Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet

Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet
Anakku...


__ADS_3

Nafas Lunna tercekat, melihat sorot mata Jack nampak berbeda.


"Lepaskan aku! Apa yang kalian ingin lakukan?! Setahuku bukan begini pemeriksaannya! Dokter Rogue lepaskan aku!!" raung Lunna. Entah mengapa perasaannya sangat tak enak belum lagi Jack sedari tadi terdiam membisu, menatap datar tanpa ekspresi sedikitpun padanya.


"Maafkan saya Lunna A."


Akhirnya Dokter Rogue memberanikan diri membalas perkataan Lunna. Sungguh dia tak setuju dengan pria yang sudah ia kenal berencana mengugurkan anak kandungnya. Meski begitu, Dokter Rogue sedikit curiga jika pria di sampingnya adalah Justin, kembaran Jack. Namun ia tak berani membuka suara kala beberapa jam lalu, Jack memerintahkan padanya melakukan tindakan yang membuatnya bisa saja akan dipidanakan. Semula Dokter Rogue menolak akan tetapi Jack mengancamnya akan membunuh istri dan anaknya jika menurut. Akhirnya dengan terpaksa Dokter Rogue menuruti perintah Jack.


Dahi Lunna berkerut kuat. "Maaf untuk apa ha?! Lepaskan aku! Jack, suruh mereka lepaskan aku!!!"


Mendengar perkataan Lunna. Jack malah tersenyum sinis. "Kenapa kau terlalu bodoh Lunna! Kau pikir aku mencintaimu!?"


Deg.


Lagi dan lagi nafas Lunna tercekat melihat pancaran mata Jack tersirat rasa benci terdalam.


"Apa maksudmu!?


"Kau lupa apa motifku menganiayamu? Daddymu telah membunuh Daddyku! Kau pikir aku ini benar-benar mencintaimu!"


"Jack! Tapi kau harus tahu yang memulai semua ini adalah Daddymu. Dia membunuh orangtua kandungku! Daddy Leon adalah Uncleku! Seharusnya aku yang dendam padamu! Aku berusaha memaafkan semua kesalahan mendiang Daddymu! Apa kau benar-benar tak mencintaiku? Aku mencintaimu, Jack." Hati Lunna mencelos mendengar penuturan Jack barusan.


Jack atau kita sebut Justin tak langsung menjawab. Ia malah melangkah mendekati brangkar kemudian mencengkram kuat dagu Lunna. Membuat Lunna meringis pelan saat kuku-kuku pria yang ia cintai menancap dikulitnya.


"Haha! Sayangnya cintaku hanya di mulut saja! Kenapa kau sangat bodoh, Lunna Andersean!"


Lunna tergugu, dadanya sesak mendengar perkataan Jack barusan. Tanpa sadar mata Lunna berkaca-kaca. Ia telah salah melabuhkan cinta pada pria yang membuat dunianya runtuh seketika.

__ADS_1


"Jack... Aku mencintaimu.. Kenapa kau tega melakukan ini padaku..." ucap Lunna lirih dengan buliran air mata yang mengalir deras menerpa kedua pipinya.


Justin enggan menyahut, namun beralih menatap Dokter Rogue.


"Lakukan tugas kalian secepat mungkin! Keluarkan janinnya sekarang!"


"Tidak! Jangan!!!!" jerit Lunna menatap Jack dan Dokter Rogue secara bergantian.


"Jangan!!! Jack aku mohon, jangan! Kalau kau tidak mencintaiku tidak apa-apa! Tapi aku mohon, jangan sakiti anakku! Please, Jack! Aku akan pergi dari hidupmu!!" Lunna memalingkan muka sekilas menatap sendu Jack yang sedang tersenyum sinis padanya. Seketika cengkraman dagunya terlepas.


"Haha! Aku tidak mau mempunyai anak darimu! Lakukan sekarang Dokter Rogue!!!" Justin sangat tak sabaran sebab sang Dokter terkesan memperlambat waktunya. Pria paruh baya itu pun terkejut mendengar suara Justin yang meninggi.


"Tidak!!! Anakku!!!" raung Lunna tatkala inti tubuhnya dimasuki alat yang asing. Lunna terisak keras hingga ia sesengukkan meminta agar sang Dokter menghentikan prosedur tersebut.


Setengah jam pun berlalu. Tak ada lagi isak tangis terdengar di dalam bilik.


"Apa salah anakku..., Jack?" tanya Lunna dengan air mata tak berhenti mengalir sedari tadi.


Alih-alih menjawab pertanyaan Lunna. Justin malah menyentak kasar tangan Lunna kemudian keluar dari ruangan diikuti dua orang perawat lainnya. Sementara itu, Dokter Rogue masih bergeming di tempat menatap nanar Lunna dengan kondisi tubuh yang melemah.


'Maafkan aku Lunna A, maafkan aku.' Dokter Rogue mengusap air mata yang jatuh di sudut matanya. Detik selanjutnya, ia pun pergi meninggalkan Lunna.


Di sisi lain. Jack membuka cepat kelopak matanya tatkala merasakan tengkuknya begitu berat dan sakit. Pemandangan pertama yang tangkap adalah kegelapan di suatu tempat. Jack dapat merasakan jika berada di dalam bagasi mobil. Seketika perasaan aneh menyeruak di dalam dadanya. Jantungnya berdetak cepat.


"Anakku..." ucap Jack dengan lirih sembari menghentakan kaki ke bagasi mobil hingga terbuka lebar. Mata Jack membola melihat beberapa pria berkulit hitam dan memiliki tanda segitiga diwajah menggelilingi mobil yang disinyalir milik Justin. Dengan sigap Jack berhasil melumpuhkan empat pria dihadapannya. Jack segera memeriksa isi mobil hendak mencari ponsel apa pun itu untuk melacak keberadaan Justin.


Deg.

__ADS_1


Jack terbelalak jika Justin berada di salah satu bangunan yang sangat ia kenal. Setelah mendapat petunjuk Jack mengendarai mobil ke tempat tujuan.


"Tunggu Daddy, Nak." Perasaan Jack tak karuan sedari tadi.


Tak butuh waktu lama. Jack telah tiba di bangunan kuno. Ia pun bergegas ke lantai dua. Degup jantung Jack berdetak cepat. Takut terjadi sesuatu pada Lunna dan anaknya.


Brak!


Brak!


Brak!


Jack menendang beberapa pintu di lantai dua sembari menelisik keadaan ruangan dengan cepat. Ia tak pantang menyerah, kemudian berjalan ke ruangan lainnya.


Brak!!!


Jack segera masuk ke dalam bilik. Nafas Jack tercekat melihat brangkar yang kosong dan beberapa percikkan darah menempel di dinding dan brangkar. Jack celingak-celinguk, seketika jantungnya di remas sesuatu yang tak kasat mata melihat sesuatu di atas meja terdapat janin yang belum nampak sempurna. Jack tanpa sadar menitihkan air matanya.


"An-ak ku..." Jack berucap lirih dengan menyentuh janin tersebut.


"Justin!!!" raung Jack tiba-tiba kemudian mendongakkan kepalanya ke atas dengan menjambak rambutnya.


***


Di dalam helikopter. Leon menatap sendu Lunna yang sedari tadi menangis dalam diam. Beberapa menit yang lalu, ia mendapat pesan singkat dari orang tak dikenal jika Lunna berada di dalam bangunan kota tua. Ia pun bergegas mendatangi tempat tersebut. Leon tersentak melihat kondisi putrinya itu.


"Lunna, maafkan Daddy..." ucap Leon lirih.

__ADS_1


__ADS_2