Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet

Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet
Lunna Dilema


__ADS_3

Esok harinya. Di sebuah kamar yang didominasi dengan dinding cat bewarna putih, nampak seorang wanita menatap tajam pada selembar foto pria' berukuran besar di tembok. Kedua matanya tak bergeming, masih melihat dengan seksama. Tatapan matanya menyiratkan kebencian mendalam. Dengan cepat dia berjalan ke depan, kemudian mencoret-coret foto menggunakan spidol hitam.


"Aku membencimu, Jack-Jack!"


Lunna berteriak nyaring memenuhi seluruh penjuru ruangan kamar. Dia berang karena semalam mendapatkan kiriman video beraknya dari nomor tak dikenal.


Semula, dia mengira bahwa Jack hanya menggertak. Namun, pupus semua harapannya, saat menonton video beraknya sendiri. Dia menangis tersedu-sedu, saat menyaksikan video berdurasi satu jam itu, menampikkan dirinya tengah membuang emas dengan bunyi kentut bersahut-sahut, dan bunyi emas itu jatuh tepat di kloset seperti bunyi batu di lempar ke air.


Belum lagi, dokumen nikah kontrak dikirimkan melalui pos atas nama pengirim Jack Harlow. Sejak semalam pula, dia tak bisa tidur hingga menjelang pukul dua dini hari. Dia baru bisa tidur tepat pukul tiga pagi, itu pun bayangan wajah Jack yang menyebalkan terlintas dibenaknya.


"Argh!"


Lunna mencak-mencak sembari mengacak rambut panjangnya. Lalu melangkah ke arah tempat tidur, kemudian menyambar bantal. Dan melemparkan bantal tepat di foto Jack.


"Haaaaaaaaaaa!"teriak Lunna lagi, frustrasi.


Brak!


Dentuman bunyi pintu, menghentikan gerakan tubuh Lunna. Wanita itu beralih menatap ke ambang pintu, melihat Kristin menatap heran dengan mulut terbuka sedikit.


Lunna mendengus, kemudian duduk di tepi ranjang sambil bersidekap.


"Lunna, kau kenapa?" tanya Kristin sambil memperhatikan kamar seperti kapal pecah.


"Aku sedang mengalami turbulensi!" sahut Lunna ketus.


"Whats?! Maksudnya? Aku tidak mengerti," kata Kristin lalu ekor matanya tak sengaja melihat sebuah foto pria yang sangat dikenalinya menempel di dinding.


Lunna enggan menyahut, memalingkan muka ke samping, menahan gejolak amarahnya yang siap diledakkan sekarang jua.


"Astaga, Lunna apa yang lakukan dengan foto Jack?" Kristin mendekat dan mengamati foto Jack yang nampak acak-acakkan. Di kedua pipi Jack di coret tiga garisan, gigi Jack berwarna hitam dan terlihat ompong jadinya di pengelihatan Kristin.


"Menurutmu? Gara-gara dia aku terguncang seperti pesawat terbang yang mengalami turbulensi! Jadi, aku mencoret-coret foto jeleknya itu!" Lunna mengibaratkan dirinya sebagai sebuah pesawat terbang yang mengalami guncangan di atas langit.


Kristin menghela nafas, lalu beralih menatap Lunna. "Lun, memangnya gara-gara apa?" tanya Kristin karena dia memang tidak tahu apa yang terjadi sejak semalam.


Lunna mendengus. "Dia mengirimkan video berakku! Lalu mengancamku dengan mengirimkan pesan sebanyak 1000 kali 'Lunna jika kau tak menuruti perkataanku dapat aku pastikan, videomu akan tersebar di seluruh penjuru dunia', begitu katanya!" sahutnya mengebu-gebu.

__ADS_1


Nafasnya tersengal-sengal sesaat. Lalu kembali berkata,"Kenapa harus aku?! Kenapa harus video berakku! Kenapa?! Aku trauma mau berak, Kris!" Mata Lunna mulai berkaca-kaca, dia menahan diri untuk tidak menangis.


Kristin menepuk cepat keningnya, kala meratapi kemalangan Lunna. Sebab dia tahu prinsip Lunna. Lunna adalah wanita yang menginginkan kebebasan dan tak mau di atur. Dia enggan menanggapi ucapan Lunna, takut salah berucap.


"Lunna sebaiknya kita pergi dulu ke lokasi syuting, urusan Jack-Jack nanti saja!" Kristin tak mau urusan pribadi Lunna, membuat pekerjaan Lunna terbengkalai. Wanita itu juga tengah memikirkan cara agar Lunna terlepas dari jeratan Jack.


*


*


Sebuah kendaraan roda empat melesat laju di jalanan. Manager dan sang artist hendak pergi ke suatu tempat tujuan. Pagi ini Lunna ada jadwal syuting webseries, Lunna berperan sebagai putri duyung yang teraniaya oleh saudara tiri dengan tema lautan. Akan tetapi, mereka tidak pergi ke lautan namun pergi ke studio besar yang di dalamnya terdapat layar green screen.


"Oh my God! Lihat kantung mataku ini semuanya hitam karena ulah si Jack-Jack itu!" Lunna tengah melihat wajahnya di cermin. Sembari memoles sedikit conclear menyamarkan jejak warna hitam di bawah kantung matanya.


Kristin melirik sekilas, lalu berkata,"Lunna, sebaiknya kau terima saja permintaan Jack."


"Whats?! Are you kidding me? No,no,no, never!" sahut Lunna cepat lalu mendengus kasar.


Lagi dan lagi, Kristin menarik nafas panjang.


"Dengar Lun, kenapa kau tidak menuruti saja saran Darla. Mana Lunna yang aku kenal, kau harus bisa mengalahkan Jack! Ikuti saja permainannya, jangan sampai dia merasa menang di awal. Anggap saja ini pertempuran, pancing lawanmu! Biarkan dia merasa menang dahulu, tapi setelah itu kalahkan dia sampai K.O!" sahut Kristin berapi-api.


Kedua mata Kristin memicing, melihat raut wajah Lunna berubah 180 derajat dari sebelumnya.


'Dia kenapa? Kerasukan roh boneka Annabelle kah?'


Dua puluh lima menit berlalu, Lunna dan Kristin telah tiba di studio syuting. Dengan langkah cepat keduanya memasuki gedung. Menyapa beberapa tim kru dan berbincang sejenak dengan produser maupun sutradara film.


Syuting dimulai, pengambilan scene 03, dengan alur Lunna sebagai Esmeralda bertemu sang pangeran di tepi lautan. Lalu keduanya bercumbu mesra.


"Cut!"


Sang sutradara berseru nyaring, kala pengambilan scene berjalan mulus tanpa adanya hambatan dari pemain. Dia sangat mengapresiasi Lunna sebagai pemeran utama yang sangat menjiwai peran sampai-sampai dia juga ikut terhanyut.


"Sekarang waktunya istirahat. Kita lanjut lagi nanti pukul dua siang!"


Pria berusia lima puluh tahun itu, mengedarkan pada semua kru di lokasi syuting. Seketika dia berjalan ke arah Lunna yang sudah berganti pakaian casual.

__ADS_1


"Kau sangat keren, Lunna, apa kau mau membintangi film action suatu saat nanti?" tanya sang sutradara.


Sebelum menjawab, Lunna melemparkan senyuman manis. "Tentu saja aku mau, aku ingin mencoba hal baru."


"Wow, kau berani keluar dari zona nyaman, aku yakin namamu akan melambung semakin tinggi." Sang sutradara kembali memuji Lunna.


"Terimakasih, Mr.Lucas."


"Kemungkinan syuting film actionnya di Jepang, kita langsung terjun ke lapangan."


"'Tidak masalah, justru itu bagus, sekalian aku jalan-jalan,"katanya diiringi kekehan pelan.


Sang sutradara tersenyum simpul. "Oh iya, aku hampir lupa ada seseorang yang ingin menemuimu di belakang sana."


Dahi Lunna berkerut samar. "Siapa?" tanyanya penasaran, sebab jarang sekali seseorang menghampirinya ke lokasi syuting.


"Pergi saja ke sana langsung, Lun, kita bertemu lagi nanti," kata sang sutradara sambil berlalu pergi, meninggalkan Lunna.


"Kris, aku ke sana sebentar!" Lunna berseru sebab Kristin berjarak beberapa meternya. Kristin membalas mengangkat jari jempol.


*


*


Dengan pelan Lunna berjalan menuju outdoor di belakang lokasi syuting. Seketika kakinya terhenti kala melihat seseorang, yang semalam membuatnya tidak bisa tidur.


'Jack-Jack!' Lunna menggeram sebal sambil mengepalkan kedua tangan.


"Duduk kemari!" Jack menatap datar ke arah unna. Yuri berdiri tegap tak jauh dari Jack. Kedua matanya enggan berkedip melihat Lunna nampak cantik walaupun memakai baju casual.


Sebelum melangkah, Lunna menghentak-hentakkan kaki 'Menyebalkan, apa sih maunya?'


"Apa?!" tanya Lunna ketus setelah menghempaskan bokong di kursi.


Lantas, Jack tak langsung menyahut, malah menatapnya lekat-lekat sambil menumpu ke dua sikut di atas meja lalu menyatukan kedua tangannya.


__ADS_1


"Aku berubah pikiran. Berikan aku jawaban sekarang?" tanyanya datar tanpa ekspresi sama sekali.


Mata Lunna membulat sempurna. Kedua tangannya terkepal di bawah meja.


__ADS_2