Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet

Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet
Malam Mencekam


__ADS_3

Saat mendengar keributan di lantai satu. Petugas keamanan bergegas melerai pertikaian Lunna dan Britney. Britney seketika pingsan kala melihat Jack juga mendekati mereka. Sedangkan Lunna mendengus kasar melihat Britney berakting lagi.


Lunna tak peduli lagi dengan image-nya karena perkataan Britney tentang Mommy-nya sudah kelewat batas. Terserah Jack akan memberikannya sanksi atau tidak. Sebab sekarang bagi Lunna, hidupnya sudah terpenjara karena pernikahan kontrak dengan Jack selama satu tahun ke depan.


"Bawa dia ke rumah sakit!" Jack memberikan perintah kepada petugas keamanan untuk mengangkat Britney. Petugas keamanan mengangguk patuh.


"Dan kau ke ruanganku sekarang!" Jack menunjuk Lunna. Lunna menanggapinya dengan tatapan datar tanpa ekspresi sedikitpun.


"Tapi Tuan..., pertemuan anda di hotel sebentar lagi akan di mulai," kata Yuri cepat. Sedari tadi dia juga melihat aksi Lunna yang menurutnya seperti wonderwoman.


Jack menoleh, lalu mendengus kasar,"Batalkan!"


Yuri nampak gusar, pasalnya kolega yang akan bertemu adalah orang yang sangat penting dan hanya datang dua kali dalam setahun ke Los Angeles.


"Tuan–"


Jack melotot, "Aku bilang batalkan kau tuli atau apa?!" Ia kemudian beralih menatap Lunna kemudian melangkah pergi menuju lift.


Yuri tergugu, nampak resah dan gelisah. Dia menarik nafas panjang, mendengar keputusan Jack.


Sementara itu, Lunna dan Kristin diam seribu bahasa masih tercengang dengan kejadian barusan yang membuat mood keduanya benar-benar hancur karena ulah Britney.


"Lun, lebih baik kau ganti baju dulu," kata Kristin sambil menyentuh tubuh Lunna yang nampak basah kuyup.


Lunna membalas dengan mengangguk.


Kini, Lunna sudah berada di ruangan Jack. Suasana di dalam sangat dingin. Belum lagi sedari tadi tak ada yang bersuara. Semenjak masuk Lunna tak menyapa Jack sama sekali, begitupula sebaliknya. Keduanya diam seribu, sibuk dengan pemikiran masing-masing.


Lunna tengah duduk di sofa, di depan meja kerja Jack sambil menyilangkan tangan di dada. Matanya melihat ke sisi kanan, memandang lukisan klasik yang terpajang di dinding. Sedangkan Jack duduk di kursi kebesarannya, menatap lurus ke arah Lunna. Matanya enggan berkedip melihat istri di atas kertasnya itu. Entah apa yang diperhatikannya sedari tadi.


Sedangkan, Yuri berdiri tegap di sisi kiri sambil menundukkan kepala. Ia amat canggung dengan hawa dingin di dalam ruangan.


'Tuan Jack ayo lah berbicara, sebenarnya apa mau anda Tuan. Sampai-sampai harus membatalkan pertemuan itu.'


Sebagai tangan kanan Jack. Yuri adalah orang yang tekun dalam berkerja dan selalu bersikap profesional.


"Siapa pacarmu?" Sebuah pertanyaan yang dilontarkan Jack membuat Lunna mengerutkan dahi dengan kuat.


"Kau tak perlu tahu!" Lunna berkata ketus tanpa menatap lawan bicara. Karena ia ingin melayangkan pukulan di wajah Jack yang sengak itu, menurutnya.


"Aku perlu tahu, aku suamimu!" Jack beranjak dari tempat kursinya.


Lunna menoleh, dan menatap tajam."Cih, hanya suami di atas kertas, setelah satu tahun kita tidak memiliki hubungan lagi!"

__ADS_1


Jedar!


"Ah!"


Seketika suara bunyi kilatan menggelegar di atas pencakar langit, sehingga menimbulkan percikan cahaya dan secara bersamaan pula listrik pun padam. Tiba-tiba Lunna berlari cepat menuju meja kerja Jack dan memeluk tubuh tubuh Jack dengan sangat erat. Jack mematung di tempat, kala desiran aneh mulai menjalar di tubuhnya. Aroma tubuh Lunna menguar, merasuk ke dalam hidungnya seketika. Entah mengapa dia merasa tenang dan hangat.


Lunna menelusupkan wajahnya ke dada Jack. "Mommy..." Ia berucap lirih.


Detik selanjutnya, Jack segera tersadar kemudian mendorong tubuh Lunna hingga terjembab ke lantai.


Bugh!


"Awh!" Lunna mengaduh kesakitan sejenak. Bergegas bangkit sambil merapikan pakaiannya. Lampu seketika menyala menerangi ruangan Jack. Yuri tercengang dengan kejadian barusan. Pria berwajah Asia itu dapat melihat wajah Lunna nampak pucat.


"Lunna A tidak apa-apa?"


Yuri hendak melangkah ingin membantu Lunna namun diurungkannya kala melihat tatapan tajam Jack.


Bukannya menyahut perkataan Yuri. Lunna menoleh ke arah Jack dan melotot tajam. "Aku membencimu!!!" Lunna berseru nyaring lalu melengos pergi meninggalkan Jack dan Yuri.


Jack menatap datar kepergian Lunna. Ia menarik nafas panjang.


'Semoga Lunna A baik-baik saja, apa Lunna juga memiliki trauma," kata Yuri di dalam hati. Lalu ia beralih menatap keluar kaca raksasa.


'Aduh bagaimana ini, semoga nanti malam tidak hujan.'


Setelah selesai dengan syuting dan pemotretan Lunna tak langsung pulang ke mansion Jack. Ia masih bermalas-malasan di ruang make-up sembari berteleponan dengan Mommynya di Indonesia. Lunna tersenyum tipis kala mendapatkan ibu sambung yang baik dan perhatian. Sewaktu kecil, ia diberitahu Leon bahwa ibu kandungnya berada di surga.


Seiring berjalannya waktu Lunna beranjak dewasa dan mengerti jika ibunya telah tiada. Dari informasi yang dia dapatkan dari Daddy-nya, ibu kandungnya meninggal dunia saat melahirkan dirinya. Walaupun Lily bukanlah ibu kandungnya, Lunna mendapatkan kasih sayang yang tak terhingga dari ibu sambungnya.


Tiga puluh menit berlalu. Mau tak mau Lunna meminta Kristin mengantarnya ke Bandara. Begitu sampai ternyata Yuri sedang menunggunya.


"Lunna A, maafkan Tuan Jack karena tadi mendorong Lunna. Tuan sepertinya terkejut Lunna memeluknya tiba-tiba," kata Yuri. Kini Lunna dan Yuri sudah berada di pelataran Mansion.


Lunna membalas hanya dengan mengangguk saja.


"Oh iya. Malam ini kata Tuan Jack, Lunna A tidur dulu di kamar bawah mulai besok baru tidur di kamar Tuan," Yuri berkata sambil mendonggakkan kepalanya ke atas langit.


Dahi Lunna berkerut sesaat, namun detik kemudian raut wajahnya berubah datar.


'Setidaknya malam ini aku masih bernafas lega.'


Tepat pukul delapan malam. Suara guntur menyambar-nyambar di atas sana. Lagi dan lagi hujan kembali membasahi tanah. Kediaman Marlow nampak sunyi hanya terdengar tetesan air di atas genteng.

__ADS_1


Lunna baru saja menyelesaikan hukumannya yang tertunda kemarin. Ia bersungut-sungut kala merasakan badannya sangat sakit. Walaupun sedari tadi Jack tak nampak di pelupuk matanya. Yuri selalu mengikuti dan mengawasinya.


Saat ini Lunna sudah selesai mandi dan memakai pakaian malamnya. Namun saat ia ingin berjalan menuju ranjang, lampu tiba-tiba padam. Dalam kegelapan ia mencari lampu di atas nakas. Lunna semakin panik saat lampu tak ketemu juga.


"Ah!" jerit Lunna kala kilatan menyambar membentuk kilatan cahaya. Tampak mata Lunna mulai berembun.


Seketika terdengar bunyi dentuman pintu di dobrak kuat. Lunna terlonjak kaget, tubuhnya bergetar kala suara langkah semakin mendekat.


"Siapa itu?!" tanya Lunna. Kepalanya celingak-celinguk secara bersamaan pula bunyi detak jantungnya berdegup amat cepat.


"Aku bi–"


Lunna dapat merasakan tangan besar dan kokoh mencekik lehernya. Dalam kegelapan Lunna berusaha melepaskan diri dengan menggapai tangan besar itu. Saat ini nafas Lunna terasa tercekat. Kakinya sudah mengantung setengah di udara.


Telinganya dapat menangkap suara berat seseorang menggeram rendah. Tidak mungkin Yuri? Apalagi Sahara? Lunna sangat mengenali suara yang pernah mencambuk tubuhnya kemarin. Tentu saja pria itu adalah Jack, siapa lagi.


"Tol....ong...."


Lunna tak berdaya. Wanita itu amat pasrah dengan keadaan sekarang. Ia merasakan pasokan udara di dalam tubuhnya tertahan semua dilehernya. Apa salahnya? Apa yang diinginkan Jack darinya? Mungkinkah ini akhir semuanya... Buliran air bening sudah membasahi kedua pipinya. Dan sekelabat memori-memori orangtua dan saudara-saudaranya berputar-putar dibenaknya.


'Mommy, aku akan menyusulmu.' Lunna berucap di dalam hati dengan matanya yang sudah menganak sungai.


Namun tiba-tiba tubuh Lunna dihempas kasar sehingga tubuhnya terjatuh kuat ke lantai. Secepat kilat Lunna meraup udara di sekitar lalu terbatuk-batuk sambil menyentuh lehernya yang serasa amat sakit dan perih.


Hening sesaat tak ada lagi suara menggeram Jack. Apa dia sudah pergi? Tapi, tidak mungkin sebab Lunna tak mendengar suara langkah kaki keluar seperti malam sebelumnya.


Jedar!!!


Bunyi petir kembali menyambar membuat Lunna memekik nyaring sembari menutup telinganya.


"Argh!" Seketika memori kelam Lunna kembali berputar bagaikan sebuah film di dalam otaknya.


Bugh! Bugh!


"Argh!!!" Lunna menjerit kala merasakan punggungnya di tendang-tendang sebanyak dua kali dari belakang.


"Hentikan Jack...."


Lunna meminta Jack menghentikan tindakannya. Seakan tuli pria bertinggi besar itu, tak mengindahkan perkataan Lunna. Dengan nafas yang memburu pria itu malah menendang tubuh Lunna bertubi-tubi hingga suara jeritannya tak terdengar lagi di ruangan.


Lima menit pun berlalu. Darah segar mengalir di hidung dan mulut Lunna. Dada wanita itu nampak naik dan turun dengan pelan.


"Mommy, bawa Lunna kesana..." lirih Lunna seraya menutup kelopak matanya perlahan.

__ADS_1


__ADS_2