
Hening sejenak.
Hanya terdengar cicitan jangkrik di sisi kanan dan kiri. Lama ketiganya tak membuka suara. Jack menarik nafas kasar tatkala Yuri malah melirik Aoki sesekali.
Detik selanjutnya, Jack berkata,"Lunna?" Samar-samar ia mendengar nama Lunna di sebut. Ia pun menebak hendak melihat respon Yuri dan Aoki.
Yuri semakin gelagapan. Sembari mengaruk kepalanya yang tak gatal. Sedangkan Aoki, menundukan wajah, tak berani melihat Jack yang sekarang menatap tajam dirinya dan Yuri.
Jack dilanda kepanikan. Mengapa Lunna bisa berada di sini. Saat ini, Jepang bukan tempat yang aman bagi Lunna. Terlebih lagi Sensei bisa saja menyerang Lunna. Sebelum bibir Jack membuka, terdengar suara derap langkah kaki mendekat, membuat Jack mengatupkan bibirnya.
"Kenapa kalian ada di sini?" tanya Justin baru saja tiba. Ia kebingungan melihat tiga orang dihadapannya saling melemparkan pandangan.
"Tidak kenapa-kenapa Justin, aku marah pada Yuri karena tidak memberitahu ku kalau pergi ke suatu tempat bersama Aoki," kilah Jack. Padahal Yuri meminta izin padanya tadi untuk menemani Aoki berbelanja.
Justin membalas dengan mengangguk.
Dahi Jack berkerut sama melihat kimono Justin terbuka di bagian dada. "Cih! Mengapa kau buka bajumu?" tanyanya penasaran.
Justin melirik Aoki sekilas. Lalu beralih menatap Jack. "Agar orang bisa membedakan mana kau, dan mana aku," kata Justin tanpa ekspresi sedikitpun.
"Tapi Yuri bisa membedakan Tuan Jack dan Tuan Justin," kata Yuri menimpali, mencoba menutupi kegugupannya tadi. Jangan sampai Justin mengetahui keberadaan Lunna. Sebab Justin bisa saja mengatakan keberadaan Lunna pada Sensei.
"Hmm," balas Justin singkat. "Kalian di suruh Sensei makan malam dulu, setelah itu kita akan pergi ke festival. Dan Aoki bersihkan badanmu terlebih dahulu." Sambung Justin sembari melenggang pergi.
"Aoki pergilah," titah Jack setelah melihat punggung Justin menghilang di ujung sana.
Aoki mengangguk patuh, berlalu, meninggalkan Jack dan Yuri saat ini. Kedua pria dewasa itu saling melemparkan pandangan.
"Lunna ada di sini?" tanya Jack pelan sembari menelisik keadaan sekitar.
"Iya, Tuan," jawab Yuri dengan raut wajah cemas.
Mendengar perkataan Yuri, Jack semakin resah dan gelisah. "Bagaimana bisa dia ada di sini?"
"Mereka sedang ada syuting di sini, Tuan. Maafkan Yuri karena bertindak gegabah." Yuri menundukkan kepala. Enggan menatap Jack yang sekarang berselimut kabut hitam.
Perasaan Jack campur aduk sekarang. Ia menjambak rambutnya, frustrasi. "Dimana dia sekarang?" tanyanya dengan mata bergerak ke segala arah, takut jika pembicaraannya di dengar oleh seseorang.
"Lunna A menginap di Yokohama Tuan, tak jauh dari sini, dekat dengan festival bunga," kata Jack pelan tanpa menatap lawan bicara.
'Si@l! Mengapa dia harus syuting di kota yang sama!'
"Baiklah, katakan pada Kristin selalu jaga Lunna,
dan jangan keluar kemanapun malam ini, sekarang kita ke ruang makan," perintah Jack sembari menganyunkan kaki.
Yuri mengangguk, mengambil ponsel, dan mengetik pesan pada Kristin. Namun detik selanjutnya, ia urungkan saja, lebih baik dia menelepon langsung, entah mengapa ia ingin mendengar suara Kristin.
Yuri mengerutkan dahi, saat Kristin tak mengangkat teleponnya. Berdecak kesal sesaat, karena sudah satu menit berlalu. Dengan terpaksa ia mengirim pesan sesuai perkataan Jack tadi. Setelah itu, ia bergegas menuju ruang makan.
*
__ADS_1
*
Sementara itu, Lunna dan Kristin sedang bercengkrama di kamar sembari memilih-milih baju kimono yang akan mereka kenakan untuk festival bunga nanti. Lunna sesekali menyomot coklat bar.
"Lun," panggil Kristin saat membaca pesan dari Yuri.
Lunna menoleh, lalu berkata,"Iya, ada apa?"
"Jack-Jack meminta kau jangan keluar kemana pun malam ini," kata Kristin memutar bola mata malas
Alih-alih terlihat kesal, Lunna malah tertawa keras. "Haha semakin dia larang, aku akan pergi keluar, kapan lagi aku akan menikmati waktu untuk berjalan-jalan," Lunna berkata sembari menggulung rambut panjangnya dan mengikat ke belakang.
"Iya terserah, yang penting aku sudah memberitahu." Kristin melempar ponselnya ke atas kasur.
"Sekarang kita bersiap-siap Lunna, sebelum hari semakin malam." Sambung Kristin sembari memakai kimono berwarna biru. Lunna mengangguk patuh.
Kini, kedua wanita itu sudah mengenakan kimono bermotif bunga-bunga, keduanya nampak cantik. Di rambut Lunna tersemat pita kecil berwarna senada dengan bajunya dan membawa kipas berukiran kayu, sedangkan Kristin membawa kamera kecil di lehernya. Malam ini Kristin akan menjadi fotographer amatir demi artis-nya tak tahu diri itu. Dengan langkah riang keduanya keluar dari tempat penginapan.
*
*
*
Saat ini, Jack dan Justin berjalan beriringan bersama Aoki yang berada di tengah-tengah mereka, sementara Yuri beberapa langkah dari ketiganya. Pria itu memantau keadaan sekitar.
Tak ada pembicaraan di sepanjang kaki melangkah, ketiganya hanyut dalam pikiran masing-masing. Jack dan Justin menatap lurus ke depan, sembari kedua tangan mereka taruh di belakang pinggang, paras tampan keduanya menarik perhatian para wanita Jepang yang berpapasan dengan mereka.
'Yuri-kun, jangan senyum-senyum,"kata Aoki kesal di dalam hati, melihat Yuri tersenyum pada seorang gadis yang berpapasan dengannya.
Justin melirik sekilas. "Aoki."
"Iya," jawab Aoki tanpa menatap lawan bicara.
"Kita sudah berputar-putar, Aoki kemana lagi?" tanya Justin sebab sedari tadi hanya berputar-putar.
Aoki menyelipkan anak rambutnya ke telinga. "Emm, sebenarnya Aoki juga bingung, Justin-sama, apa kita ke jembatan saja melihat bunga sakura lagi."
Justin melirik Jack yang terdiam seribu bahasa. Entah apa yang dipikirkan Jack. Pria itu lebih banyak melamun. "Jack!"
Lantas Jack menoleh, mengangkat satu alis matanya.
"Aoki mau ke jembatan lagi."
Jack menarik nafas panjang, karena sebenarnya dia keletihan harus berputar-putar lagi menemani wanita munggil ini. Sedari tadi, ia memikirkan Lunna. Sehari saja tak mendengar suara Lunna membuat hatinya hampa.
"Baiklah, setelah itu kita pulang."
Justin dan Aoki mengangguk, menyetujui perkataan Jack.
"Astaga, Aoki lupa." Kaki Aoki terhenti baru saja teringat jika kipas kayunya tertinggal di tempat membeli jajanan tadi.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Jack dan Justin serempak. Keduanya saling melemparkan pandangan sesaat.
"Itu... Mmm kipas kayu Aoki ketinggalan di tempat jajanan kita yang terakhir tadi," kata Aoki tak enak hati.
"Ya sudah, aku ambil dulu." Jack beralih menatap Yuri. "Yuri, temani Justin dan Aoki, aku akan menyusul, aku juga mau buang air kecil sebentar."
Ketiganya mengangguk. Jack bergegas menuju tempat tujuan.
***
"Haaaa!"
Dugh!
"Awh! Kau kenapa sih, Kris?!" Lunna melototkan mata sembari mengusap keningnya. Sebab Kristin memutar tubuhnya ke belakang tiba-tiba hingga membuat kening keduanya berbenturan.
"Ish, kau ini!" Tanpa banyak kata Kristin menarik tangan Lunna, menjauhi daerah tempat mereka sekarang.
"Kris, kau kenapa sih?!" Lunna membuka cepat kipas, mengayunkan kipasnya dengan pelan sembari memutar bola mata malas.
'Duh jangan sampai Lunna melihat Jack bersama seorang wanita! Ish Jack-Jack sangat menyebalkan! Kasihan sekali Lunna.'
"Kris, kenapa kita ke sini seperti anak kecil saja bermain petak umpet," gerutu Lunna.
"Hehe, kita lewat jalan sini saja." Kristin menuntun Lunna melalui jalan yang lain agar Lunna tak melihat Jack.
"Haaa?" Lunna melonggo kendatipun begitu tetap mengikuti langkah kaki Kristin.
Saat ini, Lunna dan Kristin telah tiba di jembatan yang menyuguhkan pemandangan bunga sakura. Mata Lunna dan Kristin enggan berkedip, berdecak kagum sesaat.
[ Sumber : Google]
"Wow, ini sangat keren, Kris! Ayo foto aku di sini! cepatan! Mumpung sekarang tidak terlalu ramai!" Lunna berpose ala-ala wanita Jepang. Tak lupa ia menampilkan wajah imutnya.
Setelah selesai berfoto-foto sembari mengagumi pemandangan di depan. Keduanya memutuskan membeli makanan di pusat jajanan. Lunna berjalan mendahului Kristin. Baru saja keluar dari jembatan. Ayunan kakinya terhenti karena kipas yang ia pegang terjatuh.
"Ish, pakai acara jatuh segala lagi!" gerutu Lunna sembari membungkuk secara bersamaan pula ikatan rambut Lunna terlepas hingga menerbangkan rambut panjangnya. Ia mengibaskan rambutnya bak iklan shampo pantene sejenak.
Beberapa meter dari Lunna. Jack memberengut kesal sebab Justin, Aoki dan Yuri sudah pulang, karena Aoki tiba-tiba sakit perut.
Setelah membaca pesan singkat. Ia menaruh ponselnya ke tempat semula, hendak memutar tumitnya namun tiba-tiba terhenti melihat di depannya, wanita yang sangat ia rindukan tengah merapikan rambut panjangnya yang tertiup angin sepoi. Secara bersamaan pula bunga-bunga sakura jatuh perlahan-lahan di atas kepalanya. Matanya berkedip pelan, berdecak takjub memandangi wajah Lunna yang semakin hari semakin bertambah cantik.
"Lunna, my baby...."
Seketika raut wajah Jack berubah drastis, melihat dua orang pemuda di sisi sana menatap Lunna tanpa berkedip juga. Kedua pemudanya itu senyam-senyum sembari menyikut satu sama lain sepertinya ingin meminta tanda tangan.
'Si@l! Dia pasti sengaja dandan cantik-cantik! Awas saja, baby, kau nakal, ya! Aku akan menghukumnya!' Dada Jack bergemuruh kuat menahan amarah.
__ADS_1