Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet

Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet
Ikon Kampus


__ADS_3

Esokan harinya.


Kemarin, Kristin amat senang saat mendapatkan informasi bahwa Lunna menjadi ikon di salah kampus terkenal di Los Angeles. Dengan langkah riang, Kristin menapaki gedung bertingkat tiga puluh lantai itu. Sedari tadi, senyuman Kristin tak pudar sedikitpun. Ia sangat tak sabar memberikan kabar gembira ini kepada Lunna.


Tak butuh waktu lama. Kristin tiba di dalam lift. Seketika senyuman Kristin sirna saat melihat Laura dan Britney masuk ke dalam lift yang sama. Matanya mendelik ke atas, sembari menautkan kacamata hitamnya. Sedangkan Laura dan Britney berdecih sesaat, melihat Kristin. Saat ini, di dalam lift hanya mereka bertiga saja.


"Cih, coba lihat manager seorang j@lang ini! Pasti memakai tas kw, setahuku tas itu sangatlah mahal!" cerocos Britney sengaja memanasi-manasi Kristin.


"Iya, kau benar, atau mungkin itu hasil menjual tubuh mereka. Hahaha!" Laura menimpali. Dia melihat Kristin dari kepala hingga ke ujung kaki.


Kristin menarik nafas panjang, enggan meladeni keduanya. Sebab tak mau merusak mood-nya yang sudah baik tadi. Mereka tak tahu saja, tas yang ia pakai sekarang adalah hasil kerja kerasnya selama ini.


Setelah bunyi denting lift terdengar. Kristin bergegas keluar, tak menghiraukan Laura dan Britney yang memaki-makinya sedari tadi.


***


[Ruang Khusus Lunna]


Lunna mengerutkan dahi, melihat muka Kristin tertekuk. Dengan cepat ia menaruh ponselnya di atas meja.


"Kau kenapa?" tanya Lunna setelah melihat Kristin menaruh tas-nya di sisi kanan meja.


Kristin menarik nafas pelan. "Tidak apa-apa, ada dua penyihir yang membuat aku ingin mencakar-cakar mereka," kata Kristin sembari menyambar chocolate cake di piring.


"Penyihir?" tanya Lunna penasaran.


Kristin berdecih sesaat. "Britney dan Laura."


Lunna membalas dengan beroh ria saja. Dia malas bertanya lebih jelas lagi.


"Oh my God! Aku sampai lupa, hari ini kita akan pergi ke kampus XXX, Lun. Dan kau menjadi ikon-nya!!" tutur Kristin mengebu-gebu, baru saja teringat dengan kabar yang pasti akan membuat Lunna juga senang.


Lunna melebarkan mata. "Whats?! Kau tidak berbohong, Kan?" tanya Lunna ingin memastikan. Dia tak menyangka di tunjuk sebagai ikon, berarti dia ada kesempatan untuk berpidato di depan, memberikan motivasi kepada para jiwa muda.


Kristin mengangguk cepat seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan kinderjoy.


Lunna beranjak, berjalan ke arah gantungan pakaian khusus-nya. "Ahhh! Oh my God! Waduh jadi aku harus pakai baju apa?" Lunna tengah mengobrak-abrik pakaian, berharap ada gaun yang cocok untuk ia kenakan.


"Haha, mengapa kau mencari di situ Lun, tenanglah aku sudah mempersiapkan semuanya untukmu, sebentar lagi akan sampai," kata Kristin sembari menyambar i-pad di dalam tas.


Gerakan tangan Lunna terhenti. "Haa, kau yang terbaik, Kris! Aku tak sabar, oke, oke, apa aku harus berakting seperti Oprah yang sedang berpidato?" kelakarnya seraya menampakkan senyuman.


"Haha, ide bagus, boleh! Kau sudah sarapan, Kan? Ingat, di sana orang-orang penting akan hadir, aku dengar Grandpamu akan hadir, jadi kau harus tampil semaksimal mungkin."


Lunna mengangkat wajah angkuh. "Serahkan semua padaku, aku akan mengguncang kampus,"katanya seraya tertawa keras.


"Iya, guncang saja. Tapi jangan kau guncang dengan kentutmu itu!" Kristin mengingatkan, sebab ia tak mau Lunna membuat kesalahan. Kini, Kristin sudah tahu dampak dari memakan jengkol, iya, walaupun jengkol enak, tapi tetap saja bau.

__ADS_1


Lunna berdecak. "Ish! Aku juga tahu tempat kalau mau kentut, Kris!"


"Sudahlah, sekarang kau rias dirimu dulu," kata Kristin setelah melihat MUA baru saja masuk ke ruangan.


*


*


Kini, Lunna dan Kristin sudah memakai pakaian yang sopan untuk dihadiri acara di kampus. Lunna mengenakan blazer berwarna softpink dan rok span sependek lutut. Rambutnya ia ikat ke belakang hingga menampakkan leher jenjangnya. Riasan Lunna natural makeup no makeup, menghiasi wajah cantiknya. Setelah bersiap-siap, keduanya bergegas pergi ke tempat tujuan.


Begitu sampai. Lunna meneguk ludah kasar, tiba-tiba rasa gugup menderanya, melihat suasana di pelataran kampus nampak ramai.


'Kau harus bisa, Lun. Ayo, perlihatkan pada Grandpamu!' Monolog Lunna di dalam hati sebelum keluar mobil.


***


Sekarang, Lunna dan Kristin sudah berada di dalam kampus. Keduanya hendak memasuki aula besar tempat acara berlangsung.


"Jack ada di sini, mengapa dia bersama Laura," Lunna bergumam pelan, melihat Laura mengekori Jack di belakang. Rasa tidak suka menyeruak di relung hatinya sejenak ketika melihat kedekatan Jack dan Laura.


"Lunna, lihat itu Grandpamu." Bisik Kristin saat melihat di sisi sana, Simon Andersean sedang berjabat tangan dengan Mr.Alabama, Mr. Trevor dan beberapa petinggi lainnya.


Lunna menoleh, lalu tersenyum tipis. "Hehe, iya aku kangen sekali dengannya."


Beberapa meter, dari Lunna dan Kristin. Mata Jack menelisik keberadaan Lunna. Ia sedikit risih melihat Laura mengikutinya sedari tadi. Tak mau membuat semua orang bertanya-tanya. Ia mengacuhkan Laura, saat wanita itu melontarkan banyak pertanyaan padanya. Memilih diam, dan lebih baik menyapa para kolega perusahaan-nya. Yuri yang berdiri di samping Jack, tak kalah sebal, melihat Laura tak mempunyai muka. Bisa-bisanya mengekori Jack, padahal sedari tadi ia dan Jack mendiamkan Laura.


Mata Yuri memicing, melihat Lunna di sebrang sana sedang dikerumuni para mahasiswa dan mahasiswi kampus. Dengan cepat ia mendekatkan bibirnya di daun telinga Jack.


"Tuan, itu Lunna A," kata Yuri sembari mengarahkan pandangan pada Lunna.


Jack pun mengikuti arah mata Yuri. Matanya membola, melihat Lunna sedang di rangkul seorang pria yang diyakini fans-nya itu.


'Si@l! Dia harus hukum lagi nanti malam, mengapa dia berdandan cantik!'


"Yuri," panggil Jack.


"Iy-iy-a, Tu-an." Yuru tergagap-gagap melihat pancaran mata Jack berkilat menyala.


"Kau catat, siapa saja yang merangkul Lunna tadi. Setelah itu pecat mereka semua," kata Jack pelan tanpa melepaskan pandangan mata.


Yuri menggaruk kepalanya sesaat. "Pecat? Tapi, Tuan," kata Yuri hendak menyela. Ia dilanda kebingungan, karena Jack meminta mahasiswa-mahasiswi di pecat dari kampus. Apakah Tuannya lupa jika mereka saat ini berada di kampus bukan di perusahaan miliknya.


Laura berdecak di dalam hati saat tanpa sengaja mendengar pembicaraan Jack dan Yuri barusan.


'Cih, dasar j@lang, apa hebatnya dia menang cantik saja!?'


*

__ADS_1


*


Acara di aula sudah di mulai lima menit yang lalu. Panitia penyelenggara mempersilahkan satu persatu, Senator, Dekan, dan beberapa petinggi menyampaikan kata sambutan sepatah dua kata.


Setelah selesai, panitia meminta Lunna A, untuk naik ke podium sebagai ikon anak muda masa kini. Dengan anggun Lunna berjalan ke depan sembari merekahkan senyuman. Banyak pasang mata, memandang Lunna. Berdecak kagum dan memuja-muji Lunna.


Lunna mengedarkan pandangan mata setelah tiba di podium. Meneguk ludah pelan, lalu berkata, "Selamat pagi, saya berharap semua orang yang hadir di sini dalam keadaan sehat. Tidak lupa saya mengucapkan terimakasih kepada Senator karena telah menjadikan saya ikon di kampus–"


"Hei, Lunna A, itu tidak cocok jadi ikon kampus karena dia seorang j@lang yang menjual tubuhnya untuk terkenal!"


"Iya, benar itu. Apalagi asal-usulnya tidak jelas!


"Iya, benar itu, mana ada orang yang bisa langsung terkenal dalam sekejap mata."


Sela beberapa mahasiswi di ujung sana. Seketika mahasiswa-mahasiswi berbisik-bisik, manakala layar monitor di depan menyala tiba-tiba, menampilkan video Lunna dan seorang pria yang di blur mukanya.


Kedua mata Lunna terbelalak, melihat rekaman menampilkan Lunna tengah bersama seorang pria yang sangat ia kenal, yaps, pria itu adalah Mr. Alabama yang makan bersama Kristin, MUA dan dirinya sewaktu itu. Akan tetapi video itu hanya memperlihatkan angle dia dan Mr. Alabama saja.


"Dasar j@lang! Turun kau!" Laura berjalan cepat ke atas podium dan menumpahkan kopi tepat di kepala Lunna tengah melamun.


Plak!!


Plak!!!


Secara bersamaan pula Laura menampar Lunna sebanyak dua kali, membuat Lunna meringis sesaat. Dengan nafas yang memburu, ia menatap dingin Laura.


Jack bangkit berdiri, hendak membantu Lunna. Akan tetapi, Yuri menahan Jack agar ia tak bertindak gegabah, sebab bisa saja seseorang yang membuat Lunna malu menjadikan Jack boomerang nantinya.


"Tuan, jangan, ini demi Lunna," kata Yuri pelan seraya mencekal lengan Jack.


Jack tergugu, mendengar Lunna di ejek-ejek mahasiswa-mahasiswi saat ini. Dadanya kembali bergemuruh, melihat Brian entah datang darimana menangkis serangan Laura lagi. Dengan cepat Brian membawa Lunna keluar dari tempat acara.


Sementara itu, Simon Andersean yang melihat kejadian barusan mengepalkan kedua tangan, melihat cucunya diperlakukan semena-mena.


"Lexi," panggil Simon sembari memberikan kode melalui gerakan jari.


Lexi membungkukan badan, lalu mendekatkan kepalanya. "Iya, Tuan."


"Cari asal-usul wanita yang menampar Sugar tadi. Setelah kau mendapat informasi, serahkan wanita itu pada Montero untuk menyiksanya, lalu buat keluarganya bangkrut," pungkas Simon sembari beranjak. Ekor mata Simon tanpa sengaja melihat Jack di sisi sana tampak gusar. Detik selanjutnya, ia melenggang pergi meninggalkan para petinggi yang juga di buat terkejut dengan kejadian barusan.


"Ini semua karena ulah dirimu, Mr.Alabama," kata Mr.Trevor berdecih sesaat, lalu mengekori langkah kaki Simon.


'Apa salahnya aku mengunjungi cucuku sendiri, ah my poor sugar, bi@dab siapa yang berani dengan Sugarku, sudah bosan hidup dia!' Sebelum berlalu pergi, Richo Alabama, atau biasa disebut Mr. Alabama mendengus kasar, saat melihat cucu semata wayangnya dipermalukan di depan umum.


Mereka tidak tahu jika Lunna adalah cucunya. Sewaktu dulu, masih membekas diingatan Richo, perusahaannya di ambang kehancuran. Sang istri, Jenny tak mau jatuh miskin, meninggalkan Richo. Dan memilih bersama pria yang lebih kaya darinya. Mau tidak mau ia pun berpisah dengan istri-nya dan mengambil Marvin yang masih bayi, akan tetapi Richo tak tahu, jika Jenny membuang Marvin di jalan raya begitu saja.


Demi Marvin, Richo berkerja keras agar Jenny mau kembali padanya. Setelah perusahaannya kembali berjaya, ia pun mulai mencari Jenny. Bagai di sambar petir, ia begitu marah dan kecewa, saat mengetahui jika Jenny menelantarkan Marvin. Bertahun-tahun lamanya, Richo mencari putra tunggalnya, namun informasi yang dia dapatkan membuatnya kembali terkejut, jika Marvin telah meninggal dunia karena ulah seseorang.

__ADS_1


__ADS_2