
Di tengah hujan deras dan guntur bersahut-sahut di atas sana. Terdengar bunyi tembakan menggema di sudut-sudut hutan.
Dor!Dor!
"Daddy!" teriak seorang bocah kecil saat melihat ayahnya ambruk di tempat. Dengan cepat ia berjongkok dan mengguncang tubuh ayahnya.
"Daddy bangun, Jack takut, jangan tinggalin Jack," kata anak kecil itu, kedua matanya menganak sungai kala melihat darah mengalir dari tubuh ayahnya.
"Daddy!! Bangun! Hiks, hiks, hiksss..." Sang anak mengigil karena tubuhnya basah kuyup.
"Lari Jack, lari, nak," kata Daddy-nya sembari menyemburkan darah dari mulutnya. Satu tangannya terulur mengelus kepala sang anak yang terus menangis.
"Nggak mau, Jack mau ikut Daddy, Daddy..." ucap bocah itu dengan genangan air mata yang sudah membasahi pipi munggilnya.
"Jack harus menuruti perintah Daddy, tenanglah Daddy baik-baik saja, lari ke sana cepat! Jangan pernah menoleh ke belakang." Tunjuk pria itu ke sisi kanan dekat dengan hutan belantara.
Bocah itu menggeleng. "Nggak mau,...Hiks hiks hiks."
"Jack, Daddy mohon, jadilah anak yang penurut, Daddy akan menyusulmu," ucapnya sambil tersenyum mengatakan ia baik-baik saja.
Terdengar derap langkah kaki beberapa meter dari mereka.
"Janji." Bocah itu sesengukkan, lalu mengangkat jari kelingkingnya, walau bagaimanapun ia tak mau menjadi anak yang pembangkang. Pria itu segera melingkarkan jari kelingkingnya ke jari anaknya.
"Ayo sekarang, lari ke sana! Jangan berhenti jika mendengar tembakan, tetaplah berlari," titah pria itu sambil mengecup kening dan pipi munggil anaknya.
Sang anak mengangguk patuh dan berlari ke arah yang di tunjuk. Secara bersamaan pula dalam kegelapan malam, samar-samar ia melihat tiga orang pria berstelan jas hitam berlari ke arah Daddy-nya. Ia pun bergegas memasuki hutan belantara yang sangat gelap itu.
Dor!Dor!Dor!Dor!
"Jangan tinggalkan aku!" Kedua mata Jack membuka cepat, dan bertubrukan langsung dengan bola mata Lunna sedang menatapnya jua. Nafas Jack terengah-engah.
"Daddy...," desis Jack sambil mengeratkan pelukan dan menghirup aroma tubuh wanita yang akhir-akhir ini membuatnya tenang.
Lunna membalas pelukan Jack. Malam ini Lunna melihat sisa lain Jack yang berbeda. Ia mengelus pelan punggung Jack, lalu berkata,"Tenanglah Jack, aku di sini,"katanya pelan.
"Jangan tinggalkan aku," Jack memejamkan matanya.
"Iya, aku di sini. Aku tidak kemana-mana." Tangannya tak berhenti bergerak.
'Tapi setelah satu tahun kita akan berpisah.' Lunna berucap di dalam hati. Ada rasa iba yang menjalar di relung hatinya manakala melihat ketidakberdayaan Jack.
Lunna semakin penasaran dengan latar belakang Jack. Terlebih lagi, barusan Lunna mendengar Jack memanggil Daddy-nya. Ia mendesah sejenak saat merasakan tubuh Jack bergetar pelan.
'Seandainya kau tidak menyebalkan, kita bisa berteman Jack. Sebenarnya apa motifmu?'
__ADS_1
*
*
*
Pagi menyongsong. Burung-burung munggil bersenandung kecil mengusik tidur Jack dan tidak hanya suara burung. Suara korokan seseorang yang bergema di telinganya. Dengan perlahan Jack membuka mata.
Deg.
Jack membola saat melihat wajah Lunna dekat dengan wajahnya. Tanpa sadar seulas senyum tipis terukir, ketika melihat mulut Lunna membuka sedikit dan air liur mengalir di sudut bibirnya.
"Wanita aneh..." Lirih Jack sambil menutup bibir Lunna.
*
*
*
Sugar Entertainmant
"Lunna!!!" jerit Kristin.
Lunna menoleh lalu mengerlingkan mata sesaat.
"Aish, aku juga dari tadi sudah memanggilmu dari parkiran tau! Kau saja yang tuli!" Kristin tak mau kalah. Pasalnya dia memang sedari tadi memanggil-manggil Lunna tapi seakan tuli Kristin tetap melangkahkan kakinya memasuki gedung.
Lunna tak menyahut lantas menaruh kembali kacamatanya di hidung.
"Wow, wow lihat siapa itu yang datang ke gedung, bukannya dia diskors," kata Kristin saat melihat Britney baru saja keluar dari lift bersama teman wanitanya.
"Cih! Tidak usah belagu, artistmu itu juga akan diskors," cicit Britney sambil melotot tajam sampai-sampai matanya bisa keluar.
"Haha, kita lihat saja nanti!" Kristin tersenyum sinis lalu menarik tangan Lunna yang tak menimpali obrolan Kristin barusan. Sebelum melangkah Kristin dan Britney melayangkan tatapan tajam.
"Britney itu benar-benar menyebalkan!" Kristin masih mengomel saat memasuki lift. Lunna enggan menyahut karena dia sedang mode silent hari ini. Jiwa dan raganya tak berada di dalam gedung namun di suatu tempat.
"Lunna, kau dengar aku berbicara tidak?!" Kristin bertanya sebelum memencet tombol di lift.
"Aku mendengarnya Kristin, aku lagi badmood karena semalam aku–"
Belum sempat Lunna meneruskan ucapaannya. Matanya membola, melihat Jack dan Yuri hendak masuk ke dalam lift yang sama dengan mereka. Lunna mengerutkan dahi mengapa Jack dan Yuri menggunakan lift umum bukan lift pribadi seperti biasanya. Lunna memberikan kode pada Kristin.
Kristin yang tidak peka, kembali bertanya karena penasaran. "Memangnya semalam kau kenapa, ayo kau kenapa? Apa Brian menghubungi? Karena kemarin dia meminta nomor ponselmu dan sudah kuberikan," katanya cepat tak ada rem sama sekali. Kristin tak menyadari hawa dingin yang menguar dari tubuh Jack. Sebab Jack dan Yuri berada di belakang Kristin. Kedua pria itu masih di luar pintu lift.
__ADS_1
'Astaga, Kris. Mulutmu!' jerit Lunna dalam hati saat melihat Jack menatap dingin mengarah padanya.
Setelah melihat Jack semalam. Lunna memutuskan akan bertahan di samping Jack selama satu tahun.
Selama satu kamar bersama Jack. Pria itu tak memukul atau mencekiknya, masih aman-aman saja. Tadi pagi pun Jack tak ada angin tak ada hujan malah mengajaknya sarapan. Bukankah itu hal yang aneh pikir Lunna. Sampai sekarang Lunna masih penasaran, mengapa ada bingkai foto Daddy-nya di ruang rahasia Jack dan semakin dibuat penasaran mengapa Jack menganiayanya kemarin. Pasti ada udang di balik bakwan, pikir Lunna.
"Lun!"
Lunna malah menginjak heels Kristin sembari melotot tajam.
"Awh, kenapa kau menginjak kakiku Lunna!!"teriak Kristin lalu berbalik dan baru saja tersadar merutuki kebodohanya karena menghalangi jalan Jack.
"Hehe, maaf Mr.Jack-Jack, silahkan masuk!" cerocos Kristin lagi tanpa sadar.
"Jack-Jack?" Kali ini Yuri yang membuka suara. Sedangkan Jack segera masuk ke dalam lift dan berdiri di samping Lunna. Di dalam lift hanya mereka berempat saja.
Kristin malah nyengir kuda baru menyadari panggilan Lunna dan dirinya untuk Jack.
"Hehe, maksudnya Mr.Jack. Tadi lidahku keseleo," kata Kristin kepada Yuri yang nampak mangut-mangut.
Lunna mengeleng perlahan melihat kebodohan Kristin. Tanpa sengaja matanya bersitatap dengan Jack. Keduanya tengah kacamata berwarna hitam.
Setelah dentingan bunyi lift berbunyi Lunna segera memutuskan kontak mata dan berlalu pergi meninggalkan Kristin seorang diri.
"Lunna! Tunggu aku!" Lunna berseru sambil melayangkan senyum tipis sebelum mengejar Lunna yang berjalan cepat di ujung sana.
"Saya permisi, Mr.Jack,"Kristin melenggang pergi.
[Ruang Kerja Jack]
"Hari ini kita ada pertemuan dengan senator Luis," sahut Yuri sembari melangkah menuju ruangan pribadi Jack.
"Hmm, atur saja."
"Baik, Tuan. Dan Senator Luis menginginkan Lunna A yang menjadi ikon di kampusnya," kata Yuri lalu mengangkat wajahnya ingin melihat ekspresi Jack.
"Hmm, oke," kata Jack sembari memegang dadanya yang kembali berdegup kencang saat mendengar nama Lunna di sebut.
'Aku harus memeriksakan diri, akhir-akhir ini jantungku bermasalah.'
Sementara itu.
"Whats?! Kau bercanda, Kan? Mengapa aku harus menggoda Yuri?" tanya Kristin setelah mendengar permintaan Lunna yang aneh bin ajaib itu.
Tadi, Lunna meminta pertolongan padanya untuk mencari latar belakang Jack. Kristin diterpa dilema. Pasalnya dia ini wanita yang lebih tua dari Yuri. Apa kata dunia jika dia mengoda brondong seperti Yuri.
__ADS_1
"Please, Kris! Aku akan membelikan semur jengkol untukmu," sahut Lunna dengan mata memelas bak anak kucing seraya mengatupkan kedua tangan di dada.
Sejak semalam Lunna amat penasaran, siapa Jack sebenarnya? Apa motifnya? Jadi, dia meminta Kristin untuk menggoda Yuri dan bertanya siapa Jack? Dia sudah mencoba bertanya langsung kepada Yuri, tapi pria itu tetap tutup mulut. Lunna berniat akan masuk kembali ke ruang rahasia Jack.