
"Kau tidak apa-apa, Baby?!" tanya Lunna dengan suara yang meninggi, agar suaranya terdengar keluar.
"Tidak apa-apa, pegang lah yang erat!" Jack mengendarai motor besarnya dengan begitu lincah.
Dor!
Seseorang di dalam helikopter menembakkan peluru mengarah ke motor Jack.
"D@m*!" umpat Jack kala timah panas hampir mengenai ban belakangnya.
Lunna menggeram kesal sebab Daddy dan Grandpanya sepertinya menjadikan Jack sebagai target.
"Baby, apa kau punya pistol berlaras panjang?"
Lunna memeluk tubuh dari Jack dari depan dan menaruh dagunya di pundak sang suami.
"Tidak punya, Baby." Jack menaikkan batas kecepatan motor di atas rata-rata.
Tanpa banyak kata, Lunna mengambil cepat pistolnya tadi.
"Dari mana kau mendapatkan itu, Baby?" Jack terkejut, melihat belahan jiwanya memegang pistol berwarna hitam.
"Hehe, rahasia, sudah lah, aku harus menembak mereka pula, Baby. Kita harus segera hilang dari penglihatan mereka," sahut Lunna sembari mengarahkan pistolnya ke atas.
Dor!
Tanpa mendengarkan perkataan Jack. Lunna melontarkan peluru ke helikopter yang di dalamnya ada Lexi. Seketika mata Lunna memicing, melihat helikopter yang sangat dia kenali mendekat.
'Si@l, itu kan helikopter Grandpa!'
Kini, aksi kejar-mengejar terjadi di sepanjang jalan. Simon sebagai wali kota meminta bodyguard dan ajudannya mengosongkan jalan raya agar tak menelan korban jiwa. Lexi pun menyanggupinya, menyuruh penyidik memblok daerah-daerah yang sinyalir akan didatangi Jack dan Lunna. Sedari tadi, sirine polisi dan lontaran timah panas terdengar melengking, memekakan indera pendengaran.
Dor! Dor!
"Jangan tembak cucuku! Tembak saja bed3bah itu!" Simon berseru kala seseorang hampir saja mengenai tubuh Lunna.
"Leon, lebih baik kita blok jalanan di sana agar mereka tidak bisa kabur!" Pria tua itu tengah mengatur nafasnya yang memburu. Ia menahan amarah yang membuncah di dalam hatinya.
Leon balas dengan mengangguk setuju, kemudian memberi perintah pada Montero agar memblok jalan raya.
Dor!
Dor!
Dor!
__ADS_1
Sudah lima menit berlalu. Suara tembakan masih terdengar nyaring di jalanan.
"Jack Harlow! Hentikan motormu! Kembalikan cucuku!!!" sahut Simon melalui toa dari atas sana.
Alih-alih menuruti perkataan Simon. Jack malah mempercepat laju motornya dan sekarang ia sudah di titik jalanan yang telah di blok. Seulas senyum licik terbit diwajahnya.
"Baby, kau bisa ke belakang tubuhku, kita akan menghancurkan plang di depan!!" sahut Jack dengan menatap lurus ke depan, melihat polisi dan beberapa pria berstelan jas hitam memberikan isyarat padanya untuk segera berhenti.
"Oke, Baby!"
Dor!
Lunna membalas ucapan Jack sembari menembakkan peluru ke helikopter. Secepat kilat Lunna memutar tubuhnya dengan di bantu Jack. Setelah Lunna berada di belakang tubuhnya, Jack berkata "Baby, menunduk lah, berpegang lah yang erat!"
Lunna menurut, secara bersamaan pula Jack menekan gigi di pedalnya.
Brak!!
"Lunna!" jerit Leon saat Jack berhasil menerobos plang polisi.
"Mereka gila!!!" sahut Simon sembari mengelus dadanya. Leon enggan menyahut, dia resah takut Lunna kenapa-kenapa.
"Mereka mengingatku dengan kau dan Lily dahulu!" cetus Simon lagi dan lagi.
"Whatever Dad! Aku dan Lily berbeda dengan mereka!"
"Lily!" Simon berseru nyaring hendak menyadarkan Leon bahwa ada istrinya di jalanan. Seketika Leon beralih mengikuti arah mata Daddynya.
Leon segera mengambil ponsel dan menelepon istrinya."Honey, apa yang kau lakukan?!"
"Im sorry, Baby! Lebih baik hentikan semua kegilaan ini, biarkan Lunna bahagia bersama Jack!"
"Never! Honey, keluar dari jalanan sekarang, di sini sangat lah berbahaya!" Leon was-was tak mau Lily kenapa-kenapa.
"Never! Aku juga tidak akan menuruti perintahmu, kau tahu Leon, malam ini kau dihukum tidak akan mendapatkan jatah!"
"Whats?! Oh my God, jangan Ho–" Sebelum Leon melayangkan protes, secepat kilat Lily memutus sambungan telepon. Dan melajukan kendaraannya.
Darla dan Brian yang mendengar obrolan Lily barusan hanya bisa membatin. Keduanya tengah berpegang pada kursi masing-masing sebab kendaraan yang mereka tumpangi sekarang sangat laju.
"Aunty! Pelan-pelan!!!" Darla mulai cemas kala mobil yang dikendarai Lily melaju dan membuat rambutnya terbang ke segala arah.
Lily tak mengindahkan perkataan keponakannya itu malah menggeser tuas di sisi kanannya.
"Nyonya Lily, bisakah sedikit pelan?" Brian mulai mual-mual. Untuk pertama kalinya dia berada di situasi yang sangat membahayakan pikirnya.
__ADS_1
"Hoek, hoek, hoek...." Tanpa sengaja Brian memuntahkan isi makanannya di kursi mobil Lily.
Mendengar suara muntahan Brian. Darla menoleh ke belakang.
"Ih, jorok banget si Brian! Iyuh!" Darla mengapit hidungnya seketika.
'Ish, dasar cemen, Lunna memang pantas bersanding dengan Jack," kata Lily di dalam hati. Wanita paruh baya itu enggan menyahut namun segera memperlambat sedikit laju kendaraannya. Tak mau Brian kenapa-kenapa.
Di depan sana. Jack dan Lunna sudah hilang dari pantuan Leon dan Simon. Keduanya memutuskan mencari tempat yang jarang di singgahi orang untuk berlindung dan bersembunyi.
"Baby, kita ke mana?" tanya Lunna penasaran.
"Ada satu tempat yang aman untuk kita, Baby!" sahut Jack.
*
*
*
Brak!
Saat ini, Lily, Darla dan Brian berada di kota XXX hendak mengisi bensin. Seseorang baru saja menghantam kap mobil dari samping. Beruntung Darla, Lily dan Brian memakai sabuk pengaman.
"Oh my God! Aunty tidak apa-apa?" tanya Darla.
Bukannya membalas ucapan keponakannya, Lily mengumpat kasar.
"Si@lan! Ini mobilku bed3bah!!" Lily membuka pintu mobil. Sebelum menutup pintu, ia berkata kepada Darla dan Brian" Kalian jangan keluar di sini saja!"
Brak!
Lily membanting pintu mobil dengan kasar. Membuat Darla dan Brian tercengang. Keduanya saling melemparkan pandangan sesaat.
"Aku tidak menyangka Nyonya Lily sangat bar-bar!" ucap Brian sembari menggeleng pelan.
"Kenapa? Kau terkejut? Ya, begitu lah Aunty! Kalau misalnya kau menjadi suami Lunna dan kau ketahuan berselingkuh. Mungkin ular pitonmu akan di potong-potong sama Aunty!" Darla sengaja menakuti agar Brian menyerah dengan cinta bertepuk sebelah tangannnya itu.
Gleg! Gleg! Gleg!
Brian berulang kali meneguk salivanya kemudian melirik sekilas ular pitonnya di bawah sana.
'Tenang lah, Jhon, dia hanya mengertakmu saja,"kata Brian pada cacing bermata satu yang bersembunyi di balik celananya.
***
Di sisi sana.
__ADS_1
"Keluar kau ha?! Ada masalah apa? Mengapa kau merusak mobilku!" sahut Lily sembari merobek sedikit gaun berwarna putihnya agar lebih leluasa bergerak. Entah mengapa perasaannya tak karuan sebab sedari tadi seperti ada yang mengintai dan mengawasi mereka.