kayu. Kemudian mendorong punggung Lunna.


Mata Lunna membola, melihat beberapa orang berpakaian putih-putih yang disinyalir perawat dan seorang Dokter yang sangat dia kenal, siapa lagi kalau bukan Dokter Rogue berada di dalam ruangan.


Melihat kedatangan dirinya dan Jack seketika mereka menundukkan kepalanya.


Lunna menoleh, "Jack, ada apa?" tanyanya kebingungan.


Justin tersenyum tipis. "Aku ingin memeriksakan keadaan anak kita." Ia segera menuntun Lunna agar merebahkan tubuhnya di atas brangkar.


"Tapi, Baby, kenapa harus sekarang?" tanya Lunna. Entah mengapa perasaannya tak enak ada sesuatu yang menjanggal tapi tak tahu apa itu.


"Aku tidak mau menunda-nunda." Justin memberikan kode kepada dua orang perawat untuk mengikat kaki dan tangan Lunna.

__ADS_1


"Hei apa yang kalian lakukan?! Mengapa tangan dan kaki ku di ikat seperti ini?!!" Lunna meradang sebab dua orang berbaju putih-putih itu mengikat kaki dan tangannya dengan cepat.


__ADS_2