Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet

Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet
Jack Mencabik Lunna [18+]


__ADS_3

Warning ∆


[18++]


Sret! Sret!


Kedua mata Lunna membuka cepat kala Jack mengunting baju malamnya secepat kilat.


"Jack, apa yang kau lakukan?"


"Ah!" Lunna menjerit.


Seketika Jack merobek semua pakaian Lunna hingga tertinggal lingerie berwarna merah yang menempel ditubuhnya. Sedari tadi Lunna berteriak histeris sambil tak henti-hentinya memberontak.


"Ini hukuman untuk seseorang yang tak pernah mau menuruti perintah suaminya! Malam ini kau harus aku cabik-cabik!" Jack berseru sembari mencengkram tangan Lunna. Kedua matanya melihat Lunna yang sedang ketakutan saat mendengar ia mengucapkan kata, "mencabik-cabik." Seulas senyum penuh arti terpatri diwajahnya.


"Jangan! Aku mohon, aku minta maaf karena masuk ke ruang pribadimu, sebenarnya aku penasaran dengan latar belakangmu."


Lunna berharap agar Jack tak menghukumnya. Suaranya terdengar pilu. Biasanya Lunna berani melawan. Namun entah mengapa nyalinya seketika menciut sebab Jack akan mencabiknya seperti seekor serigala siap memangsa lawan. Padahal Lunna tidak tahu makna mencabik yang dimaksud Jack.


Jack tak mendengarkan sama sekali perkataan Lunna barusan. Matanya malah asik memindai tubuh istrinya dari leher, dada, perut, pinggang, paha dan kaki yang tampak putih berseri. Dengan susah payah ia menelan ludah manakala gesekan kaki Lunna menyentuh ular piton di sana. Nafasnya mulai memburu, jakunnya naik dan turun, saat melihat bibir seksi Lunna bergerak dan meracau sendiri sedari tadi.


"****!" Umpat Jack lalu secepat kilat menabrakan bibirnya ke bibir Lunna. Untuk sesaat Lunna membeku tatkala Jack m3lum@t bibirnya dengan begitu rakus. Meski ini bukan ciuman pertama bagi Lunna tapi tetap saja dia terkejut. Sebab yang mencumbunya sekarang adalah Jack, musuh sekaligus suaminya.


Seketika Jack mengigit bibir bawah Lunna saat wanita itu terdiam. Kedua mata Lunna membola, Jack mengeksplor rongga mulutnya. Lama kelamaan, Lunna pun membalas lilitan lidah Jack. Sekarang ruangan dipenuhi suara ecapan-ecapan dari sepasang dua insan manusia.


'Ada apa denganku? Hei Lunna, cepat dorong dia?! Argh!' Pikiran dan tubuh Lunna tak selaras sama sekali. Tanpa sadar Lunna mengalungkan kedua tangannya di leher Jack seraya memejamkan mata, menikmati sentuhan-sentuhannya.


Sekarang, tubuh Lunna sudah polos, tak ada sehelai benangpun yang menempel, begitupula dengan Jack. Entah sejak kapan Jack menanggalkan piyamanya. Sampai-sampai Lunna tak menyadari sama sekali.


"Jack,..." Nafas Lunna memburu kala Jack menghentikan serangannya. Kini, Jack menempelkan keningnya ke kening Lunna.


"Kenapa?" tanya Jack sembari menyeka bibir Lunna yang membengkak' bukti permainannya barusan sangat brutal. Kedua mata pria itu berkabut gairah saat melihat Lunna bertambah cantik dan menawan. Walaupun tanpa polesan sedikitpun. Seketika kumpulan kupu-kupu memenuhi relung hati Jack.

__ADS_1


"Jangan, aku mohon, aku hanya mau melakukannya dengan suamiku..." Lunna berucap lirih sambil menyentuh dada Jack. Wanita itu dilanda kebingungan, apa ini tak tik Jack, pemanasan untuk mencabik-cabiknya nanti.


"Dan aku suamimu," kata Jack lalu kembali menyambar bibir Lunna, memagut, bertukar s*liva, dan mengulangi hal yang sama. Keduanya dapat merasakan degup jantung mereka berdetak dua kali lebih cepat.


"Ah!" Lunna mendesah nyaring kala Jack bermain di leher jenjangnya. Jack semakin bersemangat mendengar suara Lunna yang mendayu-dayu. Sedari tadi kedua tangan Jack menjalar kemana-mana.


"Jack, please, stop," kata Lunna saat Jack melahap rakus dua bola voli miliknya. Lidah Jack berselanjar ria di biji kacang kedelai milik Lunna. Sementara itu, tubuh Lunna sudah melengkung ke atas. Tubuhnya serasa disentrum ketika Jack tak mengindahkan perkataannya. Pria itu hanyut dengan kegiatannya, harum tubuh Lunna membuatnya tak bisa berhenti.


"Jack, aku mohon, aku tak mampu... please...."


Kini, Jack tengah mencium-cium sekilas perut Lunna hingga pada akhirnya Jack telah tiba di tempat keramat itu. Ya, terowongan lembab itu.


"Jack!!" Lunna memekik tatkala Jack bermain diguanya dengan menggunakan lidah. Jack sesekali melihat ke atas, saat Lunna bergerak tak tentu arah. Nafas Lunna amat memburu dan satu tangannya hendak menggapai kepala Jack.


Detik kemudian, Jack menjauhkan kepalanya. Lunna terkulai lemas. Secara bersamaan pula sesuatu berwarna putih keluar dari inti tubuhnya.


"Jack,.." Hanya kata itu yang terlontar dari bibir Lunna. Lunna merasakan Jack menggeser tubuhnya ke tengah-tengah kasur. Ia benar-benar tak berdaya karena org@sm3 pertamanya tadi.


"Hmm." Kedua mata Jack sedang menahan sabar ia membuka cepat paha Lunna hendak mengarahkan anacondanya memasuki sarang.


"Shftt, kau istriku, ingat!"


Jack segera memposisikan pinggulnya lalu memagut kembali bibir Lunna seraya menyatukan jari-jemarinya ke jemari istrinya. Sementara itu, Lunna tanpa sadar memejamkan mata, terbuai dengan sentuhan Jack yang membuatnya terbang melayang ke atas nirwana.


Lama keduanya bercumbu mesra. Hingga Jack memperlebar paha Lunna. Kemudian menggerakkan pinggangnya. Namun gerakannya tertahan.


'Kenapa susah sekali!' Jack mendorong lebih dalam.


Jleb.


Sepercik darah memenuhi terowongan casablanca Lunna.


"Ah!!!"Lunna memekik kesakitan.

__ADS_1


"Ka-u ma-sih perawan?"


Jack terkejut. Saat mengetahui ternyata Lunna masih perawan. Tapi, bagaimana mungkin. Bukankah desas-desus yang beredar jika Lunna adalah Sugar Daddy. Belum lagi informasi yang didapatkan dari Britney mengatakan Lunna tenar karena bantuan para petinggi. Rasa sesal seketika membuncah di palung hati Jack karena telah memandang Lunna sebelah mata.


Kedua mata Lunna berembun saat merasakan perih di bawah sana. Ia menitihkan air mata sebab orang pertama yang menyentuh tubuhnya adalah Jack, pria yang tidak ia cintai sama sekali.


'Maaf, aku meremehkanmu.'


"Lun," kata Jack seraya menyeka jejak tangis Lunna. Lalu kembali berkata,"Aku akan pelan-pelan."


Lunna tak menyahut memilih memejamkan matanya. Detik selanjutnya, dengan perlahan pinggang Jack bergerak-gerak. Jack memagut kembali bibir Lunna, tanpa menghentikan serangan.


Lama kelamaan hentakan bertambah cepat. Sekarang ruangan dipenuhi dengan suara erangan dan des*han Lunna. Sedangkan Jack menggeram rendah sesekali, menikmati surga duniawi dari seorang wanita yang masih tersegel. Ia menyesap leher Lunna dan meninggalkan tanda kemerahan.


Sementara Lunna merasa aneh saat rasa sakit dan perih berubah menjadi sebuah rasa yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.


Dinginnya AC tak mampu mengalahkan api asmara yang membara diruangan. Kulit keduanya bergesekan satu sama lain. Setengah jam pun berlalu. Jack memacu lebih cepat dari sebelumnya.


Tiba-tiba tubuh keduanya bergetar kuat. Jack menaburkan benihnya di bawah sana seraya mengecup kening Lunna.


"Kontrak diperpanjang Lun," cicit Jack tiba-tiba.


Dengan nafas terengah-engah Lunna berkata,"Maksudnya?" Mencoba memahami perkataan Jack barusan sebab dia tak fokus.


"Aku bilang kontrak menikah kita diperpanjang." Sebelum Lunna membantah, Jack membungkam Lunna lagi dengan meraup habis bibir istrinya yang sekarang menjadi candunya.


Punggung Jack kembali bergerak naik dan turun padahal benih telah ditaburkan di ladang tadi. Saat ini Lunna sudah pasrah. Ia dilanda kebingungan sejenak dengan perkataan Jack barusan.


Malam sangat panjang hingga Jack terpaksa menyudahi kegiataan kala Lunna tak mampu meladeninya. Kecupan ringan di kening Lunna sebagai tanda permainan kuda lumping telah berakhir.


Pagi menyapa. Sinar mentari menerangi bumi perlahan-lahan. Langit di atas sana teramat terang hendak membangunkan sang manusia yang sedang tidur terlelap.


Bunyi gesekan dinding, membuat tidur Jack terusik. Dengan cepat matanya membuka, lalu berkedip cepat. Seketika kedua matanya membola melihat seorang pria berdiri tegap dihadapannya dengan menatap penuh arti.

__ADS_1


"Kenapa kau di sini?" tanya Jack sembari melirik Lunna yang sedang tertidur pulas disisinya.


__ADS_2