
Media masa di negeri paman Sam menayangkan video amatir berdurasi satu menit itu. Sedari tadi, Lunna terpaku di tempat, melihat tayangan di televisi. Cukup lama dia mematung, tak menghiraukan sumpah serapah yang terlontar dari bibir Daddy dan Grandpa-nya.
Darla menelan ludah kasar, mengamati ekspresi Lunna yang datar. Ia menggeram di dalam hati sebab tak dapat menebak isi pikiran Lunna yang terkadang di luar nalar. Darla mengutuki Jack sebab akan meruntuhkan impian Lunna dalam sekejap mata atas perbuatan tak terpujinya itu.
Berbeda dengan Lily. Wanita yang menganggap Lunna sebagai putri kandungnya itu menarik nafas pelan. Berharap sang putri dapat sabar karena pria yang telah dia cintai tega mengkhianatinya.
Lunna masih bergeming. Menatap lurus ke depan.
"Hahahaha!" Seketika tawa terdengar memenuhi ruang tengah.
Semua orang yang berada di ruangan, terdiam mendengar suara tawa Lunna seakan mengejek.
Alih-alih marah dengan video yang disuguhkan di depan. Lunna malah menoleh ke arah Leon dan Simon secara bergantian. "Apa ini tak tik kalian?!"
"Apa maksudmu, Lunna?" tanya Simon dan Leon serempak.
"Aku tidak bodoh, sebentar lagi aku akan menikah, jadi kalian merekayasa video dengan membuat citra Jack buruk, Kan dihadapanku?" Lunna mendengus kemudian melipat tangan di dada, menampilkan wajah angkuhnya.
Mereka semakin keheranan terhadap respon Lunna barusan.
"Rekayasa?" tanya Leon mulai tersulut emosi, melihat pancaran mata Lunna menyiratkan kemarahan terpendam, belum lagi sikap Lunna teramat berbeda.
"Iya, rekayasa, kalian berharap aku marah pada Jack. Aku tentu saja tahu jika Daddy dan Grandpa adalah orang yang licik dan akan melakukan segala macam cara untuk mendapatkan apa yang kalian inginkan!"
"Jaga ucapanmu, Lunna Andersean?!" Leon menghampiri Lunna, menatap sang anak begitu tajam.
"Apa Daddy mau menamparku lagi?!" Lunna mendekatkan pipinya. "Ayo cepat tampar aku seperti kemarin!"
Leon tergugu, mengingat kejadian kemarin ketika ia tak bisa mengendalikan anggota tubuhnya.
__ADS_1
Suasana di dalam ruangan mencekam. Aura yang menguar dari tubuh Lunna sangat berbeda seperti bukan dirinya. Wanita itu juga tengah meredam dadanya yang bergemuruh kuat tadi. Semula ia berang melihat video Jack dan Eve yang sedang bergandengan tangan begitu mesra layaknya pasangan kekasih namun saat meneliti dan mengamati video di depan. Lunna sedikit janggal.
"Tidak mungkin Jack memakai jas berwarna abu-abu! Aku masih ingat betul semua warna pakaian dan dasi di lemarinya adalah warna biru dan warna hitam! Aku ingat! Karena dia suamiku! Aku yang menyiapkan keperluannya!"
"Tapi kalian sudah bercerai–"
"Iya, kami memang sudah bercerai secara hukum, tapi walaupun status kami sudah bercerai aku tetap menganggapnya suamiku! Kalaupun aku menikah dengan Brian nanti! Jiwaku hanya milik Jack Harlow! Hatiku pun hanya miliknya! Hanya miliknya!!"
Nafas Lunna memburu. Sampai saat ini ia masih menganggap Jack adalah suaminya sampai kapanpun itu.
Leon seketika bungkam. Melihat sorot mata Lunna seperti mendiang Marvin yang tengah bucin alias tergila-gila pada Leticya sewaktu itu. Pria itu memundurkan langkahnya perlahan.
"Asal Daddy tahu, Jack adalah orang yang bertindak hati-hati. Dia tak mungkin menggandeng seorang wanita di depan publik secara terang-terangan. Satu hal yang Daddy harus tahu! Jack tidak pernah merokok!"
Pasalnya video yang ditampilkan Jack dan Eve berada di restaurant, makan berduaan, berpegangan tangan satu sama lain alu Jack juga menghirup sepuntung cerutu atau rokok. Lunna teringat ketika insiden membeli es krim gelato. Saat orang merekam video dirinya di gendong paksa seperti karung beras. Ia mendengar dari Yuri, Jack memerintahkan padanya untuk menyuruh orang-orang di cafe agar diam dan mengatakan antara dirinya dan Jack hanya lah sebatas atasan dan bawahan yang berkerja di agensi. Belum lagi sebuah fakta, Jack tidak merokok membuat Lunna yakin video tersebut hanyalah rekayasa.
"Tapi Lunna, aku pernah melihat Jack bersama–" Kali ini, Darla memberanikan diri membuka suara. Dia kurang setuju dengan perkataan Lunna yang mengatakan Uncle dan Grandpa-nya merekayasa video. Sebab kemarin dia melihat secara langsung Jack dan seorang wanita yang disinyalir model di naungan agensi Sugar Entertainmant berjalan bermesraan.
"Bukan begitu, Lun! Aku hanya mau menyampaikan kebenaran, video itu memang benar," kata Darla kemudian mendekati Lunna, dan menyentuh pundaknya.
Lunna berdecih sesaat. "Jadi, kau tidak mempercayaiku?!"
"Aku mempercayaimu, Lun. Aku tak ingin kau terluka," sanggah Darla menatap lekat Lunna.
"Terluka?" Terkekeh kecil sejenak. "Cih, kalian mengurungku di sini, sudah membuatku terluka terlalu dalam! Sudah lah, aku malas berdebat! Kalaupun kalian mau menikahkan ku dengan Brian. Whatever! Aku menolak pun percuma! Aku mau ke kamar. Permisi," pungkas Lunna kemudian menurunkan tangan Darla, memutar tumitnya lalu berjalan dengan anggun menuju kamarnya.
Selepas kepergian Lunna. Semua terpaku di tempat. Simon menarik nafas panjang manakala Lunna bukanlah cucu munggilnya lagi. Lily mengusap dada Leon menenangkan sang suami yang nampak syok dengan perkataan Lunna.
Hening!
__ADS_1
Kamar Lunna.
Saat ini, Lunna meringkuk di tempat tidur memegangi figura foto orangtua kandungnya. Matanya sudah berembun, melihat foto Daddy dan Mommynya tengah bergandengan tangan di hari pernikahan mereka. Lunna teringat dengan foto yang terpampang di ruang rahasia Jack di mansion sana, ternyata wanita yang bersama Leon adalah Mommy-nya. Semalam, Lunna mendapat foto orangtua kandungnya dari Lily.
"Mommy, Daddy... Apa aku tidak boleh bahagia sedikitpun, sekarang ada seseorang yang sangat aku cintai namanya Jack Harlow. Dia akan menjadi seorang Daddy, aku berharap dia baik-baik saja di sana, aku berharap dia tak lupa makan dan minum, karena aku tahu dia sangat mudah melupakan jam makannya. Aku merindukannya, Mom, Dad, jaga dia untukku dan bayiku..." ucap Lunna lirih. Dada Lunna bergetar pelan sambil mengusap-usap figura di tangannya. Tanpa sadar tetesan air mata menerpa foto tersebut.
Lunna menangis dalam diam, berharap semua ini hanya lah mimpi.
"Jack, datang lah padaku, bawa aku lari, ada makhluk kecil di dalam tubuhku saat ini. Aku merindukanmu, aku mencintaimu..." Kelopak mata Lunna mulai mengatup perlahan. Dia lelah akan semua tekanan yang diberikan keluarganya saat ini.
*
*
*
"Hoek, hoek, hoek, Yuri..."
Jack baru saja memuntahkan isi makanan untuk ke sekian kalinya. Pria itu terduduk lemas di dekat closet dengan keringat bercucuran.
"Si@l! Aku lupa Yuri pasti ke kantor bersama Justin. Mengapa aku selalu muntah? Apa aku salah makan, bukannya kemarin Yuri menganti obat yang diberikan Sensei dan Justin dengan cairan vitamin."
Jack menarik nafas pelan. Sekelabat bayangan percintaan Lunna di kamar mandi menari-nari dibenaknya.
"Baby, walaupun kau tak di sini, tapi kau selalu ada pikiranku, apa yang kau lakukan di sana, Baby? Awas saja dia dekat-dekat Brian! Atau pria lain, akan ku cabik-cabik dia!" Seketika nafas Jack memburu jika membayangkan Lunna berselingkuh.
"Ayo lah Jack, kau harus memikirkan cara agar bisa kabur dari sini, ini demi Lunna!" Jack berseru dengan berdiri tertatih-tatih.
"Baby, awas saja kau! Kalau kau sudah bersamaku, aku kurung di dalam kamar," desis Jack pelan. Saat ini, dia sudah berada di tempat tidur, merebahkan badannya dengan posisi menyamping. Tangannya mengelus-elus sisi kiri yang biasa di tempati Lunna.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, aku merindukanmu, tunggu aku, Baby!"