
Mendengar perkataan Jack barusan, Lunna menahan diri untuk tidak terpancing.
"Ruangan apa?"
Pandangannya lurus kedepan. Lunna tak menoleh ataupun membuat gestur tubuh yang mencurigakan. Sedari semalam, dia sudah menyiapkan diri, jika Jack mulai mengatakan sesuatu padanya, Lunna akan mengelak sebisa mungkin.
Jack mengangkat sudut bibirnya sedikit. Posisi tubuhnya bergeming. Entah mengapa aroma shampo Lunna menenangkan jiwanya. Jack enggan menyahut sibuk mengendus rambut Lunna.
"Kau pakai shampo apa?"
Sebuah pertanyaan yang dilontarkan bibir Jack membuat Yuri di kursi depan terbatuk-batuk kecil.
Lunna menoleh, tanpa sengaja sepasang mata itu saling bersitatap satu sama lain. Jack menatap lekat-lekat dua bola mata Lunna. Ada sesuatu yang berdesir dihatinya kala melihat tatapan tajam Lunna. Sedangkan Lunna menatap tajam dan dingin. Melihat wajah Jack sedekat ini, ingin sekali ia mencakar-cakar wajah Jack yang sangat jelek, menurutnya.
'Lihat dia sok-sokan mengalihkan pembicaraan, Cih! Aku yakin sekali pasti dia sedang membuat rencana untuk menghukumku!'
Lunna beralih menatap ke depan setelah keduanya cukup lama saling menatap.
"Shampo apa?" tanya Jack lagi tanpa mengubah posisi tubuhnya.
'Haruskah aku menjawab pertanyaannya yang aneh itu!'
"Kau tuli atau apa?"
Suara Jack terdengar meninggi. Entah mengapa ia tak suka saat Lunna mengacuhkannya. Dia pun diterpa kebingungan dengan sikapnya sendiri.
"Shampo cap kaki kuda!" jawab Lunna ketus.
Dahi Jack berkerut kuat. "Shampo apa itu?"
"Kau tidak akan tahu, karena shampo itu tidak ada di LA!"
Kali ini Lunna beralih menatap ke luar jendela sembari menurunkan kaca mobil. Lunna berdecak kagum sejenak saat melihat pemandangan di luar menampilkan anak gunung yang memanjakan matanya. Tanpa ia sadari angin dari luar, membuat rambutnya beterbangan ke segala arah.
"Hmm."
Detak jantung Jack berdetak cepat kala aroma rambut Lunna menyeruak ke dalam indera penciumannya.
'Aku akan meminta Yuri mencari shampoo itu," kata Jack di dalam hati.
Jack kembali ke posisi semula. Tanpa melepas pandangan mata dari Lunna. Ia dapat melihat Lunna begitu antusias memandang keluar. Jack yakin sekali jika Lunna menyukai pemandangan alam. Tanpa sadar seulas senyum tipis terbit diwajahnya. Mata Yuri berkedip cepat seakan tak percaya melihat air muka Jack barusan.
'Yuri tidak salah lihat, Kan?'
*
*
*
Sugar Entertainmant.
__ADS_1
[Ruang Make Up Lunna A]
Saat ini, Lunna tengah duduk di sofa seraya menggeleng pelan, melihat Kristin mondar-mandir di dalam ruangan. Manager-nya itu diterpa kebingungan sebab pakaian yang ia persiapkan untuk pemotretan Lunna tak tahu berada dimana. Padahal kemarin ia sudah menaruh dengan rapi di gantungan khusus.
"Lunna!"
Kristin melotot tajam melihat Lunna sangat tenang. Dan tak panik seperti dirinya.
Lunna menoleh. "Apa?" tanyanya sambil memasukan potongan sandwich ke dalam mulut.
"Kenapa kau malah diam?! Seharusnya kau memberikan aku solusi atau bilaperlu membantuku mencari baju untuk pemotretanmu nanti ha?!" kata Kristin berapi-api.
Lunna mengerlingkan mata ke atas. "Memangnya kau taruh dimana? Aku kan tidak tahu, lagian aku baru saja lekas sembuh," kata Lunna dengan enteng tanpa memikirkan perasaan Kristin sama sekali.
"Kau benar-benar teman laknat!" cerocos Kristin sambil berjalan ke sana kemari mencari baju.
Lunna mendengus kembali memasukan potongan sandwich ke dalam mulutnya.
"Oh ya, terakhir kau bertemu siapa diruangan?" tanya Lunna setelah menghabiskan sandwich dan menaruh piring di atas meja.
Gerakan tangan Kristin terhenti. Tampak mengingat-ingat kejadian kemarin.
"Hmm, aku lupa-lupa ingat."
"Dasar pikun! Coba kau ingat-ingat!" Lunna beranjak, mulai membantu Kristin mencari pakaian yang dia sendiri pun tak tahu berada dimana.
"Britney," gumam Kristin pelan manakala kemarin sore berpapasan sejenak dengan Britney di luar ruangan.
"Semoga saja si Burit itu diruangannya," kata Lunna melirik Kristin sekilas.
Saat ini, Lunna dan Kristin berjalan cepat ke ruangan khusus model. Kaki Lunna terhenti tatkala melihat Jack bersama Britney sedang berbicara di lorong. Tanpa banyak kata Lunna menghampiri Britney, melayangkan tatapan tajam tanpa menghiraukan keberadaan Jack.
"Britney, kau taruh dimana bajuku?" tanya Lunna ketus tanpa basa-basi.
Britney menoleh, satu alisnya terangkat. "Baju apa?" tanyanya balik dengan wajah angkuh.
"Tentu saja baju pemotretanku untuk hari ini, kau tidak usah berkilah!"
"Apa maksudmu?! Aku tidak tahu, mengapa kau tanyakan padaku? Seharusnya kau tanyakan pada Manager-mu itu!" sahut Britney seraya menunjuk Kristin yang mulai tersulut emosi sebab Britney menatapnya remeh. Kristin tengah menahan gejolak amarah dipalung hatinya.
"Kau masih mengelak?!"
"Apa yang kalian ributkan?"
Jack membuka suara saat mendengarkan obrolan Lunna dan Britney barusan. Ia tentu saja keheranan topik apa yang mereka bicarakan.
Lunna beralih menatap Jack, lalu melipat tangan di dada. "Katakan pada gundikmu ini, tidak usah membuat masalah denganku, asal kau tahu saja, dia menyembunyikan gaun yang akan aku pakai untuk pemotretan sebentar lagi," kata Lunna menatap dingin.
"Apa kau punya bukti?" tanya Jack melayangkan tatapan penuh arti. Pria itu menatap dalam dua bola mata Lunna yang akhir-akhir ini selalu membiusnya.
"Punya!"
__ADS_1
Dengan cepat Lunna menghadapkan layar handphone pada Jack. Kedua mata Jack melihat dengan seksama sebuah rekaman video CCTV yang terekam di luar ruang make up Lunna. Sebelum pergi ke ruang Britney, Lunna menelepon petugas untuk mencari rekaman sore kemarin. Bingo! Intuisi Lunna begitu benar, ia pun meminta petugas mengirimkan rekaman Britney yang keluar dari ruangan sembari membawa dress miliknya.
'Duh, kenapa aku lupa kalau ada CCTV di sana sih!' gerutu Britney sambil memberengut kesal.
"Sudah, Kan? Itu buktinya, kau tidak bisa mengelak lagi. Mana bajunya? Aku harus pergi ke studio lima belas menit lagi!"
Britney tak langsung menjawab. Malah menoleh ke arah Jack yang menatap dingin padanya. Seketika nyali Britney menciut sepertinya Jack tak mau menolongnya.
"Mana?!" Lunna melirik arloji di pergelangan tangan. Dia diterpa kegusaran sebab waktu semakin mendekat. Ia tak mau mengecewakan kru fotographer-nya belum lagi kemarin ia sudah lama tak masuk berkerja.
Britney nampak gusar.
"Britney, kau akan diberikan sanksi jika kau tak mengembalikan baju sponsor itu!" kata Jack saat melihat Britney curi-curi pandangnya. Pria itu tentu saja mengerti tatapan Britney meminta bantuan padanya.
"Aku buang ke tempat sampah," kata Britney sambil mendengus pelan.
"Whats?! Kau gila atau apa ha?!" Kali ini Kristin yang grasak-grusuk.
'Si@l, awas saja kau Lunna. Gara-gara kau, aku mendapatkan sanksi! D@sar jal@ng! Sekarang Jack saja berpihak padanya!'
Britney memalingkan muka. Enggan menyahut perkataan Kristin.
Lunna mendesah kasar dan tanpa sengaja bersitatap dengan Jack. Matanya melototi Jack. Sedangkan pria itu hanya melayangkan tatapan datar.
"Oh my God! Bagaimana ini Lunna!?" Kristin menyentuh pundak Lunna yang sedang berpikir juga.
"Waktu kita tidak banyak, pakaian itu dijual terbatas dan harganya sangat mahal!" Kristin menjambak rambutnya, frustrasi.
"Ada apa ini?"
Terdengar suara seseorang di belakang Lunna dan Kristin. Keduanya pun serempak memutar tubuh.
Kedua mata Lunna membola, melihat sosok tersebut, dan mendekati. "Brian? Ini kau, Kan?"tanya Lunna ingin memastikan.
"Oh my God, kau masih ingat denganku? Aku tak menyangka kita bertemu di sini!"
'Tentu saja, aku ingat!"
Tanpa aba-aba Brian memeluk tubuh Lunna dan memeluknya begitu erat.
"Awh!"desis Lunna kala pakaiannya di tarik dari belakang. Dengan cepat Lunna menoleh, menggeram sebal. Begitupula dengan Brian yang terkejut bukan main saat tangannya di sentak kasar.
"Ada apa Mr.Harlow!?" tanya Lunna seraya mengepalkan kedua tangan.
"Kenapa kau memeluknya?!"
Sedari tadi Jack sedang menahan diri saat melihat Lunna dan seorang pria berpelukan di depan matanya. Dadanya begitu membara membentuk sebuah kobaran api.
'Siapa pria ini, berani sekali dia menyentuh milikku?'
Jack beralih menatap Brian. Kedua pria itu melayangkan tatapan tajam satu sama lain.
__ADS_1