
Srek.
Suara gesekan pintu mengalihkan atensi Jack dan Sensei yang masih berbincang-bincang di ruangan. Jack menoleh, seketika rahangnya mengeras melihat sosok dihadapannya. Sedangkan Sensei menggelengkan kepala sekaligus mendengus kasar.
"Jack, Mommy merindukanmu!" Yah, sosok itu adalah Erika. Sedari tadi ia menahan diri untuk tak menampakan muka di depan Jack. Akan tetapi, kala mendengar suara Jack di ruang sebelah. Ia sangat tak mampu, tanpa menghiraukan tatapan Sensei. Ia hendak berhamburan memeluk putranya.
Bruk!
Sebelum Erika memeluk Jack. Secepat kilat pria itu mendorong wanita yang telah melahirkannya. Tanpa banyak kata, Jack melirik sekilas Sensei kemudian melenggang pergi dengan mengepalkan kedua tangannya.
"Jack, maafkan Mommy!" Erika beranjak hendak mengayunkan kaki, akan tetapi Jack mencekal pergelangan tangannya.
Plak!
Plak!!
Sensei menampar kedua pipi Erika secara bergantian. Erika meringis pelan sembari memegang pipinya yang memerah.
"Kau berani membantahku, Erika! Kenapa kau kemari ha?!!!" Nafas Sensei memburu, menatap tajam ke arah Erika yang sedang menitihkan air mata.
"Aku hanya ingin memeluknya, aku ibu-nya?!" Erika menangis tersedu-sedu kala mendapatkan perlakuan kasar dari putranya sendiri untuk kesekian kalinya.
Alih-alih menenangkan Erika. Sensei malah tertawa keras sembari mendorong kasar Erika. Hingga wanita paruh baya itu terjatuh lagi ke lantai.
Dengan cepat Sensei mencengkram dagu Erika. "Tanyakan pada dirimu sendiri, apa kau pantas di sebut sebagai seorang ibu?!"
Erika tergugu. Pelupuk matanya mengalir semakin deras. Satu tangannya terulur memegang dadanya yang berdenyut nyeri. Dia tak mau berkata-kata sebab yang dikatakan Sensei benar adanya. Rasa sesal membuncah di relung hatinya. Karena kebodohan Erika di masa lampau membuat hubungannya Jack dan Justin retak.
"Cih! Sekarang kau pergi dari ruanganku!" Sensei menghempas kasar dagu Erika, lalu berbalik menghadap jendela ruangan.
"Pergi!!!" Sensei berteriak kala Erika bergeming, dan tak mengindahkan perkataannya. Begitu mendengar teriakan Sensei, Erika bangkit berdiri meninggalkan Sensei
'Sampai kapan akan seperti ini?! Seandainya saja... argh!!!' Erika menutup pintu dengan kuat sampai-sampai Sensei di ujung sana tersentak.
"Wanita gila," Sensei bergumam pelan tanpa mengalihkan pandangan matanya, melihat bunga sakura jatuh perlahan-lahan dari pepohonan.
*
*
*
Waktu menunjukkan satu siang. Kini, Lunna sedang memeluk erat Jack di tempat pembaringan. Keduanya baru saja selesai membuat pabrik bayi. Biasanya Lunna akan marah-marah jika Jack menerkamnya tiba-tiba, akan tetapi hari ini tidak. Malahan dia yang sangat bersemangat, mendes@h dan berteriak nyaring sambil menyebut nama suaminya berkali-kali. Jack tersenyum tipis, melihat sikap istrinya yang manja dan begitu menggemaskan. Ingin sekali ia mengulangi percintaan tadi. Namun ia tak tega, melihat Lunna masih terlelap di samping tubuhnya.
__ADS_1
Jack menyusuri punggung putih Lunna, melabuhkan kecupan-kecupan lembut. Terdengar suara dengkuran halus Lunna bergema ditelinganya.
"Anggap saja aku bodoh, melindungi anak yang membunuh Daddyku," kata Jack pada diri sendiri sembari mengeratkan pelukannya.
"Lunna, jangan pernah pergi dari hidupku, karena aku sangat mencintaimu," desis Jack pelan di daun telinga Lunna yang sedang tertidur seperti kerbau.
Jack mendengus pelan, kala mengingat bayangan masa lalu saat terjadi penyerangan dirinya dan ayahnya di hutan belantara. Sewaktu itu ia hanya mengingat sepenggal kejadian. Namun wajah Leon dan kedua orang pria itu tak pernah ia lupakan sampai sekarang. Memori Leon menembako kaki Daddy-nya tepat dihadapannya begitu membekas. Jack tak tahu apa yang membuat pria brewok itu membunuh Daddy-nya akan tetapi Sensei mengatakan karena persaingan dunia bisnis.
Sensei mengatakan Leon Andersean, kelompok mafia yang terkejam di Los Angeles akan melakukan segala macam cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Namun, sekarang entah mengapa perbuatan yang dia lakukan kurang lebih sama seperti Leon. Terlebih lagi, ada seorang wanita sudah memenuhi pikiran dan hatinya, setiap detik, setiap menit dan setiap waktu. Lunna menyembuhkan luka batinnya. Jack juga tengah menjalani rehabilitasi, masa pemulihan agar tak memakai heroin lagi. Berkat Lunna hidupnya lebih berwarna-warni dengan tingkah konyolnya itu.
Sedari tadi, Jack tak henti-hentinya melabuhkan kecupan di belakang tubuh Lunna. Merasa sesuatu yang kenyal menerpa kulitnya, Lunna melenguh sejenak, membuka kelopak dengan pelan, kemudian menguap besar.
"Baby," desis Lunna saat Jack mengecup cepat punggungnya.
"Hm, iya," kata Jack tanpa menghentikan serangan.
"Geli." Lunna menggeliat sesaat, kemudian membalikan tubuhnya, menatap dalam bola mata Jack.
"Kenapa bangun? Tidurlah lagi." Jack mengecup
sekilas bibir ranum Lunna yang sedang mengelus rahang kokohnya.
"Aku lapar, baby!" seru Lunna memanyunkan bibir.
"Oh my God, aku lupa, Baby, baiklah, mau makan apa?" tanya Jack.
Jack mendesah pelan mendengar permintaan istrinya. "Baby, itu terlalu banyak, nanti kau sakit perut lagi."
"Jadi, kau tak mau menuruti keinginanku?" Mata Lunna mulai berkaca-kaca.
Jack kalang kabut terhadap perubahan mood Lunna yang berubah-ubah dan lebih sensitif.
"Bukan seperti itu maksudku, baby, kau boleh makan apa saja makanan Jepang tapi jangan semua jenis makanan." Jack memberikan pengertian dengan menangkup kedua pipi Lunna.
"Hiks, hiks, hikss...., padahal aku mau makan saja kau marah-marah padaku, nanti pasti aku habiskan." Lunna menampilkan mata puppy eyes-nya.
'Oh my God, baiklah dia menang, semoga saja nanti malam dia tidak kentut-kentut lagi.'
Dengan terpaksa Jack menuruti permintaan Lunna. Ia pun menghubungi Yuri agar membelikan semua jenis makanan Jepang.
*
*
__ADS_1
*
Saat ini, Jack sedang memegang perutnya yang begah karena makan terlalu banyak. Ia tak menyangka Lunna hanya mendengus-dengus makanan dan mencicipi dua jenis makanan saja. Alhasil, Jack mau tak mau menyantap makanan yang lainnya. Dia kebingungan Lunna semakin aneh saja. Tadi, Lunna meminta padanya menyantap semua makanan Jepang di hadapan dirinya. Semula Jack menolak akan tetapi Lunna memaksanya.
"Baby, perutku tak mampu menampung lagi," kata Jack.
"Hehe, kasihan Jack-Jackku ini, sudahlah berikan saja pada Yuri dan Kristin. Suruh mereka makan semuanya!" titah Lunna sembari melirik tajam Yuri di sisi sana sedang menggaruk kepalanya.
'Aduh, mampus, Yuri kan sudah makan tadi."
***
Tepat pukul delapan malam. Jack dan Lunna sudah menjalankan ritual malam dengan mandi dan makan malam lagi. Saat ini, keduanya bercengkrama di atas kasur sembari mencumbu satu sama lain.
Seketika Jack bangkit berdiri, berjalan perlahan menuju meja kecil. Lunna mengerutkan dahi dengan pergerakan Jack yang tiba-tiba.
"Baby, kenapa?" tanya Lunna penasaran.
Jack tak langsung membalas. Dia diterpa delima saat melihat obat pencegah kehamilan bertengker di tangan kanannya. Sewaktu malam pertama Jack dan Lunna. Ia memberikan Lunna obat penyubur kandungan yang di ganti kemasannya menjadi obat pencegah kehamilan. Akan tetapi, sekarang dia sudah mencintai Lunna. Jack tak mau Sensei mencelakai anaknya kelak jika sudah melahirkan. Jadi, dia berinisiatif agar Lunna tak kunjung hamil.
"Baby," panggil Lunna lagi dengan memperhatikan gerak-gerik Jack sedari tadi. Secepat kilat Jack menuju pembaringan sembari membawa obat tersebut.
"Baby, minum ini sekarang!" Jack menyodorkan sebutir pil kepada Lunna.
Dahi Lunna berkerut kuat melihat pil yang tentu saja ia kenali. Ketika malam pertama ia tahu obat yang diberikan Jack adalah obat penyubur kandungan bukan obat pencegahan kehamilan.
Sewaktu itu Lunna tidak minum obat yang diberikan Jack, memilih membuangnya. Tapi sekarang ia sudah mencintai Jack. Dan beberapa hari yang lalu malah meminum rutin obat penyubur kandungan. Akan tetapi mengapa sekarang Jack malah memberikannya obat pencegahan kehamilan.
"Kenapa aku harus minum obat in! Kau pikir aku bodoh?! Ini obat pencegahan kehamilan, Kan?" Seketika hati Lunna berdenyut nyeri. Apa Jack tak mencintai dirinya. Apa hanya dia saja yang menaruh rasa, sedangkan Jack tidak?
Dengan sigap Lunna beranjak menghampiri Jack, meminta penjelasan dari pria yang telah memporak-porandakan hatinya.
"Lunna dengarkan aku, ini demi karirmu, jadi kau harus minum obat ini?" Jack tak tega melihat Lunna menitihkan air matanya.
"Tapi aku tidak mau meminum obat itu, aku sudah tidak peduli dengan karirku, Jack. Apa kau tidak mencintaiku?" tanya Lunna to the point.
Bibir Jack seketika kelu. Pria itu menatap bola mata Lunna yang sudah menganak sungai.
"Jack!" Lunna mendekat kemudian memeluknya erat. Sedangkan Jack mematung di tempat saat merasakan tubuh Lunna bergetar pelan.
Lunna mengurai pelukan, mendongakkan kepalanya, menatap ke dalam pusara mata Jack. Wanita itu masih setia menunggu jawaban suaminya. Cukup lama keduanya bergeming saling menatap satu sama lain.
"Apa kau tidak mencintaiku, Jack?" Jack enggan membalas kala ekor matanya melihat sosok ninja melalui jendela kamar berlari gesit di sekitar sana.
__ADS_1
"Aku tidak mencintaimu, Lunna," kata Jack pelan, lalu mengigit bibir bawahnya, menahan sesuatu dari balik bola matanya agar tak keluar.
Sebuah kalimat yang terlontar dari bibir Jack, membuat jantung Lunna seketika remuk redam. Wanita itu terisak kuat sembari berkata,"Tapi aku mencintaimu, Jack!" Lunna semakin mengeratkan pelukannya.