
"Argh!!!"
Britney meraung histeris, sebab seluruh tubuhnya basah dan berbau menyengat. Jack yang berada di dekat Britney, telinganya berdengung seketika. Secepat kilat Jack menutup indera pendengarannya.
"Britney! Bisa kau pelankan suaramu itu, ini bukan hutan?!!" sahut Jack seraya menurunkan kedua tangan.
Gleg!
Britney meneguk ludah dengan kasar, melihat pancaran mata Jack amat menyeramkan.
"Maaf..." ucap Britney lirih. Satu tangannya terulur hendak menggapai pundak Jack, namun segera di tepis kasar oleh Jack.
"Oh my God! Ada apa ini?"
Laura baru saja tiba hendak menemui Jack. Dia sangat merindukan mantan pacarnya dan berharap Jack dapat memaafkan kesalahannya sewaktu dulu. Akan tetapi, dia begitu terkejut saat melihat keadaan tubuh Jack yang bau dan kotor. Dia teramat penasaran, siapa yang berani menyiram Jack dan Britney. Laura mendongakkan kepalanya, mencari si pelaku. Bola matanya bergerak ke segala arah. Tak ada siapapun di atas. Nihil.
Bukannya menjawab, Jack berlalu pergi meninggalkan Britney dan Laura. Keduanya saling melemparkan pandangan.
"Pasti ini ulah Lunna!" Britney menebak jika Lunna yang menyirami tubuhnya barusan. Nafasnya memburu, menandakan ia sedang menahan amarah.
Mendengar hal itu, Laura memicingkan mata, seulas senyum penuh arti muncul diwajahnya.
*
*
Saat ini, Lunna dan Kristin sedang berada di ruang make-up. Sedari tadi keduanya tak berhenti tertawa dengan kejadian barusan. Sungguh, mereka tak mengira jika Jack juga berada di bawah sana. Karena tak mau kehilangan kesempatan. Ide brilian Lunna tercetus begitu saja, menyiram Jack dan Britney secara bersamaan.
"Kau dengar tadi, Lun? Britney berteriak histeris. Aku benar-benar puas, melihat make-upnya luntur tadi," kata Kristin sembari memegang perut karena terlalu banyak tertawa tadi.
"Hahaha! Kau benar! Tapi, aku penasaran, Kris. Tadi kita pake air apa?" tanya Lunna. Ia tak tahu Kristin mendapatkan air berwarna hitam dan berbau menyengat itu darimana.
Kristin menarik nafas, lalu mencondongkan tubuh. "Hehe, air bekas cuci piring, aku meminta Carlos menampung semua air sisa cuci piring," katanya.
Lunna geleng-geleng kepala, mendengar penuturan Kristin. "Kau benar-benar nackal dan pintar, Kris! Tapi aku suka!" seru Lunna diiringi tawa keras.
Kristin tersenyum sinis. "Of course! Aku gitu loh! Karena Britney sudah keterlaluan mengatai Mommy-mu j@lang," ucapnya menggeram sebal sejenak.
__ADS_1
"Thank's, Kris. Kau manager-ku yang terbaik! Muach, muach!" Lunna memajukan bibirnya seperti bebek.
Kristin menjauhkan kepala Lunna dengan menoyor kepala Lunna. Membuat Lunna mengerucutkan bibirnya.
"Lun, sebentar lagi kita ada pemotretan bikini!" cerocos Kristin baru saja teringat akan jadwal kerja Lunna saat melihat jam menunjukkan pukul sepuluh pagi. Tanpa banyak kata Lunna beranjak, kemudian menyambar tas bermerk G*cci di atas meja.
*
*
*
Studio
Kini, Lunna dan Kristin telah tiba di tempat tujuan. Kali ini latar pemotretan dilaksanakan di salah satu hotel ternama di Los Angeles, tepatnya di kolam renang. Lunna mengembangkan senyuman setiap kali berpapasan dengan tim kru dan fans-nya, walaupun gosip dirinya sudah beredar luas. Lantas, tak membuat sebagian besar orang serta-merta percaya. Sebab, mereka yakin itu hanya akal-akalan orang saja yang ingin menjatuhkan Lunna.
Seorang MUA, memoles wajah cantik Lunna. Dia berdecak kagum, melihat Lunna sangat mempesona, dan lebih cantik jika di lihat secara langsung. Kristin sesekali melemparkan senyuman pada MUA, yang sibuk menaburkan blush on di pipi Lunna.
"Lunna A, kau sangat cantik." Puji MUA setelah selesai merias wajah Lunna. Kedua matanya berbinar-binar, menatap takjub pada Lunna.
Lunna terkekeh pelan. "Terimakasih kau juga cantik, tentu saja aku selalu cantik. Aku gitu loh!" seru Lunna seraya melirik Kristin yang sedang mengerlingkan mata ke atas menanggapi ucapan Lunna barusan.
Kristin menjulurkan lidah, enggan menyahut Lunna. Karena tak mau berdebat panjang lebar seperti rel kereta api nantinya.
Setelah selesai, merias wajah. Lunna menganti baju dengan pakaian bikini yang seksi, menampakkan lekukan-lekukkan tubuhnya. Wanita berambut panjang itu memakai bikini model one piece backless berwarna biru laut. Beruntung sekali, luka-luka Lunna sudah sembuh dan dia juga sudah menyamarkan jejak permainan Jack dengan mengoles foundation dan conclear sebelum berangkat kerja tadi.
Tak mau membuang banyak waktu, Lunna keluar dari ruang make-up. Dengan langkah semangat, ia berjalan menghampiri tim fotographer. Seketika langkah kaki Lunna terhenti saat melihat seseorang yang ia kenal berada di lokasi syuting.
"Brian!" Lunna tersenyum tipis. Ternyata Brian berada di studio foto. Dengan cepat, Brian menghampiri Lunna.
"Hai, kita bertemu lagi, Lun. Sepertinya kita berjodoh," kelakar Brian sambil menebarkan senyuman.
"Haha, jodoh tidak, ya, emm mungkin bisa jadi kita berjodoh!" Lunna membalas balik candaan Brian. Tanpa tahu di belakang sana ada sepasang mata dan telinga sedang memantau dan mendengar ucapan keduanya barusan.
'Apa Yuri laporkan pada Tuan Jack sekarang? Lagian kan itu hanya candaan, dan Lunna juga sedang berkerja, mengapa sekarang perkerjaan Yuri semakin bertambah sih.' Yuri sedang bersembunyi di balik tong sampah di sudut ruangan. Pria bertubuh jangkung itu tak menghiraukan tatapan aneh dari para kru di lokasi syuting. Setelah menimbang-nimbang akhirnya Yuri, menghubungi Jack.
Syuting di mulai. Lunna berpose dengan begitu luwes, tanpa beberapa kali take. Ia sudah menguasai konsep foto dengan arahan dari para kru.
__ADS_1
"Oke, good, beautiful, Lunna."
Brian meminta teman fotographernya agar dia saja yang memotret Lunna. Kedua mata Brian enggan berkedip melihat tubuh Lunna yang tampak seksi. Namun, ada perasaan aneh, saat mengingat perkataan Jack tempo lalu yang mengatakan Lunna adalah istirnya. Sewaktu itu Brian amat terkejut, tapi dia berusaha menepis semua perkataan Jack karena mendapati gosip yang beredar jika Jack memang selalu bergonta-ganti pasangan. Brian yakin sekali, Jack hanya mengertak saja.
"Lunna!!!" Jack menyelenong masuk ke studio tanpa permisi sama sekali. Nafas pria itu memburu, melihat Lunna berpakaian sangat terbuka. Belum lagi informasi yang didapatkan ia barusan dari Yuri. Membuat darahnya mendidih. Lunna diterpa kebingungan, melihat Jack datang ke studio dengan wajah yang memerah.
'Apa Jack tahu kalau aku tadi menyiramnya dengan air," kata Lunna dalam hati.
Kristin, Brian dan tim kru sontak terkejut mendengar teriakan Jack barusan. Mereka menerka-nerka dibenaknya, ada apa kah gerangan.
Secepat kilat Jack berjalan menghampiri Lunna dan mengangkatnya seperti karung beras.
"Argh!" Lunna menjerit mendapatkan serangan mendadak.
"Mr. Harlow! Pemotretan belum selesai, turunkan Lunna!" seru Brian sembari menghalangi jalan Jack.
"Diam kau! Yuri kau atasi kekacauan di sini! Dan pecat bedebah ini!" Jack menunjuk Brian tepat diwajahnya. Yuri mengangguk lalu menarik tubuh Brian agar menjauhi Jack.
Tak mau membuang banyak waktu. Jack membawa Lunna keluar dari studio. Meninggalkan semua orang di dalam studio dengan berbagai pertanyaan dikepalanya.
"Yuri, Lunna mau diapakan? Mengapa di bawa keluar?" tanya Kristin setelah melihat Jack dan Lunna menghilang di balik pintu.
Yuri menarik nafas panjang. "Lunna akan di hukum lagi, Yuri juga tidak tahu apa kesalahan Lunna. Kasihan Lunna," kata Yuri tampak sedih.
"Astaga, kasihan Lunna."
*
*
Sementara itu, Jack memberikan bahasa isyarat kepada empat bodyguardnya untuk berjaga di luar mobil.
"Jack, lepaskan aku! Kau gila atau apa?!!!" Lunna memukul-mukul punggung Jack sedari tadi.
Enggan menyahut, Jack segera memasukkan Lunna ke dalam mobil limosin setelah pria berkulit hitam dan berkepala plontos membukakan pintu mobil. Secepat kilat Jack masuk ke dalam mobil sebelum Lunna mengaum seperti singa.
Detik selanjutnya. Mobil limosin bergoyang-goyang ke kanan dan ke kiri. Empat bodyguard yang mengelilingi mobil menelan saliva kasar saat mendengar suara-suara laknat Lunna bergema di telinga mereka.
__ADS_1
'Si@l! Hei burung jangan bereaksi aku sedang berkerja!' Umpat salah satu bodyguard sambil mengedarkan pandangan di sekitar.