
Malam menyapa. Jack masih berada di ruangan khusus menjalani masa pemulihannya. Saat ini Jack ditemani Sahara.
Bagai pucuk ulam pun tiba Lunna teramat gembira sebab rencananya untuk masuk ke dalam ruang rahasia Jack akan segera tercapai. Dia sudah mempersiapkan matang-matang jika terjadi sesuatu yang tak sesuai prediksinya. Bukan apa, mengingat Jack jiwanya seperti orang psikopat. Jika sampai ketahuan mungkin dia akan kembali terluka.
Saat ini, Lunna baru saja selesai menyantap makanan yang dimasaknya sendiri. Semenjak insiden sakit perut tengah malam karena makan masakan Sahara. Lunna enggan menyantap makanan yang disuguhkan Sahara.
Setelah menyeka mulut dengan tisu. Ia bergegas mengunjungi Jack ingin mengetahui apa pria itu sudah tertidur atau belum. Dengan anggun ia berjalan menuju ruangan Jack. Begitu sampai di ambang pintu, langkah kaki Lunna terhenti saat mendengar samar-samar suara Jack dan Sahara sedang berbicara.
"Tuan, mengapa anda menyuruh Lunna tidur di kamar Tuan? Bukankah lebih baik Lunna tidur dikamarnya saja," kata Sahara dengan nada rendah.
"Kenapa kau mengaturku!? Kau hanya budakku di sini!" Suara Jack terdengar meninggi.
'Iya benar, hanya budak, tapi berasa Nyonya,' Lunna berkata di dalam hati sembari mengerlingkan mata sesaat.
"Maaf, Tuan. Saya hanya menyampaikan pendapat saja," kata Sahara dengan suara yang terdengar pilu.
"Aku tidak butuh pendapatmu! Lebih baik kau pergi sana, aku ingin beristirahat!" Jack berseru cukup nyaring. Begitu mendengar perkataan Jack, Lunna melangkah cepat memasuki ke kamar.
Sahara menegang saat melihat Lunna menyelenong masuk tanpa mengetuk pintu sekalipun. Sedangkan Jack melayangkan tatapan datar tanpa ekspresi.
Lunna mendengus lalu berkata,"Kenapa kau terkejut? Aku tidak boleh ke sini?" Lunna melipat kedua tangannya di dada.
Bukannya menjawab, Sahara malah melenggang pergi dengan raut wajah yang tak bisa terbaca. Lunna mengerutkan dahi melihat gelagat Sahara. Ia pun tak mau ambil pusing.
Kini, Jack dan Lunna saja yang berada di ruangan. Lunna beralih menatap Jack. "Kau masih tidur di sini, Kan?" tanya Lunna dengan wajah angkuh.
Jack tak langsung menjawab. Ia nampak berpikir sesaat. "Iya, aku masih tidur di sini, kenapa? Kau mau kentut lagi?"
Lunna terkekeh kecil, lalu berdecih. "Kalau diizinkan boleh," katanya tersenyum sinis.
"Pergi saja kau sana! Dasar wanita aneh!" Jack mendengus, merebahkan diri di tempat tidur dengan posisi menyamping.
"Haha, baiklah Mr.Harlow," kata Lunna.
'Haha, mampus kau! Sekarang kalau kau berani macam-macam denganku. Aku kentutin lagi bilaperlu sampai kau mati!'
Setelah memastikan Jack akan tertidur di ruangan itu, Lunna melengang pergi meninggalkan Jack.
*
__ADS_1
*
*
Waktu menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh lima menit. Lunna akan berencana masuk ke ruang rahasia Jack di saat semua penghuni mansion tertidur pulas.
Kini, Lunna sudah selesai mengikat rambutnya. Wanita itu memakai pakaian serba hitam. Ia merapikan kaos lengan panjang model turtleneck yang menutupi seluruh lehernya.
Degup jantung Lunna sangat kencang memikirkan apa yang akan ia dapati di dalam ruangan nanti. Sebab kali ini misi Lunna sangat membahayakan dirinya.
"Semoga saja aku mendapatkan petunjuk, aku penasaran Jack ada dendam apa padaku?" Lunna berbicara sendiri.
Yaps, setelah kejadian kemarin Lunna merasa Jack memiliki dendam pribadi padanya. Akan tetapi Lunna juga tidak tahu dendam apa yang dimiliki Jack. Jika Lunna pikir-pikir ia baru pertama kali bertemu Jack di Los Angeles. Dan Lunna juga baru menetap disini kurang lebih satu tahun setengah. Selebihnya ia lama tinggal di Finlandia.
Selama ini, Lunna hanya memiliki dua orang musuh yaitu mantan pacar dan sahabatnya dahulu ketika di bangku kuliah. Kisah cinta Lunna kandas karena hadirnya orang ketiga, yaitu sahabatnya sendiri. Pikiran Lunna menerawang sesaat. Ia menggeleng pelan, lalu menarik nafas panjang. Lunna menatap refleksi wajahnya di cermin.
"Ayo semangat Lunna." Ia beranjak, kemudian mengambil senter kecil dan tongkat basseball di meja rias.
*
*
*
Bunyi dentingan jam berukiran kayu di ruang tamu mengarah ke angka dua belas. Dengan perlahan Lunna berjalan menuju ruang rahasia Jack sembari menengok ke atas dan disekitarnya agar tak terdeteksi kamera CCTV. Sebab kamera Jack jika di malam hari akan bergerak-gerak ke segala arah. Kaki polos Lunna merasa dingin saat menapaki lantai porselen itu. Ia memilih bertelanjang kaki, karena tak mau membuat keributan di malam hari.
Tak butuh lama, Lunna berdiri di ambang pintu ruang rahasia Jack. Senter kecil yang tersampir di belakang celananya ia raba-raba sesaat. Kepala Lunna celingak-celinguk memastikan keadaan sekitar, kemudian ia memindahkan tongkat baseball-nya ke tangan kiri.
Tangan kanan Lunna terulur menekan tuas di patung burung merak.
Push.
Lunna tertegun kala pintu mulai terbuka. Sekarang, degup jantungnya berdetak lebih dari 10.000 kali. Lunna membuang nafas sesaat, lalu menoleh ke belakang, ke kanan, ke kiri dan ke atas. Dengan perlahan kaki Lunna berayun.
Deg.
Lunna terpaku saat ia masuk pintu tertutup otomatis.
'Si@l! Kenapa aku baru ingat, ah sudah lah nanti saja.' Batin Lunna berperang memikirkan nasib bagaimana caranya keluar.
__ADS_1
Lunna menelisik keadaan di dalam ruangan. Ruangan begitu besar dan luas. Walaupun cahaya lampu remang-remang. Ia dapat melihat di setiap dinding dipenuhi berbagai lukisan aneh, ada lukisan binatang, lukisan tumbuhan yang Lunna sendiri tak tahu tumbuhan apa, dan terdapat sebuah lukisan besar' menampakkan seorang wanita berwajah cantik tengah duduk dengan raut wajah datar tanpa ekspresi sedikitpun.
Lalu ada meja kayu, lemari buffet, dan berbagai macam furniture diletakkan di setiap sudut ruangan. Lunna mengernyitkan dahi sejenak, mengapa di bagian tengah dikosongkan apakah sengaja? Entahlah, tak mau menunda-menunda. Lunna bergegas menuju lemari buffet. Dengan cepat ia membuka setiap furniture yang nampak dipelupuk matanya.
Lunna mendesah kasar, ternyata semua lemari kosong! Tak ada isinya sama sekali.
'Si@l!' Umpat Lunna dalam hati sambil mengigit jari kukunya. Tanpa sengaja ekor matanya melihat satu lemari kecil di sisi kanan yang berbeda bentuk dan warnanya. Ia berjalan cepat lalu membuka lemari itu.
Kedua mata Lunna membola melihat sesuatu di dalam lemari. Satu tangannya terulur hendak menggapai benda itu namun pergerakkan tangannya terhenti kala mendengar suara pintu terbuka di sisi sana.
Deg.
Lunna panik bukan main dengan cepat menutup lemari. Tanpa pikir panjang membungkukkan badan dan bersembunyi di bawah meja berukiran kayu di dekat lemari.
"Tuan, suka sekali bermain di sini!"
Lunna tercengang, saat mendengar suara Sahara tengah berbicara dengan seseorang. Yang dapat dipastikan pria itu adalah Jack. Siapalagi coba, pikir Lunna. Yuri? Tidak mungkin.
Kedua mata Lunna memicing melihat kaki Sahara dan kaki seorang pria saling mendekat di tengah ruangan.
Pria itu tak membalas ucapan Sahara hanya menggeram rendah, lalu tiba-tiba terdengar suara ecapan-ecapan masuk ke gendang telinga Lunna.
"Ah Tuan," kata Sahara lagi. Dapat Lunna pastikan Jack dan Sahara tengah bercumbu mesra.
'Cih, menjijikan!' Lunna bermonolog di dalam hati.
"Shftt."
"Ada apa Tuan?"
Seketika peluh keringat memenuhi kening Lunna saat kaki Jack melangkah mendekatinya. Satu tangan Lunna terulur dan membekap mulutnya sendiri.
"Kenapa Tuan?" tanya Sahara. Suara wanita itu terdengar kebingungan.
Tak ada sahutan dari Jack. Lunna menelan saliva kasar tatkala hentakan kaki Jack semakin mendekat dan berhenti tepat di meja tempatnya berada sekarang. Secara bersamaan pula Lunna merasakan gejolak di dalam perutnya. Ia mengigit bibir bawahnya seketika.
'Si@l, hei perut berkerjasama lah, aku mohon JANGAN KENTUT!!!'
Lunna berteriak di dalam hati, sampai-sampai satu tangannya terkepal kuat agar tidak mengeluarkan gas beracun di saat waktu yang tidak tepat SAMA SEKALI!
__ADS_1
'Semua gara-gara Jack-Jack! Ini pasti efek samping makan semur jengkol! Argh!!!'