
Lunna terpaku mendengar perkataan Leon. Seketika bibirnya kelu tatkala telah membuat Daddynya kecewa. Lunna mengaku jika dirinya salah sebab menyembunyikan hubungannya dari keluarganya. Cukup lama Lunna terdiam sambil menundukkan kepala. merangkai untaian kata yang akan dia lontarkan. Ia tak berani menatap bola mata Leon tengah duduk dihadapannya.
"Lunna, berbicara lah, nak, Daddy hanya ingin tahu, sudah berapa lama Lunna menjalin hubungan dengan Jack Harlow, lalu mengapa bisa kalian menikah kontrak?"
Sebenarnya Lily sudah mengetahui penyebab Lunna menikah dengan Jack. Akan tetapi ia ingin mendengar langsung dari Lunna. Sedangkan Jack enggan melihat sang putrinya. Ia sungguh kecewa dan marah sebab Lunna menikahi anak musuhnya. Sementara itu, Simon sedang membaca berita di i-pad kesayangan sembari duduk menghadap kaca raksasa di ruangan. Walaupun pria tua itu sibuk dengan dunianya. Ia tetap mendengar obrolan cucu dan anaknya itu.
Gleg.
Lunna menelan saliva dengan pelan. Kemudian mengangkat wajahnya, menatap lurus ke depan, melihat Daddynya tengah memalingkan muka.
"Daddy, Mommy, Grandpa, maafkan Lunna karena telah membohongi kalian. Lunna hanya ingin menyelesaikan permasalahan Lunna seorang diri. Hmm, Lunna lupa sudah berapa lama, tapi yang jelas rentangnya kurang lebih sama dengan Romeo di sana. Lalu Lunna menikah kontrak karena video berak..." ucap Lunna lirih, rasa malu membuncah sejenak gara-gara video berak membuatnya terbelenggu cinta Jack. Namun dia bersyukur karena video berak itu membuatnya bertemu dengan Jack. Pria yang berhasil memporak-porandakan hatinya.
Mendengar perkataan Lunna. Simon, Leon dan Lily enggan menyahut. Ketiganya terkikik sejenak di dalam hatinya. Merutuki Jack yang menjebak Lunna dengan cara yang aneh. Namun seketika raut wajah Leon dan Simon begitu dingin saat mengingat Jack adalah anak musuh yang membunuh Leticya dan Marvin, orangtua kandung Lunna.
"Hmm, Daddy, Mommy, Grandpa, Lunna mencintai Jack."
"Kau tidak boleh mencintai anak seorang pembunuh! Kalian harus bercerai!!" Leon beranjak, kedua matanya berkilat menyala, sedang menahan amarah di dalam hatinya.
Dahi Lunna berkerut hingga tiga lipatan sekaligus terkejut mendengar penuturan Daddy-nya. Dia tidak salah mendengar, Kan?
"Apa maksudnya? Pembunuh apanya? Aku mencintainya, aku tidak mau bercerai! Aku sangat mencintainya, Dad!"
Nafas Leon memburu, melihat pancaran mata Lunna tersirat perasaan cinta yang teramat dalam.
"Sudah saatnya kau mengetahui semuanya, Lunna! Kau harus tahu! Daddy Jack yang terlibat dalam pembunuhan orangtua kandungmu. Kau ingat Pablo Picasso yang pernah menculik kalian sewaktu kecil, Pablo berkerjasama dengan Jeff Harlow. Dia adalah ayah Jack. Dahulu, Jeff menyabotase mobil Daddymu dan membuatnya kecelakaan, begitu pula dengan mobil Mommymu! Kau tak boleh mencintainya! Dia anak seorang pembunuh Lunna!!!" jelas Leon berapi-api.
Jedar!
Bagai di sambar petir di siang bolong, Lunna mematung sejenak.
"Jadi aku bukan anak Daddy?!!!" Lunna bertanya dengan mata mulai berkaca-kaca. Ia sangat tak menyangka fakta yang baru diketahui membuat dadanya sesak seketika.
"Lunna, Dad–"
"Cukup! Kalian semua pembohong! Kalian menyembunyikan kebenaran dari ku selama tiga puluh tahun ini? Sekarang aku tanya apa Daddy membunuh Daddy Jack, ha?!" Lunna menebak jika Jack memiliki motif terselubung saat menikah kontrak dengannya. Belum lagi, sebelum ia mencintai Jack. Sewaktu itu, Jack pernah menganiayanya di malam pertama mereka. Sekarang perasaannya campur aduk. Rasa kecewa dan marah melebur menjadi satu di relung hatinya.
__ADS_1
"Iya, Daddy yang membunuh bedebah itu!!! Dia memang pantas mati! Daddy yang menghabisinya!!" Leon bangkit berdiri.
Deg.
Lagi dan lagi tubuh Lunna membeku. Bayangan Jack mengigau dan memakai heroin erputar-putar di benaknya. Ia ling-lung, hatinya sudah dikuasai Jack. Di satu sisi Jack adalah anak pembunuh orangtuanya dahulu.
"Bukankah Daddy sama seperti Jeff Harlow," kata Lunna. Sedari tadi kedua matanya menganak sungai. Menarik nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya.
"Karena ulah Daddy juga, Jack membalaskan dendamnya padaku! Dia juga–"
"Cukup! Daddy tidak peduli! Jack memang pantas menderita!!" Leon tak mau kalah. Rasa benci pada Jeff sudah bertumpuk di dalam hatinya. Bayangan kepergian Leticya dan Marvin membuat dadanya sesak. Kedua orang yang sangat berarti di dalam hidupnya harus pergi untuk selama-lamanya dari hidupnya karena perbuatan Pablo dan Jeff kala itu.
"Aku juga tidak peduli jika Jack adalah anak seorang pembunuh, itu sudah menjadi masa lalu Dad, tidak bisa kah kita berdamai dengan masa lalu? Dia juga tak tahu apa-apa, aku memaafkannya Dad. Aku sangat mencintainya, Jack! Sangat mencintainya!" kata Lunna dengan lantang sembari bangkit berdiri. Ia berusaha memaafkan kesalahan Daddy Jack, walau bagaimana itu hanya lah masa lalu dan tak seharusnya ia terpenjara di bayangan kelam itu. Hidup harus tetap berjalan sebagaimana mestinya.
"Apakah kau sudah dibutakan cinta Lunna! Darah yang mengalir di tubuh Jack adalah pembunuh, kalian harus tetap bercerai! Daddy tak sudi memilki menantu pembunuh! Sampai matipun Daddy tidak akan memaafkannya!!" Leon berteriak hingga membuat Lily mengelus dadanya manakala mendengar perseteruan antara suami dan anaknya itu.
"Aku tidak mau bercerai dengannya, Dad! Daddy tak berhak mengatur hidupku!!!" sahut Lunna. Sedari tadi, wanita berambut panjang itu menitihkan air matanya. Mendengar kata perceraian. Membuat hatinya berdenyut nyeri.
"Ikuti perintah Daddy, Lunna!!" Leon menghampiri Lunna, menyentuh pundaknya, lalu mengguncang pelan tubuh sang anak.
"Tidak! Kau bukan Daddyku!" Lunna menyentak kasar tangan Leon
Pria bermata coklat itu mulai tersulut emosi sebab untuk pertama kalinya Lunna melawannya. "Iya, aku memang bukan Daddymu! Sekarang Daddy tanya, apa Jack juga mencintaimu?!!!" Leon menatap tajam kepada Lunna hendak memberi anaknya umpan.
Lunna tak langsung menjawab.
Leon berdecih, melihat Lunna hanya terdiam. "See! Dia tidak mencintaimu, Kan!? Sadarlah, Lunna. Dia pasti sering menganiayamu, Kan?!" Pria itu ingat betul perkataan Lily tempo lalu mengatakan jika melihat samar-samar bekas luka di leher Lunna.
Lunna tergugu. Bingung, iya memang benar Jack pernah melakukan kekerasan padanya tapi itu dahulu.
"Iya, pernah, tapi sekarang Jack sudah berubah Dad, dia tak pernah menganiayaku lagi. Aku yakin dia juga mencintaiku!"
Mata Leon, Lily dan Simon melebar mendengar perkataan Lunna barusan. Apa cucunya sudah dibutakan cinta.
Simon beranjak dari kursinya, menatap tajam kepada cucu perempuannya itu, kemudian berkata,"Pria yang pernah melakukan kekerasan dalam rumah tangga adalah seorang pencundang! Sekali mereka menganiayamu, mereka tidak akan berubah! Mereka akan mengulangi perbuatannya lagi. Grandpa akan mengurus surat perceraian kalian tanpa persetujuan darimu! Jangan membantah, Lunna Andersean!!"
__ADS_1
"Tidak mau! Aku mencintainya, Grandpa! Namaku Lunna Harlow!!"
Plak!
"Leon!" Lily dan Simon memekik manakala Leon tanpa sadar menampar pipi kanan Lunna.
Tangan Leon menggantung di udara, sembari menoleh Lunna, melihat Lunna melayangkan tatapan kemarahan dan kekecewaan terdalam padanya.
"Daddy sama saja! Aku membencimu! Aku harus bertemu dengan Jack!" Lunna berlari menuju ambang pintu hendak bertemu Jack di tempat kerjanya.
"Lunna! Berhenti! D@mn!" Dengan cepat Simon mengambil ponsel, kemudian menelpon seseorang.
"Lexi tutup semua gerbang! Kurung Lunna dikamarnya sekarang!!" titah Simon cepat.
Sementara itu, Leon tanpa sadar meneteskan air matanya, menatap pada tangan kanannya karena melayangkan tamparan di pipi Lunna. Sungguh ia tak bermaksud menyakiti Lunna. Leon lepas kontrol kala Lunna mengganti nama belakangnya menjadi nama Harlow.
"Honey," ucap Lily sambil merengkuh Leon yang tengah melamun.
Sedangkan, Lunna meraung-raung di kamarnya, beberapa detik yang lalu. Lexi mengurung Lunna sesuai perintah Simon.
Saat ini, Lunna meringkuk di depan pintu kamar sambil memanggil nama Jack berulang kali.
"Jack, aku merindukanmu, aku mencintaimu, kau di mana..." Lunna masih terisak pelan di atas lantai.
...----------------...
...Hai guys, sebenarnya kata kunci aksi balas dendam Jack ada di novel Pelangi Untuk Lily....
...Tapi, author akan menjelaskan secara singkat ya....
...Jadi, dulu ada musuh Leon Andersean namanya Pablo Picasso, dia dalang kematian Leticya (kakak Leon) dan Marvin (sahabat Leon), mereka berdua ini orangtua kandung Lunna. Pablo dulu tuh dendam sama Leon, gara-gara Leon menolak berkerjasama lagi, masalah bisnis narkoba. Pablo Piccasso ini adalah gembong narkoba terbesar di benua Amerika. Di sini, author fokus ke dendamnya Leon saja ya. Sebenarnya Pablo ini juga ada dendam sama Daddynya Lily, kalau mau lebih jelas baca novel saja. ...
...Demi melancarkan dendam Pablo minta bantuan nih sama Jeff Harlow, bapaknya sih Jack dulu pas ngebunuh Leticya dan Marvin. Jeff Harlow ini ketua Gangsta Paradise. Lambat laun Jeff udah tobat tuh semenjak menikah dan punya anak, malahan Pablo juga pernah nyekap Jack dan Justin (chapter 91) karena Jeff uda berbeda cara pandangnya sama dia. Tapi tenang kok, Pablo uda meninggal di bunuh sama Lily dan Leon. Kurang lebih seperti itu. ...
...Tenang konfliknya nggak berat, karena fokusnya ke hubungan Jack dan Lunna. Maaf ya author gak rajin updatenya. ...
__ADS_1