Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet

Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet
Jangan Cabik Aku!


__ADS_3

Jack enggan menyahut ucapan Lunna barusan. Ia naik pitam saat Lunna malah menyuruhnya menjamah tubuh Laura. Sebuah nama yang sudah sirna di relung hatinya. Ia pun tak tahu sejak kapan nama Luara hilang begitu saja dalam sekejap mata.


Sedari tadi, Lunna meracau sendiri sembari menendang dada Jack bertubi-tubi. Jack tak perduli dengan rasa sakit yang menderanya, sebab, sekarang, bukan tubuhnya yang sakit tapi hatinya mencelos, saat Lunna mengungkapkan rasa benci padanya. Dengan sekali hentakan pakaian Lunna telah di sobek Jack.


"Argh! Aku membencimu Jack! Kau gila! Itu baju pr@daku!!" raung Lunna di atas tempat tidur tanpa menghentikan gerakan kaki.


"Aku bisa membelikanmu pabrik Pr@da bilaperlu ha?!" Jack membuka semua kain yang menempel di tubuh Lunna. Hingga tubuh Lunna sekarang benar-benar polos.


"Tidak mau!" Bibir Lunna mengerucut tajam dengan nafas yang memburu.


Melihat bibir Lunna yang menggemaskan, detik selanjutnya Jack membungkam bibir Lunna sebelum ia melontarkan kata-kata lagi. Dan terjadilah proses pelepasan kecebong untuk ke sekian kalinya di pagi hari.


*


*


*


Meninggalkan Jack dan Lunna yang sedang berolahraga di atas ranjang. Sedari tadi, Yuri menyeret paksa Laura hendak menerobos masuk ke ruang kerja Jack. Laura yang tak tahu malu, mengatakan dia adalah calon istri Jack. Yuri mengerlingkan mata saat mendengar penuturan Laura yang ngalor ngidul.


"Dasar sekretaris si@lan!!" seru Laura sembari mendengus. Yuro membalas dengan mengerlingkan mata.


"Dengar ya! Aku akan meminta Jack memecatmu!" Dada Laura tampak naik dan turun menahan amarah. Rambutnya sudah terlihat acak-acakan seperti singa.


Yuri tersenyum sinis. Lalu berkata,"Kalau bisa Nona. Yuri tidak takut!"


"Kau!!" Tangan Laura terkepal kuat melihat pancaran mata Yuri menyiratkan tatapan merendahkan.


Dering ponsel Yuri berbunyi. Mengalihkan atensi Yuri. Secepat kilat ia menyambar benda pipih tersebut di saku jasnya. Terpampang nama Jack menghiasi layar ponsel.


"Hallo, Tuan."

__ADS_1


Seketika raut wajah Yuri nampak cemberut mendengar perkataan Jack barusan. Yaps, Jack memberikan hukuman kepada Yuri menyikat toilet di seluruh lantai karena telah berfoto dengan Lunna tadi.


Sedangkan Laura melenggang pergi meninggalkan Yuri yang masih berbicara dengan Jack. Wanita itu meradang karena Jack tak seperti dahulu. Yang memperlakukannya bak ratu. Jack berubah drastis. Padahal Laura yakin sekali jika masih ada namanya terpatri di palung hati Jack. Di sepanjang langkah, ia mengumpati Lunna yang menjadi dalang dari perubahan sikap Jack. Seketika ayunan kaki Laura terhenti tatkala teringat seseorang yang bisa membantunya agar ia dan Jack dapat bersatu kembali.


"Baiklah, Tuan." Setelah Jack mengomel di sebrang sana, Yuri menyimpan ponselnya ke saku jas. Dengan gontai melaksanakan perintah sang tuan.


"Nasib-nasib jadi figuran," Yuri bergumam pelan lalu menghela nafas kasar. Pria itu berjalan menuju lift hendak ke lantai satu terlebih dahulu.


Setibanya di lantai bawah. Yuri celingak-celinguk menelisik keberadaan petugas kebersihan.


"Yuri, Lunna di mana?" Kristin berpapasan dengan Yuri. Wanita itu diterpa kepanikan karena Lunna tak kunjung datang ke ruangan. Sebab, jarum jam mendekati detik-detik terakhir waktu untuk pemotretan.


Lantas Yuri menoleh. "Di gantikan Britney saja kata Tuan Jack, Lunna A sedang di cabik," katanya mengcopy paste ucapan Jack tadi.


Mendengar ucapan Yuri, mata Kristin membola.


"Whats?! Di cabik lagi? Pagi-pagi ini? Bosmu benar-benar gila, Yuri! Bagaimana jika Lunna kenapa-kenapa. Apa bosmu itu siluman serigala ha?!"


Kristin naik pitam sebab Jack sudah kelewat batas. Dia yakin sekali jika Lunna di cekik karena akhir-akhir ini Lunna selalu mengenakan pakaian serba tertutup di bagian lehernya. Belum lagi, Jack memilih Britney untuk menggantikan Lunna untuk kesekian kalinya. Kristin tidak mempermasalahkan hal tersebut jika saja Britney mau berkerjasama tapi yang ada Britney malah tak bisa diarahkan dan terlalu kaku ketika berpose.


Dahi Kristin berkerut samar. "Kau kenapa?" tanyanya sembari menyambar ponsel di saku celana hendak mengirimkan pesan ke tim pemotretan perihal artis-nya di ganti Britney.


"Yuri dihukum Tuan Jack, Yuri mau ke toilet dulu," katanya bergegas pergi meninggalkan Kristin sedang mengetik pesan di ponsel.


"Eh Yuri, tunggu!" Dengan cepat jari-jemari Kristin bergerak lalu mengejar Yuri di ujung sana sedang mencari seseorang.


"Yuri, emm, kau ada waktu malam jumat nanti," tanya Kristin setelah berada di toilet bersama Yuri sedang sibuk menyingsing lengan kemejanya.


Yuri menatap datar ke arah Kristin yang nampak salah tingkah sedari tadi.


*

__ADS_1


*


*


Saat ini, Jack dan Lunna masih bergelut di atas ranjang. Sedari tadi, tubuh Lunna sudah melengkung sebanyak dua kali saat Jack memacu permainan. Dengan nafas terengah-engah ia memanggil nama Jack berulang kali meminta berhenti. Sebab ia sangat tak mampu. Jack benar-benar brutal, tidak di rumah, tidak di apartment-nya, tidak di tempat berkerja, selalu membuatnya menjerit.


Lunna berharap memiliki kekuatan super, bisa menghilang dari penglihatan Jack. Tapi itu hanyalah angan-angan saja. Berbeda dengan Lunna. Jack malah bersemangat manakala mendengar teriakan Lunna, membuatnya bergairah.


"Jack, aku capek..." Lunna berucap lirih kala Jack berhenti bergerak. Pria itu tengah mengatur nafasnya.


"Sebentar lagi, Baby. Ini salahmu karena menyuruhku menyentuh Laura," kata Jack sembari menempelkan keningnya ke kening Lunna.


"Laura? Nama mantanmu Laura." Dengan mata terpejam, Lunna membalas ucapan Jack.


"Iya."


Jack menatap wajah Lunna dengan intens, yang semakin hari semakin bertambah cantik menurutnya. Jika sebagian besar pria tertarik pada bibir wanita, tapi tidak bagi Jack, bulu mata lentik Lunna menjadi daya tariknya. Mengagumi sejenak wajah Lunna yang sudah banjir dengan peluh keringat. Kali ini, Jack bergerak amat pelan, ada rasa kasihan saat Lunna keletihan meladeninya.


"Aa..mengapa kau tidak mencabik Laura saja," kata Lunna sembari membuka matanya.


Jack enggan menyahut, malah menyesap biji bunga matahari milik Lunna yang memerah karena permainanya tadi.


"Aaahh...Jack... Aaa Jack, aku tak mampu, hentikan." Lunna meracau sembari mencengkram rambut Jack.


Tak mengindahkan perkataan Lunna. Jack kembali memagut bibir Lunna kali ini lebih pelan dan lembut.


Deg.


Duar! Bagai kembang api meletus. Lunna merasakan desiran aneh di relung hatinya. Untuk pertama kalinya. Lunna merasakan sebuah rasa yang mengelitik dihatinya. Ia membalas lilitan lidah Jack seraya mengalungkan tangan di leher Jack lalu memejamkan mata.


Tiga puluh menit pun berlalu. Lunna tertidur pulas di lengan Jack. Tubuhnya menggeliat kala merasakan kecupan di belakang tubuhnya.

__ADS_1


Rambut panjang Lunna, Jack sampirkan ke atas. Sedari tadi, Jack menyusuri punggung Lunna, menyesap, dan meninggalkan jejak kemerahan. Setelah itu, ia melingkarkan tangan di perut Lunna yang masih terlelap.


Jack menarik nafas pelan sejenak. 'Mengapa aku tak bisa berhenti menyentuhnya? Ada apa denganku?'


__ADS_2