
Akhirnya hari yang dinantikan Jack dan Lunna telah tiba. Hari di mana anggota baru bergabung di tengah-tengah keduanya. Kelahiran triplet membuat hati Leon sudah melunak, walaupun ia tak menampakan secara terang-terangan kegembiraanya menyambut sang cucu di depan Jack dan Lunna.
Seperti saat ini, jika Mr.Alabama, Simon dan keluarga lainnya berada di dalam ruangan Lunna, bercengkarama ria bersama tiga bayi munggil yang baru datang ke dunia fana ini.
Justru Leon hanya melihat si kembar triplet dari luar melalui kaca raksasa yang menjadi pembatas antar ruangan. Cukup lama dia memperhatikan bayi-bayi munggil yang masih memerah badannya di pangkuan Jack dan Lunna. Suara tangisan si kembar mengalun lembut di telinga Leon. Pria itu menatap penuh haru tanpa orang tahu sekalipun. Sampai seseorang menepuk pelan pundaknya dari belakang. Sedikit terkejut Leon berbalik cepat.
"Honey, mengapa tidak masuk?" tanya Lily menatap lekat pada sang suami. Sebenarnya Lily sudah berada di belakang tubuh Leon sudah lima menit. Dia sengaja melihat gerak-gerik suaminya. Ingin melihat sampai sejauh mana Leon mampu menahan rasa gengsinya.
Tanpa sadar Leon menggaruk kepalanya sesaat. Ia tak mau Lily mengetahui bahwa ia juga sangat bahagia dengan kehadiran si kembar.
"Di dalam ramai, Honey. Nanti saja, kalau Mr. Alabama pergi aku akan masuk." Leon membuat alibi agar Lily tak kembali melontarkan pertanyaan.
Lily terkekeh pelan. "Honey, masuk lah, jangan berbohong padaku, sudahi drama mu itu, bergabung lah bersama kami." Menarik lengan Leon kemudian menuntunnya memasuk ke ruangan Lunna. Suasana seketika hening tatkala Leon berada di dalam bilik.
"Daddy..." panggil Lunna lirih melihat Daddynya tersenyum tipis padanya. Wanita itu teramat bahagia Leon mau menjenguknya. Selama berada di mansion Lunna tahu jika Leon selalu meminta asisten rumah menyajikan makanan sehat dan bergizi untuknya. Lunna begitu beruntung Leon sudah mau menerima Jack dan buah hatinya.
Leon mendekat. "Maaf, Daddy telat, karena tadi jalanan macet."
Lunna tersenyum tipis, lalu berkata,"Tidak apa-apa, Dad. Lihat cucu-cucu Daddy." Lunna menyodorkan dua bayi didekapannya.
Dengan gesit Leon mengambil bayi kembar tersebut. Matanya berbinar melihat dua bayi laki-laki itu mengeliat di tangannya. "Siapa nama mereka?" tanyanya sembari melirik bayi perempuan digendongan Jack.
Lantas Jack dan Lunna saling melemparkan pandangan kemudian tersenyum sesaat.
"Kami meminta Daddy yang menamai triplet," kata Lunna melihat Leon tengah memandangi anak-anaknya dengan seksama. Seketika Leon menoleh seakan tak percaya dengan perkataan Lunna barusan.
"Benar kah?" tanya Leon hendak memastikan. Ia mengedarkan pandangan di seluruh ruangan melihat Jack, Lily, Darla, ketiga anak kembarnya, Simon, dan Mr. Alabama secara bergantian.
Lunna mengangguk pelan seraya tersenyum simpul.
"Tapi Daddy tidak pantas memberi mereka nama, Nak. Karena dulu–"
"Daddy, sudah lah itu masa lalu. Lunna meminta maaf sama Daddy, karena dulu melawan Daddy," potong Lunna cepat.
Leon menarik nafas panjang, kemudian berkata,"Daddy juga minta maaf Nak. Baik lah Daddy akan memberikan mereka nama, jangan protes ya!" Suara Leon terdengar tegas membuat kumpulan manusia di dalam bilik terkekeh pelan. Sebab Leon sudah tak gengsi lagi.
"Cucu pertama namanya Icarus, kedua Ivan, dan yang paling cantik ini namanya Irina. Bagaimana, bagus tidak?" tanya Leon meminta persetujuan.
__ADS_1
"Bagus!!!" pekik Nickolas dan Samuel serempak membuat bayi-bayi munggil seketika menangis karena mendengar suara dua jablay yang nyaring itu.
"Oek, oek, oek, oek, oek, oek!!!"
Mendengar bayi kembar itu menangis, Nickolas dan Samuel terkikik senang.
"Nick! Sam! Keluar kalian!" sahut Lily sembari menjewer kuping mereka dan menuntun putra kembarnya keluar dari ruangan.
"Selalu saja," Kendrick bergumam pelan melihat kedua adik kembarnya selalu saja membuat onar di mana pun mereka berada. Ia menarik nafas pelan melihat Lunna nampak bahagia dengan keluarga kecilnya. Seketika dia teringat kembali mantan tunangannya yang pergi tiba-tiba sebelum pernikahan berlangsung beberapa bulan lalu karena memilih bersama pria lain. Kendrick menyesal? Tentu saja tidak yang ada malah dia bersumpah tak mau menaruh hati lagi kepada makhluk yang bernama wanita.
Selepas pengusiran Nickolas dan Samuel. Ruangan kembali riuh karena harus menenangkan anggota baru untuk berhenti menangis sebab sekarang suara ketiga bayi itu semakin nyaring membuat Jack dan Lunna mendesah pelan.
"Baby, terimakasih sudah melahirkan mereka. Aku beruntung memilikimu dan mereka." Jack melabuhkan kecupan di kening Lunna bertubi-tubi.
"Baby, malu ah, ada Mommy dan Daddy." Lunna melirik Leon dan Lily yang tanpa sengaja melihat kemesraan keduanya.
"Tenang lah, mereka juga pernah muda." Jack kembali mengecup sekilas bibir Lunna.
Membuat Darla berdecih sesaat. "Cih, dasar pamer!"
"Bilang saja kau iri Kan, Darla?" Mr. Alabama mengompori Darla. Selama Lunna berada di mansion Andersean. Ia selalu mengunjungi kediaman besannya itu hendak menemui cucunya. Dan berakhir pula menjadi akrab bersama Darla. Tak pelak keduanya selalu bercanda ria jika bertemu.
"Aku dengar-dengar kau mencintai seorang pria yang jauh usianya darimu, mengapa kau tidak mengenalkan pada kami." Mr Alabama mendapatkan kabar burung dari Lily.
Mendengar hal itu. Simon menoleh, lalu berkata," Siapa? Kau tidak jatuh cinta pada suami orang kan Darla?" Tatapan matanya begitu menyelidik.
"Hehe, tidak kok. Ada-ada saja Grandpa," bohong Darla.
'Secepatnya aku harus membuat rencana memisahkan Eslin dan istrinya.'
Darla tersenyum kikuk menyembunyikan kebenaran sebenarnya agar Grandpa maupun keluarganya tak mengetahui siapa pria yang bermuara dihatinya sedari dulu.
*
*
*
__ADS_1
Beberapa tahun kemudian. Leon dan Lily menetap di Los Angeles untuk sementara waktu ingin melihat perkembangan ketiga cucu kembarnya yang menggemaskan itu. Hari ini adalah hari weekend. Hari untuk bersantai sejenak melepas kepenatan berkerja. Dan keluarga besar Andersean memilih pergi ke pantai sebagai sarana mereka untuk menikmati waktu luangnya.
Di ujung sana. Si kembar triplet sedang berlarian ke sana kemari bersama Jack. Pria itu sangat beruntung ketiga anak kembarnya tumbuh dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Suara canda dan tawa menggelegar mengiringi langkah kaki Jack dan si kembar.
Lunna dan Lily berada di bangku selonjoran, menatap penuh haru melihat tingkah laku keempat orang itu, terkadang Lunna terkekeh tatkala melihat Ivan dan Irina yang berkelahi karena meminta di gendong Jack. Berbeda dengan Icarus lebih dewasa dari adik-adiknya. Terkesan dingin dan tak banyak berbicara.
"Mom, Icarus kenapa mirip Kak Ken ya?" Lunna menggeleng pelan melihat sikap Icarus sangat mirip dengan Kendrick.
"Haha, iya jiplakan Kendrick, lucu sekali, Ivan dan Irina juga seperti Nickolas dan Samuel." Lily tengah melihat Ivan dan Irina meloncat-loncat meminta di gendong Jack.
...****************...
Tanpa terasa waktu menunjukkan pukul empat sore. Langit berubah perlahan menjadi warna jingga. Saat ini Jack dan Lunna sedang berjalan bergandengan tangan di tepi pantai sembari menikmati sunset. Sementara itu, si kembar tengah bermain pasir bersama Darla.
"Baby, kita berpacaran dulu ya, biarkan si kembar bermain bersama Aunty-nya yang jomblo itu." Jack mencium sekilas tangan istrinya.
"Haha, jomblo kronis Baby, tapi aku kasihan tau sama Darla, Baby, apa lebih baik kita carikan Darla pasangan agar dia tidak kesepian." Lunna merasa iba pada Darla karena sampai sekarang sepupunya itu belum juga move on. Berbeda dengan Kendrick' tahun lalu sudah menikah dan akan memiliki anak tahun depan.
"Hmm, nanti saja kita pikirkan, sudah lah. Sekarang waktu nya kita menikmati masa pacaran." Jack segera menuntun Lunna untuk pergi ke sisi selatan dan menjauhi pantai.
Di ujung sana Leon dan Lily menatap penuh haru melihat cucu-cucunya nampak riang dan gembira.
"Honey, aku tidak menyangka kita sudah memiliki cucu." Lily menyenderkan kepalanya ke bahu Leon. Leon pun menoleh sembari mengelus rambut panjang istrinya yang sudah memutih.
"Iya, tahun depan cucu-cucu kita akan semakin bertambah banyak," kata Leon.
"Hmm." Dehaman Simon membuat Leon dan Lily menegakkan tubuhnya seketika.
"Daddy... Sudah lama di sini?" tanya Lily nampak salah tingkah karena kedapatan bermesraan.
"Belum, Leon ada yang mau Daddy bicarakan." Simon melirik Lily sekilas agar menantunya itu dapat mengerti bahwa ia ingin berbicara empat mata dengan anaknya. Begitu melihat bahasa isyarat tersebut. Lily segera pamit undur diri.
"Leon, apa Jack pernah bertanya padamu di mana kuburan Daddynya?" tanya Simon selepas kepergian Lily.
Leon menoleh kemudian berkata,"Pernah. Memangnya kenapa?"
__ADS_1
"Jujur, Daddy penasaran di mana makam Jeff?" Simon teramat penasaran karena Jack selalu menanyakan pertanyaan yang sama berulang kali padanya.
"Aku juga tidak tahu, Dad." Leon mengalihkan pandangan mata ke depan. Dahi Simon berkerut samar mendengar perkataan anaknya.