Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet

Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet
Jack Keterlaluan


__ADS_3

Esok hari. Dengan tertatih-tertatih Lunna berjalan memasuki gedung Sugar Entertainmant. Lunna memberengut kesal tatkala Jack menggengam tangannya. Kuping Lunna panas mendengar kicauan para artis dan model yang berpapasan dengan mereka sedari tadi. Ingin sekali Lunna menyumpal mulut Britney yang mengatakan Mommy-nya j@lang lagi. Lunna mengibas kuat tangan Jack hingga terlepas.


"Siapa yang menyuruhmu melepas genggaman tanganku?!" tanya Jack mulai tersulut emosi.


Lunna mengerlingkan mata sesaat. Sebelum berkata dia mendengus. "Tak ada yang menyuruhku! Dengar Mr.Harlow, kau sengaja membuat imageku buruk ya?!!!" Lunna tak mampu lagi menahan sabar. Sebab, Jack sepertinya sengaja membuat citranya buruk. Mata elang Lunna menatap tajam Jack.


Jack tercengang melihat pancaran mata Lunna menyiratkan kebencian terpendam. Enggan membalas perkataan Lunna padahal ia hanya ingin menjahili Lunna. Karena Jack sangat menyukai wajah kesal Lunna.


Deru nafas Lunna memburu, hatinya sangat sakit manakala Britney di ujung sana menyumpah serapah Mommy-nya lagi. "Aku membencimu Jack! Aku menyesal bertemu denganmu!!!"


Deg.


Jantung Jack mencelos, mendengar perkataan Lunna barusan. Rasa perih dan sakit melebur menjadi satu. Bibirnya kelu hendak membalas perkataan Lunna tapi semua tertahan di dalam benaknya. Lunna melenggang pergi, meninggalkan Jack yang masih terpaku di tempat.


***


Brak!


"Oh my God! Kau membuatku kaget!" sahut Kristin kala melihat Lunna menyelenong masuk dengan muka tertekuk sempurna.


Lunna menghempaskan bokong di sofa berhadapan dengan Kristin. Mendengus kasar lalu memalingkan wajah ke kaca raksasa.


"Kau kenapa?" tanya Kristin penasaran, melihat mimik muka Lunna tak bersahabat sama sekali.


"Aku kesal dengan Jack. Dia sengaja, mempertontonkan hubungan kami di depan semua orang! Terlebih lagi sudah beberapa hari ini dia menyiksa ku, Kris. Aku capek! Dia bertindak semua hati!" tutur Lunna mengebu-gebu.


Kristin mencondongkan badannya, seraya menaruh i-padnya di meja. Dia memberikan ruang Lunna untuk berkeluh kesah.


"Dan kau tahu, Kris. Tadi Britney mengatai Mommyku j@lang! Aku benar-benar muak dengan wanita itu! Apa maunya?! Ini semua gara-gara Jack! Semua berawal dari dia!" Lunna berseru nyaring.


Kristin melebarkan mata mendengar perkataan Lunna barusan. Tangannya terkepal kuat, Britney sungguh keterlaluan. Seringai licik muncul seketika di wajah cantiknya.


"Lun, masalah Kristin serahkan saja padaku! Kau tak perlu khawatir!" Kristin menatap intens Lunna yang sedang mengatur nafas karena masih menahan amarah.


"Iya," kata Lunna sembari mengubah posisi badan. Lalu menarik nafas panjang.

__ADS_1


"Jadi, apa yang akan kau lakukan pada Jack?" tanya Kristin penasaran. Dia dilanda kebingungan bagaimana caranya mendapatkan solusi agar Lunna dapat terjerat dari balas dendam Jack yang tak tahu apa motifnya itu.


Lunna menghela nafas. "Aku juga bingung, Kris. Di satu sisi aku kasihan padanya, tapi di sisi lain aku membencinya juga!"


Saat ini, Lunna dilema dengan perasaannya. Walaupun, Jack sering mengusilinya, akan tetapi ada rasa iba jika pria itu kembali menyakiti diri seperti tempo lalu saat mendapati Jack tengah sakau. Dan ia berjanji tak akan meninggalkan Jack. Sekarang, Jack pun tak pernah berbuat kasar atau menganiayanya seperti sebelumnya, akan tetapi sekarang selalu mencabik-cabiknya kapanpun dia mau.


"Lun, kenapa kau kasihan dengan orang yang pernah menganiayamu?" Gurat kebingungan terpampang jelas di wajah Kristin.


"Em entahlah, aku pun bingung, hanya saja ada sebuah janji yang tak bisa aku ingkari," kata Lunna seraya melirik arloji di pergelangan tangan.


Kristin menggeleng pelan. Dia keheranan, janji apa yang Lunna buat bersama Jack, sampai-sampai wanita itu tak menyayangi tubuhnya sendiri yang sudah di siksa Jack. Detik selanjutnya, raut wajah Kristin berubah, lalu berkata,"Kau tak jatuh cinta pada Jack, Kan?"


Mata Lunna berkedip pelan, mendengar pertanyaan Kristin yang membuatnya sedikit tercengang.


"Aku? Jatuh cinta padanya? Tidak! Asal kau tahu dia bukan tipeku! Wajahnya juga tidak tampan seperti Daddyku, Jack itu jelek!! Daddyku itu lemah lembut, baik, tak pernah berlaku kasar dengan Mommyku, jadi tidak mungkin, aku jatuh cinta pada Jack! Pria yang membuatku menderita!" sahut Lunna berapi-api.


Kristin membuang nafas, melihat pancaran mata Lunna berbeda dengan perkataannya. Dapat ia pastikan Lunna tanpa sadar sudah menyukai Jack.


"Lun, kau orang pertama yang mengatakan Jack jelek," kata Kris seraya tersenyum tipis.


"Sudahlah, sebelum kita ke studio. Lebih baik sekarang kau ikut aku Lun. Aku akan memberikan Britney pelajaran!" Seringai licik terbit di wajah Kristin. Matanya menatap penuh arti pada Lunna.


Lunna bergedik ngeri melihat pancaran mata Kristin, seperti malaikat pencabut nyawa. "Kau mau apakan dia?" Kendatipun begitu Lunna kepo tingkat Dewa apa yang akan dilakukan Kristin pada Britney.


Kristin memberi isyarat tatkala melihat MUA baru saja masuk ke dalam ruangan. Dia memberi isyarat pada Lunna agar mendekat. Kemudian berbisik pelan di daun telinga Lunna.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Kristin setelah menjauhkan wajahnya.


"Ternyata kau sangat licik, Kris!" cetus Lunna seraya menyeringai tipis.


*


*


Sementara itu, Jack di ruangan kerja. Sedari tadi melamun tak mendengar Yuri tengah membacakan jadwal kerjanya. Pikirannya dipenuhi wajah Lunna yang kesal padanya tadi.

__ADS_1


'Apa aku salah memegang tangannya tadi?' Jack masih menerka-nerka mengapa Lunna meneriakinya tadi. Sebab, Jack hanya fokus pada Lunna sampai-sampai kicauan orang di sekitar hanya dijadikan angin lalu saja.


Melirik Jack sesekali, Yuri menelan saliva pelan setiap kali menjeda kalimat demi kalimat yang ia baca di layar i-pad.


'Kenapa lagi Tuan Jack? Mengapa dia begitu lesu? Apa karena Lunna A?' Yuri menerka-nerka dibenaknya.


"Tuan!" Yuri hendak menyadarkan Jack sedang berada di dunianya sendiri.


Jack segera tersadar. Mengeleng sesaat. "Iya," katanya menatap Yuri.


"Jadwal Tuan hari ini tidak terlalu padat. Sebagian sudah Yuri urus. Nanti sore, Tuan ada meeting bersama Mr.Alabama dan Mr.Trevor mengenai infrastruktur jalur kereta api bawah tanah," kata Yuri seraya menaruh i-pad di jasnya.


"Hmm, Lunna di mana?"


Mulut Yuri terbuka sedikit. Bukannya membahas perkerjaan Jack malah bertanya tentang Lunna. Yuri sedikit kesal. Padahal mulutnya sudah berbuih-buih tadi membacakan jadwal kerja Jack. Dan Jack hanya membalas dengan berdeham singkat.


Karena sebal, lantas Yuri menjawab asal. "Lunna A, Yuri kurung di ruang make-up," katanya tanpa tahu akibat ke depannya.


Mendengar hal itu, Jack beranjak, secepat kilat melangkah keluar, meninggalkan Yuri yang mode bengong.


"Argh!!!" raung Yuri sembari menjambak-jambak rambutnya lalu memukul mulut munggilnya.


"Lain kali Yuri harus lebih berhati-hati!"


Meninggalkan Yuri yang sedang frustrasi. Jack berjalan menuju ruang khusus Lunna. Gurat kecemasan nampak jelas di wajah Jack.


Dari arah samping, Britney menghampirinya dan tiba-tiba memeluk Jack. "Jack!"


Byur!!!


Seketika seluruh tubuh Britney dan Jack dipenuhi air berwarna hitam. Keduanya sama-sama terkejut manakala mendapati siraman entah dari siapa. Dengan cepat Jack mendongak ke atas, ekor matanya melihat Lunna bersembunyi di balik pagar pembatas.


Satu tangannya terulur mengusap wajahnya. Tanpa sadar seulas senyum tipis terbit diwajahnya.


'Apa Lunna cemburu padaku?'

__ADS_1


Sementara itu, Lunna dan Kristin tertawa di dalam ruangan. Rencana mereka begitu mulus tanpa harus bersusah payah mengatur strategi.


__ADS_2