
Waktu menunjukkan pukul sebelas lewat lima belas menit. Begitu mendengar perintah Jack. Yuri bergegas menuju penginapan Lunna. Tak mau menimbulkan kecurigaan. Pria berkebangsaan Jepang itu mengendap-endap menuju tempat tujuan. Pedang samurai yang tersampir di kimono Yuri sembunyikan agar orang tak dapat melihat benda tajam tersebut. Dengan kemampuan khususnya, ia telah sampai ke penginapan Lunna tanpa hambatan sedikitpun.
Yuri celingak-celinguk memperhatikan tempat penginapan yang sunyi dan senyap. Hanya terdengar suara unggas kecil bersenandung kecil ditelinganya.
'Kira-kira kamar Kristin di mana ya, kata tuan Jack tidak jauh dari kamar Lunna A. Ah, Yuri fokus dulu, ingat, Tuan Jack membutuhkan pertolonganmu sekarang.'
Yuri berjalan perlahan di sepanjang lorong sambil sesekali mengamati keadaan sekitar. Ia yakin orang yang menyerang Jack masih mengintai di luar sana. Seketika ayunan kaki Yuri berhenti tepat di kamar Lunna.
Srek...
Terdengar bunyi gesekan pintu dari dalam. Jack menyembul keluar tepat dihadapannya dengan membawa Lunna. Mata Jack bergerak ke segala arah.
"Yuri, aku akan pindah ke kamar lain, periksa busur panah yang mereka lontarkan, aku yakin itu beracun, berhati-hatilah, hm setelah selesai kau cari Kristin juga, lindungi manager istriku itu," kata Jack pelan sembari melirik Lunna yang tertidur pulas digendongannya.
Yuri mengangguk patuh. Jack pun bergegas berjalan keluar, hendak menuju kamar lain. Selepas punggung Jack menghilang, Yuri segera masuk ke dalam ruangan.
Gleg!
Sisa-sisa percintaan Jack dan Lunna membuat Jack menelan ludah kasar. Hal itu dapat terlihat dari tempat pembaringan Lunna amat berantakan dan meninggalkan jejak-jejak kecebong.
Tak mau membuang banyak waktu. Yuri mendekati dinding yang sudah tertancap panah busur berwarna hitam dan panjang. Kedua matanya memicing, melihat busur yang sangat asing.
"Hmm apa mereka ninja kawakami,"desis Yuri sembari mengamati ujung busur.
"Tapi tidak mungkin setahu Yuri klan itu sudah punah."
Yuri berbicara pada diri sendiri. Kemudian beralih menatap busur di sisi kanan. Dahinya seketika berkerut saat melihat panah busur berbeda dari yang barusan ia periksa. Tak mau menerka-nerka ia mengelilingi ruangan sembari mengamati satu-persatu busur di setiap dinding.
'Aneh, mengapa ada dua busur yang berbeda. Setahu Yuri satu busur milik ninja dan satu lagi busur biasa. Apa Sensei mengirim dua pembunuh yang berbeda sekaligus?'
Yuri kebingungan, mengapa Sensei mengutus dua pembunuh yang berbeda. Lama Yuri mematung, mencoba memahami isi pikiran Sensei. Akan tetapi, ia mengetahui perangai Sensei, tak mungkin susah-susah mengutus dua pembunuh yang berbeda.
Yuri menarik nafas pelan, kala busur ninja ternyata beracun sebab di ujung sana busur berwarna hitam mengeluarkan asap.
"Tuan Jack keren, bisa menangkis serangan, mungkin karena Lunna A, dia tak mau Lunna terluka.'
Beberapa menit pun berlalu. Setelah di rasa tak ada lagi tanda-tanda penyerangan. Yuri pun memutuskan mengambil busur biasa dan busur yang disinyalir milik ninja hati-hati, kemudian ia bungkus dengan kain khusus.
__ADS_1
Dengan perlahan ia keluar dari kamar Lunna hendak melakukan perintah kedua. Yuri penasaran apa yang dilakukan Kristin sekarang. Apa wanita itu sedang tertidur. Ia pun bergegas mencari kamar Kristin.
"Sepertinya di sini," desis Yuri sebelum menggeser pintu. Namun gerakan tangan Yuri terhenti, saat ekor matanya melihat Kristin berjalan sempoyongan di ujung sana. Dia menggeleng pelan, mendengar Kristin meracau sendiri, sepertinya wanita itu tengah mabuk.
"Wow, wow, coba lihat siapa ini? Yuri Kanazawa, hehe, kau dari mana saja ha?!" Kristin menepuk pipi Yuri secara bergantian. Sedangkan Yuri menahan pinggang Kristin agar wanita itu tak terjatuh.
"Kenapa banyak sekali wajahmu? Hahaha ada lima!"
Kristin mendekatkan wajahnya. Yuri membalas dengan menatap datar Kristin yang tengah teler. Detik selanjutnya. tanpa aba-aba Kristin menempelkan bibirnya pada Yuri. Reflek, Yuri mendorong tubuh Kristin hingga terhuyung ke belakang sesaat.
"Kristin, sadarlah," kata Yuri hendak memapah Kristin untuk masuk ke dalam kamar.
"Lepaskan aku! Aku membencimu, Yuri! Mengapa kau tanpa permisi masuk ke dalam hatiku?!"
Deg.
Yuri terpaku di tempat mendengar penuturan Kristin barusan. Matanya berkedip cepat, apa dia tidak salah mendengar tadi. Tak mau membuat keributan ditengah malam. Ia menarik tangan Kristin dan menyeretnya masuk ke dalam kamar.
Sesampainya di dalam. Kristin meracau-racau tak jelas. "Kau jahat Yuri, seharusnya kau tidak menciumku waktu itu?!" Mata Kristin mulai berkaca-kaca sambil memukul dada Yuri.
"Kris." Yuri pasrah saat Kristin memukul-mukul tubuhnya. Sewaktu itu, ia pun kebingungan mengapa bisa lepas kontrol, sebagai seorang lelaki ia tergiur dan mengikuti nalurinya. Harus ia akui, Kristin memang imut dan menggemaskan.
"Kris, Yuri minta maaf." Yuri menghapus jejak tangis Kristin.
"Aku membencimu, pergi kau sana ke tempar pacarmu?!' kata Kristin sembari mengibas tangan Yuri.
"Pacar? Yuri tidak punya pacar!"
Yuri mulai tersulut emosi kala Kristin kembali memukul dadanya. Seketika Kristin mendorong tubuh pria itu hingga terjembab ke atas kasur.
"Oke, kalau kau tidak punya pacar! Mari kita berkembang biak, ha?!" Kristin menduduki paha Yuri sembari membuka paksa kimono Yuri.
"Kristin!" Seketika Yuri membalik tubuh Kristin, sekarang pria itu berada di atas Kristin. Dengan intens ia menatap Kristin yang nampak kacau.
"Aku mencintaimu, Yuri. Mengapa aku selalu gagal dalam hubungan percintaan, apa karena aku kurang cantik? Hikss, hikss, hiksss..."
Deg
__ADS_1
Jantung Yuri berdetak kencang saat mendengar ungkapan hati Kristin barusan. Ia tak menyangka Kristin menaruh rasa padanya.
"Kristin sangat lah cantik, mereka bodoh karena telah meninggalkan Kristin. Yuri juga mencintai, Kristin."
Entah dorongan dari mana, Yuri mengatakan perasaannya juga. Ia pun tak tahu sejak kapan menaruh hati pada Kristin.
"Benarkah?" Kristin sesenggukkan sembari menyentuh dada Yuri yang sudah terbuka akibat terkamannya tadi.
Detik selanjutnya. Yuri membuka cepat kimono Kristin hingga tubuh wanita itu benar-benar polos. Cukup lama Yuri memandang dua gunung fuji berselimut salju di depan.
"Yuri, mengapa diam? Ini susu cap benderamu, hehe," kata Kristin yang masih mabuk. Kedua pipinya merah merona karena Yuri memandanginya tanpa berkedip.
Yuri tersenyum tipis, lalu berkata,"Jangan salah kan Yuri, jika Kristin akan berteriak-teriak malam ini."
"Ahh!" Kristin memekik sembari mendongakkan kepalanya ke atas kala Yuri menyambar rakus susu cap bendera miliknya.
"Ahh, Yuri, teruskan Yuri, ah...!"
Yuri semakin bersemangat melancarkan serangan hingga tubuh keduanya sama-sama polos. Kristin menegang saat melihat rudal Yuri berdiri kokoh.
"Yuri, pelan-pel–"
Jleb!
Yuri secepat kilat memasukkan rudalnya. Ia mematung sejenak, baru menyadari jika Kristin masih perawan. Sementara itu, Kristin meringis saat benda asing melesak masuk ke dalam inti tubuhnya yang berdenyut nyeri.
"Yuri..." Kristin kembali menitihkan air mata dengan mencengkram kuat sprei pembaringan.
"Kris...." ucap Yuri lirih, setelah melihat Kristin tak mengaduh kesakitan lagi. Ia menggerakan pinggul dengan perlahan.
Detik selanjutnya, terdengar erangan dan des@han di ruang kamar Kristin. Cahaya lampu temaram menjadi saksi dua insan manusia tengah menyalurkan perasaan cinta mereka. Hingga pukul dua belas malam lewat sepuluh menit, tak ada lagi suara syahdu dari bibir Kristin terdengar. Kini, suasana di penginapan nampak sunyi dan senyap, begitu pula kamar Jack dan Lunna. Keduanya pun sedang terlelap memasuki ruang mimpi masing-masing.
***
Sinar rembulan terlihat terang benderang, menerangi kota Yokohama. Di atas atap sebuah penginapan, nampak dua orang berdiri tegap, dan memakai pakaian serba hitam dari ujung kepala hingga ujung kaki, hanya matanya saja yang terlihat. Keduanya membawa sebilah pedang yang menempel di punggung mereka masing-masing. Saat ini, dua orang itu tengah berbicara satu sama lain dengan menggunakan bahasa isyarat.
Sementara itu, Jack membuka cepat matanya, saat telinganya menangkap samar-samar bunyi gesekan pintu.
__ADS_1
"Lunna...."