Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet

Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet
Bekas Luka


__ADS_3

Saat ini, suara erangan masih terdengar memenuhi seluruh ruangan kamar. Jack tak henti-hentinya menghujam Lunna walaupun Lunna sudah meminta Jack menyudahi permainannya.


Sedangkan, di luar kamar Yuri mengerutkan dahi saat tak melihat tanda-tanda pintu kamar akan terbuka, padahal sedari tadi ia sudah mengetuk pintu kamar berulang kali.


"Kemana Tuan Jack dan Lunna, ya?" tanyanya pada diri sendiri sembari melirik arloji di pergelangan tangan.


"Kenapa?" tanya Sahara saat melihat Yuri berdiri tegap di depan pintu kamar Jack.


Yuri menoleh. "Yuri bingung, Tuan dan Nyonya belum keluar dari tadi," jawabnya pelan.


"Mungkin sedang di siksa!" jawab Sahara ketus.


Dahi Yuri berkerut samar. "Maksudmu?"


Sahara tak menjawab malah melenggang pergi meninggalkan Yuri yang sekarang tampak kebingungan.


"Di siksa, ya ampun, jangan bilang." Yuri menerka-nerka di dalam benaknya.


Dering handphone mengalihkan atensi Yuri. Secepat kilat Yuri mengambil benda pipih yang tersampir di saku jas. Yuri keheranan mengapa Jack menghubunginya.


"Hallo, Tuan." Yuri menyapa terlebih dahulu. Untuk sesaat ia mematung kala mendengar deru nafas Jack terengah-engah.


*


*


*


Kini, Jack dan Lunna berada di ruang makan. Keduanya hendak sarapan. Sementara itu, Yuri berdiri tegap di belakang mereka, memperhatikan tingkah laku majikannya yang semakin terlihat aneh, karena sedari tadi Jack dan Lunna berdebat sesuatu hal yang tidak jelas.


"Aku mau roti punyamu!" Jack menyambar cepat sarapan Lunna di atas piring.


Lunna mendengus saat roti miliknya di ambil Jack. Padahal tadi dia sudah mengalah ketika Jack meminta jus apelnya.


"Kau itu sangat menyebalkan, Jack-Jack!" Semenjak kejadian semalam, Lunna semakin bertambah kesal dengan sikap Jack yang semau hati. Dia enggan menampakkan rasa hormatnya kepada Jack lagi. Sekarang dia berani melontarkan nama panggilan unlimited Jack.


Bukannya marah, Jack malah mengulas senyum tipis sejenak lalu memasukkan semua roti ke dalam mulutnya dan mengunyah cepat.


"Ayo, kita berangkat!" Jack beranjak tanpa memperdulikan Lunna yang tengah mengoleskan selai di roti. Dengan sigap Yuri menghampiri Jack.


"Lunna!" panggil Jack saat tak mendapati Lunna di dekatnya.


"Kau buta atau apa sih?!" seru Lunna. Dengan terpaksa beranjak sambil membawa rotinya, kemudian berjalan cepat mendekati Jack dan Yuri.


Bugh!


Lunna melayangkan pukulan tepat di lengan otot Jack. Jack membalas dengan mencubit kuat pipi Lunna lalu melenggang pergi.

__ADS_1


"Jack!!!" Nafas Lunna memburu manakala Jack meninggalkannya. Matanya tanpa sengaja melirik Sahara yang sedang menatap tajam.


"Cih!" Lunna berdecih sesaat sebelum melangkah keluar.


*


*


*


Lunna memberengut kesal saat Jack mengantarnya ke lokasi syuting. Dia keheranan mengapa pria itu seakan menampakkan hubungannya dengan semua orang termasuk kru film yang akan dibintanginya. Dengan muka tertekuk Lunna masuk ke dalam studio. Ia mendengus kasar tatkala Kristin malah asik berbicara bersama Yuri tadi.


"Kris, kenapa kau jahat sekali!?" cetus Lunna setelah Jack dan Yuri pergi.


Kristin mengerutkan dahi, lalu berkata,"Memangnya aku kenapa?"


Lunna memejamkan mata sesaat kemudian menghela nafas. "Kau dari tadi mengacuhkanku, dan memilih berbicara dengan Yuri ha?! Kau tidak tahu semalam aku di cabik-cabik oleh Jack!"


Mata Kristin membola. "Whats?! Kau di siksa lagi?" tanyanya sambil mendekat. Kristin mengira Lunna benar-benar di siksa seperti sebelum-belumnya. Ia menelisik tubuh Lunna dari hidung, hingga ke mata kaki.


'Jack! Aku akan menjadi orang yang pertama membunuhmu. Jika aku punya kekuatan super. Kasihan Lunna,'Kristin berkata di dalam hati.


"Kau tidak kenapa-kenapa, Kan?" tanya Kristin khawatir.


"Aku baik-baik saja, Kris, pantang bagi Lunna untuk selalu sakit. Walaupun semua badanku remuk!" sahut Lunna.


"Kris! Hello!" Lunna melambaikan tangan di depan wajah Kristin saat melihat manager-nya malah terbengong.


Kristin menggeleng cepat. "Hehe, iya, iya. Ayo kita ke dalam," kata Kristin sembari menarik tangan Lunna.


Lunna membalas dengan mendelikkan mata ke atas lalu mendengus.


Seperti biasa Lunna berkerja dengan profesional. Walaupun tubuhnya remuk tapi dia tak mau menampilkan rasa sakitnya kepada semua orang tanpa terkecuali. Di lokasi syuting tak segan-segan ia menyapa semua orang tanpa memandang bulu. Maka dari itu, sikap Lunna membuat sebagian besar orang mengidolakan Lunna. Dia cantik, ramah, rendah hati, baik, walaupun terkadang galak, dan bawel.


Seperti saat ini mereka tengah beristirahat sejenak, Lunna pun membelikan tim yang bekerjasama dengannya, makanan dan minuman. Tak lupa mereka mengucapkan terimakasih kepada Lunna. Memang benar, mau secantik apapun kamu jika adab tak ada pun percuma. Lunna paket lengkap, iya walaupun segelintir orang tak tahu saja jika Lunna ratu jengkol, begitu pikir Kristin kala mendengar bisik-bisik tim kru di lokasi syuting yang memuji Lunna sedari tadi.


"Lun," panggil Kristin setelah sesi syuting berakhir.


Lunna melirik sekilas, lalu mengangkat dagunya saat MUA hendak membersihkan mukanya.


"Iya, kenapa?" tanya Lunna.


"Lun, di depan ada suami istri yang pernah masuk sampul forbes mencarimu!" tutur Kristin mengebu-gebu.


Satu alis Lunna terangkat. Ia tak langsung menjawab sebab sekarang bibir Lunna sedang dibersihkan.


'Siapa ya?' Lunna bertanya dalam hati.

__ADS_1


"Lun! Kau dengar aku tidak!" Kristin amat penasaran, mengapa ada orang penting datang mencari Lunna. Dia selalu melihat dua orang tersebut berseliweran di televisi.


"Iya, iya, aku dengar, tunggu sebentar."


*


*


*


"Mommy!" Binar kebahagian nampak jelas di bola mata Lunna kala Mommy dan Daddy-nya mengunjungi ke Los Angeles. Dia amat terkejut ternyata mereka datang lebih cepat. Dengan tergesa-gesa, ia berjalan sambil merentangkan kedua tangannya.


"Sayang." Lily pun segera mendekap putrinya itu. Seketika wanita bermata biru laut itu merasakan tubuh Lunna bergetar pelan.


"Kenapa menangis, Sayang?" tanya Lily sambil mengurai pelukkan lalu mengusap jejak tangis Lunna.


"Lunna kangen Mommy..." ucap Lunna lirih. Dia pun tak tahu mengapa menangis. Padahal sedari tadi, menahan diri untuk tak mengeluarkan air matanya.


"Jadi, hanya kangen Mommy? Daddy tidak?" Leon menimpali. Dari tadi ia melihat istri dan putrinya saling melepaskan kerinduan tanpa menghiraukan dirinya.


Lunna segera berhamburan memeluk Leon lalu kembali terisak.


"Kenapa anak Daddy cenggeng sekali sih? Apa perlu dibelikan semur jengkol," kelakar Leon sambil mengecup pucuk kepala Lunna.


"Aish, Daddy mah!" Lunna memberengut kesal seraya memukul kecil dada Leon.


Leon dan Lily pun terkekeh pelan, melihat sang putri sama sekali tak berubah perangainya, hanya wajah dan badannya saja yang berubah.


"Oh My God!!" Kristin baru saja tiba, tak sengaja mendengar panggilan Lunna kepada suami istri yang terkenal di kalangan atas itu dengan sebutan Daddy.


Ketiganya menoleh, melihat Kristin mendekat.


"Lun, mereka orangtuamu?" Kedua mata Kristin berkedip cepat. Jika Leon dan Lily adalah orangtua Lunna berarti Lunna cucu Walikota, otak kecil Kristin mengambil kesimpulan.


Lunna mengangguk. Dia berharap Kristin bisa menjaga rahasia latar belakangnya.


Dengan sopan Kristin memperkenalkan diri kepada Leon dan Lily. Kedua orang yang paling ia segani. Dia mencibir sejenak tatkala Lunna tak mengatakan asal-usulnya.


Sekarang, mereka berempat sedang bercengkrama di belakang lokasi syuting yang jauh dari kerumuman orang.


"Wah, Kris, aku berharap kau bersabar dengan sikap Lunna," kata Lily sambil mengelus rambut panjang anaknya.


"Tentu saja, Mam. Aku akan selalu bersabar," balas Kristin diiringi dengan kekehan.


Selagi bercengkrama, seketika dahi Lily berkerut kuat saat menyibakkan sedikit rambut panjang Lunna di tengkuknya.


"Sayang, ini apa?" tanya Lily, melihat samar-samar bekas luka yang membiru seperti di cekik. Dengan cepat Lunna menutupi rambutnya.

__ADS_1


'Aduh, bagaimana ini? Jangan sampai Mommy tahu, aku tidak mau menyelesaikan masalahku dengan meminta bantuan Mommy dan Daddy.'


__ADS_2