Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet

Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet
Bisikan Hati


__ADS_3

"Lunna!" Simon beranjak sebab Lunna secara terang-terangan menolak Brian. Pria tua itu sedang menahan emosinya. Dia tak enak hati dengan kedua orangtua Brian yang nampak terkejut juga mendengar perkataan cucunya barusan.


Lunna mendengus kemudian melipat tangan di dada, memalingkan mukanya ke samping. Acuh tak acuh, ia tengah menghiraukan wajah terkejut Brian saat ini. Anggap saja dia tak sopan. Entah lah. Kini, mood Lunna benar-benar buruk. Padahal dia hanya menganggap Brian teman saja, tak lebih.


"Mungkin Lunna hanya bercanda, Mr dan Mrs. Barbossa," desis Lily pelan mencairkan suasana di dalam ruangan. Wanita itu melemparkan senyuman pada Lunna berharap anaknya itu tetap menjaga adab di depan orang yang lebih tua, meski Lily tahu Lunna sekarang sedang kesal. Hal itu dapat ia lihat mimik dan gestur tubuh anaknya.


Lunna merasa tak enak hati, manakala Mommy-nya malah menjaga nama baiknya di depan orang yang baru dia kenal. Dia pun tersenyum kikuk kepada orangtua Brian. Sembari melemparkan senyuman juga pada Brian dihadapannya.


Sedari tadi, Leon hanya terdiam, melihat penolakan Lunna. Pria itu berharap Lunna hanya main-main dengan ucapannya. Tak mau berspekulasi yang tidak-tidak, Leon pun mulai mencairkan suasana di bantu dengan Lily. Cukup lama mereka berbincang-bincang seputar Lunna dan Brian. Sesesekali orangtua Lunna melemparkan candaan agar tamu merasa nyaman. Hingga menjelang sore, mereka makan bersama.


Setelah penolakan Brian tadi. Lunna lebih banyak terdiam. Lunna tersenyum tipis mendengar Brian meracau tentang kebaikan yang dia lakukan sewaktu kuliah dulu kepada Brian. Dia malas menanggapi guyonan Brian.


Hal tersebut membuat hati Brian berdenyut nyeri. Pria itu tak menyangka, Lunna begitu berubah. Apa dia melewatkan sesuatu? Semula Brian tak mengetahui akan dijodohkan dengan Lunna. Namun begitu sampai ke mansion, dia terkesiap mengetahui jika Lunna adalah cucu orang nomor satu di Los Angeles. Bagai mendapat emas, ia begitu senang dan sangat bersemangat, namun seketika runtuh kala Lunna menolaknya secara terang-terangan tadi, belum lagi sikap Lunna berbeda, tak seperti biasa-biasanya.


Tepat pukul empat sore. Barbossa berserta anak dan istrinya pamit undur diri.


"Lun, aku berharap perkataanmu yang tadi hanya lah bercanda," kata Brian menatap penuh harap.


Lunna menoleh, membalas dengan tersenyum tipis. Dia enggan menyahut.


'Sayangnya tidak, karena hatiku hanya untuk Jack. Kalaupun mereka menginginkan aku menikahimu, lebih baik aku akan kabur saja!' Lunna merapalkan keinginannya di dalam hati.


Selepas kepergian Brian dan orangtuanya. Leon mengajak Lunna ke ruang tengah hendak membicarakan sesuatu. Terpaksa Lunna mengikuti perintah sang ayah. Sebab dia tahu apa yang akan dibicarakan. Dengan gontai Lunna berjalan, mengikuti kedua orangtua dan kakeknya. Sementara itu, Darla melipir ke kamar atas. Dia tak mau ikut campur.


"Lunna, apa Daddy mengajarkanmu bersikap tidak sopan pada tamu!?" Leon mulai tersulut emosi teringat sikap Lunna tadi.


"Tidak, aku hanya menolak perjodohan yang kalian atur ini. Aku minta maaf jika sikapku membuat kalian malu," sahut Lunna tenang walaupun dadanya bergemuruh saat ini.

__ADS_1


"Ckck, tidak ada penolakan satu minggu kau akan menikah?!" kata Leon membuat Lunna terperangah seketika.


"Tidak mau! Yang menjalani kehidupan itu aku, mengapa kalian mengatur-atur hidupku! Apa kalian tak pernah memikirkan perasaanku?!"


"Kau sudah berani melawan, Lunna! Daddy hanya mau yang terbaik untukmu," Leon berseru, menatap tajam pada sang anak yang tengah menggeram sebal.


Dada Lunna meletup-letup. Dia malas berdebat dengan Daddy-nya. "Beri aku waktu satu bulan, Daddy, please, ini terlalu cepat bagiku, apa Daddy pikir menghilangkan nama Jack dihatiku bisa dalam sekejap mata? Tentu saja, jawabannya tidak! Aku mencintai, Jack," kata Lunna menampilkan wajah memelasnya.


Leon tergugu, melihat pancaran mata Lunna, yang memprihatinkan. "Baiklah, jika sudah satu bulan kau harus tetap menikahi Brian," katanya dingin.


Setelah membuat kesepakatan. Lunna pamit ke kamarnya ingin beristirahat sejenak.


"Enak sekali kau rebahan, ya?!" Lunna melotot Darla tengah berbaring sambil menonton televisi.


"Ya memang enak, jadi bagaimana?" Darla berbicara tanpa menatap lawan bicara.


"Whats?! Itu hal yang mustahil, Lun. I mean, how? Kau tahu sendiri, di sini penjagaannya sangat lah ketat!"


"Iya, iya aku tahu," kata Lunna berpikir dengan keras sembari melipat tangan di dada. Otak besar Lunna tengah berusaha mencari cara untuk kabur dari mansion.


Sementara itu, di lain tempat.


Yuri penasaran mengapa tak diperbolehkan Sensei masuk ke dalam kamar Jack. Pria itu baru saja mengobrol dengan Justin membahas tentang perkerjaan Jack.


Setelah membicarakan apa saja yang akan dilakukan Justin nantinya di perusahaan. Yuri mengendap-endap masuk ke kamar Jack. Tak peduli hukuman apa yang didapatkan nanti jika sampai ia ketahuan.


Ceklek!

__ADS_1


Suara pintu terbuka. Mata Yuri melebar, melihat wajah Jack pucat pasi seperti mayat hidup. Yuri menghampiri, Jack yang tak sadarkan diri itu.


"Lunna..." ucap Jack lirih tanpa sadar memanggil nama seseorang yang dia rindukan. Pria itu tengah menatap lurus ke depan dengan tatapan yang kosong. Tak menyadari kedatangan Yuri.


"Tuan," panggil Yuri menatap nanar Jack. Secepat kilat, Yuri mengambil handuk dan membasahi kain tersebut dengan air. Kemudian menyeka peluh keringat di sekujur tubuh Jack.


'Sensei sangat keterlaluan, sepertinya Tuan Jack di suntik sesuatu, Yuri harus membantu Jack kabur dari sini!" Final Yuri, dia bertekad membebaskan Jack dari terkaman Sensei.


Tanpa banyak kata. Yuri mencari-cari di sekitar kamar Jack. Obat apa yang Sensei berikan pada Jack. Matanya membulat melihat obat yang tak asing berada di tempat sampah.


'Biadab! Mengapa kalian sangat jahat!? Yuri membenci Sensei! Walaupun, Sensei kakek Yuri!"


Tak mau menunda-nunda Yuri bergegas, mencari penawar obat di dalam laci Jack. Ia bersyukur masih menyimpan salah satu obat pemberian dokter Rogue. Dengan cepat ia menyuntik ke tubuh Jack. Sedari tadi, Jack meracau-racau sendiri dengan menyebut nama Lunna berulang kali.


"Tuan bertahanlah, Yuri akan mencari cara agar Tuan dapat segera pulih dan bertemu Lunna A," kata Yuri, menatap sendu pada Jack.


Mendengar nama Lunna di sebut. Jack menoleh, kemudian tersenyum tipis, lalu berkata,"Lunna, di mana istriku? Apa dia baik-baik saja?"


Hati Yuri terenyuh, mendengar suara Jack yang begitu pelan dan lemah. Belum lagi Jack masih memikirkan keadaan Lunna dan sepertinya lupa jika mereka sudah bercerai. Tak mau membuat Jack kecewa, Yuri membalas ucapan Jack.


"Istri anda baik-baik saja, Tuan. Tuan harus cepat sembuh agar cepat bertemu Lunna A," kata Yuri memberi semangat.


Jack membalas dengan tersenyum tipis.


'Aku merindukanmu, Baby.'


'Jack, aku merindukanmu, aku harap kau baik-baik saja di sana. Ada bayi di dalam perutku, kau akan menjadi seorang Daddy.'

__ADS_1


Tanpa mereka sadari. Jack dan Lunna mengucap sebuah kalimat rindu di waktu yang bersamaan. Meski dipisahkan ruang, keduanya tengah memikirkan satu sama lain. Berharap sang pujaan mendengar bisikan suara hati mereka, berharap semesta dapat mendengar dan menyampaikan apa yang mereka rasakan saat ini.


__ADS_2