
Yuri sudah mengatakan semua pada Lunna ruangan mana saja yang boleh dia masuki dan tidak. Saat ini, Lunna berada di lantai dua hendak mencari robot vacum cleaner. Lagipula Jack tak melarangnya, berkat kecerdasannya Dia akan membersihkan mansion tanpa menggerakan badan.
Dengan di bantu Yuri, dia menemukan robot otomatis berjumlah lima belas buah.
"Yuri! Sekarang taruh semua robot ini di setiap lantai dan ruangan," titah Lunna bossy.
"Siap, Lunna A," kata Yuri sambil membawa robot otomatis satu-persatu.
"Kasihan juga Yuri, aku bantu saja!"
Lunna tak tega, melihat Yuri selalu patuh padanya. Dia sedikit keheranan, mengapa Yuri sedari tadi bersamanya. Bukan kah seharusnya Yuri bersama Jack. Lalu kenapa Yuri bak malaikat selalu membantunya.
Astaga! Wanita itu baru saja teringat jika Jack sedang pijat plus-plus dan tidak mungkin membawa Yuri ke ruangan pribadinya, pikiran nakal Lunna menari-nari sesaat. Jika di pikir-pikir, mansion Jack cukup luas untuk ditempati seorang diri. Sejenak, ia berpikir kemana orangtua dan saudara-saudara Jack? Apa pria itu anak yatim atau anak tunggal? Pening, Lunna menggeleng pelan kala pikirannya dipenuhi latar belakang Jack yang tidak ia ketahui. Dengan bantuan lift, kini Lunna berada di lantai empat. Dia menaruh tiga robot di atas lantai dan menyalakan tombol on di sisi kanan.
__ADS_1
"Nah, ditinggalin langsung bersih deh!" Lunna berseru cukup nyaring. Kedua matanya seketika membola melihat pemandangan di depan.
"Wow, keren banget!"
Lunna berjalan perlahan, melihat hamparan gunung terpampang jelas dari atas mansion. Kedua matanya menatap penuh takjub. Entah gunung apa itu? Tapi yang jelas tampak hijau dan asri. Belum lagi, terdengar suara beberapa jenis hewan bersenandung kecil. Kini, kedua tangan Lunna berada di pagar pembatas.
"Wih kenapa aku jadi ingat kenangan dulu pas terdampar di pulau tanpa nama ya," Lunna bergumam pelan. Sewaktu dulu, saat ia masih kecil bersama keluarganya pernah terdampar di suatu pulau. Bayangan orangtua dan saudara-saudaranya terlintas di benaknya.
"Aku merindukan mereka," kata Lunna. Kali ini sorotnya nampak nelangsa. Akibat sibuk dengan perkerjaan. Dia sudah lama sekali tak pulang ke Indonesia menemui orangtuanya. Rasa rindu, dan rasa ingin bertemu membuncah di relung hatinya sesaat.
"Seandainya saja, pada hari itu aku tidak makan semur jengkol, mungkin sekarang aku bisa shoping, atau jalan-jalan..." ucap Lunna lirih sembari mengigit bibir bawah, menahan sesuatu yang keluar dari bola matanya.
"Sudah lah Lunna, jangan kau sesali. Lebih baik kau sekarang fokus mencari cara melepaskan diri dari si Jack-Jack yang jelek itu!" Lunna berseru sembari mengepalkan satu tangan ke udara.
__ADS_1
Tanpa sengaja ekor mata Lunna menangkap siluet seseorang di balik pilar. Secepat kilat ia menoleh, lalu berkata,"Siapa itu?"tanyanya entah pada siapa.
Kedua matanya bergerak ke segala arah. Menelisik keadaan sekitar yang nampak sepi hanya terdengar suara robot otomatis sedang menyedot debu di lantai.
"Apa aku salah lihat?" Lunna bergumam pelan, kedua mata masih mencari seseorang di sekitar.
"Tapi tadi aku nggak salah lihat? Nggak mungkin Jack atau Sahara, Kan? Apalagi Yuri? Hmm?"
Pikiran Lunna berkecamuk mencoba mengingat kejadian barusan. Karena dia yakin ada seseorang tadi di balik pilar. Seingat Lunna, menurut penjelasan Yuri tadi, di mansion hanya ada Jack, Sahara dan Yuri.
"Jangan-jangan hantu," kata Lunna pelan sembari menyentuh tengkuknya. Ia bergedik ngeri sesaat.
"Nyonya!" panggil Yuri yang baru saja menyembul di balik lift.
__ADS_1
Lunna menoleh,"Iya, ada apa Yuri?"