Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet

Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet
Keinginan Sensei


__ADS_3

Di sebuah rumah berukiran kayu khas Jepang. Seorang pria tua bertubuh jangkung berdiri tegap menghadap keluar jendela. Satu tangan kiri ia letakkan di belakang pinggang sementara tangan kanannya mengelus-elus jengot tipis di dagunya. Matanya memandang lurus ke depan, melihat bunga sakura di ujung sana jatuh perlahan-lahan ke bawah. Tarikan nafasnya bergitu teratur membuat Geisha di sisi kiri, tersenyum tipis sembari tak henti memainkan gawai Shamisen.


Gesekan pintu ruangan mengalihkan atensi pria tua itu. Memutar tubuhnya sebentar lalu kembali menatap lurus ke depan.


"Ada apa Justin?" tanya Sensei, melihat anak asuhnya baru saja masuk ke ruangan.


Justin mengulas senyum, sebelum berkata."Aku dengar Jack sudah tiba di Jepang, sebentar lagi dia dan Yuri datang kemari."


Senyuman merekah di wajah keriput pria itu. Ia nampak mangut-mangut sembari menaruh tangan kanannya ke belakang. "Bagus, panggil Aoki. Ia berada di kamarnya, aku tak sabar memperkenalkan mereka," titah Sensei pada Justin.


"Dengan senang hati, Sensei." Ayunan kaki Justin terhenti tatkala Sensei berdeham pendek. Pria tua itu memutar tubuhnya.


"Bagaimana menurutmu, Aoki?" tanya Sensei tiba-tiba menatap lekat Justin.


Satu alis Justin terangkat. "Cantik, aku pikir dia cocok dengan Jack."


Terkekeh pelan. "Bagus lah, tentu saja dia cocok, pria yang mempunyai sikap ulet dan tekun dalam bekerja memang sepadan dengan Aoki."


Tanpa Sensei sadari. Perkataannya membuat Justin menggeram di dalam hati, sebab suara Sensei terdengar mengejek.


'Selalu saja Jack! Apa artinya aku di mata mereka?! Padahal kami kembar! Mengapa hanya Jack yang dielu-elukan?!'


Justin tersenyum sinis menanggapi perkataan Sensei. "Tentu saja, keduanya sangatlah serasi. Tapi ada seorang wanita yang lebih cantik dari Aoki," sarkas Justin menampilkan raut wajah yang penuh arti.


Seketika Sensei merubah mimik muka dengan datar tanpa ekspresi sedikitpun. Enggan membalas ucapan Justin. Ia melirik Geisha disebelahnya. Tanpa menatap Justin, ia berkata,"Pergi lah jemput Aoki."


Membungkuk sedikit Justin berlalu pergi meninggalkan Sensei dan Geisah di ruangan.


**


"Jack-sama."


Aoki menebarkan senyuman saat melihat pria yang dia kagumi berdiri di depannya. Wanita itu menundukkan kepala, karena merasakan diperhatikan begitu intens.


"Aku Justin," sergah Justin menatap datar wanita di depan yang baru saja membukakan pintu bermodel geser tersebut.


Aoki gelagapan nampak salah tingkah. Seketika menundukkan wajah. "Maafkan Aoki, Justin-sama. Kalian sangat mirip," katanya dengan mengedipkan mata pelan.


Justin tersenyum tipis. Lalu berjalan satu langkah. "Tentu saja, kami ini kembar, apa aku harus membuka bajuku agar kau bisa melihat perbedaan di antara kami," kata Justin sembari mengangkat dagu Aoki. Mata Justin dan Aoki bertemu selama beberapa detik.


Dengan perlahan Aoki mengibaskan tangan Justin. Kemudian memalingkan muka."Tidak perlu, Justin-sama, Aoki akan mencoba mencari perbedaan kalian,"katanya gugup. Sebab untuk pertama kalinya ia ditatap begitu dalam oleh seorang pria dewasa.


Justin tersenyum penuh arti. Dengan cepat menarik tangan kanan dan pinggang Aoki, mata wanita itu membulat ketika tubuh munggilnya menabrak dada Justin. Sekarang keduanya berdekatan tanpa ruang sedikit pun. Aoki mendongakan wajahnya, menatap dingin pada Justin.

__ADS_1


Justin menyeringai tipis lalu berkata,"Perbedaannya hanya ada di sini." Ia menarik ikatan kimono didadanya.


Tanpa sengaja Aoki melihat tato naga terukir jelas di dada Justin, seketika kedua pipi Aoki merah merona. Dengan cepat Aoki membuang muka ke samping. Ia dilanda kepanikan sebab sekarang dapat merasakan deru nafas Justin menerpa lehernya.


Justin berbisik di daun telinga Aoki. "Mulai dari sekarang aku tidak akan mengikat kimono di bagian dadaku, agar kau bisa membedakan mana aku dan mana Jack," katanya semakin menempelkan tubuh Aoki yang sekarang mematung di tempat.


"Hmm," Aoki membalas dengan dehaman.


Seulas senyum tipis kembali menghiasi wajah Justin. Satu tangannya terulur menghadapkan wajah Aoki padanya.


Deg.


Keduanya tertegun sejenak, menatap satu sama lain tanpa berkedip sedikitpun, ditemani keheningan di sudut-sudut ruangan rumah khas Jepang. Hanya terdengar desiran angin sepoi-sepoi menerbangkan bunga sakura berwarna merah muda di luar sana.


*


*


*


Sementara itu. Jack dan Yuri telah tiba ke tempat tujuan. Tak mau membuang banyak waktu. Keduanya pergi ke ruangan Sensei. Sedari tadi, Jack begitu resah dan gelisah. Selama di dalam penerbangan ke Jepang. Ia lebih banyak termenung, memikirkan Lunna, apakah wanitanya baik-baik saja atau tidak. Rasa rindu semakin membuncah melihat foto yang ia potret ketika Lunna sedang tertidur sedang mengorok keras.


"Tuan," panggil Yuri menyadarkan Jack agar menaruh ponselnya karena Jack dari tadi menatap terus layar ponsel. Jack menoleh, kemudian menaruh cepat benda pipih itu ke dalam saku celana.


Membungkuk sedikit. "Sensei," sapa Jack terlebih dahulu saat telah tiba di ruangan.


Sensei tersenyum sumringah, bangkit berdiri, dan menghampiri Jack. "Kau pasti kecapean," katanya sembari memeluk Jack.


Jack mengurai pelukan. "Iya, lumayan, Sensei," katanya menarik nafas pelan.


"Beristirahatlah, tapi ada yang harus Sensei bicarakan padamu," kata Sensei lalu mempersilahkan Jack dan Yuri untuk duduk dihadapannya.


"Tidak biasanya Sensei memanggilku tiba-tiba, apa ada masalah?" tanya Jack penasaran.


Sensei merekahkan senyuman. "Tidak ada masalah, Sensei hanya merindukanmu, dan ingin melihat apa kau baik-baik saja atau tidak, karena kemarin Justin mengatakan pada Sensei kalau kau sedang menjalani masa penyembuhan agar tidak bergantung dengan heroin. Apa itu benar?"


"Iya, benar, Sensei. Aku ingin lepas dari trauma masa laluku," kata Jack apa adanya.


Dalam sepersekian detik raut wajah Sensei berubah. Namun ia segera tersenyum simpul lagi. "Sensei senang mendengarnya."


"Iya, Sensei," jawab Jack singkat. Entah mengapa aura yang menguar di dalam ruangan amat sesak baginya.


"Bagaimana anak Leon Andersean? Apa dia sudah tersiksa?" Suara Sensei terdengar dingin dan tajam padahal senyuman tipis yang terpatri di wajah pria berambut putih itu tak pudar sedari tadi.

__ADS_1


Jack meneguk ludah dengan kasar, tatkala mendapatkan pertanyaan yang sekarang begitu sulit ia ucapkan. Ia tergugu, berusaha menutupi kegugupannya.


Melirik sekilas Yuri yang duduk bersimpuh di samping Jack. "Iya, Sensei. Dia sudah aku siksa, aku sedang memainkan peranku."


"Haha, aku mendapat informasi dari Justin, kau akan membuatnya hamil, kemudian meninggalkannya. Benarkah itu?" Satu alis Sensei terangkat.


Lagi dan lagi Jack menelan ludah dengan kasar.


"Iya, kurang lebih seperti itu, Sensei."


"Kau sangat berbeda dengan Justin, menggunakan otak bukan otot, haha, kau memang yang terbaik. Maka dari itu lakukan secepat mungkin Jack. Setelah kita membuat putri Leon hancur, kau harus menikahi seorang anak dari klan TRIAD agar memperkuat kepimpinanmu di klanku!" sahut Sensei lantang.


Mendengar hal itu nafas Jack tercekat. Tubuhnya seketika kaku. Bersamaan pula terdengar gesekan pintu di belakang tubuhnya, mengalihkan pandangan mata Sensei.


"Aoki, masuklah," kata Sensei mempersilahkan Aoki duduk disisinya. Aoki menurut, dengan anggun menjatuhkan bokongnya sembari sesekali melirik Jack yang sedang termenung.


"Jack, ini Aoki, dia akan menjadi calon istrimu, cantik bukan?" Sensei tersenyum sumringah kepada Aoki dan Jack secara bergantian.


Yuri melirik sekilas saat Jack tak membalas ucapan Sensei. "Tuan." Ia menyikut sedikit lengan Jack.


Jack menggeleng cepat. Lalu menatap Sensei. "Maaf Sensei, aku jetlag, karena sepulang berkerja aku langsung terbang ke Jepang," kilah Jack dengan alasan yang masuk di akal menurutnya. Pandangan matanya beralih pada sosok wanita berwajah munggil di samping Sensei, sedang memperhatikannya dengan seksama.


Jack menunjukkan rasa hormat dengan mengangguk sedikit. "Perkenalkan namaku Jack," kata Jack lalu memutus kontak mata.


"Namaku Aoki, Jack-sama,'kata Aoki sambil menunduk.


'Aku sangat merindukan Lunna sekarang, apa yang dia lakukan di sana.'


Sensei menebarkan senyuman melihat interaksi Jack dan Aoki. "Baiklah, kau beristirahat lah dulu Jack. Dan kau Aoki antarkan Jack ke kamarnya."


Aoki mengangguk.


"Tidak usah, Sensei. Aku tidak mau merepotkan Lunna. Aku bisa pergi sendiri ke kamarku." Jack tak sadar mengucapkan sebuah nama yang sangat ia rindukan sekarang.


Dahi Sensei, dan Aoki berkerut samar mendengar perkataan Jack barusan.


"Lunna?"


Jack mematung merutuki kebodohannya. Jika Sensei dan Aoki kebingungan, maka berbeda dengan Yuri.


Yuri menghela nafas kasar, memahami kegundahan Jack. Kini ia sudah mengetahui alasan Jack menikahi Lunna. Bagai orang bodoh, ia membantu orang untuk melakukan kejahatan. Namun, sekarang, Yuri dapat merasakan jika Jack sudah terperangkap dengan permainannya sendiri karena telah jatuh cinta pada Lunna A.


'Yuri, berharap Tuan Jack melindungi Lunna dari Sensei.'

__ADS_1


__ADS_2