Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet

Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet
Jack Yang Malang


__ADS_3

Beberapa detik lalu, Lunna tanpa sengaja menabrak tubuh Jack hingga pria itu hilang keseimbangan. Alhasil, Lunna dan Jack terjatuh ke lantai dengan kening keduanya saling berbenturan.


Deg.


Tubuh Jack membeku di tempat saat merasakan gundukan Lunna yang sangat kenyal, membuat burungnya di bawah sana sesak. Belum lagi, aroma tubuh dan rambut panjang Lunna menguar ke indera penciumannya, dan membuatnya di mabuk kepayang.


"Awh!" Lunna meringis sesaat, sambil mengusap kening. Lalu matanya menatap tajam Jack yang sedari tadi tak berkedip memandangnya.


"Aku membencimu!"


Lunna beranjak dengan cepat kemudian merapikan kaos crop-nya yang sudah basah akibat keringat tadi. Ia melengos pergi, meninggalkan Jack yang masih bergeming. Pria itu masih didunianya sendiri, matanya menatap datar punggung Lunna semakin menjauh.


"Tuan Jack!!!" teriak Yuri. Sedari tadi, memanggil-manggil Jack. Ia keheranan mengapa Jack termenung, dan tetap berbaring terlentang di lantai.


Jack segera tersadar, menggeleng pelan, lalu melihat ke arah Yuri. Guratan kecemasan terpatri jelas di wajah pria berkebangsaan Jepang itu.


"Katakan pada Lunna hukumannya akan di tunda dulu. Besok dia harus membersihkan seluruh ruangan di lantai 1," Jack menjawab sembari beranjak.


Yuri mengangguk sedikit, sambil menarik nafas panjang. "Baik, Tuan baik-baik saja, Kan?" tanya Yuri. Pria itu ingin memastikan keadaan Tuannya.


Jack mendengus, menoleh sekilas. "Apakah kau buta?! Aku baik-baik saja." Ia berlalu, meninggalkan Yuri seorang diri di ruang tengah.


"Yuri tidak mau Tuan kenapa-kenapa, begitu juga Lunna A." Selepas kepergian Jack, Yuri bergumam pelan. Kepalanya bergerak ke segala arah, dan tanpa sengaja melihat Sahara menyembul di balik pintu.


Satu alis Sahara terangkat. "Di mana Tuan Jack dan wanita aneh itu?!" tanyanya ketus.


Yuri berdecak sebelum menjawab,"Lunna A. Bukan wanita aneh, Sahara yang aneh. Bisa kah lebih sopan dengan Lunna A, walau, bagaimana pun dia istri Tuan Jack."


Mendengar penuturan Yuri, Sahara terkekeh mengejek. "Cih, tidak mau, lagian aku di sini hanya ditugaskan untuk berakting, Kan? Mengapa kau menganggap mereka layaknya benar-benar suami istri?"


Yuri enggan menyahut, hanya melayangkan tatapan tajam.


"Haha, kau sudah berani denganku, baik lah aku pergi." Sahara hendak berjalan ke lorong yang mengarah ke ruangan pribadi Jack.


"Jangan ke sana!" Yuri berseru nyaring sambil berjalan menghampiri Sahara.


Kaki Sahara berhenti berayun, kemudian kedua tangannya bersidekap di dada. "Apa? Kau lupa siapa diriku?!" Sahara berkata ketus seraya menatap sinis Yuri.


Yuri menarik nafas panjang. "Tentu saja aku ingat, tapi jangan mengusik Tuan dahulu, dia sedang sakit! Kalau kau tetap memilih masuk, akan aku pastikan besok kau tidak bisa melihat matahari lagi." Pria itu melenggang pergi, meninggalkan Sahara yang tengah memberengut kesal sambil menghentak-hentakkan kaki di lantai.


*

__ADS_1


*


Sementara itu, Lunna baru saja selesai membersihkan badan. Ia tengah mengeringkan rambut panjangnya yang menjuntai menggunakan hair-dryer.


"Jack-Jack itu sangat menyebalkan!" seru Lunna sambil melihat refleksi dirinya di depan cermin.


Tok, tok, tok.


Bunyi ketukan pintu terdengar pelan masuk ke gendang telinga Lunna. Seketika Lunna menghentikan gerakan tangannya sembari meletakkan hair-dryer di meja rias. Kemudian berjalan cepat ke ambang pintu.


Lunna menyembulkan sedikit kepalanya ke luar sebab dia masih memakai handuk. "Ada apa?" tanya Lunna saat melihat Yuri di depan pintu.


Yuri tersenyum tipis melihat Lunna seperti baru saja selesai mandi. Rona merah nampak jelas diwajahnya.


"Nyonya, kata Tuan Jack hukumannya di tunda dulu. Besok dilanjutkan lagi."


'Sama saja toh.'


Lunna memejamkan mata sesaat, lalu menarik nafas pelan. "Oke, terimakasih Yuri informasi yang sangat-sangat mengembirakan itu," kata Lunna sarkastik.


Yuri terkekeh pelan, lalu berkata,"Sama-sama."


*


*


*


[Kamar Lunna]


"Bosan sekali!"


Lunna mendesah pelan sambil membanting ponselnya di atas kasur. Sedari tadi wanita itu berbaring dengan berselancar ria di dunia maya. Sesekali dia chit-chat kepada keempat saudaranya, Kendrick, Nickolas, Samuel, dan Romeo. Walaupun beda pulau ia tak pernah lupa menanyakan kabar saudara-saudaranya.


Lunna sedikit tercengang saat mendapatkan informasi dari Samuel kalau Romeo sudah menikah kontrak dengan seorang wanita karena sebuah kutukan. Seulas senyum tipis muncul di wajahnya manakala teringat keabsurdan Romeo sewaktu dulu.


Lunna menoleh ke arah jendela kaca, melihat langit nampak gelap.


"Huh semoga nggak guntur, tapi setidaknya aku sudah bawa headphone dan lampu hehe," gumam Lunna. Ia sudah mengantisipasi dengan membawa senter yang sangat besar ke mansion Jack agar dia tidak ketakutan lagi.


Tepat pukul delapan malam, hujan semakin bertambah deras dan sedari tadi suara guntur bersahut-sahut di atas sana.

__ADS_1


Lunna sudah selesai mandi dan makan malam. Wanita itu hanya sekali saja keluar dari kamar mengambil makanan di dapur. Lunna mengernyit saat mengecap masakan Sahara yang hambar tadi. Apa wanita itu sengaja mengerjai Lunna? Ah, entahlah, Lunna tak mau ambil pusing. Dengan terpaksa menyantap makanan sampai habis.


Kini, ia sedang membaca novel online di salah satu platform ternama di luar negeri. Nampak headphone bertengker ditelinganya. Matanya fokus membaca kata demi kata yang terpampang di layar ponsel. Sesekali dia tertawa, sesekali dia nampak muram sembari menyomot snack kesukaannya di atas nakas.


"Ha!" teriak Lunna kala lampu tiba-tiba padam. Dengan cepat ia menyambar senter besar di nakas dan menekan tombol on. Seketika ruangan kamar Lunna terang benderang.


"Hehehe, lumayan juga pesan dari China," kata Lunna terkikik lalu kembali ke atas tempat tidur.


*


*


Di sudut-sudut ruang. Cahaya lampu temaram menghiasi kamar yang didominasi cat berwarna gelap itu.


Brak!


Jack menghempas bangku kayu ke lantai hingga hancur lebur. Bayangan masa lalu masih berputar-putar dibenaknya. Tubuh Jack bergetar hebat dan peluh keringat nampak membasahi seluruh badannya.


"Yuri!" Jack memekik sambil menoleh ke ambang pintu. Mendengar panggilan, dengan sigap Yuri masuk ke dalam kamar sambil mengamati ruangan seperti kapal pecah. Lampu duduk, hiasan dinding, beberapa bingkai foto dan kaca beling berserakan di lantai. Dapat ia lihat, darah mengalir dari tangan Jack.


Yuri enggan menyahut. Bibirnya tak bergerak sama sekali.


Mata Jack melotot sembari mendekati Yuri. "Yuri berikan aku benda itu!"


"Tidak!" Yuri berseru nyaring membuat Jack mengetatkan rahangnya.


"Berikan sekarang!"


"Habis!"


"Yuri, aku mohon berikan padaku, aku tak sanggup..." Jack berucap lirih, tatapan matanya kosong bagai tak bernyawa.


Yuri menyentuh pundaknya Jack. "Tuan, Yuri mohon, hentikan lah, benda itu akan merusak tubuh anda."


Suara Yuri terdengar merendah dari sebelumnya. Selama berkerja bersama Jack sudah dua tahun dia melihat Jack memakai benda terlarang itu. Pria itu diterpa kebingungan. Saat Jack semakin menusuk-nusuk tangannya sendiri dengan jarum.


"Tuan! Stop!" Dengan cekatan Yuri mengambil paksa benda kecil itu dari tangan Jack, melemparnya ke segala darah.


"Aku tak sanggup Yuri, berikan...." Dengan perlahan Jack merosot ke bawah lalu kepalanya bersandar di bawah ranjang.


Yuri menarik nafas panjang, mau tak mau mengambil serbuk yang tersampir di dalam saku jasnya, kemudian memberikan pada Jack. Seketika Jack menghirup benda itu.

__ADS_1


Sedangkan Yuri hanya mampu menundukkan kepala. Tak mau melihat ketidakberdayaan Jack. Jika malam hujan deras dan diiringi bunyi guntur Jack pasti kambuh dan mulai menghisap ekstasi. Yuri sudah berkali-kali meminta Jack untuk mengobati ketergantungannya dari obat-obatan dengan rehabilitasi, akan tetapi Jack menolak penuh.


'Semalam Tuan Jack juga seperti ini, semoga besok tidak hujan lagi.'


__ADS_2