
"Mam, itu bekas syuting tadi, hehe. Make up Lunna belum di hapus semuanya." Kali ini, Kristin mode peka saat melihat Lunna curi-curi pandang meminta bantuan padanya.
Lily menoleh, lalu berkata,"Benarkah?"
"Iya, Mam." Kristin meneguk ludah pelan karena telah berbohong.
Lily nampak mangut-mangut. Namun entah mengapa perasaannya tetap saja tak karuan. Secepat kilat, satu tangannya menyibak rambut panjang Lunna, hendak memeriksa kembali leher Lunna.
"Hehehe, iya benar. Make up-nya belum di hapus semua Mom," balas Lunna dengan senyuman menggembang agar Lily tak menaruh rasa curiga.
Leon dan Lily mengangguk pelan.
"Lun, Daddy dan Mommy tidak bisa lama di sini, kami ada urusan juga di San Fransisco." Leon mengelus rambut Lunna sesaat. Mendengar perkataan Daddy-nya Lunna cemberut.
"Maafkan Mommy, Sayang. Nanti Mommy akan ke sini lagi," kata Lily memberikan pengertian.
"Really?" Lunna masih menampilkan wajah sedih.
"Iya, sayang. Sekarang kita ke Mall, bagaimana? Mommy mau membelikan Romeo, boxer pororo!" cetus Lily seraya tersenyum simpul.
"Haha, kenapa tidak hello kitty saja!" Lunna teringat adik bungsunya tempo lalu. Ia belikan boxer hello kitty.
Wanita bermata biru itu tersenyum jahil. Manakala melihat air muka Leon berubah drastis. "Hush, lihat Daddymu sudah marah tuh!"
"Tapi, Mom. Aku tidak bisa, Mommy tahu kan banyak paparazzi." Lunna menolak dengan halus. Dia tak mau fans-nya mengetahui identitasnya.
Seketika Lily menghela nafas baru saja tersadar jika putrinya seorang artis yang selalu di pantau media ataupun fans fanatik-nya.
"Sudahlah, Honey. Lebih baik kita ganti siang ini dengan makan bersama di tempat biasa, bagaimana?" Leon memberikan saran.
*
*
*
Setelah melepaskan kerinduan dengan makan bersama. Leon dan Lily pamit untuk pergi ke San Fransisco. Dengan terpaksa Lunna melepas kepergian kedua orangtuanya.
"Wah, Lun, aku tidak menyangka, ternyata kau cucu Pak Wali Kota," cicit Kristin. Saat ini, Lunna dan Kristin di dalam mobil hendak ke agensi Sugar Entertainmant.
"Iya, begitulah. Awas kau kasi tau orang ya. Awas saja semur jengkolnya tidak jadi aku beli." Lunna menyandarkan kepalanya ke kursi mobil seraya memasukkan permen mentos ke mulutnya.
Kristin menarik nafas pelan. "Iya, iya, tenang saja. Tapi, kenapa kau menyembunyikan identitasmu, Lun?" tanyanya penasaran.
__ADS_1
"Kepo!" Lunna berseru sambil menjulurkan lidah.
"Aish kau itu sangat menyebalkan!" Kristin memutar bola mata malas.
"Kris! Stop!!!" Mendengar perkataan Lunna. Reflek Kristin menggerem mendadak. Terdengar cicitan ban beradu dengan aspal, beruntung, di belakang tak ada kendaraan yang lalu lalang.
"Oh MY GOD!!! LUNNA!!!" Kristin mendengus kasar lalu mengarahkan mobil ke sisi kiri.
"Hehe, sorry. Aku mau beli es krim gelato, aku sudah lama tidak makan itu!" Perkara es krim saja Lunna sampai lupa memikirkan nyawa mereka yang hampir saja meregang.
"Kau ini!" Kristin melototi Lunna. Tak habis pikir dengan permintaan wanita yang berumur kepala tiga itu. Kendati begitu, ia pun menuruti keinginan Lunna sebab dia juga ingin menyantap makanan yang dingin apalagi cuaca hari ini terik menderik.
Dengan anggun keduanya berjalan memasuki cafe yang menyuguhkan es krim gelato. Lunna menebarkan senyuman tatkala orang-orang menyapanya. Begitu pula Kristin pun ikut tersenyum.
"Permisi, aku mau pesan dua es krim gelato, rasa tiramisu dan pistachio," ucap Lunna seraya melemparkan senyuman. Saat ini Lunna dan Kristin sedang memesan es krim.
"Dan aku satu dark chocolate," kata Kristin sambil menyambar dompet di dalam tas. Setelah selesai memesan es krim. Keduanya mencari tempat duduk yang nyaman.
*
*
Tak butuh waktu lama, pesanan telah tiba. Lunna segera menyantap es krim rasa tiramisu.
"Ish, kau itu tidak tahu saja aku itu sedang badmood karena ulah Jack-Jack semalam. Aku ingin membalas perbuatannya." Lunna mendengus sesaat lalu kembali menyambar es krim.
"Wah, aku mendukungmu! Lebih kau balas saja pria gila itu," kata Kristin dengan begitu semangat.
"Sekarang kau bantu aku, bagaimana caranya?"
Kristin mengerlingkan mata. "Kenapa harus aku yang memikirkan, kau yang mau membalas dendam, Kan?!" Mendengus kasar lalu kembali menyantap es krim.
"Hehe, karena aku malas berpikir, sebagai manager yang baik, kau pasti bisa membantuku," Lunna berkata sambil menggerak kepala seperti orang India.
Kristin berdecih hendak memukul Lunna saat melihat wajah Lunna yang menyebalkan dan angkuh itu. Namun gerakannya terhenti, melihat seorang pria berambut blonde berdiri di belakang tubuh Lunna.
"Lun," panggil sosok itu.
Lantas kepala Lunna berputar 90 derajat.
Deg.
Lunna terkesiap sesaat melihat mantannya berada di Los Angeles. Demi menjaga nama baik, Lunna terpaksa senyum. Dia tak mungkin mengacuhkan Robert, sebab, sekarang banyak pasang mata memandang ke arahnya
__ADS_1
"Iya," kata Lunna lalu beralih menatap Kristin kembali.
Sosok itu tersenyum sumringah. "Sudah lama kita tidak bertemu." Tanpa di suruh, dengan tidak tahu malu Robert duduk di sebelah Lunna.
"Robert! Apa yang kau lakukan di sini!?" Seorang wanita berambut blonde juga menghampiri ketiganya. Lunna tentu saja mengenali pemilik suara tersebut. Ia memilih menghabiskan es krim-nya sebab mood Lunna benar-benar hancur sekarang kala bertemu dua orang yang pernah menorehkan luka di hatinya dahulu.
"Tunggu sebentar, Eve," kata Robert.
Eve menggeram sebal, menoleh ke arah Lunna. "Ish, kau ini ya Lunna! Masih saja mengharapkan Robert." Mendengus saat melihat Robert menatap Lunna dengan begitu intens.
Lunna enggan menyahut sibuk memasukkan es krim. Begitupula dengan Kristin mengerti situasi yang menguar disekitarnya.
'Mantan Lunna katarak atau apa sih?! Modelan begini dijadiin selingkuhan! Palingan modal sel@ngk@ngan aja tuh!' Kristin berjulid di dalam hati.
"Sudahlah, Robert, ayo kita pergi, kita takeaway saja!" Eve menarik-narik baju Robert. Secepat kilat Robert mengibas tangan Eve.
"Kau bisa diam tidak, Eve! Aku mau berbicara sebentar, bersikaplah lebih dewasa Eve!" Tanpa sadar Robert membentak Eve. Membuat Eve meradang kala Robert lebih mementingkan Lunna daripada dirinya.
"Tidak mau! Aku pacarmu! Untuk apa kau berbicara dengannya?!"
Nafas Eve memburu seraya menghentak-hentakkan kaki ke lantai. Lantas perdebatan sepasang kekasih itu membuat sebagian pengunjung cafe terusik. Mereka pun memusatkan perhatian ke meja Lunna dan Kristin. Rasa penasaran semakin membuncah, terlebih lagi saat melihat artis ngetop, masa bodoh dengan Eve dan Robert sedang beradu mulut di mejanya.
"Eve, aku merindukan Lunna! Puas kau! Aku menyesal memilih dirimu! Aku akan kembali pada Lunna!!" Robert berseru cukup nyaring. Mendengar hal itu, sebagian orang ingin melihat reaksi Lunna yang sedang sibuk makan es krim gelato pistachio sekarang. Wanita berambut panjang itu sedang asik dengan dunianya. Acuh tak acuh mendengar perkataan Robert yang membuatnya ingin muntah sekarang jua.
Sebagian terkekeh melihat respon Lunna. Sebagian pula mengejek Robert yang ternyata bodoh karena lebih memilih batu kerikil, dan baru menyesal sekarang.
"Whats?! Kau bilang apa? Menyesal? Pasti Lunna menggodamu tadi, Kan?" cerocos Eve. Dia sangat tak terima Robert memutuskannya, terlebih lagi di depan Lunna. Tanpa aba-aba Robert mengecup pipi Lunna.
Kedua mata Lunna terbelalak lalu mengusap cepat jejak bibir Robert dipipinya. Ia menggeram sebal seraya tangannya terkepal kuat.
Tiba-tiba dari arah samping pria berkemeja biru berjalan cepat dan melayangkan pukulan tepat di perut Robert.
Bugh!
"Argh!!"
"Jack!" Lunna bangkit berdiri, lalu menjauhkan tubuh Robert dari terkaman Jack.
.
.
.
__ADS_1