
Jack terisak kuat meratapi kemalangan anaknya yang tak berdosa itu. Hatinya remuk redam, menyesal karena ulah dirinya orang yang dia cintai telah terluka untuk kesekian kalinya. Dengan tersedu-sedu dia berjalan keluar hendak mencari Lunna ataupun Justin. Mata Jack memerah' berkilat menyala, nafasnya memburu, hingga urat-urat di lehernya nampak jelas. Menandakan ia siap meledak kapanpun juga. Jack berjalan cepat menuruni tangga.
Dugh!
Dari arah belakang seseorang menghantam tengkuknya dengan sangat keras. Membuat Jack tersungkur ke lantai. Kepalanya pening seketika, dan penglihatannya buram. Samar-samar ia dapat melihat kembarannya, Justin tersenyum sinis padanya.
"Di mana Lunna?" tanya Jack lemah.
Justin bukannya menjawab pertanyaan Jack malah menendang wajah adiknya itu bertubi-tubi hingga wajahnya babak belur. Jack berusaha melawan dan memberontak akan tetapi karena hantaman yang sangat keras tadi. Ia terkulai lemas dan lambat-lambat pandangannya mulai gelap.
"Bawa Jack ke mansion, ini waktunya dia untuk merasakan apa yang aku rasakan dahulu," titah Justin pada seseorang.
Suara itu terdengar amat jelas di telinga Jack. Detik selanjutnya Jack benar-benar hilang kesadaran.
***
Jack meringis pelan kala seluruh tubuhnya saat ini benar-benar sakit. Belum lagi cengkraman tali di pergelangan tangannya teramat kuat. Dengan perlahan Jack membuka kelopak matanya. Memicingkan mata sejenak manakala cahaya lampu begitu menyilaukan. Jack berkedip cepat berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk ke retinanya. Matanya membola melihat beberapa pria bertato segitiga diwajahnya mengelilingi ruangan yang sangat dia kenal yaitu ruang rahasianya di mansion.
"Justin!! B@jingan kau!" raung Jack melihat saudara kembarnya itu duduk berhadapan sembari menghirup sepuntung rokok.
"Hahaha! Lalu kau apa?! Bukankah kita sama b@jingan!" Justin melirik pria berkulit hitam di sisi kanannya sekilas.
Nafas Jack semakin memburu teringat anaknya tadi yang sudah di rengut nyawanya oleh Justin. Jack mendengus kasar, lalu berkata,"Aku dan kau berbeda! Aku masih memiliki hati nurani! Sedangkan kau tak lebih dari binatang!"
Terdengar gesekan kursi begitu kuat. Justin berjalan cepat dan melayangkan pukulan tepat di pipi kanan Jack.
Bugh!!!
"Kenapa kau marah ha?! Itu memang faktanya!" Jack meludahkan darah yang keluar dari mulutnya ke sembarang arah.
"Haha kalau aku binatang, berarti kau juga binatang! Kau lupa kita ini kembar!" kata Justin tak mau kalah.
__ADS_1
Jack menaikan sudut bibirnya sedikit. "Kembar tapi berbeda!" Ia tak habis pikir mengapa orang yang dulu sangat ia sayangi dan segani berubah dratis. Dahulu Justin adalah kakak yang selalu Jack sayangi namun semenjak kejadian malam itu dan pertemuan kembali dirinya dan Justin di Jepang. Justin berubah menjadi sosok iblis yang susah di tebak pemikirannya. Terkadang Jack merindukan kakaknya itu berharap bisa bermain bersama, dan berharap bisa merangkul dirinya seperti sedia kala.
Satu alis Justin terangkat, lalu berdecih sesaat. "Cih! Kau masih naif dan tidak menerima kenyataan kalau kita sama! Ah sudah lah, sekarang aku harus menjalankan perintah Sensei," katanya kemudian beralih menatap pria di samping tubuhnya satu persatu.
Jack enggan menyahut. Tengah berpikir bagaimana caranya untuk kabur.
"Hei kau buka dinding ini, malam ini kita jual organ hati dan heroin kirim ke dermaga," sahut Justin tiba-tiba kepada salah seorang di ruangan.
Mendengar perintah itu. Jack mengerutkan dahi. Tangannya yang berada di belakang otomatis berhenti bergerak.
Dengan cepat pria berkepala plontos dan berperawakan tinggi dan besar, berjalan cepat ke sisi kanan lalu menekan sesuatu di balik dinding.
Push!
Secara otomatis. Dinding di setiap sudut ruangan bergerak seperti robot.
Mata Jack terbelalak melihat sesuatu di balik dinding ruangan terdapat tengkorak, kepala, bahkan organ dalam manusia berserta semua jenis narkoba terpampang jelas. Seketika bau aneh menyeruak ke indera penciumannya. Jack tengah menahan diri untuk tidak memuntahkan isi perutnya. Ia terlonjak kaget baru mengetahui apa yang dari dulu di sembunyikan Justin di ruang rahasianya dapat ia lihat dengan jelas sekarang.
Ketika mansion ini didirikan Justin meminta padanya dibuatkan ruang rahasia teruntuk saudara kembarnya itu. Jack dengan senang hati menyanggupi, akan tetapi saat proses pembuatan berlangsung Jack di larang Justin untuk melihat rekonstruksi pembangunan. Jack pun tak mau ambil pusing lebih baik fokus membangun kerajaan bisnisnya. Sungguh ia tak tahu jika Justin memiliki bisnis perdagangan organ manusia dan narkoba. Belum lagi pria yang berada di dalam ruangan sangat asing bagi Jack. Akan tetapi ada sedikit memori singkat dibenaknya kala teringat seorang pria bertato segitiga di wajah pernah membantunya sewaktu kecil di malam mencekam penembakkan Daddynya.
"Di mana Lunna?!" tanya Jack sedikit berteriak.
Justin menoleh, seulas senyum licik terpatri jelas manakala melihat pancaran mata Jack tersirat kekhawatiran.
"Tenanglah Lunna di tempat Daddynya, yah paling tidak dia mungkin akan membencimu, oh tunggu dulu bukan hanya dia tapi seluruh keluarganya! Karena mengira kau telah membunuh anakmu sendiri hahaha!"
"Bedebah!!!!" raung Jack sembari mengerakkan tubuhnya.
"Terserah kau mau memanggil aku apa! Karena itu lah aku!" Justin menghembuskan asap rokok ke udara kemudian berjalan cepat ke arah Jack.
"Dengar Jack! Aku akan merebut satu-persatu darimu, termasuk Mommymu itu dan aha jangan lupakan juga Yuri! Apa kau tidak penasaran di mana dia sekarang?"
__ADS_1
Justin sengaja memainkan perasaan Jack ingin melihat bagaimana kedekatan Yuri dan Jack. Selama Yuri berkerja dengannya. Pria berkebangsaan Jepang itu sangat susah di tebak terkesan pandai menyembunyikan sesuatu. Dia sangat menyukai kinerja Yuri dalam memajukan perusahaan Jack. Maka dari itu ia harus membuat Yuri berbelok padanya dan setia melayaninya.
"Di mana Yuri? Jangan kau sakiti dia!" sahut Jack. Walaupun dia dan Yuri hanya sebatas sekretasis dan tuan akan tetapi dia sangat menyayangi Yuri seperti adiknya.
"Haha! Tenang lah dia baik-baik saja. Kau tahu kau terlalu memanjakannya. Dia kerja lembur agar bisa memajukan perusahaanku!" kata Justin dengan angkuh.
"Dia bukan robot, b@jingan!!!" Jack tak mau Yuri sakit karena terlalu memporsir tenaganya.
Justin membalas dengan mendengus kemudian beralih menatap anak buahnya satu-persatu yang sudah selesai mempacking apa yang ia perintahkan tadi.
"Bawa langsung ke dermaga, ingat jangan sampai orang di dalam rumah tahu! Kalian lewat tempat biasa!" titahnya kemudian menekan tombol di bawah meja, seketika lantai di bagian tengah bergerak hingga menampakan tangga menuju ke bawah sana seperti terowongan.
"Baik Tuan! Come on!" sahut pria yang ditugaskan Justin barusan.
"Hei, dua dari kalian buat Jack tersiksa sebelum pergi! Suntikan dia zat ******" sahut Justin lagi. Kedua mata Jack membola mendengar perkataan Justin barusan.
"Das@r gila! Kau lebih dari iblis!!!"
Detik selanjutnya. Terdengar jeritan Jack memenuhi seluruh penjuru ruangan. Percikan darah menerpa lantai kala pisau kecil menyayat kulit Jack.
"Lunna, aku mencintaimu, Lunna. Tunggu aku, Baby... Aku akan datang,... Maafkan aku pria bodoh ini yang tak bisa melindungimu..." ucap Jack dengan lirih. Dia sudah tak menghiraukan berapa kali dua pria dihadapannya menorehkan luka-luka di sekujur tubuhnya. Sebab pikirannya saat ini dipenuhi bayangan wajah Lunna. Dia berharap Lunna baik-baik saja sana.
Di sisi lain. Lunna meringkuk di kasur sembari mengusap perlahan perutnya.
"Jack..." ucap Lunna tanpa sadar dengan menitihkan air matanya.
***
Ceklek!
Suara pintu terbuka. Dengan cepat Erika melangkah mendekati Justin baru saja keluar dari ruangan.
__ADS_1
"Dimana Jack?" tanya Erika.
Justin menoleh, lalu berkata,"Bisakah kau sehari saja tak menanyakan keadaannya! Aku ini juga anakmu! Bisa kah kau bertanya apa aku sudah makan atau belum ha?!" Kedua tangan Justin terkepal kuat. Menahan amarah di dalam dadanya manakala Mommynya tak pernah sedikitpun memberikan perhatian padanya.