Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet

Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet
S*su Cap Bendera


__ADS_3

Setelah berdebat cukup panjang, Kristin akhirnya mau membantu Lunna. Itupun terpaksa demi semur jengkol. Lunna akan membelikan Kristin jika ia mau makanan itu kapanpun. Kristin tentu saja senang dengan tawaran yang diberikan Lunna.


Esok hari. Sahara memberengut kesal saat melihat Lunna membawa Kristin ke mansion Jack. Dia mencak-mencak sendiri sambil menghentak-hentakkan kaki ke lantai. Entah bagaimana jurus jitu Lunna meminta izin kepada Jack. Seperti saat ini Lunna dan Kristin sedang berenang di kolam renang, bercengkrama ria layaknya bestie-bestie pada umumnya, pembicaraan mereka tidak jauh-jauh dari urusan pekerjaan.


"Lunna!" panggil Jack.


Lunna yang sedang berselonjor di kursi rotan menoleh ke sumber suara.


"Iya," jawab Lunna sembari menaikkan kacamata ke atas rambut.


"Aku akan pergi keluar sebentar, ada yang mau aku urus, jangan membuat keributan, Yuri ada di ruang tengah," kata Jack sembari melirik Sahara yang melotot tajam pada Lunna.


'Lihatlah semesta saja mendukungku,' Batin Lunna bermonolog.


"Oke," kata Lunna lalu melirik Kristin yang sedang berendam di kolam renang.


"Kris, kemari!" Lunna memanggil setelah melihat punggung Jack dan Sahara menghilang di balik ruang. Dengan sigap Kristin naik ke permukaan.


"Apa?" tanyanya penasaran.


"Sebentar lagi misimu harus dilaksanakan," kata Lunna sambil menyambar ice lemon di meja dan menyeruput cepat.


Kristin mendengus, lalu berkata,"Haruskah dengan menggoda Yuri? Apa tidak ada cara lain?"


"Tidak ada, dengarkan aku di saat kau menggoda Yuri aku juga akan masuk ke ruang rahasia Jack. Karena kalau siang-siang begini aku akan leluasa. Lagian Sahara akan kita bius."


Lunna sudah menceritakan semua hal yang berkaitan dengan ruang rahasia Jack. Kristin pun tercengang dan kepo mengapa ada foto Daddy Lunna di sana.


"Whats?! Kau benar-benar gila Lunna! Bagaimana kalau ketahuan?" kata Kristin mulai panik.


"Maka dari itu jangan sampai ketahuan!" cerocos Lunna kemudian meneguk kembali ice lemon.


"Oh my God!" Kristin menjatuhkan bokong di kursi kayu. Lalu menarik nafas panjang.


"Bagaimana caranya menggoda Yuri?" tanyanya bingung.


Lunna mengerlingkan mata sesaat.


"Iya goda saja, seperti kau menggoda pacarmu! Susah sekali!" cicit Lunna seenak jidat.


Pletak!


Kristin menjitak kuat kening Lunna. Dia pikir semudah itu menggoda seseorang. Apalagi dia adalah wanita yang sudah lama tak berkencan dan sibuk dengan pekerjaan. Beberapa bulan yang lalu, cintanya baru saja kandas karena sang pacar ternyata gay.


"Awh! Sakit tau!" sungut Lunna sambil mengusap keningnya yang memerah.


"Kau pikir ini mudah, kenapa tidak kau saja?" Kristin melipat tangan di dada sambil mengerucutkan bibir dengan tajam.


"Aku?" Lunna menunjuk diri sendiri. Terkekeh sejenak. "Hell no! Aku ini artis, dia itu fansku tau. Nanti dia akan besar kepala, kalau kau kan ada alasan untuk menggodanya," kata Lunna sambil mengedipkan mata centil.


Kristin kesal, hendak mencekik Lunna namun secepat kilat Lunna beranjak. Dan berlarian di sekitar kolam renang. Keduanya saling mengejar satu sama lain di kolam renang.

__ADS_1


***


"Kris, kau dengar aku tidak?" tanya Lunna.


Kini, Lunna dan Kristin di ruangan terpisah, Kristin berada di balik pilar dekat ruang tengah sedang menegok Yuri sesekali yang berjilbaku dengan pekerjaannya. Sedangkan Lunna berada di lorong hendak ke ruang rahasia Jack. Tadi, dia sudah memberikan Sahara minuman yang sudah diberi obat tidur.


Saat ini keduanya terhubung melalui ear-piece yang terpasang di telinga masing-masing.


"Iya, aku mendengarkanmu bodoh." Kristin melihat tubuhnya sesaat yang sekarang berbusana lumayan terbuka.


"Good, ingat jalankan tugas masing-masing."


"Lun, haruskah aku memakai baju ini, aku seperti j@lang saja, oh my God, dadaku..." ucap Kristin sambil memperhatikan buah semangkanya.


"Aish, tenanglah, baju itu sangat pas, hehe,'kata Lunna diiringi kekehan. Membuat Kristin menggeram sebal.


"Sudah, cepat lakukan tugas kita masing-masing, waktu kita tidaklah banyak. Sahara bisa saja terbangun."


Kristin membalas dengan berdeham. Kedua tungkai kakinya mulai berayun keluar dari tempat bersembunyian. Sembari mengigit bibir bawah Kristin berjalan menghampiri Yuri yang sedang fokus dengan laptopnya.


"Yuri," panggil Kristin setelah berdiri tegap di dekat Yuri.


"Iya," jawab Yuri tanpa menatap lawan bicara.


'Oh my God, tidak bisakah dia melihat diriku ini! Argh! Awas kau, Lunna! Baiklah, Kris, keluarkan jurusmu.'


"Yuri." Kristin menghempas bokong di sebelah Yuri.


Gleg!


"Ada a-p a Kris?" tanya Yuri tergagap-gagap sambil memalingkan wajah saat melihat dua buah melon berukuran jumbo menyembul di balik pakaian Kristin.


"Aku ingin menemanimu boleh, Kan?" Kristin mengelus-elus paha Yuri.


Yuri tergugu, cacing di bawah sana semakin cenat-cenut.


"Iya, ta-pi ba-ju, Kr..."


Secepat kilat Kristin mengarahkan wajah Yuri padanya lalu menaruh jari telunjuknya di ujung bibir Yuri.


"Bajukku kenapa?" tanya Kristin dengan suara mendayu.


"Baju Kristin, bagus ta-"


"Tapi apa?" Kristin menggeser tubuhnya lebih dekat. Secara bersamaan pula Yuri menggeser tubuhnya ke samping.


Gleg! Gleg!


Yuri menelan saliva berkali-kali. Saat matanya melihat dua bola semangka nampak menantang di depan.


"Tidak, ya sudah, Kristin. Dud-uk sa-ja, Yuri harus menyelesaikan pekerjaan."

__ADS_1


"Oke, aku akan menunggumu." Kristin sengaja menempelkan dadanya mengenai lengan Yuri dan menarik-narik dasi Yuri.


'Astaga, aku benar-benar seperti j@lang, dengan Mario saja aku tidak pernah seperti ini!'


Yuri mengangguk pelan lalu menarik nafasnya yang mulai memburu. Ia menggeser tubuhnya lagi, berusaha untuk fokus mengerjakan tabel grafik laporan.


"Yuri." Kristin berbisik di daun telinga Yuri sambil mengigit telinganya.


"Ah! Kris, na-nti dulu." Yuri menoleh menatap dalam bola mata Kristin.


Deg.


Kristin membeku kala melihat mata Yuri mulai berkabut gairah. 'Mampus aku, lebih baik aku langsung tanya saja.' Kristin ketakutan sebab sorot mata Yuri sedang menahan sabar.


Sementara itu, jika Kristin sedang menggoda Yuri. Lain halnya dengan Lunna. Wanita itu berjalan cepat memasuki ruang rahasia Jack setelah menekan tuas di dekat patung.


"Fiuh, akhirnya."


Lunna mengelus dadanya sejenak. Seketika dahinya berkerut kuat melihat ruangan tampak kosong tak seperti kemarin. Maksudnya benar-benar kosong tak ada meja, lemari, dan lain-lainnya. Lama Lunna terbengong melihat keadaan ruangan.


*


*


Kembali ke ruang tengah.


"Ah, Yuri tunggu!"


Saat ini, Yuri tengah menindih tubuh Kristin di atas sofa. Setelah sesi tanya jawab tadi, Yuri segera menerkam Krisrin dan membungkam bibir Kristin yang menggoda bagi Yuri dengan mencium dan *****@* rakus.


"Kenapa?" tanya Yuri sembari satu tangannya mer3m@s dua bola semangka. Nafas pria itu memburu tatkala hendak membuka kain yang menutupi area favoritnya itu.


'Oh my God, aku tak mengira Yuri ternyata sangat menakutkan. Matanya saja yang polos. Lunna tolong aku!' Kristin memegang tangan Yuri yang sedari tadi sudah menjalar kemana-mana.


"Tidak, kita ke kamar saja ya," sahut Kristin dengan terengah-engah. Terlintas sebuah ide gila untuk menyelamatkan dirinya.


"Tidak, di sini saja. Yuri mau mencicipi susu cap bendera ini." Yuri segera merobek paksa baju Kristin dalam satu kali hentakan.


"Ha! Tidak!" Kristin memekik sambil mengeliat saat Yuri menyambar dan meny3s@p cepat biji mentimun miliknya. Tanpa sadar mata Kristin terpejam menikmati sentuhan-sentuhan Yuri.


"Yuri! Stop..please..." Kristin mendesah sembari menggengam rambut Yuri.


Seakan tuli, Yuri tetap melancarkan serangan hingga sofa sekarang bergoyang-goyang bak goyang ngebor Inul Daratista.


"Apa yang kalian lakukan?!" Jack baru saja tiba di ruangan. Kepalanya geleng-geleng sesaat lalu mendengus pelan, melihat adegan film blue barusan.


Reflek Yuri beranjak, melepaskan jas dan menutupi tubuh Kristin. "Tu-an Jack..." Yuri terkejut karena telah tertangkap basah sedang bercumbu mesra bersama Kristin.


'Mampus kau,Lunna! Jack-Jack sudah kembali!'


Kristin berlindung di belakang tubuh Yuri sambil menggapai tangan pria yang hampir saja memasukkan rudalnya tadi.

__ADS_1


__ADS_2