
Justin berjalan cepat masuk ke dalam mansion miliknya. Nampak setangkai bunga berwarna putih bertengker di tangan kanannya. Pria itu teramat senang akhirnya terbebas dari jeratan Sensei. Kemarin ia mendapati Sensei meninggal di kamarnya. Justin sontak terkejut siapa yang berani membunuh Sensei. Akan tetapi dia merasa sedikit lega setidaknya tak ada lagi yang mendoktrin dirinya. Kemarin untuk pertama kalinya dia bahagia karena Mommy-nya memperlakukan dirinya seperti dahulu kala.
Erika juga menasehati Justin agar bertobat dan berubah menjadi lebih baik. Dia juga meminta maaf kepada Justin perihal perilakunya selama ini pada anaknya itu. Justin pun setuju dan meminta maaf juga atas sikapnya terhadap Mommynya. Dia akan berusaha bertobat dan melepaskan diri dari lingkaran hitam.
Tak lupa Justin mengembalikan jasad Sensei ke Jepang dan mengatakan seseorang telah membunuh Sensei. Ia akan mencari si pelaku. Dan dua hari dari sekarang ia berencana kembali ke Jepang hendak meminang Aoki untuk dijadikan istrinya. Namun sebelum pergi dia ingin memberikan Jack kejutan kecil dengan menganggu adiknya itu.
"Mozzy, di mana Mommy?" tanya Justin pada tangan kanannya.
"Nyonya Erika sedang minum secangkir teh di ruangan atas Tuan." Mozzy yang sudah berumur cukup tua mempersilahkan Justin menaiki lift agar lebih cepat sampai.
"Hm, aku ingin naik tangga saja, hitung-hitung olahraga, kata Mommy aku harus rajin berolahraga agar paru-paruku kembali sehat," sahut Justin dengan tersenyum tipis. Membuat Mozzy juga menebarkan senyumannya manakala mendengar perkataan Justin barusan. Pria berperawakan tinggi itu mempersilahkan Justin berjalan menuju tangga di sisi kanan.
"Aoki di mana?" tanya Justin sembari menapaki tangga demi tangga.
Mendengar perkataan Justin. Seketika raut wajah Mozzy begitu dingin. "Saya kurang tahu Tuan," katanya datar.
__ADS_1
Dahi Justin berkerut samar, melihat ekspresi Mozzy berubah. Secara bersamaan pula langkah kaki Justin terhenti. Lalu berkata,"Kau kenapa Mozzy? Katakan apa yang ingin kau ungkapkan, mengapa kau sepertinya membenci Aoki?" tanyanya keheranan. Pria itu tentu saja dapat melihat pancaran mata Mozzy yang tak menyukai Aoki.
"Membenci? Untuk apa aku membencinya Tuan, saya hanya tidak suka. Dia bukan lah wanita yang baik untuk anda, saran saya anda pikir ulang untuk melamar Aoki. Dan lebih baik berhati-hati lah dengannya."
Hening sejenak.
Justin menatap datar Mozzy tanpa menunjukan ekspresi sedikitpun. "Pfftt! Hahaha! Kau ini ada-ada saja Mozzy. Oh come on, bisa apa Aoki, dia hanya lah wanita lemah. Sudah, jangan membuat lelucon," sahutnya dengan tertawa lepas.
Mozzy mendengus pelan mendengar perkataan Justin. Pria itu menatap datar punggung Justin menghilang di ujung sana.
"Mommy!"
"Mom!" panggil Justin sembari meletakkan bunga di meja tempat Mommynya menaruh teh. Seketika perasaan Justin tak menentu. Apalagi pembunuh Sensei belum juga ketemu bisa saja masih berkeliaran di mansion. Seharusnya dia menempatkan pengawal untuk menjaga Erika jika berada mansion. Tapi Erika kekeh menolak perintah anaknya itu.
"Mom!" Kali ini Justin berjalan dengan cepat menelisik keberadaan Erika. Tak mau menerka-nerka ia segera menyambar ponsel hendak menelepon Mozzy. Akan tetapi sebelumnya menelepon malah Mozzy yang menghubunginya duluan. Dengan cepat Justin mengusap layar ponsel.
__ADS_1
"Hallo, Mozzy, Mommyku tidak ada di sini! Di mana dia?!"
"Tuan, Mommy anda di dapur. Dia tadi melihat seseorang di lantai empat. Nyonya–"
Sebelum Mozzy menyelesaikan ucapannya. Justin memutuskan sambungan telepon dan bergegas ke dapur dengan memakai lift khusus.
"Mommy!"
Melihat sang anak berlarian menghampirinya. Erika terkulai lemas di lantai. Nampak keringat dingin didahinya.
"Mommy, kenapa? Siapa yang Mommy lihat di atas? Mommy tidak apa-apa Kan?" tanya Justin penasaran sembari memeluk Mommynya dan mengusap punggung Erika yang bergetar kuat.
"Justin.. Lebih baik kita..."
Deg.
__ADS_1