
Hari berganti hari. Kini, syuting Lunna di Yokohama sudah selesai dilakukan. Wanita itu nampak keletihan dengan aktivitasnya, namun Lunna tak pernah mengeluh sedikitpun. Karena perkerjaan yang dia tekuni sekarang, sesuai apa yang diinginkan.
Tepat pada hari ini, Jack dan Lunna berencana untuk kembali ke Jepang. Saat ini, Lunna menghirup bunga Lily pemberian Jack. Beberapa hari yang lalu, ia sangat terkejut, melihat sebuket bunga Lily berada di atas kasurnya.
Hati Lunna berbunga-bunga mendapatkan kiriman sebuket bunga kesukaannya dari Jack. Lunna bingung dengan sikap Jack, mengatakan tidak mencintai dirinya tapi cara Jack memperlakukannya teramat berbeda dengan perkataannya. Meskipun begitu, Lunna tetap senang walaupun dia tak tahu isi hati Jack sesungguhnya.
"Baby," panggil Jack dari belakang, menghampiri Lunna yang tengah menaruh bunga di meja.
"Iya," jawab Lunna tanpa menoleh. Ia sedang sibuk memilah-milah barang yang akan di masukan ke koper.
Jack melingkarkan tangan di pinggang Lunna, kemudian menaruh dagunya di pundak sang istri. "Baby sedang apa?"
Lunna menoleh sekilas, lalu berkata,"Aku sedang memasukan pakaian ke koper, Baby, lepaskan dulu tanganmu, jangan nakal!" Mata Lunna mendelik, saat merasakan tangan Jack mulai bergerilya ke mana-mana.
Jack terkekeh pelan, melihat raut wajah Lunna menahan sebal. Secepat kilat, ia mengecup pipi Lunna.
"Baby, jangan lama-lama, kita sebentar lagi harus lepas landas," kata Jack seraya melepaskan tangan.
"Iya, iya, paduka, sebentar lagi!" Lunna memberengut kesal sesaat. Kemudian berjalan kesana kemari memeriksa barang-barangnya agar tak ketinggalan di penginapan.
Sedangkan Jack kembali ke kasur, merebahkan diri, mengamati tingkah Lunna yang terlihat lucu dimatanya.
'Mengapa dia sangat menggemaskan," kata Jack di dalam hati tanpa melepaskan pandangan matanya pada sosok wanita yang membuatnya menggila.
Sekitar pukul sepuluh pagi. Jack, Lunna, Kristin dan Yuri sudah berangkat ke Los Angeles menggunakan pesawat pribadi Jack. Setibanya di dalam kabin, Jack langsung mengangkat Lunna seperti karung beras. Mendapat serangan mendadak, Lunna sontak terkejut dan memekik nyaring. Jack membawa Lunna ke ruang khusus di pesawat dan melakukan ritual menanam ubi. Melihat keganasan Jack, Kristin dan Yuri hanya bisa membatin.
'Sepertinya Jack belum menyadari perasaannya.'
Kristin geleng-geleng kepala sejenak. Melihat keuwuan pasangan yang sedang dimabuk cinta itu. Sekarang, dia yakin jika wanita yang ia lihat tempo lalu bersama Jack sepertinya teman, sepupu atau mungkin kolega perusahaan Jack. Yuri yang sudah terbiasa dengan sikap Jack, menyibukan diri, memeriksa jadwal kerja Tuannya di Los Angeles.
"Baby, aku capek tau." Lunna mengatur nafasnya sejenak tatkala Jack tengah menghentikan hentakan.
Jack malah melabuhkan kecupan lembut di bibir Lunna, kemudian mengubah posisi bercintanya.
"Sebentar lagi ya," katanya seraya menyampir rambut panjang Lunna ke belakang.
"Tapi, baby, ahhh!" Sebelum Lunna melayangkan protes. Jack segera memaju mundurkan pinggangnya dengan cepat. Alhasil Lunna pun pasrah sembari memekik nikmat.
*
*
*
Setelah menempuh penerbangan dari Yokohama ke Los Angeles. Jack dan Yuri bergegas ke perusahaan lagi. Demi menjaga kredibilitas perusahaan Jack benar-benar tak mengenal waktu. Ia hendak memeriksa hasil kinerja para karyawan. Tak lupa Jack memerintahkan Lunna untuk pulang terlebih dahulu ke mansion manakala melihat sang istri begitu kelelahan karena ulah permainannya tadi. Sementara itu, Kristin tak langsung kembali ke rumah, melainkan ke gedung agensi, ingin menyelesaikan pekerjaannya juga.
Saat ini, Lunna tengah berdiri di bawah shower sembari memijit kepalanya dengan shampoo.
"Jack-Jack benar-benar keterlaluan." Lunna tengah memejamkan matanya. Wanita itu bersungut-sungut kecil tanpa menghentikan gerakan tangan.
Setelah selesai, membersihkan diri. Lunna bergegas memakai pakaian rumahannya. Sembari menunggu kedatangan Jack. Ia membalas pesan singkat dari sanak saudaranya. Dahi Lunna berkerut kuat, melihat rentetan pesan dari ketiga kakak kembarnya, dan si bungsu Romeo, tak ketinggalan pula Darla, menanyakan keadaannya. Tak mau ambil pusing. Lunna membalas satu-persatu pesan dari saudara-saudaranya itu.
Malam menyapa. Jack telah kembali ke mansion. Guratan keletihan nampak jelas di wajahnya. Pria berperawakan tinggi itu, bergegas masuk ke dalam kamar, ingin berjumpa Lunna. Sehari saja tak bertemu membuatnya merindu.
"Baby!" Jack celingak-celinguk menelisik keberadaan Lunna di ruang kamar.
__ADS_1
"Kemana dia?" Jack melepaskan jasnya, melempar ke sembarang arah, kemudian secepat kilat menyingsingkan pergelangan kemejanya.
Seulas senyum tipis mengembang Jack, saat melihat Lunna berada di atas balkon, berdiri membelakanginya di dekat pagar pembatas. Gaun malam dan rambut panjang Lunna beterbangan ke segala arah, membuat Lunna nampak seksi di penglihatan Jack. Dengan perlahan Jack mendekati Lunna yang tengah melamun, tak menyadari kedatangannya.
"Baby, kenapa di luar, di sini dingin?" Lunna tersentak sejenak, tatkala Jack memeluknya tiba-tiba dari belakang.
"Hehe, habisnya aku bingung mau ngapain, jadi di sini saja melihat hutan-hutan di sana, Baby." Lunna memiringkan kepalanya sedikit ketika Jack mengendus-endus ceruk lehernya. Sekarang ia sudah terbiasa dengan tabiat Jack yang suka menghirup aroma tubuhnya.
Bukannya membalas ucapan Lunna. Jack malah memutar tubuh sang istri dengan pelan, kemudian menangkup kedua pipinya.
"Aku merindukanmu, kau harus aku cabik karena menganggu ku tadi di kantor," kata Jack menyeringai tipis.
Lunna melonggo, bingung, dengan perkataan Jack.
"Tapi, aku dari tadi–"
Sebelum Lunna melayangkan protes. Jack membungkam bibir ranum Lunna dengan rakus. Lama keduanya berdiri di atas balkon menyalurkan perasaan cinta mereka satu sama lain. Lunna mendesah kala Jack menyesap pucuk dadanya dengan pelan. Saat ini, pakaian atas Lunna sudah terbuka. Seketika Jack menghentikan gerakan.
"Baby, kita ke ranjang ya, aku sudah tak tahan." Jack mengangkat tubuh Lunna ala bridal style. Reflek, Lunna mengalungkan tangannya di leher Jack. Tanpa sadar keduanya mengembangkan senyuman karena sama-sama tak mampu menolak keinginan hati. Alhasil mayonaise pun kembali ditaburkan lagi ke dalam bolu kukus Lunna untuk ke sekian kalinya.
*
*
Waktu menunjukan pukul dua belas malam. Hanya terdengar dentingan jarum jam terdengar di kediaman Harlow. Penghuni mansion sudah di pulau mimpi. Tak terkecuali Sahara. Ia merengut kesal sebab minuman di kamarnya habis. Mau tak mau ia pergi ke dapur. Ia bergegas menuju ruangan. Setelah tiba, secepat kilat ia meneguk minuman hingga tandas, tak lupa ia membawa mengisi wadah penyimpanan air.
Dengan hati-hati Sahara mengangkat teko tersebut, kemudian berjalan kembali ke kamarnya. Seketika, wanita bertubuh semampai itu menghentikan langkah kakinya, kala melihat sebuah jendela terbuka lebar. Dahi Sahara berkerut kuat, seingatnya ia sudah menutup semua jendela di mansion. Tanpa rasa curiga sedikitpun ia hendak mengunci jendela namun tiba-tiba.
Brak!
Dor!
Suara dentingan kaca terdengar beradu dengan lantai ruangan. Sahara tergeletak tak berdaya, nampak darah segar mengalir dikepalanya.
"Tiger masuk," perintah pria itu entah kepada siapa. Lalu terdengar bunyi derap langkah kaki sebanyak enam orang menghampiri sang pria.
"Lemparkan gas."
Sementara itu, Yuri di kamarnya membuka mata, mendengar samar-samar bunyi keributan di luar sana. Dengan sigap ia mengambil pistol yang tersampir di bawah bantal.
"Lunna!"
Suara Jack terdengar melengking, secepat kilat Yuri berlari ke arah sumber suara. Begitu tiba di luar penglihatannya buram karena di seluruh ruangan asap putih mengepul. Yuri terbatuk-batuk sambil mengibas-ibaskan tangan di udara.
***
"Turunkan istriku!" Jack menahan kaki pria berbadan besar yang tengah menggendong Lunna yang telah di bius. Nampak darah segar mengalir di pelipisnya. Pria itu tengah di injak seorang pria lain di punggungnya.
Alih-alih mendengarkan perkataan Jack. Pria itu malah menendang wajah Jack dan menginjak tangan kanan Jack.
"Argh! Siapa kalian! Turunkan istriku!"
Prok, prok, prok, prok!
Di ujung sana. Seorang pria berstelan jas abu-abu berambut putih memasuki mansion. Melihat kedatangan pria itu tua itu, enam pria berpakaian serba membungkukkan badan.
__ADS_1
"Apa kau bilang istri? Dia cucuku!!!"
Mata Jack membola melihat seseorang yang sangat dia kenal.
"Simon Andersean... Berikan Lunna padaku, aku mohon!" pinta Jack sambil menahan rasa sakit yang mendera di sekujur tubuhnya akibat hantaman keenam pria tadi.
"Kau siapa? Bed3bah, sudah cukup kau membodohi cucuku! Jack Harlow!!!" Nafas Simon memburu melihat Jack memohon padanya.
"Aku suaminya, aku suaminya, aku mencintai Lunna, aku mohon kembalikan dia padaku...kembalikan..."
Bukannya membalas ucapan Jack. Simon malah memberikan kode pada ketiga pria dihadapannya.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Ketiga pria itu menendang tubuh Jack yang sudah terkulai lemas. Hingga Jack menyemburkan darah lagi dari mulutnya.
"Tuan Jack!"
Dor!
Yuri baru saja tiba, secepat kilat melontarkan peluru kepada enam pria tersebut. Alhasil terjadilah aksi baku hantam untuk sesaat.
"Berikan Lunna padaku!" Simon menggendong Lunna, berjalan cepat keluar dengan dilindungi ketiga pria.
Boom!
Asap mengepul kembali, membuat Yuri tak bisa melihat sang lawan. Ia terbatuk-batuk sembari menghampiri Jack.
"Tuan!"
Dengan sisa-sisa tenaga Jack berjalan tertatih-tatih mengejar Lunna. Sesampainya di luar, ia menutup telinganya kala suara guntur bersahut-sahut, secara bersamaan pula air turun dari atas langit.
"Simon! Aku mohon, kembalikan Lunna padaku, dia istriku!! Kami saling mencintai!!!" Jack menjerit agar Simon dapat menghentikan gerakan kakinya yang hendak masuk ke dalam helikopter.
Langkah kaki Simon terhenti, kemudian berbalik.
"Bullsh**! Aku tidak sudi memiliki menantu seorang anak pembunuh!"
"Apa maksudmu?" Jack keheranan sejenak. Bukannya seharusnya dia yang marah karena Leon Andersean telah membunuh ayahnya.
Simon enggan menyahut, malah melirik Lexi tengah memegang payung untuknya. Tanpa banyak kata, kedua pria berpakaian hitam yang berdiri di samping Lexi berlari cepat dan meninju Jack hingga pria itu tersungkur lagi.
Simon menarik nafas panjang, melihat Jack sudah babak belur. Pria tua itu beralih menatap Lunna.
"Kasihan Sugarku, Grandpa akan melindungimu," kata Simon pelan sembari mengecup pucuk kepala cucunya. Secepat kilat Simon mengayunkan kaki.
"Lunna.., jangan pergi...."
Derasnya hujan membuat mata Jack berkabut. Seketika pandangan matanya mulai menggelap melihat kepergian Lunna di ujung sana.
'Aku mencintaimu...'
__ADS_1