
Jack celingak-celinguk, menelisik tempat pembaringan yang kosong, hanya dirinya saja. Ia dilanda kepanikan sebab tak melihat keberadaan Lunna di ruangan.
"Lunna!"
Jack bangkit berdiri sembari menyambar kimono, memakai cepat pakaian berbahan tebal tersebut, dan segera berjalan menuju pintu kamar.
Srek.
"Baby!" Dengan cepat Jack menarik tangan Lunna ketika wanita itu baru saja membuka pintu dari luar. Ia mendekap erat Lunna begitu erat. Lunna terkejut sejenak. Entah mengapa ia merasa nyaman berada dipelukan Jack tanpa sadar mengesekan kepalanya di dada bidang suaminya.
Jack mengurai pelukan. "Kau darimana saja, Baby?" tanyanya kemudian menutup pintu kamar.
"Hehe, maafkan aku, tadi aku kentut sebentar di luar, perutku sangat sakit padahal tadi aku sudah buang air besar, hoam," kata Lunna dengan menguap pelan.
Jack masih gusar. "Kenapa tidak kentut di ruangan saja, jangan membuatku khawatir baby," Jack berkata, lalu melabuhkan kecupan bertubi-tubi di pucuk kepala Lunna.
"Hei, nanti kau pingsan seperti waktu itu! Hoammmmmm..." Lagi dan lagi Lunna menguap hingga di sudut matanya mengalir buliran air.
Melihat sang istri masih mengantuk. Tanpa banyak kata Jack menuntun Lunna menuju pembaringan.
"Baby, kita tidur lagi ya." Jack merebahkan tubuh Lunna di kasur khas Jepang. Lunna membalas dengan mengangguk.
Saat ini, Jack dan Lunna memeluk satu sama lain. Dengan posisi kepala Lunna di atas dada Jack. "Baby, jika ingin keluar, kau harus izin padaku, dengar?" Pria itu mengusap punggung Lunna.
Lunna mendongak, lalu berkata,"Iya, paduka, hehe."
Melihat Lunna nampak kegirangan. Membuat Jack mengapit hidung mancung Lunna gemas. "Patuhi perintahku, baby, jika kau tidak menurut, aku akan membuatmu kelelahan lagi nanti. Mau?" Tersenyum jahil sembari mengecup kening Lunna.
"Aish, hobimu selalu membuatku capek, iya, iya aku akan menurutimu."
Final Lunna. Padahal, sedari tadi dia sudah mencoba membangunkan Jack, namun Jack tak jua terbangun, melihat wajah suaminya yang nampak keletihan. Ia pun tak tega, memilih keluar seorang diri sembari memeriksa keadaan Kristin. Karena keisengan Lunna tadi. Tanpa sengaja mendengar suara-suara laknat Kristin dan Yuri bergema di ruangan tadi. Untuk sesaat Lunna terpaku, karena hubungan Kristin dan Yuri sangat lah rumit bukan kah setahu Lunna, Kristin mengatakan Yuri memiliki pacar?
"Sudahlah, sekarang kita tidur ya."
Jack mengeratkan pelukan tanpa menghentikan gerakan tangannya. Lunna enggan membalas, memilih mengatupkan matanya.
__ADS_1
"Jack, aku mau lama-lama dielusnya, jangan berhenti sampai aku tertidur," pinta Lunna sebelum memasuki ruang mimpi.
Jack mengerutkan dahi sejenak. Melihat tingkah Lunna, ada sedikit perubahan dan lebih manja. Ada rasa senang di relung hatinya dengan perubahan sikap Lunna.
"Iya, sekarang tidurlah," kata Jack lalu mengecup lagi pucuk kepala Lunna. Satu menit pun berlalu, terdengar dengkuran halus Lunna mengalun lembut ditelinganya. Dengan perlahan Jack menghentikan gerakan tangan kemudian melingkarkan tangannya di tubuh Lunna.
'Aku akan melindungimu, Lunna." Seulas senyum tipis terpatri di wajah Jack. Seketika matanya amat berat lalu mulai mengatup dengan pelan.
*
*
*
Saat ini, Yuri sedang terjaga sebab beberapa detik yang lalu. Menangkap bunyi aneh di atas sana. Lama ia menatap langit-langit kamar sembari menelisik keadaan sekitar.
'Mengapa perasaan Yuri tidak enak, ya?"
Monolog Yuri sambil melirik Kristin tertidur pulas didekapannya. Yuri menarik nafas pendek, menyadari telah menjadi orang pertama yang menjamah tubuh Kristin.
Mata Yuri membola. Mendengar bunyi derap langkah kaki. Dengan sigap ia meletakkan kepala Kristin di bantal. Menyambar kimono dan samurainya. Kemudian memakai kimono secepat kilat.
'Apa mereka selalu bergerak di malam hari? Seperti kelelawar saja?' Yuri berkata sembari mengeluarkan pedang dari pembungkus. Matanya tak henti bergerak ke segala arah, memposisikan badan dengan posisi waspada.
Srek! Cling!
Yuri mundur beberapa langkah melihat seorang ninja masuk begitu cepat ke dalam kamarnya. Seringai tipis terbit diwajahnya, melihat ninja berhadapan dengan merentangkan pedang juga.
Sebelum berkata Yuri melirik Kristin di ujung sana masih terlelap. "Siapa yang mengutusmu?"
Sang ninja membalas dengan terkekeh pelan. Detik selanjutnya. Ninja melancarkan serangan, menghunuskan pedang di tubuh Yuri namun Yuri secepat kilat menangkis serangan.
Sang ninja berdecak kagum sesaat melihat kemampuan Yuri seperti orang yang terlatih. Kini, keduanya saling berhadapan dengan berputar-putar di satu titik. Yuri tengah membaca gerakan lawannya.
"Apa kau klan yang sudah punah?" tanya Yuri lagi walaupun Yuri tahu sang ninja tak akan menjawab karena itu sudah menjadi aturan para ninja agar musuh atau target mereka tak mengenali suara mereka.
__ADS_1
Alih-alih menjawab, sang ninja mengayunkan pedang ke atas. Secepat kilat Yuri melindungi diri dengan merentangkan pedang di atas kepalanya.
"Ckck, kemampuanmu masih di bawahku!" ucap Yuri sombong sembari menyerang balik lawan dengan menghentak pedang hingga sang ninja terhuyung ke belakang sesaat. Di saat ada celah Yuri menggores lengan kiri ninja hingga pakaiannya pria itu robek. Mata ninja membulat seraya menggeram rendah lalu menyerang balik Yuri.
Cling!
Cling!
Cling!
Cling!
Terdengar bunyi gesekan pedang bersahut-sahutan di kamar Kristin. Saat ini, Yuri tengah menggores lagi pakaian ninja di bagian bawah paha hingga darah kembali mengalir di kulit sang ninja. Berkat kemampuannya, sedari tadi tubuhnya tak lecet sedikitpun. Sang ninja nampak kewalahan karena salah memilih lawan. Ia terkejut bukan main. Hal itu dapat Yuri lihat dari gestur tubuhnya.
Seandainya ninja tahu, jika Yuri adalah salah satu klan samurai sejati yang berbeda dengan ninja. Jika ninja adalah pembunuh bayaran tapi tidak bagi seorang samurai yang mendedikasikan hidupnya pada negara dan dilatih sebagai prajurit atau perwira kelas tinggi dalam taktik militer.
Cling!!!
Sang ninja meradang, melihat pancaran mata Yuri seakan mengejek. Berharap dapat mengalahkan Yuri. Malah sang ninja tersungkur ke lantai secara bersamaan pula bunyi dentingan pedang beradu dengan lantai.
"Pergilah, katakan pada Tuanmu itu! Jangan menganggu, Jack!" Yuri berseru nyaring, menatap dingin sang ninja yang kini menggeram sebal dengan memandang tajam Yuri juga.
Tanpa banyak kata. Sang ninja mengambil pedangnya, kemudian keluar dari ruangan melalui jendela kamar. Yuri mendengus kasar melihat kepergian ninja.
'Gerakannya lumayan gesit, aku rasa dia bukan klan ninja kawakami. Sensei siapa yang kau utus? Mengapa tak berkompeten sekali!'
"Eungh!" Lenguhan Kristin di pembaringan, membuat Yuri mengalihkan pandangan matanya.
"Untung saja, Kris mabuk." Yuri berjalan perlahan mendekati Kristin yang masih terlelap. Ia menggeleng pelan melihat Kristin tak terusik sama sekali dengan keributan di dalam ruangan tadi.
Sementara itu, di kamar lain, Jack mengerutkan dahi saat mendengar bunyi derap langkah kaki melintas cepat di sekitar. Dengan cepat ia menyambar samurai yang ia taruh di bawa kasur. Kemudian bangkit berdiri sembari melempar sarung samurai ke sembarang arah.
Seringai tipis muncul di wajah Jack. "Lama sekali kalian datang b3debah," desis Jack pelan sembari menuntun sang ninja ke tengah ruangan.
"Let's play."
__ADS_1
Cling!