Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet

Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet
Bala Bantuan


__ADS_3

Kediaman Harlow


Erika tergugu, melihat Justin mengharapkan sesuatu darinya. Dengan cepat ia memalingkan mukanya tak mau menatap bola mata Justin yang memiliki pancaran mata mirip seperti Jeff, mendiang suaminya itu. Jauh di lubuk hatinya terdalam ada rasa rindu dan rasa kecewa kepada Jeff namun semuanya tertutup oleh ego Erika yang berapi-api. Ia mendoktrin dirinya sendiri karena ulah sang suami kehidupannya berubah drastis.


Suasana begitu canggung. Justin mengubah ekspresi wajahnya kemudian memutus kontak mata. "Anakmu aku siksa sama seperti kau menyiksaku dulu!" katanya dengan menoleh ke arah Sensei yang baru saja menyembul dari ruangan lain.


Deg.


Erika membeku di tempat sesaat mendengar perkataan Justin barusan.


Membungkuk sedikit. "Sensei, Jack sudah ku siksa sesuai perintahmu!" sahut Justin datar.


"Bagus," ucap Sensei dengan seringai licik diwajahnya.


"Apa yang kalian lakukan pada anakku ha?!" Erika membuka suara memandang Justin dan Sensei secara bergantian.


Justin dan Sensei enggan menyahut. Keduanya malah tersenyum sinis menanggapi perkataan Erika.


"Kenapa kalian diam! Buka pintunya, aku mau melihatnya?!" Perasaan Erika sangat tak karuan sekarang. Ia dapat merasakan Jack dalam marabahaya.


"Sensei!!!" Erika berteriak di depan wajah Sensei. Membuat pria tua itu mengangkat satu tangannya ke udara. Reflek Erika menutup kedua matanya.


Plak!!!


'Kenapa tidak terasa?' Batin Erika. Dengan perlahan ia membuka kelopak matanya.


Erika menatap nanar punggung Justin yang berada di depannya. Ternyata tamparan itu mengenai Justin.


"Mengapa kau menghalangi ku Justin?!!" murka Sensei kemudian mendorong pundak Justin.


Justin terhuyung ke belakang sejenak. Hingga tanpa sadar Erika memegang tubuh anaknya. Jantung wanita itu mencelos melihat keberanian Justin.


Justin mendengus sesaat kemudian berkata,"Jangan menyakiti Mommyku lagi!"


"Kau!! Berani melawanku ha?!" Sensei hendak melayangkan tamparan lagi.


"Cukup Sensei jangan sakiti anak-anakku! Aku yang salah! Tampar saja aku!" Erika berkata dengan tegas.

__ADS_1


"Mom..." ucap Justin begitu lirih mendengar sebuah kalimat yang ia rindukan sedari dulu.


"Hahaha! Sudah berani kalian ya! Cih, sekali sampah tetap saja sampah, kau tidak tahu berterimakasih Erika. Cih malam ini kalian selamat dariku!" Sensei tersenyum sinis kemudian berlalu pergi meninggalkan Justin dan Erika.


Selepas kepergian Sensei. Suasana begitu hening di koridor. Pikiran Erika melanglang buana membayangkan apa yang dilakukan Justin pada adiknya itu. Berbeda dengan Justin. Pria itu menatap sendu pada ibunya yang sedang melamun.


'Di pikiran mu hanya ada Jack, sementara aku tidak ada...'


"Kenapa kalian di sini?" Yuri baru saja tiba di mansion. Selama berkerja Yuri sangat tak tenang. Entah lah dia tiba-tiba memikirkan Jack. Akibat kesibukannya di kantor. Akhir-akhir ini Yuri jarang bertemu Jack. Ia tentu saja curiga dengan Justin dan Sensei sengaja membuatnya sibuk.


"Jack ada di dalam Yuri," kata Erika mendekati Yuri yang nampak kelelahan.


Dahi Yuri berkerut hingga tiga lipatan, lalu bertanya,"Tuan Jack kenapa di dalam ruang rahasia?" Ia melemparkan pandangan pada Justin. Alih-alih menjawab Justin malah melenggang pergi.


"Tuan Jack, tidak apa-apa, Kan?" tanya Yuri kepada Erika.


"Aku tidak tahu, Yuri. Aku mendengar jika Jack tadi kabur dan pergi bersama anaknya Leon. Yuri katakan padaku, apa Jack mencintai wanita itu? Hingga dia berani melanggar perintah Sensei?" tanya Erika penasaran.


Sebelum berucap, Yuri menarik nafas panjang, kemudian menggerakkan kepalanya ke segala arah, melihat situasi disekitarnya.


***


"Mati kau!" desis seseorang kemudian menghunuskan pedang tepat di dada pria berambut putih itu.


Jleb.


"Argh! Kau.." Mata Sensei terbelalak melihat siapa yang membunuhnya. Satu tangannya terulur hendak membalas namun detik selanjutnya hanya hembusan nafas pendek yang terdengar sebab pedang tersebut menikam tepat di jantungnya.


"Itu lah akibatnya Sensei karena telah berurusan dengan diriku," desisnya pelan dengan tersenyum licik.


Dor!


Dor!


Dor!


Terdengar bunyi tembakan di luar sana. Begitu mendengar bunyi keributan. Sosok itu bergegas keluar sembari melempar jubah hitamnya.

__ADS_1


"Si@l, hampir saja," katanya dengan mendengus kasar.


**


"Jack, lari lah nak! Yuri bawa Jack pergi!" sahut Erika sembari menondongkan pistol ke arah Justin yang tengah melihat Jack sedang di papah Yuri menuju helikopter yang di dalamnya ada Kristin dan seorang pilot.


"Akan ku bunuh kalian semua! Mozzy! Jangan biarkan mereka lolos, jangan tembak Mommy ku!" sahut Justin memerintahkan pria berkulit hitam yang disinyalir tangan kanannya.


Begitu mendengar titah dari Justin. Pria berkulit hitam memerintahkan teman-temannya menembak ke arah Jack dan Yuri namun dengan sigap Yuri mengeluarkan pedang samurainya dan menghalau timah panas dengan memutar-mutar pedangnya. Sedangkan Jack menghalangi Mommynya yang tadi tak sengaja terkena peluru di bagian kaki. Pria itu nampak bersimbah darah akan tetapi dia tak peduli. Sekarang waktunya pergi dari sini dan bertemu Lunna secepat mungkin. Berkat bantuan Mommynya dan Yuri ia bisa keluar dari ruang rahasia.


Cling!


Cling!


Cling!


Entah dari mana datangnya. Dua orang berpakaian serba hitam ikut membantu Yuri.


"Siapa kalian?" tanya Yuri di sela-sela permainan pedangnya. Meski dia sedang di serang. Ia menebak jika ninja dihadapannya tak asing.


"Orang yang telah kau selamatkan," katanya sembari melemparkan senjata kecil ke arah pria yang berjarak beberapa meter darinya.


"Abe-chan, kita tidak punya banyak waktu, ayo kau bawa Tuanmu dan wanita tua itu naik ke helikopter," sahut seseorang seperti suara wanita kepada Yuri.


Tak mau menunda-nunda Yuri memapah Jack sedangkan dua ninja itu menjadi tameng mereka. Namun saat menyuruh Erika untuk naik ke helikopter. Erika menolak beralasan harus menemani Aoki di sini. Ia tak mau meninggalkan Aoki seorang diri. Dengan berat Erika melepaskan kepergian Jack.


"Titipkan salam Mommy pada calon menantu, Mommy," sahut Erika.


Ketika mendengar cerita dari Yuri tentang Jack yang mencintai wanita anak musuhnya. Ia baru menyadari telah membuat Jack tersiksa untuk kesekian kalinya. Begitu pula dengan Justin. Wanita itu menurunkan egonya sejenak. Walaupun sampai saat ini dia tak tahu bagaimana rupa anak Leon. Dia hanya berharap Jack dapat bahagia bersama pasangannya. Erika berencana akan memohon pada Sensei untuk membatalkan perjodohan.


"Mozzy siapkan helikopter!!!" teriak Justin sembari menatap helikopter Jack menjauh dari mansion.


"Stop, Justin! Biarkan adikmu pergi!" Erika merentangkan kedua tangannya agar Justin tak mengejar adiknya itu.


"Haha! Never! Dia tak boleh bahagia selama kau tidak pernah memberikan apa yang aku inginkan!"


Justin menyentak kasar tubuh Erika kemudian masuk ke dalam mansion bersiap-siap untuk mengejar Jack. Erika meringis pelan mendapatkan perlakuan kasar dari Justin.

__ADS_1


"Nak, Mommy mohon," katanya membuat Justin menghentikan langkah kakinya.


Deg.


__ADS_2