Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet

Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet
Tanda


__ADS_3

"Lunna," panggil Lily. Ia menyelenong masuk ke kamar Lunna. Melihat kondisi Lunna yang sedari tadi terlihat melemah. Dokter mengatakan Lunna sedang mengalami trauma atas kehilangan anaknya. Lily mengelus rambut panjang Lunna saat Lunna enggan menyahut atapun menoleh padanya.


"Nak, Mommy dan Daddy malam ini harus pergi kembali ke Indonesia. Adikmu Romeo ada masalah juga di sana, Mommy tidak akan lama ya," katanya tanpa menghentikan gerakan tangannya.


Lunna terdiam, enggan menyahut. Melihat reaksi Lunna. Lily menarik nafas pelan, sungguh dia sangat kecewa terhadap aksi Jack yang tega membunuh anaknya sendiri. Lily menerka-nerka apa ini aksi balas dendam Jack atas pembunuhan Daddynya dulu.


Dengan terpaksa Lily beranjak hendak kembali ke Jakarta sebab anak bungsunya dalam masalah besar. Ia sudah menitipkan pesan pada mertua dan Darla untuk sering-sering berkunjung ke kamar Lunna sekedar menghibur anak perempuannya itu.


"Nak, Mommy pergi dulu ya." Sebelum beranjak Lily melabuhkan kecupan di pucuk kepala anaknya kemudian berjalan perlahan ke ambang pintu.


'Kasihan Lunna, Jack kau benar-benar keterlaluan,"Lily berkata di dalam hati sembari memutar gagang pintu lalu melihat sekilas punggung Lunna.


Selepas kepergian Lily. Lunna mengubah posisi tubuhnya kemudian menatap nanar langit-langit kamarnya. Bayangan wajah Jack menghantui dirinya sedari tadi. Walaupun Jack mengatakan tak mencintai dirinya. Lunna tak bisa menaruh rasa benci pada Jack. Dia pun bingung sendiri bukan kah seharusnya dia dendam, marah, dan benci lalu mengapa sekarang dia semakin merindukan Jack. Beberapa menit lalu. Ada perasaan aneh melingkupi palung hatinya. Perasaan sakit dan takut akan sesuatu hal yang tidak ia tahu sendiri apa itu.

__ADS_1


Ia berharap bisa membenci Jack karena telah membunuh anak kandungnya sendiri. Lunna teringat lagi bayangan-bayangan perjumpaan dirinya dan Jack. Seulas senyum tipis terukir jelas diwajahnya. Seketika senyuman itu sirna menyisakan perasaan kecewa karena Jack tak bersungguh-sungguh mencintainya.


"Apa karena dendam, kau buta, Jack? Apa kau tidak dapat merasakan kalau kau juga mencintaiku?" Lunna teringat kala mendapatkan bunga Lily sewaktu di Jepang dari Jack. Ia memiliki feeling yang kuat jika Jack juga menaruh hati padanya tempo lalu. Namun tepat malam ini, dia dapat melihat sorot mata Jack teramat berbeda memandangnya. Seperti bukan Jack, pikir Lunna.


Lunna kembali meracau sendiri bernostalgia dengan pikirannya seolah-olah tengah berbicara bersama Jack. Ia berharap kejadian beberapa jam yang lalu hanyalah sebuah mimpi. Sedari tadi pula matanya mengeluarkan air, sungguh ia tak mampu membendung buliran air tersebut agar tak keluar.


"Mengapa aku harus jatuh cinta padanya? Seandainya saja perasaanku bisa dihilangkan sekarang juga... Atau kalau waktu dapat di putar aku akan memilih tidak mau menikahimu Jack, mengapa kau begitu tega padaku..." ucap Lunna dengan sesenggukan. Dada Lunna bergetar pelan. Orang yang ia sayangi satu-persatu pergi meninggalkannya.


Seketika kepala Lunna bergerak ke sisi kiri, melihat nakas di atas meja, sebuah figura Daddy dan Mommynya tersenyum sumringah menjadi titik fokus Lunna.


"Apa begini perasaan Darla pada Eslin, saat cintanya bertepuk sebelah tangan? Apa ini karma untukku, karena selalu mengejek Darla?"


Lunna teringat cerita cinta Darla yang kisahya begitu rumit dan aneh. Tentu saja aneh, rentang umur Darla dan Eslin sangat lah jauh. Sewaktu kecil Darla mulai menyukai Eslin dalam diam. Bukan kah Darla gila? Belum lagi kini Eslin sudah memiliki istri. Darla tetap menunggu Eslin, berharap pria itu menjadi duda.

__ADS_1


"Hah...." Lunna membuang nafas. Kemudian kembali berucap,"Iya, sepertinya ini karma, awas saja kau Darla aku tidak mau membeli semur jengkolmu la–" Perkataan Lunna terpotong baru saja menyadari tak bisa menolak kelezatan semur jengkol.


"Sudah lah, Darla kan tidak salah, aku yang salah...." Detik selanjutnya kamar Lunna begitu senyap dan sunyi. Lunna masih bergeming, menatapi foto orangtua kandungnya.


"Tunggu dulu." Lunna mengubah posisi badannya ke tempat semula. Matanya menatap lagi langit-langit kamar.


"Tato itu..." Lunna mengangkat punggungnya dengan cepat sekarang ia duduk di tempat pembaringan menatap lurus ke depan sembari memikirkan sesuatu. Matanya berkedip cepat dengan raut kebingungan terpatri jelas diwajahnya.


"Jack tidak memiliki tato..." Lunna baru saja sadar ketika menarik baju Jack sewaktu di bangunan kuno, melihat ukiran tato naga di bagian dadanya. Ia ingat betul saat bercinta bersama Jack tak melihat tanda tersebut dan memang selama ini tidak ada. Tidak mungkin Jack mengukir tato itu dalam waktu yang begitu singkat.


Kedua bola mata Lunna terbelalak menyadari bau badan Jack teramat berbeda ketika di bilik itu ada bau asap di sekujur tubuhnya. Dia tentu saja mengetahui aroma khas dari tubuh pria yang dia cintai. Dan satu fakta lagi jika Jack tak bisa merokok. Lunna pernah bertanya langsung pada Jack tempo lalu. Pria itu mengatakan tak menyukai bau asap dan Yuri pun membenarkan hal tersebut.


"Apa Jack memiliki saudara kembar? Kalau memang iya berarti..." Lunna beranjak kemudian berjalan tergesa-gesa ke ambang pintu. Lalu mengedor-edor pintu dengan kuat.

__ADS_1


"Grandpa! Buka pintunya! Itu bukan Jack, itu kembarannya! Grandpa!"


__ADS_2