Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet

Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet
Who?


__ADS_3

Satu tangan Jack terulur menaikkan selimut yang menutupi tubuh polos Lunna. Kemudian kepalanya memutar kembali ke depan.


"Kenapa kau kemari?" tanya Jack lagi saat sosok di depan diam seribu bahasa. Entah mengapa ia sangat tak suka situasi saat ini. Terlebih lagi ia telah tertangkap basah mencumbu musuhnya.


Satu alis sosok itu terangkat. "Kenapa? Bukankah aku leluasa masuk ke kamarmu?" jawabnya sambil melirik Lunna.


"Iya, aku tahu. Tapi dia sedang tertidur, nanti Lunna terbangun."


Sosok itu terkekeh. "Wow, sejak kapan kau peduli padanya? Lagian aku sangat terkesima denganmu, jadi seperti ini caramu membalas dendam!" Pria itu berseru cukup nyaring.


Secepat kilat Jack menutup kedua telinga Lunna. Sepertinya wanita itu tertidur amat pulas sampai-sampai suara orang melengking tak dapat membangunkannya.


"Haha, tenanglah, wanita itu memiliki kebiasaan buruk. Dia tidak akan terbangun Jack."


"Namanya Lunna, bukan wanita itu," sergah Jack.


Prok! Prok! Prok!


Suara tepukan bergema di dalam ruangan.


"Jack, aku penasaran bagaimana caramu membalaskan dendam? Apa dengan menidurinya seperti saat ini? Padahal aku baru saja memberikanmu kesempatan dan kau langsung menikmati tubuhnya? Perfecto! Haha! You're jerk, Jack!" cicitnya sambil mengeluarkan sepuntung cerutu dan pemantik di saku jasnya.


Jack tak langsung menjawab. "Caraku balas dendam tidak seperti dirimu. Aku punya cara sendiri, lagian dia masih perawan dan aku sudah menabur benih diperutnya. Jadi–"


Sosok itu menghembuskan asap ke udara.


"Wait a minute, maksudmu setelah dia hamil, kau akan meninggalkannya begitu? Atau bagaimana?" Seringai tajam terukir diwajahnya.


Jack menoleh ke samping, melihat wajah Lunna tampak keletihan. "Iya, kurang lebih seperti itu," jawabnya singkat.


Sosok itu berjalan menghampiri ranjang Jack sembari tak henti-hentinya menghirup cerutu. Satu tangan kirinya ia masukan ke celana.


"Kau mau apa?" Seketika satu tangan Jack terulur, menyentuh bahu Lunna di sisi kiri. Saat pria itu menelisik tubuh istrinya dari kaki hingga ke wajah.


"Aku cuma ingin melihatnya dari dekat, selama ini aku hanya mendengar suara jeritannya yang malang itu, haha! Wow, dia sangat cantik Jack, bolehkah aku mencicipinya juga?" desisnya pelan sambil memegang helaian rambut Lunna.


"Jangan!" Entah mengapa dada Jack bergemuruh manakala mendengar sosok di depan ingin menjamah tubuh Lunna.


Dahi pria itu berkerut kuat. "Why Jack?"

__ADS_1


"Tidak kenapa-kenapa, kau boleh menyentuhnya tunggu waktu yang tepat..." Jack berucap lirih. Dadanya serasa di remas sesuatu yang tak kasat mata saat mengucapkan kalimat barusan.


"Good. Kau harus ingat tujuan kita, Jack. Kemarin aku sudah mencambuk, menendang, dan terakhir–"


"Tidak usah kau perjelas," potong Jack cepat. Lalu mendengus kasar.


"Kau tidak tahu rasanya saat aku mencekiknya! Teriakannya membuatku bersemangat, Jack!" Pria itu mengakhiri kalimatnya dengan tertawa keras.


Jack tergugu. Hatinya mencelos sejenak. Ada rasa aneh yang menjalar di relung hatinya.


"Kenapa kau tak membalas ucapanku?!!" Pria itu melotot tajam saat Jack tak menimpali obrolan.


Jack berdecih. "Aku lelah, lebih baik kau keluar! Kita bicara di luar saja."


Seulas senyum licik terbit diwajahnya. "Lelah? Setelah sekian lama kau tak berhubungan badan? Haha, kau sangat liar, Jack. Lebih liar dariku!"


"Aku?" Jack terkekeh mengejek. "Bukannya kau setiap malam bermain bersama Sahara?"


Pria itu enggan menyahut. Kedua matanya mengamati Lunna dengan seksama.


"Keluar!" Jack mulai meradang saat sosok di depan malah asik menatap Lunna.


"Dengar, Jack. Satu jam lagi aku harus pergi ke luar pulau. Ada yang harus aku urus. Kemungkinan akan lama. Pergunakan waktu dengan baik sampai dia benar-benar tersiksa! Jangan sampai kau jatuh cinta pada musuhmu, Jack!" katanya dengan raut wajah serius.


Mendengar perkataan sosok di depan Jack gamang akan perasaannya. Lunna, wanita kedua yang dia jamah setelah mantannya dahulu. Belum lagi satu fakta yang tak bisa terbantahkan. Untuk pertama kali ia mengagahi seorang wanita yang masih tersegel, dan itu adalah Lunna. Sewaktu dulu mantan Jack sudah tak perawan ketika ia sentuh.


"Kau dengar aku tidak, Jack?!" Gigi pria di depan saling bergesekan, rahangnya mulai mengeras saat Jack terdiam, tak membalas ucapannya lagi.


"Aku tidak tuli! Aku mendengarkanmu! Pergi kau sana! Aku bukan anak kecil yang harus kau nasehati! Cih!" Seringai licik terbit di wajah Jack.


Gurat kemarahan sirna seketika kala mendengar perkataan Jack. "Haha, good boy! Aku senang mendengarnya, baiklah aku pergi," pungkas sosok itu seraya berjalan mendekati dinding. Baru saja beberapa langkah, tubuhnya berbalik.


"Aha, aku lupa. Kau tak ingin menitipkan salam pada seseorang?"


Jack mendengus, lalu berkata,"Untuk apa aku menitipkan salam pada wanita itu?! Bagiku dia sudah lama mati!"


"Jack!!!" Mata pria itu berkilat menyala, nafasnya memburu, menahan gejolak amarah di dada.


"Apa?!" Jack melayangkan tatapan tajam jua. Cukup lama keduanya saling beradu. Detik selanjutnya, sosok itu memutuskan kontak mata.

__ADS_1


"Aku akan tetap menyampaikan salam, walaupun kau tak mengatakannya padaku." Pria setinggi 185 cm itu memutar tubuhnya sebelum mendengar jawaban Jack. Kedua tangannya menekan dinding dengan kuat.


"Terserah, aku membencinya..." desis Jack akan tetapi bisa di dengar oleh sosok itu.


Setelah pria itu menghilang di balik dinding. Jack menarik nafas panjang. Lalu beralih menatap Lunna, kemudian membungkukan tubuhnya sedikit. Jack mengelus perlahan pipi Lunna.


"Ada apa denganku? Kau membuat diriku sendiri bingung, apa kau sengaja?" Jack melabuhkan kecupan di kening Lunna.


"Bangunlah, Lun." Jack melabuhkan kecupan di pundak Lunna yang tak tertutup itu.


"Maaf aku terpaksa, karena ini semua ulah Daddymu. Dia yang memulai dan kau harus merasakan akibatnya. Bersiaplah, Lun,"desis Jack sembari merebahkan tubuhnya kembali di samping Lunna lalu mengeratkan pelukan.


*


*


Waktu menunjukan pukul delapan pagi. Lunna melenguh kala merasakan sesuatu yang berat melingkar diperutnya. Dengan perlahan kelopak mata Lunna membuka. Ia berkedip pelan, saat cahaya matahari menembus gorden kamar. Seketika Lunna merasakan tubuhnya remuk. Secara bersamaan pula sensasi perih dan nyeri menjalar di inti tubuhnya.


"Shfff..." Lunna mengaduh sejenak saat menggeser kakinya.


"Apakah sakit?" tanya Jack, sedari tadi ia berpura-pura tertidur, akan tetapi saat mendengar rintihan Lunna, ia segera membuka kelopak mata.


Lunna mendengus lalu menatap tajam.


"Tentu saja sakit! Pakai di tanya segala lagi! Jadi ini mencabik-cabik yang kau maksud semalam, lebih baik aku di cekik saja! Aku membencimu, Jack!" Lunna berkata ketus sembari memalingkan muka saat wajah Jack terlalu dekat dengan wajahnya.


"Oh, jadi kau mau aku cekik," kata Jack tersenyum sinis.


'Duh, bodoh sekali kau, Lunna. Di cekik juga sakit!'


"Iy-a," jawab Lunna dengan tergagap.


Seulas senyum penuh arti terbit di wajah Jack.


"Oke, kemari kau!"


"Ha! Jangan Jack!" teriak Lunna.


Dan Jack pun kembali mencekik Lunna tapi versi berbeda, yang mengakibatkan ranjang kembali bergoyang-goyang.

__ADS_1


__ADS_2