Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet

Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet
Jack Psikopet!


__ADS_3

Byur!


"Bangun!" teriak Sahara memandang sinis Lunna yang tergeletak di atas lantai, dengan kondisi punggung tersayat-sayat.


Lunna meringis pelan kala air dingin menusuk kulitnya. Ia memeluk tubuhnya sesaat.


"Sahara! Apa yang kau lakukan?!" Yuri baru saja masuk ke dalam kamar dan bergegas menutupi tubuh Lunna dengan selimut.


Sahara mendengus dan melotot tajam.


"Apa?! Aku hanya menjalankan perintah!" seru Sahara lalu melenggang pergi, meninggalkan Lunna dan Yuri.


Yuri nampak sedih melihat kondisi Lunna saat ini. Di sekujur punggung Lunna terdapat luka sayatan yang nampak banyak. Matanya menatap sendu wajah Lunna yang pucat. Dengan perlahan dia menaruh kepala Lunna dibahunya.


"Lunna A, maafkan Yuri," desis Yuri dengan mata mulai berkaca-kaca.


Lunna mengangkat wajah, kemudian tersenyum tipis. Melihat bola mata Yuri sudah berembun.


'Astaga, kenapa dia polos sekali, aku jadi merindukan adikku di sana. Sikapnya seperti Romeo.'


"Kenapa kau menangis? Aku tidak apa-apa... Sudah lah. Yuri, apa kau mau membantuku?"


Sedari malam, Lunna sudah memikirkan matang-matang. Rencana apa yang akan dia lakukan untuk membalas Jack. Dia yakin pria itu memiliki jiwa seorang psikopat. Senang, jika mangsanya lemah. Maka dari itu, ia harus menemukan kelemahan Jack secepatnya.


Yuri menyeka cepat jejak tangisnya. Kemudian berkata,"Yuri akan membantu Lunna, katakan saja."


Seulas senyum tipis terpatri di wajah Lunna. Ia menegakkan tubuhnya seketika.


"Yuri, aku mau kembali ke Los Angeles. Aku ingin berkerja. Bawa aku ke sana sekarang," kata Lunna sambil menangkup kedua tangannya di dada.


"Please!"


Lunna menampilkan mata memelas, saat Yuri tak langsung membalas ucapannya. Lunna yakin Yuri diterpa kebingungan. Hal itu dapat terlihat dari guratan di wajah Yuri.


"Hanya itu saja?" tanya Yuri.

__ADS_1


"Tidak," kata Lunna sembari menampilkan raut wajah yang tak bisa terbaca.


*


*


*


Setelah meminta pertolongan Yuri. Akhirnya Lunna telah tiba di Los Angeles. Entah, bagaimana pria itu meminta izin kepada Jack. Tapi yang jelas, sejak keluar dari mansion. Ia tak melihat batang hidung Jack. Kemana pria itu?Apa dia sedang mengadakan pesta kemenangannya karena telah menyakiti dirinya? Benak Lunna menerka-nerka. Lantas ia tak mau ambil pusing. Fokus utamanya sekarang adalah berkerja.


"Oh my God, Lunna!" Kristin memekik. Tadi, Kristin mendapatkan pesan singkat dari Lunna mengatakan bahwa ia sudah sampai di apartment. Wanita itu menjerit histeris saat melihat luka Lunna sangat banyak memenuhi seluruh punggungnya.


Dengan cepat Lunna menceritakan apa saja yang dia alami di rumah Jack. Setelah mendengar keluh kesah Lunna, Kristin meradang. Dia tak habis pikir mengapa Jack begitu tega melampiaskan kemarahan dengan menyerang Lunna secara membabi buta, padahal Lunna seorang wanita. Seketika rasa benci muncul di hati Kristin. Dia menyalahkan diri sendiri karena tak bisa menjaga artisnya dari seorang CEO kejam yang berada ditempatnya berkerja.


"Jack-Jack benar-benar keterlaluan! Mari kita laporkan ke polisi saja!" cetus Kristin setelah selesai mengobati luka Lunna.


"Aku juga mau seperti itu. Tapi kau tahu sendiri, Kan, Jack orang yang memiliki kekuasaan dan bisa saja menyerang balik kita," kata Lunna sambil menutup tubuh dengan pakaian yang sedikit longgar.


Iya, walaupun Lunna memiliki seorang kakek yang lebih berkuasa daripada Jack. Akan tetapi, dia tak mau meminta bantuan keluarganya. Karena masalah yang ditimbulkan akibat ulahnya sendiri. Jadi, dia akan berusaha untuk melepaskan jeratan Jack' seorang diri.


Lunna menyeringai tipis. "Aku akan membuat keributan di mansion Jack!" Ia berseru semangat sambil mengepalkan satu tangan ke atas.


Dahi Kristin berkerut hingga tiga lipatan. Melihat pancaran mata Lunna seperti seorang psikopat. Detik kemudian raut wajah Kristin berubah.


"Semoga rencanamu berhasil!" sahut Kristin menggebu-gebu. Ia akan mendukung Lunna walaupun tak tahu rencana apa yang akan dilakukannya. Lunna mengangguk, mengiyakan perkataan Kristin.


"Oh, iya aku sampai lupa, semalam Mr.Trevor menanyakanmu," kata Kristin tiba-tiba sambil membuka totebag yang sedari tadi di bawa.


Dahi Lunna berkerut samar."Mr. Trevor?"


"Iya, dia memintaku memberikan ini padamu. Pak tua itu sangat peduli padamu. Dia khawatir sekali karena teleponmu tadi malam tidak aktif."


Kristin menyodorkan bongkahan coklat yang lumayan besar. Secepat kilat Lunna menyambar coklat tersebut.


'Bagaimana mau di angkat ponselnya mati.'

__ADS_1


Lunna tersenyum sejenak, saat mendapatkan coklat dari salah satu fans sejatinya. Pria berambut putih itu selalu memberikannya perhatian sama seperti Kakeknya. Seandainya saja semua pria bersikap seperti Kakek dan Mr.Trevor bahagia sekali Lunna.


Siang menjelang sore. Lunna sedang berada di studio tempat pemotretan. Walaupun dia sedang sakit. Lunna akan bersikap profesional terhadap perkerjaannya. Ia tak mau mengecewakan Kristin dan kru yang sudah mau mengundur waktu untuk pemotretan. Selesai melakuka pemotretan. Lunna dan Kristin kembali ke gedung agensi.


"Capek juga," kata Lunna seraya menyandarkan kepala di sofa. Ia melihat ke arah kaca di sisi kanan.


"Lun, apa kau tak kesakitan? Lukamu belum sembuh?" tanya Kristin keheranan. Bagaimana bisa Lunna menahan rasa sakit ditubuhnya. Belum lagi di sepanjang syuting. Lunna tak pernah menampakan wajah sedihnya.


Lunna menoleh."Sakit sih, tapi masih bisa ditahan. Apa jadwalku selanjutnya?" tanya Lunna seolah-olah sakit yang ia rasakan tak parah. Kristin membalas dengan geleng-geleng kepala sesaat. Wanita berambut pendek itu, mengusap layar i-pad yang berada di atas meja. Memeriksa jadwal artisnya.


"Tidak ada, aku akan mengosongkan jadwalmu untuk sementara waktu. Jalankan misimu Lun, agar kau bisa terlepas dari si Jack-Jack yang gila itu!" seru Kristin menyeringai tipis.


"Oh my God! Kau memang Managerku yang terbaik! Muach, muach!" Lunna melayangkan kiss melalui udara.


"Aish aku masih normal tau!" Kristin memberengut, sambil geleng-geleng kepala dengan tingkah Lunna yang semakin hari semakin nyeleneh, walaupun artisnya itu tengah sakit.


Lunna malah tertawa keras, melihat raut wajah Kristin menahan sebal.


*


*


*


Sesuai rencana. Lunna sudah tiba di mansion Jack. Sekarang ia sudah tahu di mana tempat tinggal Jack. Kaki jenjangnya melangkah dengan riang ke dalam mansion sembari menyeret koper besar.


"Dari mana saja kau?!" tanya Jack setelah melihat Lunna baru saja tiba di ruang tamu. Pria itu berdiri tegap sembari memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Sedangkan Sahara mengekorinya dari belakang, menatap sinis Lunna.


Lunna menghentikan langkah, melepas kaca matanya, lalu memicingkan matanya sesaat, mengamati penampilan Jack yang nampak berbeda.


"Tentu saja aku berkerja! Aku bukan seperti dirimu yang melupakan tanggungjawab!" kata Lunna ketus. Berdasarkan informasi yang dia dapatkan dari Yuri. Jack tak masuk kerja karena malas berkerja, alasan yang tidak masuk di akal, menurut Lunna.


Jack mendengus."Suka-suka aku! Perusahaan itu milikku!" Matanya meneliti tubuh Lunna dari ujung kepala hingga ujung kaki.


'Kenapa dia baik-baik saja?' Monolog Jack di dalam hati.

__ADS_1


"Apa? Kenapa kau melihatku seperti itu? Berharap aku kesakitan terus! Cih hell no! Tidak ada di kamus hidupku meratapi terus penderitaanku. Hidup harus tetap berjalan!" kata Lunna dengan wajah angkuhnya.


__ADS_2